Bab 13

1003 Words
"b******k! Mau apa lagi kamu ke sini? Belum puas kamu sakiti hati anak saya?!" Ardi mencengram kuat kerah baju Samudra. Dia sudah mendengar cerita dari putrinya. Ternyata rumor yang dia dengar bukan berita biasa. Padahal beberapa waktu lalu, dia sudah mengingatkan Samudra agar tidak menyakiti putrinya. Tapi, lihatlah. Sekarang lelaki itu malah terang-terangan menyakiti anaknya. Samudra belum sempat melakukan pembelaan, pukulan bertubi tubi menghantam badan Samudra. Gweny sebenarnya tidak tega melinat ini. "Ceraikan anak saya!" Satu Bogeman berhasil memecahkan bibir Samudra, hingga berlumuran darah. "Yang berhak menentukan perceraian cuma aku, Pah! Aku belum menjelaskan sepenuhnya. Untuk menceraikan Gwenny. Aku nggak akan pernah mau! Dia istri aku, Pa. Aku nggak akan ceraikan dia, sampai kapan pun." Pukulan kembali mendarat di wajah Samudra hingga laki-laki itu tersungkur. Gwenny menjerit, meminta papanya untuk menghentikan aksi itu. Bagaimanapun dia juga tidak tega melihat wajah Samudra harus babak belur seperti itu. "Cukup, Pah!" Gwenny membantu Samudra untuk berdiri. "Lebih baik kamu pulang." "Untuk apalagi kamu belain dia? Dia itu udah melukai hati kamu, Gwen! Dia nggak pantas mendapatkan perhatian kamu itu." Untuk berdiri saja rasanya Samudra tidak mampu. Tapi, tak masalah, dia rela babak belur sekalipun asalkan pernikahan nya dengan Gwenny terselamatkan. "Kamu tinggalkan saja dia, Gwen." Samudra menggelengkan kepalanya, menatap Gwenny penuh harap agar tidak mengiyakan permintaan papanya. "Pergilah, Sam." "Gak aku gak akan pergi.." sudut bibir yang berceceran darah, Ardi menyeret Samudra untuk keluar dari rumah. "Pergi kamu! Saya tidak akan membiarkan anak saya ada di tangan kamu lagi! Kamu cuma bisa menyakitinya. Soal anak yang sedang dia kandung, saya masih sanggup untuk membesarkannya. Kamu tidak perlu muncul lagi!" Pandangan mata Samudra sudah buyar, kesadarannya pergaulan seakan menghilang. "Pah.... aku mohon.. dengarkan aku.. kali ini." Lirih Samudra pelan, "Apa yang harus kamu jelaskan lagi? Semua sudah jelas!" Mata Ardi melirik benda yang ada di saku jas Samudra. Kemudian mengambil benda itu. Di sana juga Ada Gwenny yang melihatnya. "Ini punya kamu Gwen?" Gwenny menggelengkan kepala. "Bukan, Pa." Tangan Gwenny bergetar. Pikirannya langsung tertuju pada Ayla. "Sam, ini punya Ayla? Sampai sejauh itu, Sam?" "Aku berani bersumpah! Sejengkal kulitpun aku gak pernah menyentuh perempuan lain apalagi sejauh itu!. Tampaknya pengakuan samudra tidak dipercaya oleh Ardi Namun sudah tidak ada jawaban apapun lagi dari Gwenny mau pun papanya. Ardi lantas membawa Gwenny masuk, menutup pintu dengan rapat. Dia tidak ingin anaknya jatuh sakit. Di luar, sudah mulai turun hujan. Gwenny hanya bisa menangis sesegukkan, memikirkan semua masalah yang terjadi. Percaya pada Samudra? Rasanya sangat sulit. Sebab Samudra tidak bisa ditebak. Terkadang dia baik, terkadang dia bersikap sangat menyakitkan. Gwenny merasakan bahwa dia tidak tahu apakah sekarang Samudra berkata jujur, atau malah sebaliknya. Gwenny menyentuh perutnya yang datar. Sekarang ada bayi di sana, seorang bayi yang seharusnya melengkapi kebahagiaan nya dengan Samudra. Tapi, Gwenny saat ini benar-benar tidak bisa mempercayai Samudra lagi Samudra masih di halaman rumah Gweny. Samudra yang basah kuyup dengan luka diwajahnya. Meringkuk menahan kesakitan di tubuhnya. "Gwen.. buka pintunya Gweny! Aku ada bukti untuk membuktikan aku gak bersalah !" Gwenny hanya melihat dari jendela kamar. Hujan deras terus menerus mengguyur Samudra. Merasa dingin sepertinya akan muncul alergi yang dia idap beberap bulan yang lalu seperti di Paris Tidak lama setelah itu, Gwenny keluar membawa payung. Memayungi Samudra ditengah derasnya hujan. "Kamu pulang, nanti kamu sakit." Sudah dalam keadaan menggigil, semakin dingin dan malam pun semakin larut. "Gwen.." mengigil kedinginan, karena sudah berjam-jam diguyur hujan "Aku gak akan pulang, sebelum semuanya benar-benar percaya sama aku." Gwennya ingin melepas cincin pernikahannya, berniat untuk memberikan kembali pada Samudra. Meraih tangan Gweny. "Aku mohon. Aku bisa memulainya dari awal Gwen." "Kemarin kamu juga bilang hal yang sama, Sam. Tapi apa? Saat aku percaya kamu jatuhin aku lagi. Berkali-kali, Sam. Aku tau, kamu cuma mau balas dendam sama aku kan?" Tidak ada yang bisa Samudra rasakan selain menangis dan menyesal. "Aku minta maaf Gwen, maafin aku..." Gwenny memeluk Samudra, mungkin ini adalah pelukan yang terakhir. "Aku harap, kamu bahagia sama Ayla. Maaf, aku udah bikin kamu di situasi yang sulit, maaf aku udah bikin kamu tertekan karena perjodohan ini. Aku mohon, pergilah." "Gwen!!! Tolong, tolong maafin aku! "Sam...." Gwenny memegang Samudra yang nyaris pingsan.. Perlahan kulit Samudra muncul alergi yang sama pada saat itu lebam merah. "Ggg.. gwen.. anak kita.." Tidak ada pilihan lain, Gwenny langsung membawa Samudra untuk masuk ke dalam rumah. Bagaimana pun Samudra adalah suaminya. "Pa, bantuin aku bawa Sam ke kamar." "Bikin susah aja! Tono! Tolong bawa dia!" Ardi yang sudah terlanjur kesal enggan menyentuh Samudra. Sekarang, Gwenny dan Samudra sudah berada di kamar. Ada beberapa baju Samudra yang tersisa di kamar Gwennya. Gwenny tak banyak bicara, dia hanya diam dan bergerak mengobati Alergi Samudra yang kambuh. Demam tinggi membuat badan Samudra cukup pucat. "Obatnya di minum." Gwenny memberikan obat penurun panas. Samudra lantas meminum obat yang diberikan Gweny. "Tespect yang ditemukan papah bukan milik kamu, melainkan Ayla, dia menjebak , menyusun strateginya untuk mengahancurkan bisnis keluarga aku dan pernikahan kita." "Maksud kamu?" "Kamu bisa cek cctv di handphone aku." memberikan ponsel miliknya Gwenny belum siap untuk melihat cctv yang dimaksud Gwenny. "Istirahat, aku tidur di kamar tamu." "Aku butuh kamu, ngga ada seorang pun yang bisa tau perasaan aku kecuali kamu, tolong kali ini percaya aku Gwen." "Kemarin, kamu juga bilang kayak gini. Aku percaya, tapi apa yang kamu lakuin, Sam." "Aku mohon, kali ini tolong percaya Gwen, kamu cek buktinya ada di sini semuanya, demi anak kita." Gwenny memejamkan mata. dia tidak tahu apakah dia akan siap melihat bukti ini. bagaimana jika Samudra berbohong lagi. bagaimana jika ini adalah salah satu bentuk dendam nya lagi. Gwenny tidak bisa membayangkan. bagaimana jika isi Vidio itu malah kemesraan Samudra dan Ayla? tentu hal itu tidak akan membuat Gwenny sanggup lagi. melihat Samudra memeluk Ayla seperti tadi saja rasanya sudah sangat menyakitkan. apalagi jika benar, saat melihat Vidio yang ada malah penjelasan mengenai hubungan Ayla dan Samudra. sebab Samudra sendiri ternyata masih menyembunyikan tentang Ayla yang ternyata memiliki hubungan masa lalu dengan Samudra. apa hal itu pantas membuatnya percaya dengan Samudra? Gwenny benar-benar belum siap. ☘️☘️☘️ Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD