Keputusan Menikah demi Athaya

2157 Words
Setelah membaringkan Athaya di kamar. Aku kembali mengahmpiri mereka yang datang ke rumah. Iqbal juga masih ada. Dia tampak heran dengan kedatangan Danish dan kedua orang tuanya. "An, aku pamit pulang, ya," ucap Iqbal. Tanpa menjawabnya, aku hanya tersenyum dan mengangguk pelan. Lalu meminta izin pada Bu Dewi untuk mengatarnya sampai ke depan pintu. Sekaligus untuk menjelaskan apa yang terjadi. "Maaf ya, aku jadi tidak enak sama kamu," ucapku dengan ragu. "Harusnya aku yang minta maaf sama kamu, Nika. Karena, aku tidak tau kalau ternyata kamu sudah ada yang punya." Iqbal masih tersenyum saat bicara. "Iqbal, sebenernya hal itu juga yang mau aku jelaskan, kalau--" Ucapanku terpotong karena melihat Iqbal mengulurkan satu tangannya. "Selamat ya, semoga kalian bahagia." "Iqbal ...." Dia masih mengulurkan tangannya, senyumnya jelas terpaksa. Tapi aku tak bisa menebak isi hati seseorang. Dia juga tak pernah menyatakan perasaannya padaku. Bahkan kami dekat juga baru-baru ini. Dengan perasaan campur aduk, kepergian Iqbal nyatanya membuat hati sakit. Apa karena aku memiliki perasaan padanya? Sepertinya tidak. Pasti aku hanya terbawa perasaan sebab melihat ekspresi yang ditunjukannya. Kembali lagi ke dalam rumah, masih dengan hati tak karuan. Duduk di samping Ayah yang sudah rapih dengan baju kemeja birunya. Rambut dan janggutnya yang sudah ditumbuhi uban kini kembali diwarnai hitam. Tak seperti biasanya Ayah berpenampilan seperti ini. Di sebrang sana, Danish duduk bersama kedua orang tuanya. Penampilannya sangat rapih dari ujung kaki hingga kepala. Dia tersenyum tipis ke arahku. Tapi aku enggan membalasnya dan membuang pandangan ke bawah. Aku sama sekali tak berani menatap mereka, apalagi tatapan seorang wanita bertubuh lumayan berisi yang dibalut dengan pakaian syar'i berwarna navy itu terkadang menatap sinis. Pembicaraan kami berlanjut ke arah yang lebih menyudut ke inti kedatangan mereka. Sedangkan aku sendiri masih ragu dengan perasaanku sendiri. Apakah Danish adalah laki-laki yang terbaik untukku? Untuk Athaya? Apakah Athaya akan menyuakinya seperti menyukai Iqbal? Hati berkemelut sendiri. "Apa kamu sudah tau tentang status anak saya sekarang?" tanya Ayah pada Danish. "Ya." "Apa kamu yakin, akan tetap menikahinya?" "Yakin, insya Allah." "Kau tau, anak saya memiliki tempramen tinggi, dia tak mudah mengalah dan sedikit egois, dia juga tak bisa memasak, dia masih harus banyak belajar, apa kamu masih yakin akan menikahinya?" Alisku berkedut. Kenapa Ayah malah menunjukkan semua keburukanku pada mereka? Melihat tatapan wanita yang duduk di samping Danish. Itu sedikit membuat nyali ciut. Aku bahkan tak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika menjadi menantunya. Danish masih menjawab pelan namun tegas. "Saya akan membimbingnya." "Tapi Anika juga termasuk wanita baik-baik, tidak mudah menyerah dan tidak pernah melakukan sesuatu yang diluar batas." "Ya ... saya tahu." Hening sesaat. Suasana tegang kian meresap. "Sekali lagi saya bertanya. Apa kamu benar-benar sudah yakin ingin menikahi anak saya dan menerima Athaya sebagai anakmu?" tanya Ayah sedikit lebih tegas. "Ya. Saya yakin ... lillahi ta'ala. Saya juga akan menyayangi dan menerima Athaya sebagaimana mestinya." Kutatap Danish. Laki-laki itu menjawab dengan tanpa ada ragu sedikitpun. Lancar dan sangat yakin dengan jawabannya. Ayah juga masih mengajaknya bicara, sampai akhirnya Ayah memasrahkan semua jawabannya padaku. "Bagaimana, Nika? Apa kamu bersedia menerima Danish sebagai calon suamimu?" tanya Ayah. Jantung berdegup cepat, tangan saling mengepal dan berkeringat. Aku gugup bukan main, padahal ini adalah pengalaman kedua. Menerima seorang laki-laki sebagai suami tanpa ada pendekatan sama sekali terlebih dulu. Membuat pikiran menjadi kacau balau. Terlintas di pikiranku, bagaimana bahtera rumah tangga kami nanti? Sedangkan aku dan Danish sudah seperti minyak dan air. Tak pernah menyatu dalam hal apa pun. "Maaf, tapi ... aku tidak bisa menerimanya." Kecuali Danish. Semua orang tampak terkejut dengan jawaban yang kuberikan. Ayah, Bu Dewi, dan kedua orang tua Danish. Sikap yang ditunjukkan Danish sangat tenang, dan sekarang malah aku sendiri yang serba salah dengan jawabanku. "Maaf, Pak, Bu, saya akan bicara dulu dengan Anika." Ayah meminta izin bicara berdua. Mengajakku menjauh dari mereka dan mencari tempat lain. "Nika, apa kamu sadar dengan ucapanmu tadi?" tanya Ayah. Aku menunduk, tak berani menatap matanya yang menujukkan kekesalan. Diam tak menjawab. "Kenapa kamu menolak lamarannya?" Sekali lagi Ayah bertanya. "Maaf Ayah, tapi aku tidak kenal sama Danish. Kami berdua tidak pernah dekat sebelumnya. Aku sendiri masih heran kenapa Danish mau nikah sama aku." "Kenapa kamu bisa seangkuh itu Anika?" "Maksud Ayah?" "Kamu menolak lamaran dari seseorang yang ingin menyelamatkanmu dari fitnah." Aku menunduk lagi. Sangat mengerti kemana arah pembicaraan Ayah padaku. "Apa yang kamu inginkan? Masih ingin bebas? Apa kamu pikir Ayah tidak tau kelakuanmu kemarin?" Baiklah ... sekarang Ayah marah. Dan aku mengerti kemarahan itu. "Anika ... apa kamu lupa, sekarang kamu tinggal bersama siapa?" Ayah terus bicara, agak berbisik namun terasa menyayat hati. Benar juga. Selama ini aku tinggal bersama Bu Dewi. Tak sepantasnya aku bersikap semaunya sendiri. Apalagi sampai mencoreng nama baik Ibu mertua yang seperti malaikat itu. "Nika, dengarkan Ayah." Ayah menatapku dalam-dalam. Dan aku hanya bisa menunduk. "Apa kamu tau apa alasan rumah tangga Ayah hancur berantakan?" Aku menggeleng pelan, masih tetap menunduk. "Itu karena Ayah gagal melakukan tugas Ayah sebagai seorang suami, Ayah tidak mampu membimbing Ibu kamu, Ayah tidak mampu memenuhi keinginannya. Sampai dia memilih pergi meninggalkan kita. Dan kamu tau apa akibatnya sekarang?" Aku diam. "Kamu adalah orang yang paling tersakiti." Masih mendengar kata-kata Ayah. Hati semakin perih saat menyadari Ayah begitu mengerti keadaanku. Kurang kasih sayang seorang Ibu. Itu adalah resiko yang di dapat dari pekerjaan Ibuku sebagai seorang TKW. "Dengan kamu kerja sendirian, sekarang pasti Athaya sering kamu tinggalkan. Kamu sibuk kerja setiap hari, sampai hanya memiliki waktu luang sedikit untuk anak kamu. Iya kan? Apa kamu ingin Athaya merasakan apa yang kamu rasakan?" Aku tak menjawab perkataan Ayah. "Apa lagi yang kamu pikirkan Anika? Sepertinya, Danish adalah laki-laki yang baik. Dia mampu menjawab dengan tegas pertanyaan Ayah. Itu artinya, Danish sudah siap bertanggung jawab atas kamu dan Athaya. Ayah hanya ingin yang terbaik. Setidaknya, pikirkan masa depan Athaya. Jangan sampai Thaya merasakan kurangnya kasih sayang kamu sebagai Ibunya." Tak terasa air mataku menetes. Menerobos keluar dan menghancurkan segala pembatas. Satu hal lagi kebodohan yang kulakukan. Yaitu, membiarkan Athaya melewati masa kecilnya sendiri. Aku melewatkan tumbuh kembang Athaya begitu saja. sibuk dengan urusan dunia, dan terobsesi dengan hal bersifat sementara. Ayah mengusap pundak ketika aku masih larut dalam penyesalan. "Ayah percaya sama kamu," ucapnya kemudian. Terdiam sejenak dan menghapus air mata. Berusaha menegarkan diri dan berpikir dengan jernih. Danish. Danish. Danish. Menyebut nama itu tiga kali dalam hati. Mencoba memasukkan dirinya kedalam hati. Meski hati masih terpaut pada Alm. Wingky, namun aku tak bisa mengabaikan kebahagiaan Athaya. Danish. Apakah dia laki-laki yang mampu membimbingku dalam segala hal? Apakah dia mampu menerimaku apa adanya? Dengan pertanyaan yang membludak di pikiranku. Dan setelah mengingat kembali jawaban Danish tadi. Akhirnya aku menjawab. "Iya." Kembali ke ruang tamu dengan mata sembap, kualihkan pandangan dari siapa pun. Duduk lagi di samping Ayah dan melanjutkan pembicaraan. Meminta maaf atas jawaban yang kulontarkan tadi. Setelah melewati perbincangan ini dan itu yang terasa alot dan membosankan. Sekali lagi Ayah bertanya padaku tentang jawaban mana ya kupilih. Dengan suara pelan dan menunduk. Aku menjawab, "ya, aku menerima Danish sebagai calon suamiku." Segala ucapan syukur terdengar menyakitkan, bagaimana tidak, jika bukan karena Athaya, Ayah dan Bu Dewi. Aku tak mungkin menerima lamaran Danish. Kulihat sekilas Danish tersenyum lega, berbinar sorot matanya. Tapi hati langsung bergetar saat raut wajah Umi-nya berbeda. Sungguh aku menyadari, ketidaksukaannya terhadapku. Mungkin baginya, aku tidak sebanding dengan anaknya yang sempurna. *** Setelah acara selesai pukul sembilan lebih. Kami mengantar kepulangan calon besan ke luar rumah, aku masih terdiam sejak terakhir mengatakan 'iya'. Menoleh kesana-kemari, para tetangga hanya menjadi penonton setia atas drama kehidupanku yang rumit. Pasti mereka senang, karena pada akhirnya sang janda yang digosipkan merayu para suami mereka itu akan menikah. Ayah dan Bu Dewi sudah kembali ke dalam setelah calon besan mereka hampir masuk mobil. Sedangkan aku masih berdiri di tempat karena larut dalam lamunan sendiri. Aku menengok. Ternyata Danish dan Ibunya masih berada di luar pintu mobil. Sang Ibu yang hampir masuk itu pun sempat berkata. "Kamu sudah mengecewakan Umi, Danish!" Danish yang membukakan pintu untuk Ibunya pun masih berdiri di sana. Dia hanya diam. "Umi, nanti kita bicarakan lagi di rumah. Masuklah, tak enak dilihat orang," sahut seorang laki-laki dari dalam mobil. Wanita itu lantas masuk dengan wajah kesal. Sedangkan Danish menoleh lagi ke arahku yang mendengar dengan jelas perkataan menyakitkan itu. Dia hanya tersenyum tipis. Sesudah itu masuk kedalam mobil. Aku terdiam. *** Keputusan sudah diambil. Akhirnya aku menerima lamaran Danish walau dalam keadaan terpaksa. Ayah dan Bu Dewi begitu mendukung aku menikah dengannya. Danish memang hebat. Ku akui itu. Melamar seorang wanita dengan tanpa ragu sedikit pun. Padahal ia tahu aku sering membangkang jika ia nasihati, sering memaki dan juga mengusirnya setiap saat. Tapi dia malah lebih keras kepala, tak peduli bagaimana pun. Tetap dengan niatnya sejak awal. Dan pernikahan kami akan dilaksanakan satu bulan lagi. Terdengar agak memaksakan dan terburu-buru. Tapi itu dilakukan demi menghindari fitnah. Itu alasan mereka. *** Hari-hari berlalu, menghadapi pernikahn yang kian dekat dan pasti. Di tempat kerja. Aku dibuat kebingungan dengan sikap Danish. Kami berdua akan menikah kurang dari dua minggu lagi, tapi dia? Dia tak pernah menunjukan bahwa dia akan menjadi calon suamiku. Jangankan bersentuhan fisik. Bahkan di kantin pun Danish tak menghampiri sama sekali. Dia acuh dan sangat cuek akhir-akhir ini. Seolah takkan pernah terjadi sesuatu diantara kami. Padahal banyak yang harusnya dibicarakan mengenai acara pernikahan kami. Setidaknya, aku ingin lebih mengenal bagaimana calon suamiku. Kuperhatikan gerak-geriknya dari jauh, Danish malah terlihat biasa-biasa saja. Tersenyum sesekali dan sesudah itu mengalihkan pandangannya. Aku menggerutu, "Ah! Apa laki-laki seperti itu yang akan jadi suamiku? Ck." Kuacak rambut di balik jilbab. Rasanya kepala ingin pecah memikirkan calon suami abstrak itu. Cukup lama termenung memikirkan pernikahan 'terpaksa' yang akan kujalani, hanya mengaduk-ngaduk makanan karena hilang nafsu makan. Sekarang, semuanya sudah jelas, kalau hati begitu tak setuju dengan pernikahan ini. "Hai ...." "Ayam!" Aku mengerjat karena kaget, mengusap d**a dan melihat siapa yang mengagetkanku. "Iqbal?" Iqbal terkekeh kecil dan duduk di sebelah. Dia juga memberikan sebotol minuman ringan. "Kamu itu lucu ya kalau kaget. Ayam! Tidak sekalian saja, semut, kucing, atau harimau," ucap Iqbal bernada meledek. Bibirku memgerucut, tapi malah merasa lucu juga karena perkataannya. "Apaan si, orang kaget mana sadar dia mau bicara apa." "Iya sih, tapi kalau kamu kaget, sekali-kali bolehlah menyebut namaku." Iqbal tersenyum manis. "Hah? Ih, itu lebih ngawur lagi." Sedikit menyikut lengannya, aku membuka minuman setelah mengucapkan terima kasih. "Nika." "Emh? Kenapa?" Kulihat Iqbal di sebelah. Lelaki jangkung itu pun balas menatapku seolah ingin menanyakan sesuatu. "Itu, tentang lamaran Danish. Apa kamu menerimanya?" tanya Iqbal. "Emh." Aku mengangguk pelan. "Apa sekarang kamu bahagia?" "Tidak tau," jawabku singkat. "Kenapa? Danish itu ganteng loh, SPV Enginering lagi. Manamungkin kamu tidak bahagia." Kutelan minuman yang ada di mulut seraya menatap Iqbal dengan menautkan alis. "Memang itu bisa jadi ukuran? Tidak juga. Lagian, siapa sih yang mau nikah sama orang yang tidak jelas seperti dia. Ck!" Aku menggerutu. Melihat ke arah Danish yang masih berada di rest area bersama teman-temannya. "Jadi? Kamu tidak mau menikah sama dia? Kalau seperti itu kenapa kamu terima lamarannya? Dasar bodoh." "Apa? Kamu ngatain aku bodoh? ih, jahat banget si," ucapku seraya mencubit bahunya. Iqbal tertawa. Aku juga. Entah kenapa malah merasa nyaman bersamanya seperti ini. Iqbal memang penuh dengan canda. "Jahat apa? Kamu jahat, iya! Lagian, galau ko karena keputusan sendiri, kan aneh. Entar jangan-jangan pas janur kuning melengkung bunuh diri lagi," ejek Iqbal lagi. "Ck, udah ngomongin itu saja, melengkungnya juga masih lama. Bisa saja tidak jadi. Siapa yang tau," ucapku. "Emh ... aku tau, kamu mau tau caranya supaya janur kuning nya tidak melengkung?" Aku mengernyit heran. Apa maksudnya, Iqbal akan memberi saran untuk membatalkan pernikahanku? "Bagaimana?" tanyaku penasaran dengan nada serius. Menatapnya pun dengan serius. "Yup! Entar aku bawa catokan biar lurus lagi ...!" Iqbal tertawa terbahak-bahak setelahnya. "Apa?" aku kesal bukan main dan memukulnya bertubi-tubi "Ngeledekin aku terus dari tadi, rese banget!" "E ... iya .. udah, ampun, sakit tau. Sudah! Sudah!" Menghentikan serangan dengan masih berwajah kesal. Aku merengut dan mengalihkan pandangan ke arah lain. Iqbal masih saja tertawa, seolah puas dengan candaanya yang mengejek keluhanku. "Pergi, yu," ajaknya. "Ke mana?" ketusku. "Ke mushola, salat dzuhur. Belum shalat kan?" "Tapi lima menit lagi masuk, tidak akan sempat." "Tidak dimarahin juga, ayo," ajaknya lagi. Aku terkekeh kecil. "Jadi, dari tadi kita ngobrol kamu belum salat. Emang salat bisa ditunda?" "Yaaa ... daripada tidak sama sekali. Sudah, jangan kelamaan, keburu bel." Iqbal memegang satu lenganku yang masih berada di atas meja. Masih terdiam di tempat, aku menoleh ke sana-kemari melihat sekeliling. Malah diam tak berkata apa-apa. Dan menarik kembali tangan dari Iqbal. "Kenapa? Mikirin omongan orang," tanya Iqbal. Aku diam tak menjawab. "Ayolah, Nika. Berhenti hidup dengan jalan pemikiran seperti itu! Toh, kita ridak melakukan apa-apa, kan?" Masih terdiam di tempat. Aku tak menjawab perkataan Iqbal. "Udah, telan saja omongan orang-orang itu. Jangan dipikirkan, nanti kamu sakit. Sudah mah punya badan kurus juga. Ayo, salat." Sekali lagi Iqbal menarik tanganku. Kali ini, dengan tanpa menolak ajakannya. Aku mengikuti langkah Iqbal menuju mushola.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD