Jihan tidak habis pikir, ternyata dugaannya benar-benar terjadi. Ayla, menghancurkan Samudra dengan taktik yang begitu rapi. Masuk ke dalam perusahaan ROYAL SAMUDRA GROUP sebagai model, ternyata memiliki tujuan yang lain yang berhubungan dengan masa lalu. Ayla sakit hati? Lalu apakah dia sebagai seorang ibu tidak berhak memberikan yang terbaik untuk anaknya termasuk pendamping hidup?
"Papa liat sendiri kan? Bener apa yang mama bilang. Ayla punya maksud nggak baik ke keluarga kita. Sekarang apa? Terbukti! Dia berhasil ngerusak hubungan Gwenny dan Samudra. Sekarang Mama nggak tau gimana lagi hubungan Sam dan Gwenny. Ditambah lagi sekarang Gwenny itu hamil! Cucu kita, Pah!" Jihan meluapkan emosinya pada Dirga, suaminya. Padahal, sejak dulu dia pun juga sudah memperingati Dirga bahwa Ayla sangat tidak pantas jika menjadi menantunya.
"Jadi, semua ini rencana busuk Ayla? Papah akan urus semuanya ke Pengadilan, papa akan suruh orang-orang Papa, untuk menyelidiki kasus ini. Maafkan Papa karena kemarin tidak mendengarkan perkataan, Mama."
"Sekarang kita harus apa? Apa yang harus kita katakan pada orang tua Gwenny. Mama nggak mau kalau mereka harus sampai bercerai, Pa. Gwenny itu menantu pilihan Mama. Dan mama itu hutang nyawa sama Aruni." Jihan menutup wajah dengan kedua telapak tangan, ingin menangis dengan kejadian ini. Dia dan Arini sudah bersahabat sejak lama, Aruni pun bahkan memberikan satu ginjalnya untuk Jihan. Jadi, sampai kapan pun Jihan tidak akan pernah lupa kebaikan yang pernah Aruni lakukan padanya. Hanya dengan menyayangi Gwenny dia bisa membalas perbuatan baik Aruni.
"Sekarang Gwenny, hamil. Mama yakin Ardi pasti tidak tinggal diam, Mama juga nggak tau apa yang bakal Ardi lakukan sama anak kita di sana."
"Bagaimanapun kita harus menemui orang tua Gwenny, Ma. Di sini ya g bersalah juga Samudra. Karena dia dan Ayla sempat berada di situasi yang tidak tepat. Kalau kita tidak segera ke sana, mereka akan mengira bahwa kita mendukung anak kita sendiri."
Jihan mengangguk pelan. Apa pun akan dia lakukan asalkan anaknya tidak bercerai dengan Gwenny.
***
Sementara Samudra yang di kamar Gwenny, merasa pulas dengan tidurnya. Badannya masih terasa sakit efek demam yang dia alami semalam.
Gwenny memilih untuk tidak tidur di atas ranjang yang sama. Untuk melihat bukti rekaman CCTV Gwenny juga belum mampu. Gwenny tidak ingin jika nanti matanya kembali melihat reka ulang adegan yang pernah Ayla dan Samudra lakukan di depan matanya. Seperti mempertimbangkan untuk memilih tidak melihat atau rasa penasaranya yang terlalu besar.
Gwenny berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Matanya masih sembab karena menangis semalaman.
Ardi masu ke dalam kamar Gwenny, mendapati Samudra yang masih tidur di atas ranjang
"Samudra."
Mendengar namanya dipanggil Samudra akhirnya terbangun..
"Papah?"
"Ini sudah siang. Sekarang saya minta sama kamu, tolong pergi dari sini. Saya tidak mau melihat kamu ada di sini lagi!"
Segera samudra beranjak dari ranjangnya.
Tanpa ada perlawanan apapun, ditambah badannya masih terasa sakit
"Satu lagi saya minta sama kamu. Tolong, tolong jangan temui Gwenny lagi. Biarkan dia terbiasa tanpa kehadiran kamu."
Samudra bertekuk lutut di hadapan Ardi, memohonkan ampun tidak bercerai dengan Gwenny.
"Sam mohon, Pah, jangan pisahkan kita..
"Kalau kamu menyayangi anak saya dan tidak ingin bercerai, kenapa kamu sakiti dia?"
Samudra hanya bisa menangis. Kali ini, dia benar-benar sudah bingung bagaimana cara meyakinkan Ardi bahasa dia benar-benar sangat menyesal.
"Kamu juga akan jadi seorang ayah. Kalau anak kamu disakiti apa kamu tinggal diam?"
"Aku minta maaf, Pah, aku mohon, jangan pisahkan kami."
Gwenny keluar dari dalam kamar mandi.
"Tapi, aku yang pengen kita pisah, Sam."
Mendengar pernyataan itu, Samudra lantas menatap Gwenny. Merangkak mendekati Gwenny dan menangis seperti layaknya anak kecil.
"Ku mohon, Gwen. Maaf, aku minta maaf! Aku takut kamu pergi dari aku, aku salah sudah membuang kamu Gwen, menyia-nyiakan kamu, membalaskan rasa sakit hati yang tak seharusnya aku lakukan."
Layaknya anak kecil yang baru bertemu ibu kandungnya bertahun tahun hilang terpisah. Samudra masih memeluk bertekuk lutut di bawah perut Gweny. Pikirannya kacau balau.
"Kemarin kamu juga lakuin hal yang sama, minta maaf dan manis banget. Janji kalau kita bakal buka lembaran yang baru, tapi apa? Kamu selalu berubah. Dan sekarang aku nggak tau, apa yang kamu bicarain ini jujur, atau cuma kebohongan lagi."
Ardi hanya bisa memandang bagaimana Samudra yang berlutut di depan putrinya
"Aku bicara jujur, Gwen, aku mohon. Kita jangan pisah, aku menyesal Gwen."
"Apa yang harus buatbaku percaya sama kamu?" tanya Gwenny pada Samudra.
"Kamu bisa lihat buktinya diponsel aku." jawab Samudra ditengah isakan dan tangisnya.
Aku nggak butuh bukti itu, yang aku tanya gimana caranya aku bisa percaya kalau kamu itu bener-bener nggak mau kehilangan aku, sekarang kamu kayak gini, besok kamu bersikap dingin lagi. Lagi."
"Aku bisa buktiin, kalau seandainya aku berubah lagi, kamu boleh meminta cerai dari aku. Tapi kali ini aku mohon, kasih aku kesempatan."
Pandangan Gwenny beralih ke pada Papanya. Meminta jawaban atas apa yang harus dia lakukan. Hatinya seakan sulit memaafkan Samudra. Namun dia juga tidak ingin egois karena harus memikirkan anak yang sedang dikandung.
Ardi, dia sudah sempat membahas masalah ini dengan Aruni Istrinya. Dari hasil perundingannya. Mereka bersedia memberikan Samudra satu kesempatan lagi. Namun, dengan syarat jika Samudra kembali menyakiti putrinya lagi, maka Samudra tidak akan mendapatkan pintu maaf lagi.
***
Pagi ini harus memulai perjanan yang benar benar tidak mengulangi kesalahan seperti kemarin. Gweny masih terlelap, tapi samudra sudah sibuk memasak makanan kesukaan Gweny. Resepnya ia cari di internet, memasak masakan berbau italian food.
Sementara Gwenny menarik selimut karena masih terasa dingin, matanya sudah terbuka tapi dia enggan turun dari tempat tidur. Pikirannya mulai kemana-mana. Takut, jika Samudra tiba-tiba kembali berubah.
Gwenny mengembuskan napas pelan, entah kenapa sejak semalam, Gwenny merasakan ngidam yang tak kunjung hilang
Sementara itu, di meja makan, tersaji masakan yang sangat lezat siap untuk disantap.
"Beres! Gak sia sia bakat memasak yang terpendam akhirnya jadi juga." Samudra tertawa kecil, aasik sendiri dengan karyanya
Gwenny keluar dari dalam kamar, berjalan menuju meja makan, sebab di melihat Samudra berada di sana . Namun saat mendekati meja makan, Gwenny terpeleset, nyaris jatuh. Beruntung Samudra menangkap tubuh Gwenny dengan sigap.
"Hati-hati, lantainya barusan aku baru pel, kamu gak apa-apa apa kan?"
Mata Gwenny memandang setiap sudut ruangan. "Ini kamu bersihin semua? Iya gak apa-apa."
"Iya. Kamu ngga usah beres-beres apa pun, semuanya udah aku bersihin, masak juga udah kok. mau makan berdua ?"
Gwenny melirik meja makan, semua makanan yang dia inginkan sudah dihidangkan. Lasagna, Ribollita, Risotto, Gelato dan Tiramisu tersedia di sana
"Ini kamu yang masak? Bangun jam berapa?"
"Aku bangun jam 4 pagi buat masak ini semua."
Tapi, kamu tau dari mana? Semalam aku pengen makan ini."
"Aku turun kebawah, beli semua bahannya untuk masak ini. kamu mau makan yang mana? Aku cuma feeling aja kalau kamu pengen makan ini."
Gwenny mengangguk pelan, "Lasagna. Pengen banget..."
"Aku suapin untuk kamu, ada lagi yang mau kamu makan?"
"Ini dulu deh." Gwenny masih ragu-ragu. Tidak ingin terlalu bahagia, tidak ingin menggunakan hati. Sebab dia takut dipatahkan lagi.
Raut wajah Samudra sedikit muram saat melihat reaksi Gwenny seprti tidak yakin.
Samudra mulai menyuapi Gwenny yang membuka mulutnya, menerima suapan dari Samudra.
"Kamu juga makan." Gwenny mengusap pelan keringat yang ada di pelipis Samudra.
"Aku lebih suka kamu yang habis semuanya, jangan sampai anak kita ileran karena dihabisin sama aku." tertawa becanda
"Tapi dia juga pengen papanya makan, dia nggak mau makan berdua sama mamanya." Gwenny mengambil sendok dari tangan Samudra, kemudian menyuapi Samudra.
"Mmmhh, enak. Menurut kamu gimana? Bumbumnya pas?""
"Pas, enak. Kemarin aku nggak pengen makan apa-apa, bawannya pengen dimuntahin lagi, tapi kalau ini kayaknya nggak bakal muntah."
Samudra tersenyum tipis, kemudian meraba perut datar Gwenny.
"Kamu sehati sama papah, apa pun kamu mau, papa bakal buatin."
"Makasih, papa. Masakan papa enak, kok. Aku suka..." Gwenny menirukan suara anak kecil, kemudian tertawa pelan
"Sama sama, ayo kita liburan ! Mau kemana kitaaaa
"Li--liburan?"
"Sebagai permintaan maaf aku, aku mau mengulang lagi dari awal, aku mau menikmati hari hari berdua?" tanya Samudra, pandangannya tertunnduk, tidak mau memandang raut wajah Gweny
"Kerjaan kamu gimana? Lalu, Ayla?"
"Jangan membahas Ayla lagi, aku dan dia sudah tidak ada masalah lagi, tolong Gwen, aku tau aku bersalah karena menyembunyikan siapa dia sebenarnya. Tapi sekarang aku mohon, kita memulai hidup tanpa ada orang itu."
"Newzeland?" tanya Gwenny, mengikuti permintaan Samudra agar tak membahas perempuan itu.
"Maaf, sebisa aku aku bakal lakukan apapun, agar semuanya kembali lagi seperti di Paris, aku berusaha untuk membuktikan kalau aku benar benar ingin merubah semuanya, semampu aku, Gwen."
"Iya, aku tau. Tapi aku juga minta maaf, maaf kalau aku belum bisa percaya sama kamu. Kamu bisa bersikap manis seperti ini sekarang, tapi aku nggak tau nanti siang, malam atau besok. Bisa jadi kamu berubah lagi."
"Hanya ini yang bisa aku lakukan"
Gwenny pun hanya bisa diam. Mencoba tetap yakin dengan suaminya.
***
"Jujur, saya kecewa dengan Samudra. Dia sudah tega menduakan anak saya. Apalagi disaat Gwenny mengandung anaknya." Ardi menggelengkan kepala tak habis pikir. Sementara itu, Aruni juga ikut menyayangkan hal ini, tapi apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur. Semuanya sudah terjadi dan tak bisa dicegah.
"Maafkan Samudra, Ardi. Saya dan istri saya berjanji dan memastikan bahwa Samudra harus memenuhi janjinya ini. Bukan begitu, Jihan?" tanya Dirga pada sang istri.
"Kita lihat aja pah , bagaimana sekarang ini. Kalau masih tetap sama seperti itu, kita harus menindak lanjuti kasus ini, mamah malu pah , temen temen mamah semua buat bahan gosip tentang anak kita."
Dirga hanya bisa menganggukkan kepala setuju
"Sekarang saya hanya ingin menguji, Samudra. Saya bersikap seolah akan terus memisahkan mereka. Jika Samudra memang berhasil mempertahankan Gwenny, saya akan kembali tenang."
"Kamu yakin, Ardi? Ini berisiko sama kesehatan Gweny juga pah , saya takut.." ucap Jihan cemas. Sekarang dia sudah tahu bagaimana kondisi kesehatan menantunya itu. Jujur, Jihan terkejut saat mengetahui bahwa Gwenny memiliki kelainan jantung seperti itu.
"Aku berterimakasih sama kamu, Jihan. Karena kamu sudah menyayangi Gwenny. Aku tahu Gwenny mencintai Samudra. Aku harap kedepannya rumah tangga mereka baik-baik saja." kata Aruni pelan. Dia tentu juga tidak ingin hal buruk mengancam rumah tangga anaknya.
Jihan mengangguk pelan. Bagaimana mungkin dia tidak menyayangi Gwenny. Aruni adalah sahabatnya, bahkan dia berhutang nyawa pada Aruni, sebab Aruni sudah memberikan satu ginjalnya untuk menyelamatkan nyawanya.
***
"Sam, aku pengen sesuatu."
Samudra yang sedang nonton tv langsung mematikan TV, ingin fokus dengan perkataan sang istri.
"Kamu pengen apa?" Samudra langsung mendekatkan kuping di perut Gweny.
"Mau apa anak papah yg cantik?"
Gwenny tertawa pelan. "Kamu tau dari mana dia cantik? Emang perempuan?"
"Ya harus perempuan dong, biar nanti ada dua princess."
"Iya deh iya... Hmm tapi aku gak tau ini ngidam atau bukan. Aku pengen melihara kucing, pengen banget ."
"Kucing?! Jangan deh, kan itu bahaya, nanti gigit-gigit kamu gimana? Dia imut tapi nyebelin."
"Tuh kan, ih..." Gwenny langsung membuang muka. Kesel dengan penolakan Samudra yang sepertinya melarang Gwenny untuk memelihara seekor kucing
Samudra mengalah daripda nanti Gwenny mendiaminya.
"Oke oke.. kamu mau pelihara kucing apa? Jangan oyen ya. Aku sebel sama kucing oyen."
"Emangnya kenapa sama Kucing Oyen? Lucu kok..."
"Yang putih aja, atau belang belang lucu." Kata samudra sambil memilih-milih di adopter kucing yang ada di internet.
"British shotr hair kalo kamu mau bawa kemana pun pergi. ada pasport nya."
"Beli yang gemuk, pokoknya kucingnya itu harus yang mau tidur sama kita." Permintaan Gwenny semakin aneh. "Nanti aku tidurnya sama kucing."
Samudra tidak habis pikir dengan gweny.
"Aku kemana? Tidur sama siapa? Gak ah! Gak jadi kalo gitu."
"Ya nanti kan kamu bisa di Sofa di luar." Kata Gwenny sambil menunjuk Sofa.
"Yaudah kamu susuin aja kucingnya sekalian."
"Enak aja, kamu kira aku ibu kucing."
"Terus apa? Istri kucing? Nggak mau ya aku kalah saing sama kucing."
Gwenny cemberut, demi apapun dia hanya ingin memiliki kucing. Samudra harus memenuhi permintaannya itu.