bab 5

1332 Words
Raka keluar mencari makanan karena perutnya sudah tidak bisa di ajak kompromi lagi, bahkan saat ini cacing sudah mulai berdemo dengan berisik, krasak krusuk di dalam perutnya. Sengaja ia berjalan kaki ke depan jalan raya, bukan hanya karena ingin, tapi karena memikirkan sikap Nur yang berubah drastis. Ponselnya berdering satu kali, ia mendapat pesan dari putri. [Kak, aku belum bayar uang buat ikut ujian semester di kampus] [Nanti kakak transfer] balasnya. Saat sedang membaca pesan dari Putri, ia teringat ucapan adik iparnya bahwa Nur mengirimnya uang, tapi dari mana? Semua saldo tabungannya tidak ada yang berkurang satu sen pun, apa mungkin istrinya itu selingkuh? Sate yang di pesannya telah selesai di bakar, sengaja ia membelinya banyak untuk menebus kesalahannya ketika sate jatah Nur dimakan adiknya. "Nur, makan satenya mau pakai nasi gak?" teriak Raka dari dapur. "Enggak!" jawab Nur singkat dengan berteriak pula. Raka membawa sate yang sudah di pindahkan ke atas piring, ia membawa nasi putih dengan begitu banyak, berharap istrinya mau ikut makan dengannya. "Sengaja mas membelinya banyak, itung-itung mengganti sate yang waktu itu Putri makan." Tidak ada respon dari Nur, yang terdengar hanya suara kunyahan yang berasal dari mulutnya. Raka makan dengan pikiran yang tidak menentu, istrinya berubah jadi lebih banyak diam padahal dulu saat ia membeli sate Nur yang paling antusias. Sampai selesai makan, baik Raka maupun Nur hanya fokus pada makanan yang mereka makan. "Kamu dari mana saja? apa setiap hari kamu punya urusan dengan orang lain?" "Hem!" jawab Nur dengan mata masih fokus pada layar televisi, sedang mulutnya sibuk mengunyah sate ayam kesukaannya. "Bagaimana kabar ibu?" pertanyaan yang sebenarnya tidak ingin Raka tanyakan, tapi apa boleh buat, ia ingin Nur merespon perkataannya. "Baik!" Ia mengambil nafas dalam, mengumpulkan kesabaran yang sedikit demi sedikit mulai mengikis. "Dari mana kamu mendapat uang untuk pengobatan ibu dan kuliah Zian?" "Itu uangku!" "Memangnya kamu punya uang? bukankah selama ini aku yang selalu memberimu uang, jadi mana cukup untuk pengobatan ibu dan biaya Zian!" Nur mengangkat bahu acuh, Raka membalikan tubuh istrinya yang masih asyik memakan sate. "Dengarkan aku, kalau sampai kamu bohong aku tidak segan untuk menghukum kamu!" "Apa hanya mengancam yang selama ini kamu bisa?" "Nur berhentilah seperti anak kecil, aku sudah muak dengan tingkah kamu seperti ini! paham?" desahnya dengan sedikit keras. "Maka berhentilah mempertanyakan pertanyaan yang jawabannya akan tetap sama." Raka memutuskan meninggalkan Nur sendiri, ia mengurung diri di kamarnya, menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Nur yang melihat suaminya pergi dengan perasaan kesal, ia malah tersenyum penuh kemenangan. Suaminya pikir hanya dia yang bisa berbuat sesukanya, dirinya juga mampu. Zian mengirim pesan jika ibunya ingin bertemu, sudah lama juga setelah rumah tangganya kacau ia belum bertemu dengan ibunya. Nur mengatakan jika akhir pekan ini ia akan berkunjung ke rumah ibunya. Hari menjelang pagi, sengaja Raka bangun lebih awal hanya ingin melihat istrinya pergi kemana, namun kali ini ia heran ketika pergi ke dapur masih mendapati istrinya sedang menyeduh teh. "Ini teh buat aku?" tanya Raka. "Iya!" hanya itu kata yang keluar dari mulut Nur sepagi ini, ia mengambil kain pel dan ember yang dibawanya ke ruang tengah. Raka yang menyesap tehnya segera memuntahkannya kembali, bukan karena panas, tapi karena tehnya pahit tidak ada rasa gula sedikitpun. "Kamu sengaja mau mengerjai aku dengan teh yang pahit!" pekik Raka ketika sudah berada di samping Nur yang sedang mengepel. Bukannya menjawab, istrinya malah semakin khusu mengepel lantai, bahkan kakinya kini harus berjingkrak-jingkrak karena kain pel yang di gunakan Nur mengenai kakinya. "Nur!" bentak Raka. Kepalanya terangkat, Nur meraih tangan suaminya kembali ke dapur. Menunjukan toples yang telah kosong, begitu juga dengan toples-toples lainnya yang sama kosong. Raka menundukan kepalanya, tersenyum bodoh! "Kenapa kamu gak bilang kalau gula dan bumbu yang lainnya habis?" "Kamu sendiri 'kan yang bilang kalau kamu tidak akan memberiku uang sepeserpun, jadi untuk apa aku bicara sama kamu gak ada gunanya juga kali." Ini kalimat terpanjang yang di dengar Raka dari mulut istrinya akhir-akhir ini. "Nanti aku kasih kamu uang untuk membeli semuanya, sekalian untuk kamu juga." Tidak ada respon apa-apa dari Nur, bahkan rasa terima kasih dan doa yang dulu selalu ia panjatkan untuknya kini tidak ada lagi. Jengah dengan keadaan ini, Raka mengambil ponselnya membuka aplikasi banking dan mengirim uang pada rekening Nur dengan jumlah yang besar. Siapa tahu ia akan luluh, tapi sayangnya harapan tinggal harapan ketika istrinya membuka pesan yang ia yakini dari pihak bank, hanya menatapnya sekilas setelah itu tidak ada reaksi apa-apa lagi ia kembali fokus mengepel lantai. Raka naik ke lantai dua, kepalanya menggeleng tidak percaya. Saat ini entah dedemit apalagi yang merasuki istrinya itu. "Aku pergi dulu!" pamitnya pada Nur yang sudah berpakaian rapi. Nur meraih tangan Raka dan mencium punggung tangannya seperti biasa, hanya itu tidak ada yang lainnya lagi. Setelah selesai dengan ritual itu, ia kembali dengan kesibukannya. Raka hanya melihatnya dengan tatapan semakin frustasi. "Lo kenapa, Bro? gimana kabar istri Lo udah sembuh?" tanya Hari pada Raka yang saat ini berada di ruangan Raka. Ia tadi di telepon temannya itu dengan suara yang memprihatinkan. "Boro-boro, kemarin aja tuh dukun diusirnya pakai selang segala." "Maksud Lo?" "Kemarin istri gue nyiram kemenyan yang digunakan tuh dukun, ia juga mengancam akan diteriaki maling." Suara tawa Hari pecah, bahkan satu tangannya memegangi perutnya yang sakit karena kebanyakan tertawa. "Istri Lo pintar bin ajaib, Ka! gue baru dengar seorang dukun kalah sama orang yang kerasukan." "Udah deh jangan ngeledek mulu, gue bingung harus gimana lagi?" keluh Raka dengan sedikit membenturkan keningnya ke atas meja. "Sekarang apa lagi yang dibuat istri Lo?" "Kemarin pagi ia gak buat sarapan, terus malamnya gak masak makan malam, nah tadi pagi juga bikin teh manis, yang ada pahitnya doang manisnya enggak ada. Pas gue tanya bukannya jawab, gue malah di ajak ke dapur buat melihat semua toples yang ada di sana, memang semuanya kosong alias habis." "Lo udah ngasih dia duit belum?" "Baru tadi pagi, kemarin-kemarin engga karena gue kesal sama dia, gue ancam aja gak ngasih dia duit eh yang rugi malah gue." Hari yang mendengar cerita temannya itu hanya geleng-geleng tidak percaya. Terpaksa ia menasehati Raka dengan panjang lebar, meski entah akan dia mengerti atau tidak. "Jadi gue harus memperbaiki kesalahan gue gitu?" tanya Raka memastikan. "Iyalah, hati-hati sekarang istri Lo udah gak cerewet lagi itu berarti dia sudah menganggap Lo gak ada di hidup dia." "Ah, ngarang Lo!" Nur yang kebagian lembur hanya bisa berdoa semoga saja suaminya itu pulang telat ke rumah, belum lagi ia harus membeli keperluan dapurnya. Untung saja tempatnya bekerja dekat dengan mini market jadi bisa sedikit menghemat waktu untuk berbelanja. "Jam segini baru pulang dari mana kamu?" tanya Raka dengan matanya yang menelisik pada Nur. Nur hanya mengangkat dua kresek besar yang penuh dengan belanjaan, ia melangkah masuk dengan kesusahan. Tanpa di duga Raka merebut semua belanjaannya dan menaruhnya di atas meja makan. "Kenapa gak telepon kalau belanjaannya segini banyaknya?" "Gak sempat!" "Kalau kayak gini, kita akan telat makan malam. Kamu mau makan apa? biar aku belikan di depan." "Gak usah!" "Kenapa?" "Aku udah beli dua bungkus nasi Padang!" tunjuk Nur pada kresek warna hitam kecil. Ia pergi ke atas, badannya lengket oleh keringat. Mandi adalah satu-satunya yang di inginkannya saat ini, sedang Raka hanya menatap punggung istrinya dengan penuh tanda tanya. Selesai mandi Nur kembali ke dapur, perutnya lapar dan juga belanjaannya belum ia bereskan. Namun sampai di dapur semua belanjaannya sudah beres, Raka tersenyum melihat istrinya datang. "Ayo makan!" Nur duduk berhadapan dengan suaminya, sama seperti hari-hari kemarin tidak ada lagi percakapan hangat yang mereka lalukan, semuanya hanya serba kecanggungan. Raka yang sudah lapar menghabiskan nasi padangnya hanya dalam waktu singkat, "Aku sudah mengirimkan kembali uang yang, mas kasih ke aku tadi pagi!" ucap Nur memecah kesunyian. Seketika Raka menghentikan tangannya yang sedang menuangkan air putih yang ke dua kalinya untuk minum. "Kenapa?" "Aku tidak ingin menjadi beban dalam hidupmu, aku hanya mengambil uang yang biasa kamu kasih ke aku saja!" "Tapi, Nur ...." "Tidak perlu berlebihan karena semuanya tidak akan pernah merubah sesuatu yang telah terjadi." Ungkap Nur dengan dingin dan bangkit menuju kamarnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD