Lagi dan lagi Bima salah menebak tentang keputusan yang Shareen ambil. Bima mengira setelah ia menjabarkan tentang keikhlasan dan memberikan salah satu contoh hadits tentang ketaatan perempuan, Shareen akan merubah keputusannya. Namun, ternyata semua itu tidak merubah apapun, karena nyatanya Shareen tetap pada keputusannya yang menginginkan Bima untuk menikahi Risma, dengan alasan yang tetap karena menginginkan anak kandung Bima sendiri.
"Pokoknya kalo Kakak cinta sama aku dan pengobatan Kak Risma tetap lanjut, Kakak harus nikahin Kak Risma."
"Gak mau, Sayang. Tolong jangan paksa, Kakak. Lagian Risma juga pasti gak mau kalo harus nikah sama, Kakak. Kamu juga pasti bakalan cemburu dan sakit hati nantinya."
Bima juga masih dengan keputusannya, tidak mau membagi cinta dan tubuhnya untuk dinikmati oleh wanita lain. Apalagi oleh Risma yang sudah ia anggap seperti Aishi, adiknya sendiri. Bima tidak bisa membayangkan bagaimana malunya ia jika harus berdua di dalam kamar pengantin bersama Risma. Kecanggungan dengan diliputi rasa malu yang luar biasa tidak akan bisa dihindari. Baru membayangkannya saja Bima sudah malu, apalagi hal itu benar-benar terjadi.
"Aku janji gak bakalan cemburu dan sakit hati. Aku juga bakalan perlakuin Kak Risma kayak Kakak aku sendiri, dengan Kakak yang tetep harus adil."
"Bukan cuma itu, Sayang. Risma juga gak bakalan mau nikah sama, Kakak."
"Nanti aku yang minta. Please, Kak. Aku pengen punya temen di rumah, pengen gendong bayi, pengen ngerasain repot nya ngurus anak. Aku mohon."
Bima menggelengkan kepala tidak percaya atas permintaan Shareen. Saat hampir semua wanita menolak mati-matian dimadu, istrinya itu justru memohon agar dirinya berpoligami. Bima tidak habis pikir dengan kebaikan apa yang dulu ia perbuat hingga mendapatkan istri berhati malaikat seperti Shareen.
"Kakak gak mau!" tegas dengan sedikit penekan Bima kembali menolak.
"Dua tahun kita menikah aku gak pernah minta apapun sama, Kakak. Ini permintaan pertama aku, dan permintaan yang diharapkan oleh hampir semua laki-laki di dunia. Ini juga bisa jadi ladang pahala kita berdua."
Setelah mengatakan itu semua Shareen pergi begitu saja. Meninggalkan Bima yang masih tidak percaya pada keputusannya. Namun, Bima akan tetap pada pendiriannya untuk tidak mau menuruti keinginan gila sang istri. Bima tidak yakin pada dirinya sendiri bisa adil jika mempunyai istri dua. Bima sangat takut ia tidak bisa mempertanggungjawabkan apa yang menjadi tanggungjawabnya kelak di akhirat.
Benar memang istrinya itu tidak pernah meminta apapun selama mereka berumahtangga. Namun, untuk menuruti permintaannya yang pertama itu sangat sulit, dan Bima merasa dirinya tidak akan mampu untuk berbuat adil. Ia memang mapan secara materi dan mungkin akan bisa adil membaginya. Namun, satu yang pasti, untuk masalah batin Bima yakin tidak akan mampu berlaku adil. Bima tidak bisa membayangkan ia akan menyentuh bahkan berhubungan intim dengan istri mudanya, sedangkan hati dan pikirannya bersama istri tuanya.
Bagaimana jika sampai saat pelepasan bersama istri mudanya yang ia sebut nama istri tuanya? Apakah itu tidak akan menyakiti hati Risma? Apakah Risma akan menerima begitu saja? Sulit, bahkan sangat sulit walaupun sekadar bayangan saja. Bima sudah menyerah bahkan saat semuanya belum terjadi.
Bima takut akan azab Allah pada mahkluk Nya yang tidak berbuat adil, karena setahunya, saat ia melafazkan ijab qabul pada seorang wanita yang disaksikan oleh para saksi dan juga Allah, maka ia mengambil alih semua tanggungjawab si perempuan dari wali sebelumnya dalam segala hal, termasuk segala dosa si perempuan yang seharusnya menjadi tanggung jawab sang ayah menjadi berpindah ke bahu sang lelaki. Belum cukup disitu, memberi nafkah, membimbing agama, memanjakan si perempuan, menjaga si perempuan baik di dunia maupun akhirat dan menjadi pelindung utama bagi si perempuan menjadi tugas si lelaki.
Menanggung tanggungjawab satu istri saja sangat berat Bima rasakan, apalagi harus dua, Bima mungkin akan melambaikan tangan pada kamera seperti reality show.
"Sayang," panggilnya dengan lembut.
Shareen tidak menghiraukan itu semua. Ia tetap fokus berjalan keluar kafe untuk menuju taman. Shareen membutuhkan ketenangan untuk kembali merayu suaminya agar menuruti permintaannya.
Bima mensejajari langkahnya dengan sang istri, menarik lembut tangannya agar ia berhenti berjalan.
"Sayang."
"Aku mau sendiri, Kak. Kakak pulang duluan aja."
Untuk pertama kalinya selama mereka menikah Shareen bersikap seperti itu. Hal itu sukses membuat perasaan Bima campur aduk antara kesal dan serba salah.
Sedangkan Shareen, setelah mengatakan itu semua ia kembali berjalan. Bima hanya bisa menghela napas lelah saat melihat istrinya duduk di kursi panjang yang terbuat dari besi. Bima tidak pergi, ia hanya memperhatikan istrinya dari jauh dan tidak berniat untuk mengganggu. Membiarkan sang istri yang kini sedang fokus melihat anak kecil bermain dengan bahagianya. Hingga satu jam lamanya Shareen meninggalkan tempat tersebut untuk menuju rumah. Dengan segera Bima mengikutinya, walaupun Shareen lebih memilih menggunakan taksi online saat pulang.
***
Andai cinta tak pernah hadir, andai rindu tak tergenggam, andai kasih tak pernah ada, mungkin saat ini adalah waktunya bahagia. Kedinginan di tengah teriknya sinar matahari terasa begitu membingungkan. Kekosongan di tengah keramaian begitu asing saat terputusnya jalinan kasih yang sudah dibangun hampir empat tahun lamanya.
Hampa, hidupnya terasa hampa, hatinya kosong dengan kaki yang seolah tidak bisa berpijak saat sang kekasih dengan teganya memutuskan ikatan cinta secara sepihak. Dengan alasan bosan, terlalu naif dan sok suci laki-laki itu dengan mudahnya mengatakan putus. Hingga tanpa sadar ia melangkah tanpa memperhatikan jalan terlebih dahulu karena pikiran yang kosong, sehingga dirinya menjadi korban tabrak lari.
Wanita itu tidak menyalahkan orang yang telah menabraknya, ia justru menyalahkan kebodohannya yang sampai celaka hanya karena perihal putus cinta. Terlalu lucu sehingga membuatnya tersenyum miring akan semua yang terjadi. Entah sudah berapa lama ia terbaring di ranjang rumah sakit itu. Entah orang baik seperti apa juga yang mau menolong orang bodoh sepertinya.
Risma Anindya, wanita berparas cantik, ceria dan mandiri itulah yang saat ini tengah menatap kosong dinding berwarna putih di depan matanya. Risma baru benar-benar sadar setelah satu bulan ia dinyatakan sadar dari komanya. Saat sadar ia hanya menggerakkan jari jemari tangan tanpa membuka matanya. Hari ini barulah ia sadar sepenuhnya dengan wajah bingung tanpa ekspresi.
Ruangan itu begitu sepi tanpa ada satu orang pun yang menemani. Hanya bunyi dari alat elektrokardiograf yang menyambutnya saat pertama kali ia membuka mata.
"Bagaimana keadaannya, Dokter?"
Risma mendengar percakapan itu tepat di depan kamarnya. Risma juga baru menyadari bahwa ia berada di kamar yang cukup mewah dengan fasilitas lengkap. Bertanya-tanya siapa yang telah menolongnya, dan dari suaranya itu adalah suara dua orang wanita dengan satunya menggunakan logat sedikit kebarat-baratan.
"Semuanya sudah normal, Nyonya. Hanya saja pasien masih belum membuka matanya."
Mereka masuk secara bersamaan, Risma begitu heran melihat bule cantik yang kaget saat mata mereka bertemu. Risma melihat kebahagiaan terpancar di dalam mata coklat madu milik bule cantik itu, membuat wanita cantik yang masih terbaring lemah itu semakin heran, dan hanya bisa tersenyum canggung menanggapi ekspresinya.
"Kamu udah bangun," ujarnya mendekati Risma.
Risma semakin dibuat heran saat bule itu mengetahui namanya. Bertanya dalam hati siapa dia dan dari mana ia tahu namanya? Apakah bule cantik itu yang menyelamatkannya. Namun, sebelum ia menjawab dokter sudah lebih dulu menyela.
"Maaf Nyonya, biar saya periksa dulu."
Bule cantik itu menggeser tubuhnya. Menanti dengan sabar dokter yang memeriksa keadaannya. Dokter memeriksanya dengan detail yang diiringi beberapa pertanyaan. Risma menjawabnya. Setelah dokter selesai dengan semua tugasnya, barulah bule itu menghampirinya dan memperkenalkan diri siapa dirinya.