Bertemu Bima

1136 Words
Senyum yang tersungging dari bibir merah mudanya terlihat begitu tulus. Tangannya begitu lembut saat menyentuh tangan Risma yang sedikit kasar. Warna kulit yang begitu kontras bagaikan kopi s**u saat kulit mereka berdekatan begitu nyata. "Risma? Kamu pasti bingung siapa saya, 'kan?" tanya Shareen memastikan. "Darimana kamu tahu nama saya?" tanya Risma balik. "Dari suami saya yang nolongin kamu saat kecelakaan empat bulan kemarin," jawab Shareen masih dengan mempertahankan senyumnya. "Jadi selama itu saya baru sadar hari ini? Dan siapa suami kamu? Apakah saya mengenalnya?" "Kenalin dulu, nama saya Shareen istri dari Bima Satria Arjuna." Risma diam, ia tidak pernah kenal laki-laki yang bernama Bima Satria Arjuna. Ia memang mengingat bahkan mencari Kakak angkatnya yang bernama Bima, tapi bukan Bima dengan nama belakang yang sepertinya dari keluarga besar seperti suami wanita di depannya. "Sepertinya saya tidak mengenal suami kamu. Saya sangat berterima kasih atas kebaikan kamu dan suami kamu yang mau menolong saya. Saya berhutang nyawa pada kalian berdua," balas Risma yang bingung harus mengatakan apa. "Kamu kenal dekat dengan suami saya. Sebentar lagi dia akan kesini karena saya sudah mengabari bahwa kamu sudah sadar sepenuhnya." Risma semakin bingung dengan semua yang dikatakan oleh wanita yang bernama Shareen. Ia hanya bisa tersenyum canggung akan perlakuan baik dan hangat dari bule cantik itu. Menunggu datangnya suami bule itu yang mereka isi dengan obrolan santai. Risma menjawab semua pertanyaan yang lebih mengarah ke interogasi. Risma curiga apa jangan-jangan bule cantik itu sebenarnya mengira jika ia adalah selingkuhan dari suaminya dengan cara bermain cantik. Setelah hampir satu jam kurang menunggu, masuk seorang laki-laki berwajah tampan dengan tampilan yang begitu memukau. Sikapnya begitu mesra pada istrinya, seolah menunjukkan bahwa hanya wanita itu yang dicintainya, membuat Risma sedikit iri. Apalagi saat ia kembali mengingat tentang hubungannya yang kandas dengan sikap mantan kekasihnya yang acuh tak acuh. "Sayang," panggil laki-laki itu dengan mesra. Bahkan tanpa malu ia merengkuh tubuh ramping istrinya dan memberikan kecupan pada puncak kepalanya. Hal yang selalu ia harapan kan dulu dari kekasihnya, membuat Risma memalingkan wajahnya. "Kakak kok lama datangnya? Kita udah nunggu lama loh," protes Shareen dengan manja. "Ada meeting sama Kemal, Sayang. Jadi Kakak gak bisa pergi gitu aja," balas Bima dengan tersenyum sangat manis pada istrinya. "Ya udah tuh adiknya udah sadar." Bima menghampiri Risma yang kini menatapnya penuh tanya. Bima paham dan yakin bahwa adik kecilnya itu pasti tidak lagi mengenalnya. Bima yang dulu dengan sekarang sangat berbeda. Bima kecil begitu dekil dengan pakaian yang lusuh. Sedangkan Bima yang sekarang begitu tampan, berkharisma dengan wibawa yang luar biasa. "Hey, adik Kakak udah mau buka matanya?" tanya Bima dengan penuh rasa syukur. Risma mencerna kalimat yang keluar dari laki-laki tampan itu. Apakah ia tidak salah dengar bahwa laki-laki itu memanggilnya dengan sebutan adik kakak. "Risma Anindya, adik dari Bima. Tinggal di panti asuhan Harapan Kasih. Gadis kecil dengan tingkat kecerewetan yang tidak ada duanya." Mendengar penuturan Bima membuat air mata Risma mendesak keluar. Risma masih belum percaya jika itu Bima, laki-laki yang ia anggap sebagai kakak laki-laki nya dulu. "Kak Bima?" tanya Risma meyakinkan. "Ini, Kakak." Air matanya semakin deras mengalir, tubuhnya yang lemah tidak bisa bergerak untuk memeluk laki-laki yang dirindukan nya itu. Dan walaupun bisa, sepertinya ia akan cukup segan dengan bule cantik yang ternyata istri dari kakaknya. "Boleh aku peluk, Kakak?" tanya Risma dengan mata yang tertuju pada Shareen. "Kalian bukan muhrim. Walaupun kalian menganggap sebagai adik kakak, tapi kalian berdua tidak memiliki hubungan darah." Risma mengangguk mengerti, rupanya bule cantik dengan pakaian muslimah itu lebih paham tentang agama daripada dirinya. Sedangkan Bima sendiri memang tidak berniat untuk memeluk Risma. Bima hanya mengusap kepalanya dengan kasih sayang seorang kakak. "Maaf," balas Risma penuh sesal. "Gak perlu minta maaf. Aku maklum kok kamu pasti kangen sama Kakak kamu. Cuma tetap saja kalian bukan tidak halal untuk saling menyentuh," beber Shareen membuat Bima tersenyum senang. Istrinya itu benar-benar menerapkan setiap apa yang diajarkan olehnya. Semua kehidupan Shareen memang berubah setelah mereka menikah. Mulai dari penampilan, perilaku, sikap dan masih banyak lainnya. Bule cantik itu sekarang hanya memakai baju gamis dalam kesehariannya. Walaupun ia tidak memakai niqab, tapi semuanya sudah tertutup kecuali wajah dan tangannya. "Kamu kenapa bisa sampe kecelakaan sih, Dek?" tanya Bima penasaran. "Takdir, Kak. Kan kalau aku enggak kecelakaan juga mungkin kita enggak ketemu," jawab Risma yang dibenarkan oleh pasangan suami istri tersebut. "Selama ini kamu tinggal di mana? Kenapa gak pernah nyari, Kakak?" "Aku tinggal si Jakarta Barat, kerja jadi admin di toko teknik. Aku juga nyari Kakak cuma ya nyarinya untung-untungan." "Ya udah sekarang yang penting kalian udah ketemu. Nanti juga keluar dari sini kamu ikut tinggal sama kita," sela Shareen mengambil keputusan sepihak. "Sayang," protes Bima yang mengetahui tujuan istrinya. "Terima kasih, tapi aku mau mandiri, tinggal sendiri." Risma menangkap jika Bima tidak mau menampungnya. Lagipula walaupun mereka sudah bertemu Risma tidak menginginkan untuk ikut tinggal bersama. "Gak apa-apa kamu tinggal sama kita aja. Lagi pula kamu udah gak punya kerjaan, pakaian kamu juga udah di rumah kami semua." Risma melotot tidak percaya, dari mana mereka semua tahu tempat tinggalnya. Lalu kenapa tadi Bima berpura-pura bertanya tentang dirinya yang tinggal di mana, jika ia sudah mengetahui. Sama dengan Risma, Bima juga menaikkan alisnya sebelah. Ia tidak tahu kapan istrinya mencari tahu semua tentang adik angkatnya itu. "Sayang dengerin, Kakak. Kamu sendiri yang bilang walaupun kami berdua sudah menganggap saudara, tetap kami tidak memiliki hubungan darah yang tidak halal untuk tinggal satu rumah. Sekarang, kalau Risma tinggal sama kita sama-sama itu enggak baik, Sayang. Kita bisa siapin apartemen buat Risma." "Kan biar aku ada temennya, Kak." "Kita cari apartemen yang deket rumah. Jadi kalo siang Risma nemenin kamu biar gak kesepian. Malem 'kan ada, Kakak." Melihat perdebatan suami istri itu Risma hanya diam. Risma ingin protes pada mereka berdua yang tengah mempermasalahkan tempat tinggalnya tanpa bertanya terlebih dahulu pada dirinya. Namun, untuk melayangkan ketidaksetujuan itu Risma terlalu canggung dan tidak enak hati. Karena sebenarnya ia juga bingung akan tinggal di mana setelah keluar dari rumah sakit ini. "Kita tanya sama orangnya aja," putus Shareen pada Risma yang seketika langsung menoleh pada mereka berdua. "Aku mau di kontrakan aja, Kak. Aku juga mau nyari kerja lagi nantinya," sela Risma sebelum mereka berdua benar-benar bertanya. "Oh! Gak bisa. Pokoknya kamu tinggal sama kami kalo udah keluar dari sini," tolak Shareen tidak setuju. "Nanti Kakak kasih kamu satu apartemen yang gak jauh dari rumah, Kakak. Kamu kerja sama Kakak aja buat jagain anak kecil." Risma sangat bersyukur mendengar tawaran dari Bima. Risma sangat menyukai anak kecil, karena hidupnya selalu dikelilingi anak kecil selagi ia di panti. Jadi bukan hal sulit untuknya jika hanya menjaga seorang anak kecil. Risma juga tidak mau jika harus tinggal di rumah Bima, karena benar apa yang dikatakan Bima, jika tidak baik ada wanita lain walaupun mereka sudah seperti saudara kandung. Bima memang selalu menjadi pelindung dan penyelamat dalam hidupnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD