Istri mana yang tak kesal, mendapat telpon dari seorang wanita pada gawai suami. Segala pemikiran timbul. Apa mungkin? Mana mungkin? Bisa jadi dan bisa saja. Begitu banyak kelanjutan kalimat dari kata itu. Tapi tak berani mengambil kesimpulan sebab hal ini pun masih tidak jelas.
Pada akhirnya. Uring-uringan tidak jelas. Seharian hanya berada di dalam rumah. Sesekali menemani Athaya main dan sesudah itu kembali ke kamar.
"Assalamu'alaikum, Nika."
"Waalaikum salam," jawabku dari dalam.
Aku menoleh ke arah pintu. Suara Danish terdengar, namun tak turun dari tempat tidur dan menarik selimut. Tak acuh pada kedatangannya. Aku masih jengkel.
"Nika, apa kamu masih sakit?" tanya Danish.
Diam.
Merasakan Danish duduk di samping, aku pura-pura tak mendengar atau merasakannya. Dipegangnya keningku dengan lembut, dia pun berkata lagi.
"Apa kamu masih marah karena aku pergi kerja hari ini?"
Aku masih diam. Aku menarik selimut menutupi seluruh wajah. Membiarkan dia beranggapan apa pun.
"Nika, jangan marah. Bukankah aku sudah menepati janji? Atau, kalau kamu ingin pergi kerumah Bu Dewi sekarang juga aku siap."
Darahku semakin mendidih. Bagaimana bisa Danish bersikap tenang begitu? Sedangkan siapa tahu saja seharian tadi dia pergi dengan wanita yang menelpon tadi pagi.
Kubuka selimut dengan kasar lalu duduk menghadap langsung ke arah Danish, aku menatapnya tajam.
"Kamu sudah berani bohong sama aku, Dan."
"Bohong apa?"
"Seharian tadi kamu tidak kerja kan? Tapi kamu jalan sama perempuan lain?! Kenapa sih kamu harus bohong, Danish?!"
"Kenapa kamu bisa berpikiran begitu?" Danish bertanya dengan sedikit kerutan di kening. Dia pasti heran dengan kemarahan dan tuduhanku yang tiba-tiba.
"Tadi pagi ada yang nelpon ke Hp kamu! Dan itu perempuan! Dia siapa sih? Kenapa dia bisa akrab banget sama kamu?"
Hening sesaat, kulihat ekspresi wajah Danish yang tadinya heran malah terkekeh kecil. Tak secuil pun rasa bersalah atau pun marah.
Sekarang, aku yang tak mengerti, masih menatapnya dengan penuh keingintahuan.
"Kenapa kamu?"
"Jadi karena itu kamu marah?"
Kualihkan pandangan dan tak menjawab.
"Pasti Tari yang menghubungi kamu tadi pagi. Dia itu sepupuku, kebetulan aku dapat kerjaan di Bekasi. Tari meminta tumpangan karena dia ingin ke rumah orang tuanya yang di sana. Jadi tadi pagi aku berangkat bersamanya," jelas Danish.
Napas mulai bisa diatur, degup jantung mulai tenang setelah mendapat penjelasan darinya. Tatapan Danish tak menunjukkan kebohongan. Diaa pasti berkata jujur, dan aku percaya. Suamiku tak mungkin beralih hati apalagi bermain perempuan di luar sana.
"Beneran?" Sekali lagi aku memastikan.
"Iya, kamu percaya padaku kan?"
Aku tersenyum dan mengangguk pelan. Menyingkirkan segala alasan, mengambil pemikiran positif. Aku pun kembali luluh.
***
Bulan berganti. Kehamilanku mulai membesar. Alhamdulillah, dengan kasih sayang dan keadilan yang Allah Swt berikan kepadaku. Bu Rosma mulai bersikap baik. Bahkan sangat baik.
Tak pernah lagi memperlakukanku sebagai orang asing. Sekarang aku sudah merasa diakui sebagai salah satu anggota keluarga di rumah ini. Segala keperluan beliau yang menyediakan, cek ke Dokter beliau yang mengantar saat Danish berhalangan. Makanan bergizi tak pernah kurang.
Aku benar-benar diperlakukan seperti putrinya sendiri.
Tapi, perubahan sikap mulai ditunjukan Danish. Diaa malah sebaliknya dari Bu Rosma. Yang biasanya Danish terasa hangat kini mulai dingin. Memang tak terlalu, tapi dia seolah memiliki beban begitu berat yang ada dalam pikiran dan hatinya. Dia sedikit pendiam dan enggan ditanyai apa masalahnya.
Sebagai seorang istri, aku merasa khawatir atas perubahan ini. Apa sebenarnya masalah yang dia hadapi? Kenapa dia seolah enggan menceritakannya padaku.
Sampai hari itu tiba, hari dimana aku mendapatkan jawaban dari semua pertanyaan yang ada dalam pikiran.
Bayi yang ada dalam kandungku sudah memasuki usia 5 bulan, semua persiapan mulai dibeli satu per satu. Satu bulan sekali, sudah menjadi kebiasaan aku dan Athaya pergi berkunjung ke rumah Bu Dewi. Beliau selalu menyambutku dengan baik, apalagi tahu kalau aku akan punya anak. Beliau begitu antusias ingin mengambil peran. Membantu membelikan kebutuhan calon bayiku, saat datang kerumahnya Bu Dewi mengajak pergi ke pusat perbelanjaan. Athaya pun sedang bermain bersama Bapak. Hingga hanya kami berdua yang berangkat.
Karena tak memiliki kendaraan pribadi, aku dan Bu Dewi pergi ke tempat itu dengan menggunakan kendaraan umum. Danish juga berkata akan menyusul kami setelah dia pulang kerja nanti.
"Bu, ini banyak sekali belanjaannya. Apa tidak sayang? Aku tidak enak kalau Ibu membeli ini semua," ucapku.
Dua kantung plastik berukuran besar dia jinjing, di dalamnya berisikan semua perlengkapan bayi. Meski berulang kali aku menolak pemberiannya, tapi Bu Dewi tetep kekeh ingin membelikan ini semua.
"Tak apa, ini kan untuk calon cucu Ibu juga."
"Tapi, Bu. Pakaian Athaya sewaktu bayi kan masih ada. Menurut aku, itu masih layak pakai."
Sambil menunggu angkot yang mengarah ke Wantilan Ibu menyimpan barang belanjaannya di tanah. Lima belas menit sudah kami di sini. Keringat sudah bercucuran di balik gamis yang kukenakam. Tak terlihat penat atau mengeluh, Bu Dewi malah tersenyum.
"Anika, tolong jangan menolak pemberian Ibu, kamu sudah Ibu anggap anak sendiri, apa pun, akan Ibu lakukan untuk kamu. Termasuk memberikan yang terbaik untuk anak kamu, Ibu tidak ingin kamu membahas hal ini lagi, ya."
Berbinar matanya saat bicara, mengusap perut besarku terasa dalam kasih sayangnya. Tanpa pamrih beliau memberiku perhatian. Bu Dewi benar-benar menjadi sosok Ibu yang selama ini aku idamkan.
Tid!
Tid!
Terdengar suara klakson mobil di dekat kami, kukira itu adalah angkot jurusan yang kami tunggu. Tapi ternyata bukan. Sebuah mobil Toyota berwarna putih mengkilat berhenti di hadapan kami berdua.
"Ibu? Nika? Sedang apa di sini?" tanya Iqbal dari dalam mobil tanpa turun.
"Menunggu angkot, mau pulang." Aku menengok kesana-kemari, tapi nyatanya angkot yang kami tunggu tak kunjung datang.
"Masuk, yu. Kuantar sampai rumah," tawar Iqbal.
"Nanti merepotkan kamu, Iqbal. Kami nunggu angkot saja."
"Tidak, Nika. Aku malah senang bisa membantu kamu sama Ibu."
Aku menoleh ke arah Bu Dewi, beliau hanya mengangguk pelan mengiyakan. Kami berdua pun masuk kedalam mobil Iqbal. Niat baik laki-laki ini tak bisa kutolak sebab telah menunggu terlalu lama di tempat tadi.
Di dalam mobil, kami bertiga ngobrol biasa. Membicarakan tentang Athaya dan juga hal lain. Satu hal yang kusadari mengenai laki-laki ini. Dia sangat baik. Bahkan setelah aku menikah, dia tetap bersikap baik dan normal terhadapku Athaya dan Danish. Beruntung sekali wanita yang akan menjadi istrinya kelak.
"Iqbal! Berhenti!" Aku berteriak.
Sontak saja Iqbal menghentikan laju mobilnya mendadak hingga menimbulkan kendaraan di belakang kami rIbut.
"Kenapa, Nika?" tanya Bu Dewi.
Aku tak menjawab, namun segera melepas sabuk pengaman dan keluar dari mobil. Aku mengarah ke suatu tempat. Entah kenapa tiba-tiba saja melihat hal yang tak biasa. Iqbal dan Bu Dewi yang menyeru dari belakang pun kuabaikan. Menghampiri sosok yang teramat sangat kukenal di depan. Aku terus melangkah. Bobot tubuh yang terasa berat semakin terasa, sesak bercampur panas di hati membuat gerah. Melihat senyuman khas itu terpancar dari seseorang.
"Danish," panggilku menyebut namanya.
Napasku terengah, mata menyipit, menerka kembali apa yang kulihat ini benar atau tidak.
"Anika?"
Ternyata benar. Dia adalah suamiku. Danish Chinaldy Pratama. Bersama seorang wanita yang tak kukenal. Sedang duduk berdua di sebuah rumah makan. Cantik rupa wajahnya, syar'i membalut tubuhnya dari ujung kaki hingga kepala. Mereka berdua langsung berdiri karena menyadari keberadaanku.
"Kamu sedang apa? Dia siapa?" tanyaku masih dengan berusaha tenang.
"Nika, kamu jangan salah paham dulu, dia ini adalah--"
"Danish ... aku yang menjelaskan padanya, ya." Wanita itu berucap pelan. Dia menatap Danish serius. Tapi parahnya. Dia memegang tangan Danish saat bicara.
Apa ini? Kenapa wanita itu menyentuh suamiku? Bukankah seharusnya Danish tahu kalau mereka berdua bukan mukhrim? Kenapa Danish terlihat pasrah disetuh olehnya? Pikiranku mulai kalut.
"Lepas tangan kamu dari suamiku! Siapa kamu?! Siapa?!" Aku mulai membentaknya. Memisahkan dengan paksa tangan mereka berdua.
"Nika, tolong jangan emosi dulu, aku bisa jelaskan semuanya."
"Diam kamu!" Aku marah. Sangat marah. Napas mulai sesak. Mata memerah karena emosi dan tangis yang ingin meledak kapan saja. Menatap tajam wanita itu tanpa celah. Namun dia begitu tenang.
"Danish, apa kamu belum mengatakan yang sejujurnya?"
"Jujur apa? Memang ada rahasia apa di antara kalian?"
Terus melonjak emosiku, Bu Dewi dan Iqbal juga ada di sini. Danish juga terus menahan amarah yang mulai merajai diri.
"Zahra, ini bukan waktu yang tepat mengatakan semuanya. Aku tidak ingin ada kesalahfahaman antara aku dan Anika. Biar nanti aku yang akan menjelaskan semuanya pada istriku."
Semakin tak mengerti dengan ini semua, sebenarnya apa yang ingin mereka katakan? Kenapa juga Danish bisa dengan fasih menyebut nama itu tanpa ragu.
"Zahra? Jadi nama dia Zahra? Kejujuran apa yang mau kamu bilang, Dan?! Jujur kalau kamu sudah selingkuh? Kamu main perempuan di belakang aku? Iya? Itu maksud kamu?!"
"Tidak. Kita berdua tidak serendah itu. Danish adalah suami yang baik, dan sampai sekarang. Dia masih suamiku yang sah secara agama."
"A-apa? S-suami? Siapa?" Napasku terjeda akibat kaget mendengar pernyataannya.
"Zahra! Sudah cukup!" Suara Danish mengeras. Dia terlihat marah. Tapi wanita itu tak terlihat takut atau menunjukkan bahwa dia akan menarik kata-katanya.
"Aku adalah istri sahnya dan sampai detik ini, dia masih suamiku."
"Zahra!"
Satu hal yang tak pernah kusangka.
Kenapa lagi-lagi takdir mempermainkan hidupku seperti ini.
"Istri? Ist ... Ah. Astagfirullah adzim ya Allah." Tubuhku lunglai, sakit mendera kepalaku. Mendengar hal yang tak pernah kuduga sebelumnya. Ini bahkan sangat menyakitkan. Aku syok berat.
"Ya Allah, Anika!"
Danish memburu tubuhku yang oleng, dia sangat panik, aku bisa merasakannya. Tapi jijik mendapat sentuhan darinya aku menepis bantuan Danish.
"Pergi kamu," lirihku seraya menahan sakit. Kuhempas tangannya yang memegang tubuhku di lantai.
Bu Dewi dan Iqbal menghampiri.
"Nika, aku mohon, aku bisa menjelaskan semuanya. Yang kamu dengar hanya separuh dari fakta yang ada." Danish berucap lagi.
"Aku tidak butuh penjelasan dari seseorang yang munafik seperti kamu! Aku kecewa sama kamu, Danish! Aku kecewa sama kamu!" bentakku padanya. Semakin meringis kesakitan, aku masih ingin mengeluarkan seluruh emosi. Kekecewaan terdalam yang pernah kurasakan. Adalah dimana saat aku mengetahui, orang yang sangat kucintai membohongiku dengan hal sebesar ini.
Danish meraih tubuhku, dia memeluk dengan begitu erat. Mendorong tubuhnya adalah sia-sia. Tenagaku hampir terkuras habis.
"Minggir kamu!"
"Nika, dengar penjelasanku dulu."
Aku terus berontak, memukul d**a bidangnya yang selama ini memberi kehangatan. Kini aku benci berada di pelukannya.
"Minggir aku bilang! Lepasin aku!"
"Nika, tolong, dia memang istriku, tapi sebenarnya--"
Pelukannya tiba-tiba terlepas dari tubuhku sebelum Danish menyelesaikan kata-katanya. Bukan olehku, melainkan Iqbal yang mendorong dan menarik tubuh Danish hingga tersungkur ke belakang.
Satu hantaman keras didaratkan Iqbal tepat di wajah Danish. Wanita itu lantas menghampiri. Dia terlihat khawatir dan marah pada perlakuan Iqbal yang terlewat batas.
Aku kaget namun juga cemburu. Melihat suamiku benar-benar disentuh wanita lain.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Zahra.
"Kamu ... tidak pantas mempermainkan perasaan Anika sampai sejauh ini! Itu adalah balasan bagi penipu seperti kamu!" bentak Iqbal.
Ingin bicara tapi perutku kian sakit. Tak bisa lagi bergerak atau berdiri. Ini sungguh menguras tenaga.
"Ibu tolong ... perutku sakit."
"Astagfirullah, Nak? Kita harus bawa Anika kerumah sakit! Ayo cepat." Bu Dewi menyela. Beliau menangis di dekatku.
Iqbal langsung menghampiri dan meraih satu lenganku. Danish pun dengan cepat datang. Tapi terhalangi oleh Iqbal yang sudah seperti benteng.
"Aku yang akan mengantarnya, jangan sentuh istriku!" Danish menyerobot tanganku dari Iqbal.
"Jangan harap!"
"Danish! Hentikan, itu sia-sia saja!"
Mereka bertengkar, keras suara berdengung di telinga. Sampai aku tidak lagi ingat apa yang terjadi, semuanya gelap.