Wati yang mendengar pertengkaran anaknya langsung naik ke lantai dua, melihat Raka merasa tersudut ia mendekat.
"Ada apa ini?" tanyanya pura-pura tidak tahu.
"Akan jauh lebih baik jika ibu tidak ikut campur!" kali ini Nur yang menjawabnya dengan dingin.
"Nur, salah ibu ini apa sih? sepertinya kamu membenci ibu, padahal ibu ingin melakukan yang terbaik untuk kamu dan Raka agar tidak terus-terusan bertengkar!" ungkapnya dengan dibuat selirih mungkin.
Ckck dasar bermuka dua, Nur merasa muak jika melihat akting mertuanya itu.
"Jika ibu ingin aku dan mas Raka tidak bertengkar lagi lebih baik ibu dan Putri pergi dari sini!"
"Nur!" pekik Raka dengan tatapan tajam.
"Kenapa? kamu gak terima?"
"Sudah, sudah biar ibu yang pergi dari sini, Raka! maafkan ibu jika kehadiran ibu membuat kalian jadi bertengkar."
"Bu, bukan seperti itu! ibu bol--"
"Gak papa, Nak! ibu pergi saja, lagipula ibu juga masih punya rumah 'kan, sayang kalau harus ditinggal. Tadinya ibu hanya ingin dekat denganmu dan adikmu bisa lebih dekat kuliahnya."
"Kalau alasannya kayak gitu, ngapain juga Putri di beliin mobil, buang-buang duit aja!" tukasnya seraya menabrak lengan Raka dengan sedikit kuat.
Akhirnya Wati dan Putri memutuskan pergi dari rumah Raka, meski Raka mencoba menahannya, tapi mereka keukeuh ingin pulang. Nur yang melihat mereka pergi dari kamarnya tersenyum penuh kemenangan, rencana yang dibuatnya ternyata berhasil.
I keluar dari kamar, tenggorokannya terasa kering setelah tadi berdebat habis-habisan dengan suaminya. Tak lupa ia membawa ponselnya karena Matin mengirimnya pesan, menanyakan kabar ibunya dan memberi tahu sudah sampai Bandung serta salam yang ia titipkan sudah disampaikannya pada istri Matin.
"Kamu puas mengusir ibu dari sini?"
"Emh, enggak juga!"
Raka tersenyum sinis, ia bahkan tidak mengira istrinya yang penurut sekarang menjadi pembangkang.
"Bagaimana kalau suatu saat ibumu tinggal di sini dan aku mengusirnya? hatimu pasti sakit bukan?"
"Dan bagaimana jika keadaanya terbalik, aku yang mendoakan ibumu agar cepat mati, dan hatimu pasti sakit juga bukan?" balas Nur dengan tatapan tak kalah tajam dari suaminya.
Raka yang menyadari istrinya berubah, hanya menatapnya dalam diam. Semakin hari istrinya semakin menjadi, apa dia kerasukan dedemit dari rumah ini?
"Kamu perlu di bawa ke orang pintar biar setan dan dedemit dalam diri kamu itu sirna."
"Yang perlu di jampe itu kamu bukan aku!"
Nur memutuskan mengambil air dingin dari kulkas dan menuangkannya ke dalam gelas, dengan sekali tegukan air itu sudah habis.
Perilaku istrinya itu tidak lepas dari mata Raka, ia yakin istrinya sudah kerasukan dedemit di lihat dari cara dia minum dan menatapnya seolah menyimpan dendam kesumat.
"Ponsel kamu!"
Raka meminta ponsel yang sedang di pegang Nur. Tanpa ragu memberikan pada Raka, dengan khusu Raka mulai menjelajahi setiap akun yang ada di dalam ponsel milik istrinya.
"Siapa Matin?"
"Teman!"
"Yakin teman? bukan selingkuhan?"
Nur menautkan kedua alisnya, "Dia udah nikah, sebentar lagi punya anak, tapi kalau di pikir-pikir gak papa juga sih jadi istri kedua siapa tahu aku bisa punya anak, gak seperti sekarang kita belum di kasih keturunan.
Rahang Raka mengeras, dalam pikirannya tidak pernah terlintas kalimat yang akan di ucapkan istrinya itu.
"Jangan berfikir aku akan melepaskanmu!"
"Dan jangan berfikir aku akan melakukan hal segila itu."
Nur merebut ponselnya dan kembali menuju lantai dua, Raka hanya bisa diam tanpa berniat meneruskan perdebatannya karena percuma Nur selalu bisa membuatnya bungkam.
Ia merogoh ponsel dari saku celana tidurnya, menghubungi temannya, Hari.
"Halo, Har! Lo sibuk gak?"
"Eh, bro ada apa? tumben nelepon malam-malam gini."
"Lo tahu gak orang pinter yang sakti?"
"Buat apaan? buat usaha Restoran Lo?"
"Bukan, ini buat ngobatin istri gue, akhir-akhir ini sering berantem sama gue dan tatapannya beda dengan tatapan istri gue yang dulu. Kayaknya sih ia kerasukan dedemit dari rumah ini deh!"
"Lo yakin?"
"Ia gue yakin masa bohong, udah Lo tahu gak alamatnya?"
"Nanti gue kirim alamatnya lewat pesan aja, takutnya Lo lupa lagi."
"Oke, thank's bro! gue tunggu ya."
Raka mengakhiri panggilan dengan Hari, tak lama kemudian ia mendapatkan alamat yang di kirim Hari.
"Nah, loh dedemit kurang ajar sebentar lagi lu bakal tamat, berani-beraninya Lo merasuki istri gue!" gumamnya dengan senyuman puas.
Paginya seperti biasa, Nur berangkat lebih awal melupakan sarapan di rumah. Sedang Raka ia masih mandi ketika Nur berangkat, tidak ada sarapan di meja makan yang ada hanya segelas air putih.
"Nur! kamu dimana?" teriak Raka dari bawah tangga, karena melihat meja makannya masih kosong melongpong. Karena tidak ada sahutan dari istrinya, ia kembali naik menuju kamar tamu.
Dengan amarah yang mulai terpancing karena tidak ada sarapan sama sekali, ia membuka pintu kamar dengan sedikit kuat. Matanya melihat keadaan kamarnya begitu rapi, itu berarti istrinya sudah tidak ada di rumah.
Dengan cepat ia mengubungi istrinya, hanya suara operator yang ia dengar. Kali ini ulah apa lagi yang dilakukan istrinya itu, apa dia kabur? karena tahu ia akan di obati oleh orang pintar?
Terpaksa ia mengubungi Zian karena merasa kesal panggilan darinya tidak diangkat oleh Nur.
"Halo, Zian. Apa kakakmu ada di rumahmu?"
"Gak ada, kak. Memangnya kenapa?"
"Oh gak papa, barusan kakak lihat di kamar dia sudah tidak ada. Ya sudah terima kasih." Panggilannya segera di akhiri ketika tahu, Nur tidak di rumah ibunya.
"Kemana dia?" gumamnya pelan.
Raka menghidupkan mesin mobil, entah kemana tujuannya kali ini satu yang pasti ia harus menemukan istrinya secepat mungkin.
Sesekali ia mengacak rambutnya dengan kasar, kepalanya celingukan melihat pinggiran jalan siapa tahu istrinya sedang berjalan.
Hampir satu jam ia mencari, namun tak kunjung ada hasil. Ia memutuskan pergi ke orang pintar yang di rekomen oleh Hari, kini mobilnya masuk jalan perkampungan.
Tepat di sebuah rumah dengan gaya yang aneh, karena di halaman rumahnya banyak tengkorak monyet mobilnya di hentikan. Menelepon Hari memastikan alamatnya sudah benar.
"Permisi, apa ada orang?" teriak Raka dari luar pagar yang terbuat dari bambu.
Suara pintu di buka, sosok pria paruh baya berdiri dengan seringai yang menakutkan menurutnya, kumis hitamnya hampir memenuhi seluruh mulutnya, bahkan bawang putih yang seharusnya tersimpan di dapur ia kalungkan di lehernya.
"Masuk, Nak!"
Raka melangkah dengan sedikit ragu, apa benar ini orang pintarnya?
Tanpa basa-basi ia menceritakan maksud kedatangannya dan berniat mengajak ke rumah, setelah berunding akhirnya mereka kembali ke rumah Raka.
Sampai di sana, pria patuh baya itu mulai komat-kamit entah membaca apa, sesekali matanya mendelik seolah sedang berinteraksi dengan mahluk lain yang sering di lihatnya di tivi-tivi. Bau kemenyan memenuhi isi rumah, Raka yang terus mengikuti pria tadi batuk-batuk tidak jelas.
Nur pulang membawa bakso yang di belinya di depan toko buku, ia berniat memakannya di rumah. Ketika sampai teras ia mencium aroma kemenyan, bahkan ada sedikit asap mengepul dari dalam rumah. Ia segera membuka pintu, di sana sudah ada suami dan seorang pria paruh baya yang sedang duduk bersila sambil komat-kamit.
Kepalanya menggeleng pelan, tingkah suaminya memang konyol, baiklah maka jangan salahkan dirinya jika tingkahnya akan jauh lebih konyol dari Raka. Ia memutar kran yang ada di halaman rumah, memegang selang panjang dan membawanya ke dalam rumah saat itu juga menyeprotkan air ke atas tumpukan kemenyan yang mengepul dari guci kecil.
"Nur kamu apa-apaan?" pekiknya kaget, sama halnya dengan Raka, pria paruh baya itu juga bangkit dan mundur karena bajunya sedikit basah.
"Kamu yang apa-apaan, ini rumah bukan kuburan! maaf, Pak lebih baik anda silahkan keluar dari rumah saya, ini bukan kesalahan dedemit atau lainnya yang salah itu suami saya yang otaknya entah tertinggal dimana."
"Tapi, Bu ...."
"Mau saya teriakin maling?"
"Maaf, Bu kalau gitu saya permisi dulu. Permisi, Mas! uang yang mas kasih tidak bisa saya kembalikan lagi, itung-itung buat ganti rugi karena baju saya sudah basah."
Raka memberi isyarat agar pria itu segera pergi.
Sedang Nur mengembalikan selang tadi ke depan, lalu duduk menghadap meja makan, bakso yang tadi ia beli dituangkan ke dalam mangkok. Tanpa basa-basi pada suaminya, ia melahap bakso dengan santai. Raka yang melihat tingkah istrinya, mengerang frustasi, ia lebih memilih mengeringkan lantai di banding harus berbicara dengan istrinya.
Kelakuan Nur semakin menjadi, tidak ada makan malam, tidak ada stok makanan di dalam kulkas, hanya ada mie instan sisa satu yang ada di atas kulkas.
"Kamu gak masak?" tanya Raka dengan sedikit lembut, padahal ia masih kesal karena kejadian tadi sore.
Nur menjawab dengan menggelengkan kepalanya.
"Kamu ini istri macam apa, suami belum makan malah anteng nonton tivi!"
Nur melirik ke arahnya dengan tatapan dingin, sampai bulu kuduk Raka berdiri.
"Aku pergi nyari makan dulu di luar, kamu mau pesan apa?"
Kali ini Nur hanya mengangkat bahu, helaan nafas Raka begitu berat menandakan kalau ia sedang kesal, kali ini apalagi yang istrinya rencanakan? pikirnya.