Misteri Kepergian Danish

2018 Words
Sedikit atau banyak, tentu kita pasti memiliki harapan untuk bisa diakui oleh mertua bukan? Dengan mengikuti suami, menitipkan diri di rumah mertua tentu bukan perkara mudah. Begitu juga yang kurasakan saat ini. Kehamilan pertama dari pernikahan keduaku sudah memasuki minggu ke delapan. Semoga saja, dengan kehamilan ini Bu Rosma bisa menerimaku sebagai menantunya. Pulang dari klinik 24 jam, kami bertiga pergi ke sebuah minimarket, Danish memintaku diam di mobil, namun aku enggan dan malah mengikutinya. Mengambil s**u untuk Ibu hamil beserta keperluan harian yang lain sudah ada di dalam keranjang. "Apa ada yang kamu inginkan, Nika?" tanya Danish. "Aku tidak mau apa-apa, Dan." "Yakin?" Aku mengangguk mengiyakan, namun sesudah itu malah teringat sesuatu. "O, nanti saja, aku mau beli buah-buahan sama makanan untuk Umi dan Abi, Dan." "Oh, iya, kalau begitu, kamu sama Athaya masuk ke mobil sekarang ya, aku akan bayar ini dulu." Menuruti permintaan Danish, aku pun menuntun Athaya keluar dari minimarket. Tersenyum lega, mengusap lembut calon buah hati yang ada dalam rahimku. "Alhamdulillah Ya Allah, semoga aja ini awal yang baik buat aku sama Umi," batinku bicara. "Anika?" Terdengar ada yang memanggil, spontan aku menoleh ke arah sumber suara. Yang kukira itu Danish, tapi ternyata bukan. "Iqbal?" Laki-laki berlesung pipit itu tersenyum, ia berjalan menghampiriku dan Athaya yang hampir masuk ke dalam mobil. "Ternyata benar kamu, aku kira salah orang." Iqbal berkata lagi. "Om Iqbal!" seru Athaya. "Thaya! Wah ... pangeran kecil Om apa kabar?" Tanpa ragu Iqbal membawa Athaya di kedua tangan. Menggedong anakku seperti saat kami masih dekat dulu. Mereka berdua masih terlihat akrab. "Thaya abis beli apa di dalem?" "Beli es krim." "Ada berapa? Omnya tidak dikasih?" Thaya menggelengkan kepala pelan. "Tidak boleh. Ini buat Thaya semua," jawab Athaya polos. Iqbal terkekeh kecil seraya membenarkan posisi gendongannya. "Kamu sama siapa?" tanya Iqbal. "Sama suami, kamu?" "Sendiri, kebetulan tadi mau beli sesuatu di sini, tapi malah melihatmu sama Thaya, jadi belok ke sini dulu," jawab Iqbal. Saat Iqbal mengobrol dengan Athaya, aku melirik ke arah Danish, suamiku sebentar lagi keluar dari minimarket. "Sini, Nak. Thaya sama Ibu ya, kasian omnya nanti keberatan." Kuulurkan tangan, ingin mengambil tubuh Athaya, namun anakku malah enggan. Sepertinya Athaya memang rindu dengan Iqbal. "Tidak mau." "Ayo dong, Thaya kan sudah besar, masa mau digendong terus, kita masuk ke mobil, nanti sebentar lagi Ayah datang. Katanya Thaya mau pulang," bujukku lagi. Akhirnya perlahan Athaya mau juga turun dari gendongan Iqbal, langsung membuka pintu depan. Athaya lebih dulu masuk kedalam mobil. "Hhh, andai aja waktu itu aku tidak terlambat, pasti Athaya bisa kugendong setiap hari." Meski dia berkata pelan, namun perkataan Iqbal masih bisa kudengar. "Apa?" Aku bertanya untuk memastikan. Sorot mata kami berdua saling bertemu. Senyum Iqbal sangat tipis. "Iqbal?" "Eh, Danish, apa kabar?" sapa Iqbal ramah. Danish tersenyum serta membalas jabatan tangan Iqbal padanya. Sebagai seorang suami, aku heran pada sikap Danish, apa dia tidak cemburu melihat aku berbicara dengan laki-laki lain? "Alhamdulillah." "Belanja?" "Iya, Anika sedang hamil, kami baru saja belanja untuk keperluan kehamilannya." "Anika hamil?" tanya Iqbal balik, dia tersenyum, tapi yang lebih menonjol adalah ekspresi kaget. Danish mengangguk. "Umh ... iya, dua bulan," jawabku pelan. Senyuman Iqbal kian menipis, memasukkan tangan kedalam saku celananya dan memberi selamat. Ah ... ada apa dengan ekspresinya? Kenapa raut wajahnya begitu? Sampai kami bertiga berpisah dan menuju perjalanan pulang. Aku menatap kosong ke arah depan. Meski ingin menyingkirkan, tapi sekilas perkataan Iqbal terlintas. "Nika? Kamu sedang memikirkan apa?" "Engh? Kenapa?" tanyaku balik. "Jangan melamun, apa ada yang kamu pikirkan?" Danish bertanya lagi. "Tidak, Dan. Hanya minggu lalu Bu Dewi nelpon, minta aku sama Thaya main ke sana. Bu Dewi pasti merindukan cucunya" "Oh, kenapa kamu tidak pernah bilang, Nika?" "Aku cuma memikirkan waktu yang tepat, Danish." "Maksud kamu?" tanya Danish dengan sedikit kerutan di kening. "Bu Dewi pasti minta aku sama Thaya menginap lagi. Saat awal pernikahan kita, aku masih merasa nyaman pergi keluar rumah sehari semalam tanpa kamu. Tapi sekarang, aku tidak bisa. Karena aku takut timbul fitnah, Dan. Jadi kupikir, mau sekalian mengajak kamu ke sana besok." "MasyaAllah, aku semakin bersyukur sudah diberi istri sepertimu, Nika." Danish tersenyum manis. Diraihnya tanganku. Kelima jari kami saling menyatu, sedikit memberikan hangat. Aku pun berkata demikian. *** Sampai di rumah, kami bertiga masuk ke dalam dengan membawa segenggam harapan. Ingin menyampaikan kabar baik ini pada Umi dan Abi. Berharap mereka akan ikut merasakan kebahagiaan akan hadirnya anggota baru di keluarga. "Assalamu'alaikum, Umi." Danish lebih dulu masuk, berjalan cepat mencari Bu Rosma. Aku hanya tersenyum melihat semangatnya. Bahkan melebihi semangatku. Wanita paruh baya yang dipanggil pun menyahut dari dalam. "Waalaikum salam, Danish? Kalian dari mana saja? Umi nunggu kedatangan kamu sejak tadi, Dan." "Maaf, Umi. Tadi kami bertiga baru pergi ke klinik." "Astagfirullah, kamu sakit? Kalau kamu sakit kenapa tidak bilang sama Umi? Biar Umi yang panggilkan Dokter," ucap Bu Rosma bertubi-tubi. "Umi, dengar penjelasanku dulu. Bukan aku yang sakit, tapi tadi Anika yang diperiksa oleh Dokter, karena--" "Alhamdulillah, Umi lega mendengarnya. Umi khawatir kalau kamu sakit Danish." Terus memotong perkataan Danish, Bu Rosma seperti enggan menanyakan bagaimana kabarku. Segera menggelengkan kepala menepiskan pemikiran burukku, sebisa mungkin menanggapi positif sikap Bu Rosma. "Umi, ada hal yang ingin aku sampaikan pada Umi," ucap Danish. "Ditunda dulu, ya. Karena Umi juga punya kabar penting untuk kamu." "Tapi, Umi. Kabar ini penting sekali." "Apa ada hal yang lebih penting selain, Umi?" Nada suaranya berubah. Segera kuraih tangan Danish agar menghentikan pembicaraan ini, menunda kabar baik padanya. Karena Bu Rosma terlihat sedikit marah. Aku pun sedikit berbisik. "Itu bisa ditunda, Dan." Danish menoleh, mengerti dengan maksud ucapanku. Dia pun menuruti permintaan Bu Rosma. Kembali kedalam kamar bersama Athaya setelah menyimpan barang belanjaan. Bu Rosma hanya ingin berbicara berdua dengan Danish. Entah apa yang mereka bicarakan, aku tak berani menguping atau pun ingin tahu. *** Setelah mandi aku bersolek diri sebaik mungkin, duduk di depan meja rias, menghadap ke arah cermin. Tak ingin terlihat kucel saat ada suami di rumah. Hanya karena ada Danish mengenakan make-up, menjaga kemaluanku saat dia tidak ada. Kurasa itu lebih baik. Kulihat arah jam di dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Semenjak Bu Rosma mengatakan beliau ingin bicara dengan Danish, suamiku belum kembali atau pun masuk ke dalam kamar. Kami melewatkan shalat isya berjama'ah. Kemana dia pergi? Sekali lagi menepiskan pemikiran buruk, kuusap lembut calon buah hati yang ada dalam rahim. Harapan kecil mulai tumbuh. "Kamu sabar ya, Nak. Sebentar lagi, kebahagiaan itu akan datang pada kita. Kamu, kak Thaya Ayah sama Ibu. Ibu hanya harus sedikit lebih berusaha lagi untuk meyakinkan Nenek," lirihku. Waktu berjalan dengan semestinya, tak bisa memejamkan mata barang satu detik, membolak-balikkan tubuh untuk mencari posisi yang nyaman. Gelisah tak menentu, kembali kulihat jam di dinding. "Jam sebelas malam, Danish belum pulang juga, dia kemana ya?" tanyaku pada diri sendiri. Aku begitu khawatir, memikirkan bagaimana keadaannya. Danish bahkan belum sempat makan semenjak pulang kerja. Mengganti pakaian pun belum ia lakukan setelah Bu Rosma mengajaknya bicara. Terbesit pertanyaan, kemana sebenarnya mereka pergi, sampai larut malam, Danish dan Bu Rosma belum juga kembali. Menghubunginya lewat Handphone juga tak tersambung. "Ya Allah, lindungi suami dan Ibu mertuaku," gumamku dalm hati. Beberapa menit kemudian, terdengar suara pintu kamar terbuka "Assalamu'alaikum." "Waalaikum salam, Danish!" Segera membuka selimut, aku menghampir Danish yang berjalan ke arahku. Kuraih punggung tangan kanannya serta membukakan jaket yang dia kenakan, langsung memeluk tubuhnya erat. Danish tak menolak, dia balas melingkarkan lengannya di tubuhku. Kubenamkan wajah di d**a bidangnya, merasakan suhu tubuh Danish yang hangat. "Kenapa?" tanyanya pelan. "Aku rindu, sekaligus khawatir sama kamu, Danish." "Baru aku tinggal tiga jam kamu sudah rindu?" Aku mengangguk pelan, hanya lingkaran tanganku yang berucap. "Kamu sama Umi dari mana?" Tak terdengar Danish bicara dalam beberapa detik, kulepaskan pelukan namun lengan masih melingkar di pinggangnya. Mata sayu itu mulai menghipnotis diriku. "Mengantar Umi menjenguk orang sakit." "Emh? Memang siapa yang sakit? Sakit apa? Ko aku tidak diajak sih?" Danish tersenyum begitu manis, usapan lembutnya membelai rambutku dari pangkal hingga keujung helaian membuat degup jantung tak bisa terkontrol dengan baik. "Kamu seperti anak kecil, Nika." Danish meletakkan telapak tangannya di pundakku. "Tentu saja karena aku mengkhawatirkanmu, udara malam hari tidak cocok untuk Ibu hamil. Aku tidak ingin membuat istri dan calon anakku sakit." Terucap kata-kata yang begitu manis, jawaban Danish membuat hatiku terenyuh. "Ya, baiklah, aku ngerti," jawabku pelan. Danish menuju kamar mandi dan aku pun kembali merapihkan tempat tidur senyaman mungkin. Lima belas menit kemudian usai mandi dan mengganti pakaian, Danish menghampiri dan berbaring di sebelahku. Sedikit yang kurasakan ... dia terlihat agak murung. Diam tanpa kata, dia menarik selimut dan memejamkan mata. Mengabaikanku yang sejak tadi menungguinya. "Danish, apa kamu sudah bicara sama Umi soal kehamilanku?" tanyaku memecah keheningan. Entah Danish sudah terlelap atau belum, tapi masih penasaran juga apa yang terjadi padanya. "Sudah." "Hah? Lalu bagaimana reaksinya, Dan?" "Umi bahagia, Nika. Siapa orang yang tak bahagia akan mendapatkan cucu baru." Samar suara Danish berkata, dia yang terlentang di sebelahku hanya menatap langit-langit. Kosong pandangannya, entah apa yang dia pikirkan, aku malah semakin penasaran. "Kamu memikirkan apa, Dan?" "Kamu." Singkatnya menjawab. "Aku?" Hening sesaat, Danish berbalik menyamping. Menyimpan lengan kanannya di pinggangku. Ekspresinya datar. "Ya, maaf, Nika. Sepertinya besok aku tidak bisa menemanimu ke rumah Bu Dewi." "Kenapa?" sedikit manyun, aku menatap Danish dengan penuh keingintahuan. Padahal, besok adalah hari sabtu, Danish tak mendapat lembur dilanjutkan dengan hari libur berikutnya. Waktu yang sangat tepat untuk kami bersama melakukan quality time. "Tadi, Pak Arya nelpon. Katanya ada project baru yang tak bisa ditunda. Aku harus pergi ke Bekasi untuk mempelajari project itu, Nika." Aku mengernyit heran. "Hari sabtu kamu harus kerja? Apa tidak ada hari lain?" "Kamu marah?" "Jelas!" Kusingkirkan lengannya dari pinggang dan membelakanginya. Jengkel, kenapa juga disaat-saat penting Danish malah harus bekerja. Bahkan untuk di hari libur. "Nika, jangan marah. " Tak menggubris bujuk rayunya, sekarang aku yang memejamkan mata terlebih dulu. Mood berubah drastis. Tiba-tiba kesal terhadap Danish dan tak ingin melihat wajahnya sekali pun. Aku tidur. *** Pagi hari setelah salat subuh, mual hebat mendera, jangankan untuk makan seteguk minuman pun tak bisa masuk. Pekerjaan di dapur sedikit terbengkalai karena bolak-balik kekamar mandi. "Danish! Suruh istrimu istirahat saja. Sepertinya dia sakit." Terdengar suara Bu Rosma sedikit berteriak memanggil Danish. Aku yang berada dalam kamar mandi pun segera membersihkan mulut beserta lantainya. "Iya, Umi." Kubuka pintu kamar mandi, ternyata Danish sudah berada di depanku. Raut wajahnya tampak khawatir. Menuntunku keluar dari sana. "Kamu baik-baik saja, Nika? Apa perlu kita ke Dokter lagi?" tanya Danish. "Tidak usah, Dan. Ini hal biasa ko, nanti siang juga hilang mualnya." Bu Rosma yang telah selesai menyiapkan makanan untuk Danish pun menghampiri kami. Dipegangnya keningku walau sesaat, aku sangat kaget. "Hangat. Danish, cepat bawa istrimu ke kamar, nanti Umi yang akan merawatnya. Mudah-mudahan saja mualnya hilang sebentar lagi." Pelan suaranya, memijit-mijit bahuku Bu Rosma terkesan peduli. Ya Allah ... Apa ini yang dirasakan Danish? Begitu hangat perhatiannya. Aku tersenyum simpul. Danish pun menyetujui, menuntunku kedalam kamar dan meminta agar istirahat total. Danish juga menyarankan agar kepergian kerumah Bu Dewi ditunda dulu sampai kondisiku membaik. Mengiyakan permintaan Danish, karena tak ingin mengambil resiko terhadap janinku. "Kamu istirahat. Insya Allah, aku akan pulang lebih awal hari ini." "Iya, Danish. Kamu juga hati-hati di jalan. Bekasi memang tak terlalu jauh. Tapi aku tetap khawatir sama kamu." Menarikkan selimut menutupi sebagian tubuhkj, Danish mengecup kening dengan lembut. "Insya Allah, semuanya akan baik-baik saja, Nika." Usapan tangan Danish di rambutku serta ucapan salam mengakhiri pembicaraan kami. Dia pun berangkat dan aku berdiam diri di kamar. Saat bergulung dengan perasaan, tiba-tiba mendengar getar gawai di balik bantal. "Engh? Inikan hp Danish? Ya ampun, Danish lupa bawa hp!" Aku terperanjat dari tidur, ingin mengejar Danish keluar. Namun saat melihat keluar jendela, mobil Danish sudah pergi. Dia benar-benar melupakan ponselnya. Merasakan ada panggilan masuk yang lebih dari satu kali, aku membaca tulisan yang tertera di layar. Hanya sederet nomor tanpa nama. Menerima panggilan itu, siapa tahu ini penting. Aku mendengar seseorang berbicara. [Assalamu'alaikum, Danish? Apa kamu sudah berangkat dari rumah? Aku menunggu di perempatan jalan] Mengernyit tak mengerti, suara seorang wanita yang terdengar akrab dengan suamiku ini tak sungkan saat berkata. "Waalaikum salam, maaf? Ini siapa ya? Saya istrinya." Panggilan terputus.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD