Membenci Ibu

1063 Words
Aku merebahkan diri di kamar setelah mandi dan melepas penat seharian bekerja, hari ini cukup bahagia bukan hanya karena pulang lebih awal. Tapi juga terbayangkan sikap Iqbal yang menempel di pikiran. Tak henti-hentinya aku tersenyum sendiri sudah seperti orang gila. Teringat celotehannya yang konyol dan pemikirannya yang masuk di akal. Iqbal sudah benar-benar masuk kedalam lamunanku. "Nika? Boleh Ibu masuk?" "Boleh, Bu. Silahkan, tidak dikunci," sahutku saat mendengar Bu Dewi memanggil. Bu Dewi menghampiri dan duduk disebelah. "Nika, apa kamu sudah menghubungi Ibu kamu kalau kamu akan menikah minggu depan?" tanya Bu Dewi. "Sudah, Bu. Tapi nomernya tidak aktif. Ibu pasti ganti nomer lagi." "Kamu sudah menanyakan nomor barunya pada Bi Asri?" tanya Bu Dewi. Aku menggelengkan kepala, Bi Asri adalah adik Ibuku yang paling bontot, dia tinggal di daerah Sadang. Cukup jauh dari tempat ini. Tapi, jika Ibu ganti nomor, Bi Asri pasti sudah mengetahui. Sebab, Ibu sangat dekat dengannya. Dibandingkan denganku. "Belum, Bu. Akhir-akhir ini kerjaanku lembur terus, jadi belum sempat ke Sadang minta nomer baru Ibu ke Bi Asri." "Kalau Ibu boleh menyarankan, lebih baik segera kamu menghubunginya. Bagaimana pun, Ibu kamu berhak tahu kamu akan menikah. Walau dia tak bisa datang." "Emh ... iya, Bu. Aku akan ke sana sekarang. Thaya mana? Aku mau ajak dia, Bu." "Thaya sedang diajak ke pasar sama Bapak, katanya mau beli ayam bakar untuk makan malam kita." "Oh, ya udah. kalau gitu aku pergi sekarang aja ya, Bu, besok-besok takutnya gak sempet lagi." Bu Dewi mengangguk mengiyakan. Aku pun segera beranjak dan berganti pakaian. *** Setelah menempuh satu jam perjalanan menggunakan motor, akhirnya aku sampai juga ke rumah Bi Asri. Rumah yang dulu sempat kujadikan tempat tinggal selama sekolah SMA miliknya itu menyimpan begitu banyak kenangan. Dimana, dulu saat aku masih kecil. Rumah ini adalah rumah Kakek yang sekarang ditempati oleh Bi Asri, suami dan kelima anaknya. Saat aku datang, Bi Asri menyambutku dengan baik. Orangnya memang ramah. Tapi, aku tahu betul sifatnya. Dia akan sangat bersahabat di awal. Namun, perbedaan mencolok akan terasa jika sudah tinggal bersamanya. Aku baru merasakan itu selama tiga tahun aku tinggal di rumah ini. Menitipkan diri. Begitulah nasibku. Tinggal di tempat orang dan bertahan sekuat-kuat hati demi melanjutkan hidup. Walau sebaik apa pun kenyamanan rumah yang kita tinggali, tapi takkan pernah senyaman rumah sendiri. Bi Asri mengambil ponselnya saat aku mengatakan maksud kedatanganku ke sini. Sudah kuduga. Dia pasti memiliki nomor baru Ibu di Saudi. "Alhamdulillah, Nika, ini Ibu kamu, sudah tersambung." Bi Asri memberikan ponselnya. Dengan hati yang teramat sangat bahagia, aku mengambil ponsel itu. Karena terakhir bicara dengan Ibu adalah sekitar enam bulan lalu. Akhirnya aku bisa mendengar suaranya kembali. Semua berjalan seperti yang kuharapkan. Perbincangan kami saling menanyai kabar begitu membuat hati bahagia. Sampai saat aku mengutarakan niatku. Pembicaraan kami mulai sedikit berbeda. Apalagi saat aku meminta agar Ibu menyudahi kontraknya yang tinggal tiga bulan lagi. Dia malah terdengar marah. "Bu, kali ini tolong dengarkan aku. Ibu pulang yah, aku rindu. Mau lihat Ibu di sini. Ibu tidak datang ke pernikahan aku juga tidak apa-apa. Asal tiga bulan lagi, setelah kontrak itu habis. Ibu pulang, jangan perpanjang lagi kontrak di sana." Kuutarakan seluruh isi hati tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Aku berusaha membujuk Ibuku agar menghentikan pekerjaannya di luar sana. "Tidak bisa, Nika. Ibu baru saja mengatakan kalau Ibu akan perpanjang kontrak dua tahun lagi. Dan itu sudah di setujui oleh majikan Ibu." Dengan logat sedikit berbeda Ibu menolak permintaanku. "Mau sampai kapan sih Ibu di sana? Aku udah sanggup ko nanggung semua kebutuhan Ibu. Aku sudah kerja, Ibu tidak usah kerja lagi. Biar aku yang nyari uang buat Ibu. Bu, aku mohon ... sekali aja dengerin aku. Aku cuma mau ada Ibu. Aku tidak butuh uang Ibu." Mulai terisak menangis saat bicara, aku tetap bersikukuh ingin memintanya pulang. "Cukup, Nika! Jangan seperti anak kecil! Kamu sudah dewasa. Ibu juga nyari uang buat bekal hidup kita. Buat masa depan kamu!" "Sudah aku bilang, aku tidak butuh uang Ibu! Aku cuma butuh Ibu! Cuma Ibu! Ibu yang aku mau! Pulang Bu! Pulang ....," ucapku di sela-sela isakan tangis yang semakin menjadi. Suara dan tangan bergetar, ingin rasanya aku marah. Menumpahkan segala unek-unek yang ada di hati selama lebih dari dua belas tahun. Bi Asri juga mengusap pundakku di sebelah. Dia tak berkata. "Tidak bisa. Besok Ibu akan kirim uang buat pernikahan kamu ke Bi Asri. Sudah. Assalamu'alaikum." Tud! Suara telpon dimatikan. "Bu? Ibu?" Aku beranjak dari duduk dan memberikan ponsel milik Bi Asri. Berpamitan padanya ingin pulang. "Nika, jangan pulang dulu kalau kamu belum berhenti menangis. Bahaya. Nanti kamu kenapa-napa." Bi Asri menahan tanganku. Namun buru-buru kutepiskan karena pikiran sudah dibalut emosi. "Aku mati juga tidak akan ada yang peduli!" Kupakai helm dan langsung menaiki motor. Tak peduli apa pun dan larangan siapa pun. Menancap gas sekencang-kencangnya. Menerobos jalanan besar. Aku masih menangis. Ibu jahat! Ibu jahat! Kata-kata itu terus kuteriaki. Hati dan pikiran menyatu jadi emosi yang membludak. Kenapa Ibuku sendiri malah menolak permintaanku? Padahal niatku adalah demi kebaikannya. Aku tak ingin dia lelah di hari tuanya, itulah sebabnya aku meminta agar dia pulang. Tapi kenapa dia terus menolak? Kenapa dia begitu suka jauh dariku? Kenapa dia bersikukuh ingin mencari uang yang banyak? Sedangkan banyak orang mengatakan, bahwa harta terbaik adalah anak. Lalu, dia anggap aku apa? Dengan sikapnya yang seperti itu. Membuatku berpikir bahwa tak ada hal lain yang lebih penting dari dunianya di luar sana. Semua pemikiran itu merasuk dalam pikiranku yang kalut. Tid! Tid! Terdengar suara klakson berbunyi nyaring di depan. Aku kaget saat melihat sebuah motor yang ingin belok tanpa ada lampu sen berhenti di depanku. Spontan aku membanting stir ke kiri. "Aaa!" Brak! Dengan sangat cepat dan tak terasa. Tubuhku terpelanting ke kiri dan menubruk bebatuan kerikil. "Astagfirullah! Ya Allah!" Suara orang-orang masih terdengar di telinga. Tapi tubuhku lunglai tak bisa digerakkan. Masih tergolek di tempat. Aku tak membuka mata sama sekali. Menahan sakit di batin dan fisik yang menyerangku bersamaan. Aku hanya bisa menangis. Sampai kurasakan ada seseorang yang menghampiri dan mengangkat tubuh. "Astagfirullahal'adzim ... Anika? Anika?" Suara laki-laki memanggil dan menepuk pelan pipiku. Memaksakan mata untuk terbuka, tapi wajahnya terhalangi buliran air yang terus keluar dai mata. Laki-laki itu membawaku ke dalam pelukannya. Siapa dia? Dia terdengar begitu panik dan meminta bantuan. Aku hanya bisa menangis, karena tubuhku sudah tak bisa digerakan. Kepalaku nyeri. Terlebih lagi pergelangan tanganku. Sepertinya ini patah atau terkilir. Aku tak berani melihatnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD