Bab 12

1751 Words
Semalaman Samudra tidak sedikit pun melangkan kakinya masuk ke kamarnya sendiri. Pagi hari Samudra hanya memasang wajah penuh amarah. Secangkir coffe latte sedikit menenangkan pikiran Samudra. Cukup tadi malam saja yang dibuatnya semakin menjengkelkan. Angin pagi sayup-sayup menerpa kulit Samudra yang saat itu dia berdiri dari balkon Apartment. Udara pun sepertinya mengenali suasana hati Samudra yang sesungguhnya. Sembari mengerjakan dokumen kantor, Samudra kembali diingatkan dengan perdebatan mamahnya malam tadi. Gwenny yang sejak tadi mencari keberadaan Samudra, akhirnya berjalan mendekati Samudra yang sedang berada di balkon kamar. "Sam? Semalam kamu nggak tidur di kamar?" Samudra diam tidak mengubris Gwenny. Tatapan matanya tetap fokus pada layar laptop di depannya. "Sam? Kok diem sih? Aku nanya loh ini." "Apa? Iya, aku nggak tidur di kamar, emangnya kenapa?" "Ya nggak apa-apa sih, aku pikir kamu jadi tidur di kamar." "Tidur kamu nyenyak? Oh ya, aku ada beberapa design dari tim yang harus kamu coba nantinya." "Nyenyak, tapi gak ada kamu nya." Gwenny memorot kan bibirnya, "Desain apa emangnya?" Samudra memberikan sketsa gaun yang dipakai nanti saat acara fashion show. "Kamu bisa pilih, mana yg kamu mau, dan kamu nggak akan pakai pakaian yang sama persis seperti yang dipakai Ayla kan?" "Yaudah nanti biar aku pilih." Gwenny melirik Samudra. Lagi-lagi ini terjadi, Samudra yang manis berubah dalam waktu semalam saja. Suara pintu terbuka, pertanda seseorang memasuki Apartemen mereka. Samudra langsung berdiri dan mendekap Gwenny, tidak ada basa basi akan menciumnya. Mata Gwenny terbuka lebar, kaget dengan reaksi Samudra yang tiba-tiba. Terlebih, hal itu juga ikut dilihat oleh papanya "Sam..." Samudra tetap tidak melespaskan kecupannya di kening Gwenny. "Sam, ada papa!" "Aduh, papa salah situasi kayaknya!" Ardi langsung menutup mata menggunakan telapak tangan. Samudra sedikit menahan malu rupanya. Mudah-mudahan Ardi tidak akan tanyakan hal apapun masalah Ayla." Kata Samudra dalam hati. "Hai, Pah. Tumben ke sini?" "Nggak apa-apa. Papa cuma pengen liat kalian ke sini. Ternyata kalian baik-baik aja." "Kita baik kok, Pah, ya kan sayang?" Gwenny lantas memeluk sang papa. Laki-laki yang tentunya paling tulus menyayangi dia. "Aku kangen sama Papa, kangen banget?" "Papah juga kangen, jangan lupa kasih cucu yang lucu-lucu ya." "Iya, Papa doain aja ya. Semoga nanti dikasih sama Allah." "Tapi ingat, Sam. Kalau nanti Gwenny sampai hamil, dia harus kontrol ke dokter jantung dan kandungan. Bagaimanapun Papa nggak mau, nyawa Gwenny terancam." "Itu sudah dijalankan dari awal, iya kan Gwen? Dokter bilang memang sdkit berbahaya, tapi kalau Gwenny selalu dipantau, itu semua bakal aman." "Papa tenang aja. Aku bakal baik-baik aja. Kalau pun nanti misalnya anak aku atau aku yang diselamatkan, tolong semalatkan dia," "Papah harap kamu atau pun anak kamu nanti selamat. Intinya papa akan berdoa buat kamu dan anak kamu." Gwenny hanya tersenyum tipis. Semoga saja kedepannya memang begitu. Pandangan Ardi beralih ke Samudra "Sam, papa mau bicara sama kamu bisa?" "Bicara tentang apa, Pa?" "Sam, kamu tahu kan? Gwenny itu adalah anak saya satu-satunya? Seorang perempuan yang saya perlakukan bagai putri raja. Bagi saya, dia adalah ratu saya. Seorang Ratu yang saya besarkan dengan penuh kasih sayang. Saya tidak pernah menyakiti hatinya. Apa pun yang dia inginkan saya penuhi asal itu untuk kebahagiaan dia." Ardi menarik napas dalam-dalam, "dengan adanya isu yang beredar semoga itu tidak benar. Saya minta tolong, jangan sakiti hati anak saya. Jika kamu melakukan hal itu, tangan saya akan menghancurkan kamu!" "Isu aku dengan Ayla? Jangan terlalu di ambil pusing, Pa. Papa tau bagaimana model. Pasti banyak orang-orang asing yang hanya membuat berita nggak benar." "Oke, saat ini, saya bisa mempercayai kamu. Tapi tolong, jangan kecewakan saya." ☘️☘️☘️ Gwenny memegang testpect yang ada ditangannya. Dia tidak mengerti dengan hasil yang diberikan oleh benda itu. Garis dua namun salah satunya terlihat samar-samar. Gwenny memperlihatkan hasil Tespeck itu kepada sang mama, karena kebetulan saat itu Aruni sedang berada di Apartemen anaknya. Hanya untuk sekadar melepas rindu. Sebab sudah Lama belum bertemu kembali. "Ma, ini maksudnya apa? Kenapa satu garis lagi kurang jelas?" "Kamu hamil? Ini positif loh sayang." "Jadi ini positif, Ma?" Tangan Gwenny sampai bergetar karena saking senangnya. Sementara Aruni tidak tahu harus memberikan reaksi bagaimana. Sebab jika Gwenny mengandung, itu sangat beresiko baginya. Tentu Aruni sangat tidak ingin terjadi hal buruk pada anaknya itu. "Aku harus kasih tau, Sam." "Iya Gwen, hubungi Sam secepatnya, mamah bahagia banget dengernya." Aruni lantas membawa Gwennya ke dalam pelukannya. Gwenny lantas menganggukkan kepalanya. Gwenny mengirimkan foto testpack ke Samudra, namun Samudra belum balas. "Ma, kayaknya aku susulin aja Sam ya." "Mama antar, biar kamu nggak kenapa kenapa di jalan" "Yaudah, tapi Mama nggak sibuk kan?" "Enggak, kalau perihal anak, nggak akan ada bagi serong ibu yang namanya kesulitan." Kabar membahagiakan bagi keluarga Gwenny dan Samudra. "Apa sih yang nggak buat anak kesayangan mama dan calon cucu mama." ☘️☘️☘️ Ayla menangis masuk ke ruangan Samudra. Kedatangan Ayla juga ikut membuat Samudra bingung. Sebab, Ayla sudah menangis layaknya seorang yang benar-benar Frustrasi. "Sam..." "Ayla? Kamu kenapa kok nangis, ada apa? cerita sama aku." "Sam, aku nggak tau harus gimana lagi. Mantan suami aku, bawa pergi anak aku. Dan sekarang aku nggak bisa ketemu lagi sama anak aku, Sam. Dia bilang kalau aku nggak pantas jadi ibunya Aina. Profesiku sebagai model dianggap gak layak jadi ibu." "Lebih baiknya kamu bicarakan dulu dengan keluarga kamu, kamu berhak mendapat hak asuh anak." Ayla memasukkan tespek ke dalam jas Samudra. Tanpa sepengetahuan Samudra. Ayla yakin, hal ini pasti akan menjadi Boomerang yang sangat dahsyat bagi keluarga Samudra. Terlebih oleh Perusahaan ini. Sebab jika Gwenny menemukan benda ini, pasti semuanya akan hancur. "Aku harus gimana Sam..." Tangisan Ayla semakin mengencang. "Aku nggak bisa bantu kamu dalam hal apa pun, aku gak ada hak untuk ikut campur." Samudra membawa Ayla ke dalam pelukannya. Didekapnya Ayla dengan hangat, berharap itu bisa membuat Ayla menjadi lebih tenang." "Samudra?" Gwenny dan mamanya masuk ke dalam ruangan Samudra secara bersamaan. Aruni juga kaget dengan kejadian yang sedang terjadi di depan mata. Tidak pengaruh adanya sang ibu mertua dan Gweny. Samudra memilih untuk menyusul Ayla. Karena takut jika Ayla melakukan hal yang sangat nekat "Ay! Ayla!." "Sam! Samudra!" Kedua bahu Gwenny terguncang hebat karena tangisan. Dia terduduk di atas kursi meja Samudra masih lari mengejar Ayla yang keluar. Tidak peduli karyawannya yang saling pandang keheranan "Sam! Samudra!" Kedua bahu Gwenny terguncang hebat karena tangisan. Dia terduduk di atas kursi di meja kerja Samudra. "Ma, mama liat! Apa yang udah dia lakuin sama perempuan tadi?" Aruni juga ikut terkejut melihat perbuatan menantunya itu. Dia pikir, Samudra adalah lelaki baik yang sangat mencintai putrinya Sesampainya Ayla di luar. Dia tertawa puas. "Gue yakin, setelah ini hubungan Sam dan Gwenny bakal hancur secara perlahan." Kedua tangan Guennte tersimpan di atas perut. "setelah itu, gue bakal bikin Samudra cinta sama gue, bergantung sama gue, terus gue lempar dia ke bawah, gue injak, dan perusahaan ini bakal gue hancurkan." Ayla tersenyum Sarkas. Dengan jalan penemuan Tespeck nanti, tentu semua orang akan heboh dan menuduh Samudra telah menghamili seseorang. "Ayla !!" Samudra berdiri tepat dibelakang Ayla, Samudra sudah mendengar semuanya "Sa...samudra?" Ayla kembali memasang wajah sesedih mungkin. "Jadi ini tujuan kamu?! Demi menghancurkan semuanya?! "Ma--maksud kamu apa, Sam?" "Jangan lagi berbohong dengan alasan apa pun, jelaskan yang kamu ucapkan itu benar atau tidak!" "Apa, Sam? Apa? Aku nggak ngerti maksud kamu!" "Kamu jangan nuduh aku sembarangan, Sam! Aku nggak mau! Aku harus pergi buat perjuangin hak asuh anak aku!" "Jadi ternyata kamu dekat sama aku hanya untuk menghancurkan segalanya?! Setelah aku membuat sakit hati Gwenny?! Ayla yang sudah merasa takut, langsung pergi begitu saja. Kedua tangannya terkepal, tidak menyangka kalau Samudra akan tahu rencananya secepat ini. Samudra memilih kembali keruangannya lagi daripada mengejar Ayla untuk bertanggung jawab. Samudra lantas menemui Gwenny. "Aku bisa jelaskan secara detail, ini gak sepeti yg kamu lihat." Gwenny yang masih berada di ruangan Samudra hanya bisa nangis sesegukan dalam pelukan mamanya. "Apa yang mau kamu jelasin? Aku udah liat semuanya. Kamu dan Ayla berpelukan! Apa itu masih bisa dibilang bukan apa-apa?" "Ayla datang untuk meminta tolong untuk mendapatkan hak asuh anaknya dari mantan suaminya, Gwen. Aku sebagai temannya siap mendengarkan, semua bukan apa yang kamu pikirkan." "Apa harus pelukan? Samudra, kamu sama Ayla itu seperti bukan sekadar teman biasa! Kamu mau menduakan anak saya?" "Sam, bisa jelaskan mah! Seandainya itu ada di posisi Gweny, dan sedang memperjuangkan seorang anak, bagaimana menurut mama?" "Cukup, Sam! Aku nggak bisa percaya kamu lagi. Mungkin ini alasannya kamu selalu berubah sama aku." Gwennya mengusap kasar air mata yang membahasi pipinya. "Aku mau pulang ke rumah orang tua aku! Jangan temui aku! Aku udah bilang sama aku, aku bakal maafin apapun kesalahan kamu kecuali perselingkuhan!" Gweny berdiri, kemudian berjalan mendekati Samudra. "Kamu, nggak pernah cinta sama aku!" Samudra menahan Gwenny dengan tidak membiarkannya pergi. "Aku bisa jelaskan!! Tolong dengarkan aku!" Gwenny menepis tangan Samudra, hingga Tespek yang ada ditangannya ikut lepas, namun Gwenny tidak sadar karena dia sudah melangkah pergi meninggalkan Samudra. Aruni menyusul kepergian Gwenny tanpa mengatakan apa-apa. Kecewa, sangat kecewa dengan Samudra. "Gwen!!" Frustrasi melanda Samudra. Dengan bodohnya menerima mantan yang berujung merusak semuanya. Ini adalah KARMA yang dia dapatkan. Laki laki tidak cukup pada satu wanita saja. Dia tidak pernah bersyukur dengan wanita yang dimilikinya. Tangan Samudra bergerak mengambil Tespek milik Gwenny. Air matanya tumpah, ini adalah calon anaknya. Dia sudah menyakiti hati istri ya sekaligus anak yang ada dalam kandungan Gwenny. "Sam, kamu kenapa?" Jihan masuk ke dalam ruangan Samudra dan sudah mendapati anaknya terduduk di atas lantai. Dia juga sudah mencari keberadaan Ayla. Tapi Jihan tidak menemukannya. "Semuanya hancur, Mah! "Maa.. maksud kamu?" "Ternyata apa yang mama katakan benar. Ayla hanya ingin menghancurkan aku dan keluarga kita. Sekarang, Gwenny salah paham. Aku tau Ako bodoh, karena aku tidak bisa mengontrol diri aku agar tidak berhubungan dengan Ayla. Sekarang, Gwenny hamil. Dia pergi ninggalin aku, aku harus gimana?!" "Ja....jadi, Gwenny mengandung? Anak kamu?" "Aku bodoh mah, aku yang salah, semua ini salah aku!" "Mamah udah bilang sama kamu, ternyata benar kan." Jihan terlihat lesu. Tapi, hatinya sangat sakit. Bagaimana pun dia harus membalas semua perbuatan Ayla. "Kamu susul istri kamu, jangan sampai kamu kehilangan dia, Sam! Mama sama papa bakal urus masalah Ayla." Tanpa pikir panjang samudra pergi menyusul Gweny. Untuk meminta maaf dari senua perbuatannya. Semoga saja dia tidak terlambat, dan Samudra berharap semoga Gwenny mau mempercayainya lagi. Setelah kejadian ini, dan setelah Gwenny mengatakan ingin pergi, Samudra seakan tak berdaya. Ternyata, benar. Kali ini, detik ini Samudra yakin sepenuhnya bahwa dia menyayangi Gwenny. Samudra yakin sangat yakin ini bukan rasa kasihan lagi. Sebab jika memang Gwenny meninggalkannya, maka dia tidak mau lagi melanjutkan hidup dari pada harus berpisah dengan Gwenny-nya. ☘️☘️☘️ Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD