Guru Liang Qu membaca di kertas formulir yang berisi nama, umur, dan asal kota serta beberapa informasi yang lain.
"Baiklah, Nona Song. Kau pasti sudah tahu jika ini adalah seleksi bagian akhir yang tentunya akan berpengaruh pada hasilmu yang menentukan lolos atau tidaknya," ujar Guru Liang Qu.
"Ya, aku sudah mengetahui soal itu pak," sahut Song Lianyu.
"Oh, ya namaku Liang Qu. Aku adalah salah satu guru yang mengajar di sekte Bunga Salju. Untuk mata pelajarannya tentang peningkatan energi spiritual dan juga mengenai sejarah negara Tianqi," jelas Guru Liang Qu.
Song Lianyu mengangguk mengerti dan mengingat informasi tersebut di dalam otaknya.
Liang Qu mengangkat tangannya dan muncul sebuah batu berwarna biru berbentuk seperti bunga salju yang tampak indah di atas meja tepatnya di depan guru Liang Qu. "Nona Song, kau bisa menyalurkan energi spiritualmu ke batu ini," jelas Liang Qu.
Bapak tua itu menggerakkan tangannya dan membuat batu pengukur kekuatan energi spiritual melayang tepat di depan hadapan Song Lianyu. "Kau bisa melakukannya sekarang," ujarnya.
Nona Lianyu mengangguk mengerti. Dia segera melakukan apa yang dipinta oleh Liang Qu. Dia menyalurkan energi spiritual ke dalam batu berbentuk bunga salju. Cahaya berwarna ping muncul beserta kelopak bunga persik yang ikut berjatuhan. Setelah itu dia kembali ke posisinya yang awal.
Kedua guru itu mengamati dengan teliti untuk memberikan penilaian yang tepat pada Nona Lianyu.
"Nona Song, apakah kau pernah belajar di suatu sekte?" tanya Guru Liang Qu.
Nona Lianyu menggeleng. "Aku belum pernah belajar di sekte mana pun, Pak. Aku hanya belajar sendiri saja tanpa seorang guru di rumah," jelasnya dengan jujur.
Ya, itu benar. Jangankan untuk belajar di sebuah sekte seperti anak-anak yang lain, dia malah di kediaman Duanmu disuruh bekerja layaknya seorang pelayan bukan sebagai seorang nona muda. Terutama keluarga Duanmu yang melakukan pengurangan pelayan sebagai upaya menekan biaya pengeluaran kediaman untuk membayar gaji pelayan. Song Lianyu hanya bisa belajar melalui buku-buku bekas yang ada di gudang yang sudah tua dan berdebu serta buku yang diberikan oleh Nona Duanmu Cui ketika datang berkunjung. Untuk hanfu jangan harap punya pakaian yang bagus dan mewah seperti gadis-gadis pada umumnya, punya hanfu yang layak pakai pun sudah sangat bersyukur.
Apalagi berbicara soal perhiasan, Lianyu tak punya perhiasan yang bagus dan mewah. Untuk mengikat rambutnya dia hanya memakai tali yang bahannya terbuat dari kain. Selesai melakukan pekerjaan rumah barulah gadis itu bisa melakukan pekerjaan yang lain seperti belajar memanah, dan berlatih kekuatan energi spiritual. Waktu yang tersisa pun sangat sedikit. Uang jajan yang diberikan pun sangat sedikit hanya berkisar sepuluh tael tiap bulannya, bahkan anak kecil saja uang jajannya bisa mencapai dua ratus tael per bulannya atau bahkan bisa lebih. Itu yang Lianyu tahu dari Duanmu Cui, tapi dia tak bisa protes karena jika protes dia bisa diusir dan dimarah karena dianggap tak bersyukur. Bertahun-tahun lamanya dia bertahan dengan semua itu, namun pada akhirnya dia diusir juga dari kediaman Duanmu.
Kekuatan spiritualnya cukup bagus untuk ukuran anak yang tidak pernah belajar diajari oleh seorang guru secara langsung, batin Guru Liang Qu. Pria itu merasa bahwa bakat bawaan Nona Song cukup baik.
"Nona Song, kau selama ini hanya belajar lewat buku yang dipunya?" tanya Guru Bai.
"Betul, Pak," jawab Song Lianyu dengan mengangguk mengiakan.
"Baiklah, sesi seleksi sudah selesai. Nona Song, kau bisa tunggu selama setengah jam. Dan hasilnya akan keluar. Nona Song kau bisa berjalan di sekitar sini untuk menghilangkan rasa bosan, " ujar Guru Liang Qu.
Dia meminta Lianyu untuk keluar ruangan seleksi guna untuk menghitung hasil seleksinya. Song Lianyu berjalan di sekitar setelah mengingat ruangan seleksi di dalam kepalanya kalau tidak ingin tersesat.
Lianyu berjalan di jalan setapak yang dihiasi batu-batuan kecil. Terlihat di depan ada beberapa murid-murid yang sedang berjalan bersama teman-teman mereka.
"Apakah Shiyi dan Feiye kelasnya juga sudah selesai?" ujar Lianyu dengan pelan.