Pagi ini, Samudra sengaja ingin mengajak Gwenny untuk jalan-jalan ke Dufan. Selama di Jakarta setelah menikah, mereka belum pernah jalan bersama atau sekadar pergi berlibur untuk mengenakan diri. Samudra sadar, perbuatannya kemarin hampir menghancurkan rumah tangganya. Kali ini, kesekian kalinya Samudra yakin, bahwa rasa sakit hati yang dulu pernah dia pendam pada Gwenny sudah hilang. Perasaan yang dia rasakan terhadap Gwenny, memang benar-benar perasaan cinta. Bukan kasihan karena dia seorang gadis yang lemah karena penyakitnya.
Hampir berpisah, mungkin itulah sebuah istilah yang pantas untuk menggambarkan hubungannya dengan Gwenny. Samudra hampir dibuat putus asa menjalankan hidup jika dia dan Gwenny berpisah. Mungkin, jika Gwenny tidak mau memberinya kesempatan, dia memilih untuk tidak melanjutkan hidup lagi.
Ditambah lagi dengan kejadian yang Ayla lakukan kemarin. Beruntung Samudra tidak melangkah terlalu jauh. Jika seandainya dia menyakiti Gwenny lebih dalam lagi, mungkin saja sekarang dia sudah terkubur dalam penyeselan yang teramat.
Sekarang, mereka sedang berada di Pet Shop. Membeli kucing yang sejak Karin Gwenny inginkan. " Kamu suka? Kita jadi jalan-jalan ke Dufan? Kucingnya gak jadi ya, aku gak suka oyen."
Gwenny mencubit lengan Samudra. Memasang wajah cemberut, kesel setengah mati.
"Aduuh! Sakit, sayang. Kenapa sih kamu itu suka banget nyubit aku kayak gitu, sakit loh."
"Kamu yang ngeselin, katanya udah janji mau dibeliin kucing. Sekarang bilang nggak jadi, berubah terus!" Akhir-akhir ini Gwenny mang lebih sensitive. Hormon kehamilan yang meningkat membuat emosinya tidak stabil, bahkan tak jarang Gwenny menangis jika keinginannya tidak dipenuhi oleh Samudra.
"Sayaangg, kucing oyen yang pendek kakinya lagi susah carinya , tipe kucing munchkin susah, nanti aku cari lagi."
"Nggak mau, nanti kamu boongin aku." Gwenny merengek, menggelengkan kepala dan tetap menginginkan kucing yang dia mau.
"Iya, iya. nanti pulang dari Dufan kita cari ya. Aku janji sama kamu."
"Janji?"
Samudra memberikan jari kelingkingnya ke Gwenny, saking mengikat janji untuk tidak mengingkari.
"Janjiii, sayangku. Kucing Munchkin, kan? Yang kakinya pendek?"
Gwenny mengangguk "Awas aja kalau kamu bohong, aku nangis."
"Jangan, nggak boleh nangis-nangis lagi. Aku bakal penuhi permintaan kamu. Syaratnya jangan lagi ya."
Gwenny menganggukkan pelan kepalanya.
***
"Kamu mau naik wahana apa? Asal jangan naik rollercoaster, ya."
"Yaaahhhh..." Mata Gwenny sudah melirik wahana Roller Coaster. "Padahal aku pengen nyobain, Sam. Dari dulu nggak pernah diizinin. Seru banget tau kayaknya."
Samudra lantas membawa Gwenny ke dalam pelukan.
"Nggak boleh sayang. Naik yang lain aja ya, nggak baik. Itu bahaya buat kamu dan calon anak kita. Kamu nggak mau kan dia kenapa-napa. Aku janji, kalau saatnya udah tepat, aku bakal izinin kamu buat naik wahana itu. Aku yang antar nanti. Tapi sekarang bum boleh, ya. Ingat, nggak baik buat jantung kamu."
Gwenny menangis di dalam dekapan Samudra. "Tapi pengennya sekarang, aku bakal baik-baik aja."
Orang-orang yang berada di sana lantas memperhatikan keduanya. Bahkan sebagian di antara mereka ada yang mengabadikan moment itu dengan cara memvideokan bagaimana Samudra memeluk Gwenny.
"Kenapa sih nggak boleh. Padahal aku yakin, aku bakal baik-baik aja." Gwenny terus merengek. Berharap Samudra mau memenuhi keinginannya.
Tangan Samudra bergerak mengusap airmata Gwenny.
"Naik yang lainnya aja, kalo tetap naik itu aku yang makin khawtir sama kamu."
Gwenny malah berjongkok, menangis seperti layaknya anak kecil yang tidak mendapatkan apa yang dia mau.
Samudra membawa tubuh Gwenny untuk berdiri.
"Kita naik yang lain dulu, nanti kalau ada waktu lagi kita naik yang itu."
"Tapi sekarang kita mau naik apaan?" Gwenny masih terisak.
Samudra menunjuk komedi putar yang banyak anak-anak anak kecil dan ibu-ibu yang naik.
"Itu aja.. kan lucuu"
"Yaudah, tapi habis sini sebagai gantinya aku gak mau tau kamu harus cariin kucing yang aku mau, kalau enggak, anak kamu bakal ileran."
"Siap! Kita datengi satu satu tempat penampungan kucing disekitar sini."
***
Gwenny dan Samudra akhirnya naik Komedi Putar. Terlihat Gwenny sangat bahagia, sesekali tangannya terulur ke Samudra.
Keadaan sekarang berbanding terbalik dengan kemarin. Tak pernah terbayangkan bahwa setelah melewati berbagai masalah, Gwenny bisa memaafkan Samudra, meski sepenuh hatinya belum yakin bahwa Samudra akan terus bersikap seperti ini. Bagaimanapun dia harus bersiap jika suatu saat Samudra kembali berubah.
Sementara itu, ada seorang anak kecil yang memperhatikan mereka berdua. Mungkin aneh ada orang dewasa muda yang main wahana anak-anak
"Gwen, anak kecilnya kok liatin kita mulu, apa kita diliatnya aneh ya?" tanya Samudra bingung.
Gwenny ikut melihat anak kecil itu. "mungkin dia mikir, kok ada ya bapak-bapak kayak kamu main di sini, atau dia mikir kamu lagi nganter anak kamu, aku kan kayak anak kamu." kata Gwenny dengan PD
"Iyaaa, iyaaaa, kan siang jadi anak, malamnya jadi istri, biar pas."
"Mulutnya nggak usah gitu." Gwenny meremas mulut Samudra. "Sama aja boong tau, kamu nggak ijinin aku naik roller coaster."
"Ah! Sakit nih, ya kan emang gak baik buat jatung kamu, bahaya. bisa-bisa aku nangis 7 hari 7 malam karena kamu serangan jantung di sana nantinya."
"Iya, iyaaa bawel...."
***
Gwenny dan Samudra hanya menaiki wahana Komedi kuda. Karena hanya itu satu-satunya wahana yang aman untuk Gwenny naiki. Selain membahayakan jantungnya, itu juga sangat membahayakan kandungan Gwenny. Tentu, Samudra tidak ingin mengambil risiko yang akan terjadi kedepannya jika Samudra nekat menuruti kemauan Gwenny.
Berjalan bergandengan sambil sesekali mata Gwenny melihat sepasang suami istri yang membawa bayi mereka. Mungkin suatu saat dia dan Samudra juga akan seperti itu. Memiliki keluarga kecil yang sangat bahagia. Semoga saja Samudra benar-benar menepati janjinya untuk tidak lagi mematahkan hatinya.
Lantas, mata Gwenny menangkap seorang anak yang sedang menikmati permen kapas berkarakter hello Kitty. Gwenny tersenyum tipis, pandangannya beralih ke wajah Samudra.
"Sam..."
Pedagang permen kapas sangat digemari anak anak sampai kaum muda mudi, rasanya panis meleleh di lidah. Warnanya yang membuat memikat para pengunjung menjadi khas tersendiri jika menggunjungi wahan a seperti ini.
"Mau itu?" Samudra menunjuk pedang permen kapas. Antrean panjang terlihat mengular.
"Kayaknya kita harus antri nih." Samudra berusaha mencari celah agar bisa masuk.
"Tolong sesuai antrian nomor urut ya adek-adek, kakak-kakak." Kata seorang penjangan oultet permen kapas ini. Samudra berdecak kesal. Dia tak sabar menunggu antrean ini.
Ingin menyalip masuk antrian , tapi anak-anak di sana malah protes kesal.
Tidak mau mengantri.
"Gwen, kita harus dapet nomer dulu deh , kamu ngga apa apa kita ngantri ?"
"Yaudah, nggak apa-apa. Asal kita kebagian. Takut ya nanti gak kebagian. Kasian loh anak kamu, papahnya gagal beliin yang dia mau. Padahal kemarin papa janji kan sayang, bakal penuhin apapun yang kamu minta." Pandangan mata Gwenny turun kebawah, sebelah tangannya mengelus perut yang datar
""Yaudah kamu tunggu disini dulu, aku ada ide.. tunggu ya! Tungguin!"
Tiba-tiba ide cemerlang tumbuh di benak Samudra
'Gue ada ide, gimana caranya bisa dapetin gak pake antri, mohon maaf ya anak anak'
Ucap samudra dalam hati. Dia asala nylonong maju kedepan. Meminjam mic yang di pakai untuk mengarahkan pelanggan.
"Ekhmm !! Adek adek ! Hari ini saya traktir semuanya ! Tapi ada 1 syarat nih
"Apaa ooommm...." Salah seorang anak perempuan bersorak ria. Tentu dia ingin di traktir permen kapas yang banyak.
***
Bersambung