Song Lianyu mau bertanya pada salah satu dari mereka, tapi karena dia tak kenal dengan mereka membuatnya mengurungkan niatnya itu. Dia memilih untuk duduk di bawah pohon bunga persik yang sedang mekar, harum baunya terbawa oleh angin.
"Di sini kalau untuk murid laki-laki pakaiannya biru dan untuk murid perempuan warnanya ping dan putih," ujarnya dengan mengamati murid-murid yang berlalu lalang.
Song Lianyu mencoba berlatih energi spiritual, dia memasang posisi bersila setelah meletakkan keranjang rotan yang berisi busur dan anak panah miliknya. Oh ya busur dan anak panah itu Lianyu beli dengan mengumpulkan uang jajan tiap bulan dan juga diam-diam menjual hasil sulamannya di salah satu toko dengan menyamarkan identitasnya. Ibu angkat dan ayah angkatnya bisa-bisa marah karena Lianyu menjual hasil sulaman untuk mendapatkan uang. Karena mereka beranggapan itu akan merusak reputasi keluarga Duanmu.
Dia mengambil beberapa kelopak bunga yang berjatuhan di atas tanah. Dia menerbangkan kelopak bunga di udara dengan energi spiritualnya.
Tak jauh dari tempatnya duduk santai. Dia melihat ada sekumpulan murid-murid yang sedang mengikuti pelajaran yang diajarkan oleh seorang guru pria.
Song Lianyu memasang telinganya dan menatap guru dan murid-murid sekte Bunga Salju.
Kurasa aku ikut mendengarkan tak masalah, batin Song Lianyu. Dia ikut mendengarkan sambil duduk di balik pohon bunga persik.
Para murid berdiri membentuk barisan yang rapi dan memiliki jarak, sedangkan guru yang memiliki kumis tipis itu berdiri di atas salah satu tangga yang ada di depan kelas.
"Waktu dua puluh tahun sudah hampir sampai, iblis kematian akan segera hidup kembali, dan bangsa manusia akan masuk dalam bahaya seperti dua puluh tahun yang lalu." Guru mengambil napas sebelum melanjutkan kalimatnya.
Iblis kematian? Apa maksudnya? batin Song Lianyu bertanya-tanya. Pasalnya dia baru mendengar soal itu. Di tempatnya dulu tak ada yang menyebutkan soal iblis kematian.
"Kalian akan memikul tanggung jawab mencegah iblis kematian bangkit kembali."
"Jadi, mulai hari ini aku akan mengajari kalian bagaimana latihan kekuatan energi spiritual dan menggunakan ilmu sihir," ujar guru. Tangannya muncul energi spiritual bersamaan dengan daun-daun kering yang melayang terbawa angin. Beberapa murid bahkan sampai menutup mata menggunakan telapak tangan.
"Kita suku manusia harus berlatih terus-menerus untuk meningkatkan dan mengendalikan kekuatan spiritual alam."
Kedua tangannya bergerak mengendalikan kekuatan energi spiritual bersamaan dengan daun-daun kering yang ikut berputar di sekelilingnya. Guru menghempaskan energi spiritual, lalu dia melayang di udara tepatnya ke atas dan beberapa saat kemudian perlahan mendarat turun ke bawah dengan anggun. Para murid menatap sang guru dengan tatapan kagum, sebagian besar dari mereka bertepuk tangan.
"Hebat!" ujar salah seorang murid.
"Iya," jawab murid di sebelahnya.
"Hebat, hebat sekali!" sahut murid perempuan.
Guru dari posisi berdiri menjadi duduk bersila di salah satu tangga yang diikuti oleh murid-murid.
"Besar kecilnya kekuatan ilmu sihir terletak pada tingkat latihan kekuatan spiritual sendiri," ujar guru.
Salah seorang murid laki-laki menunjuk tangannya. "Guru, bagaimana dengan formasi tempur?"
Guru menatap murid yang bertanya. "Formasi tempur tidaklah sama dengan ilmu sihir. Formasi tempur hanya digunakan untuk mengikat dan menyegel dan masih ada kegunaan yang lain." Pria itu mengambil napas sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Tidaklah sama dengan ilmu sihir yang memiliki sifat menyerang yang kuat," jelasnya yang dijawab anggukan murid yang bertanya tadi.
Ternyata memang lebih enak dan juga lebih paham kalau diajarkan oleh seorang guru secara langsung. Dan juga bisa bertanya tentang hal yang tidak kita ketahui, batin Song Lianyu.
"Baiklah. Kalian tadi sudah melihat apa yang aku lakukan, cepatlah latihan!" perintah sang guru.
Song Lianyu sambil melihat murid-murid yang lain dia ikut melakukan apa yang diperintahkan.