Hari semakin sore, sedikit beban urusan kantor sudah sedikit berkurang. Tentunya hari ini adalah hati yang melelahkan bagi Samudra. Samudra mengambil ponselnya, mencoba untuk menghubungi Gwenny.
"Kebiasaan, handphonenya selalu nggak aktif." Kata Samudra kesal.
Sementara itu, Gwenny yang menunggu Samudra selesai kerja, sampai ketiduran di ruangan Samudra. Wajahnya benar-benar terlihat lelah, pagi sampai siang, menghabiskan waktu di kampus. Gwenny bahkan belum sempat pulang untuk sekadar istirahat.
Samudra baru selesai meeting, padahal sore ini rencanya akan keluar bersama Gweny. Sekedar memintanya untuk temani beberapa urusan kantor.
Ruangan Samudra benar benar nyaman untuk ditempati. Bercat putih classic gaya modern style eropa.
Saat Samudra masuk ke dalam ruangannya, ia baru menyadari ada Gwenny yang sudah tertidur pulas di atas sofa.
"Gwenny?"
Gwenny masih belum terusik. Tidurnya benar-benar sangat nyaman.
Samudra duduk menyamai tinggi sofa,
"Maafin aku, Gwen. Aku nggak tau apa yang sudah aku lakukan ini bisa membuat kamu mencintai aku sepenuhnya? Aku masih ragu Gwen, ragu akan diri aku sendiri. Ragu akan segala hal yang saat ini ada di depan mata aku. Kemarin, aku kasihan sama kamu, lalu aku pengen jatuhin kamu, lantas sekarang aku juga kasihan sama kamu. Aku dipermainkan sendiri oleh perasaan aku, Gwen"
Samudra membelai lembut pipi Gwenny. Di sendiri tidak mengerti dengan dirinya, ia merasa bahwa sulit untu mengendalikan dirinya sendiri. Terkadang, Samudra berpikir, apakah di memiliki kepribadian ganda?
Sungguh, Samudra tidak mengerti dengan segala kebimbangan ya g dia rasakan. Terkadang dia kasihan dengan Gwenny, dan terkadang dia juga tidak menyukai Gwenny.
Gwenny terusik karena sentuhan Samudra, dia membuka setengah mata dan mendapati Samudra sudah di depan mata.
"Sam..."
Samudra lantas beralih duduk disamping Gwenny.
"Kamu kenapa tiduran di sini ? Bukannya langsung pulang."
"Aku kan nungguin kamu."
Samudra melihat jam yang sudah menunjukan pukul 17;30 WIB.
"Aku selesaikan beberapa kerjaan lagi, kamu bisa tunggu aku? Setelah itu kita baru pulang."
"Apa harus diselesaikan sekarang? Nggak bisa besok?"
Gwenny semakin merasakan hal yang berbeda pada Samudra. Dulu, saat masih di Paris, Samudra rela meninggalkan apa pun yang dianggap penting demi Gwenny. Tapi sekarang, Gwenny seakan bukan lagi menjadi prioritasnya.
"Yaudah, kita pulang sekarang." Samudra mengambil tas yang berisi beberapa berkas dan laptop.
"Mau mampir dulu?" Tanya Samudra untuk sekadar basa-basi. Samudra tidak ingin hari ini didahului dengan berdebat panjang. Lebih baik mengalah dulu.
"Enggak, aku pengen pulang aja." Pandangan Gwenny tidak lepas dari Samudra. Memperhatikan gerak gerik Samudra.
Tidak bisa dipungkiri, hati Gwenny perih saat rumah tangganya menjadi tak humoris lagi. Kehangatan Samudra hanya terasa beberapa saat saja, dimana dia merasa akan menjadi ratu selamnya, nyatanya sekarang dia hanya sebuah batu yang tak lagi dipandang
***
Di dalam mobil menuju perjalan rumah. Tidak ada percakapan diantara keduanya, diam dan sunyi.
"Kamu sama Ayla udah lama deketnya?" tanya Gwenny secara tiba-tiba
Samudra sedikit terkejut, tapi ia bisa mengatasi rasa gugupnya , jadi terlihat biasa saja.
"Ya dekat, karna dia sering kerja bareng aku kan. 4 tahun dia kerja di perusahaan papah sebagai modeling." kata Samudra, lagi dan lagi menutupi kebohongan, padahal Gwenny baru menjadi model Perusahaannya
"Empat tahun?"
"Iya, kamu kenapa sih, sayang. Dia cuma kerja. Mengguntungkan juga buat brand aku untuk terkenal luas kan?"
"Gak apa-apa. Aku ngerasa kayak ada satu hal yang beda. Aku nggak tau ini perasaan apa. Tapi kamu serius kan? Kamu sama di hanya ada hubungan kerjaan, nggak ada yang lain? Emangnya aku salah kalau nanya begini? Suami aku sendiri."
Samudra memijit kening yang semakin pusing dengan permasalahan antara gweny.
"Gak ada. Segitunya kamu sampai ke hal urusan pekerjaan kamu selidiki. Gwen, aku sendiri gak yakin kalau kamu bisa lebih percaya sama aku, lebih mencintai aku, aku nggak pernah merasakan itu dari kamu. Yang ada hanya kecurigaan yang timbul dari pikiran kamu."
"Wajar aku curiga, sikap kamu beda. Alasan kamu buat kita pisah kamar karena ingin fokus kerja juga nggak masuk akal. Perempuan mana pun pasti bakal tanya apa alasan suaminya bisa berubah. Kamu bilang kalau aku belum tentu mencintai kamu sepenuhnya, kalau aku gak cinta sama kamu aku bakal cuek kalau kamu deket sama perempuan lain. Aku begini karena aku nggak mau kehilangan kamu, Sam. Kamu maunya aku nggak peduli kalau ada perempuan deketin kamu? Kamu pikir ngebatin itu nggak capek?"
Mobil Samudra verhenti di tepi jalan.
"Gweny!" Samudra memegang kedua tangan Gwenny. Menatap matanya untuk meyakinkan sekali lagi.
"You'r only to be the one ! Kamu bisa memilih lebih percaya aku atau Ayla. Itu terserah kamu, aku sudah mengatakan yang sejujurnya."
Gwenny pun lantas balik menatap mata Samudra.
"Kalau suatu saat kamu bohong, apa kamu bersedia hubungan kita selesai?"
"Maksud kamu apa? Kita cerai?"
"Aku nggak tau."
"Bunuh aku, kalau sampai itu terjadi."
"Membunuh bukan opsi yang paling baik untuk menyelesaikan masalah."
"Jadi untuk apa kamu mempertanyakan hal itu Gwen? "
"Aku cuma butuh kepastian. Kepastian atas keseriusan kamu."
"Sejak kapan keseriusan aku dianggap penting sama kamu?"
"Kamu bisa kasih alasan yang logis kenapa kita harus tidur di kamar yang beda?"
Samudra mengambil napas panjang, kemudian mengembuskan secara perlahan.
"Terkadang aku butuh ruang privasi untuk sendiri, apa aku salah ?"
"Terserah."
Gwennya yang mulai merasakan sesak di dadanya memilih untuk menghentikan perdebatan yang hanya bisa memicu kambuhnya penyakit jantung itu. Gwenny tak ingin menyusahkan siapapun lagi.
***
Gwenny masuk ke kamar Samudra. "Sam, kamu liat obat aku?"
Samudra yang baru keluar dari kamar mandi lantas memandang ke arah Gwenny.
"Obat? Terakhir kamu lihat dimana?"
""Ya gak tau. Aku lupa." Gwenny kembali keluar. Mencari setiap sudut ruangan.
"Biar aku yang cari, kamu tunggu disini. Mungkin dikantor saat kamu tidur." Samudra mengikuti langkah Gwenny. Jika hari ini Gwenny tidak mengonsumsi obatnya, itu akan menimbulkan bahaya baginya.
"Aku telpon dokter aja, atau mau tebus obat lagi ? Aku suruh Reza untuk pergi tebus obatnya?" Reza adalah Asisten Samudra di perusahaan, seseorang yang siap kapan saja dimintai tolong. Samudra mengambil resep obat yang biasa Gwenny tebus, mengirimkan resep itu pada Reza lewat pesan w******p.
"Yaudah. Suruh Reza aja."
"Sudah aku hubungi Reza.
Gwenny tersenyum tipis. "Oke, makasih." Gwenny pun berlalu begitu saja. Hanya ingin tidur dan istirahat sejenak. Sebab Gwenny merasa akhir-akhir ini Gwenny merasa kesehatannya kurang baik. Ditambah lagi dengan beban pikiran dan kecurigaan yang terus menguasai pikirannya.
"Gwen...."
"Ada apa?"
"Mau tidur bersama lagi?"
"Boleh?"
"Boleh. Dan aku punya sesuatu buat kamu."
Sejak dulu, Samudra yang tergila gila dengan gweny selalu berkeinginan untuk memberikan hadiah kecil, liontin adalah benda kesukaan dari gweny sejak kecil.
"Kamu mau tunjukkin apa?" Gwenny sedikit penasaran dengan apa yang dikatakan Samudra
Benda yang dimaksud Samudra berada di dalam laci paling atas lemari pakaian samudra, ada gweny yg menghalangi jadi sedikit lebih mendekat ke arahnya.
Gwenny bergerak mundur, "kamu mau apa."
Semakin mendekat. Sampai jarak untuk mereka terasa tidak ada.
Bahkan jarak wajah mereka tidak ada celah untuk menghindar.
Semakin dekat, deru napas Samudra seakan menerpa kulit wajahnya.
Gwenny memejamkan mata, karena menatap pun juga tidak akan terlihat wajah Samudra dengan posisi sedekat itu.
"Kotaknya ada di atas, kamu kenapa matanya ditutup? Kan aku cuma ambil ini."
Samudra mengambil kotak kecil pink muda berbentuk hati.
"Emm, nggak apa-apa." Gwenny langsung mendorong tubuh Samudra.
Samudra sama pun juga merasakan gugupnya. Senyum merekah melengkung di sudut bibir Samudra.
"Ini memang aku simpan untuk kamu, karena dulu kamu selalu membuang pemberian dari aku, jadi aku bisa berikan ini di waktu yg tepat, seperti saat ini. Coba kamu buka"
"Ini apa?" Gwenny mencoba mengingat apakah memang pernah Samudra memberikan barang ini padanya
Jam sekolah seperti biasanya, Samudra menunggu Gwenny keluar dari kelasnya
"Aku mau kasih ini buat Gwenny, kayaknya dia suka banget"
Udik, cupu, nggak gaul, Samudra yang dulu dapat julukan si cupu yang cinta dengan princess tercantik di sekolah, tentu Samudra menjadi bahan cibiran dan sudah pasti makanan sehari hari. Namun Samudra sudah pasti ditelan mentah mentah.
Gwenny berjalan di koridor sekolah dengan kedua temannya. Di belakang ada seorang lelaki yang juga ingin menjadikan Gwenny sebagai seorang kekasih. Lelaki tampan yang juga dijadikan idola oleh siswi-siswi di sekolah.
"Lo liat, itu kak Rangga, ngikutin kita."
Gwenny yang mendengar pengakuan temannya hanya bisa tersenyum geli. Baginya, Rangga biasa saja. Tampan memang, tapi Gwenny belum tertarik dengan lelaki seperti Rangga.
Samudra gugup bukan main dengar suara gweny dari kejauhan. Kotak berisi liontin kesukaan gweny, dia tahu dari mamahnya gwen, diterima nggak ya ?
"Gwen datang..." Serasa Keringat dingin bercucuran. Sampai kacamatanya pun hampir jatuh dari batang hidung Samudra
"Eh Gwen, ada sohib lu tuh!"
Air muka Gwenny langsung berubah, dia tidak suka jika ikut dijadikan bahan Bullyan perihal Samudra yang sangat culun.
"Apaan sih, lu."
Samudra hanya menunduk tidak berani menatap ke arah Gwenny..
"Wahwah! Lu seleranya rendahan juga ternyata Gwen haha." ucap Rangga dengan sekawanan gengnya yang terbilang cukup rese. Suka menggoda cewek cewek ngehits
"Nggak usah ngarang Lo, mana mau gue sama dia. Bisa jadi apa keturunan gue nantinya. Amit-amit! Udah berapa kali gue tolak dia tetap gini, ngerasa malu banget gue pernah sahabatan sama dia!"
"Inget, jangan munafik lu! Diem diem juga lu keknya bakal embat dia juga hahhaa hati-hati ntar lu jilat ludah sendiri."
Samudra hanya diam mendengar mereka ngoceh karena fisiknya
Gwenny mendorong tubuh Samudra hingga laki-laki itu jatuh. Kaca matanya berhasil lepas, Gwenny lantas menginjak kacamata Samudra hingga pecah.
"Gwen.. a.. apa Gwenny marah sama aku?" Berniat mengulurkan kotak kecil berbentuk hati. Tubuh Samudra gemetar setengah mati hanya untuk memberikan kado special untuk perempuan idaman samudra
Gwenny yang sudah telanjur malu membanting kotak kecil itu. Kasihan sebenarnya, tapi dia jauh lebih takut jika dibully karena kehadiran Samudra
Liontin berbentuk hati kecil berwarna pink permata batunya juga berwarna pink, persis gweny yang ingin kan sejak kecil.
"Jangan Gwen.. i.. itu hadiah buat kamu .. ke..kenapa kamu buang ? Ka.. kamu nggak suka ya?" Samudra buru-buru memungutnya kembali. Jangan sampai kalung itu hilang.
Gwennya mengusap pipinya yang sudah digenangi air mata.
"Harus ya Lo ngaca, kalau orang nggak suka jangan Lo paksa! Lo mau bikin gue malu? Gue benci sama Lo!"
Gwennya langsung pergi begitu saja, meninggalkan Samudra yang sedang diolok-olok oleh siswa-siswi di sana.
Seperti petir di siang bolong, hati Samudra dihujam ribuan jarum menusuk tapi tidak berdarah. Sakit hati mulai tumbuh sejak saat Gweny tidak mau menerimanya.
"Kamu ingat? Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk memberikan hadiah kecil special untuk cinta pertamaku."
"Maaf, dulu aku udah jahat banget. Saat itu emosi aku belum terbentuk dan aku nggak ngerti gimana ngendaliin diri aku. Aku nggak mau di bully aku nggak mau kehilangan teman-teman aku. Saat itu, aku juga nggak tega, tapi aku nggak punya pilihan lain."
"Sejak hari itu, rasa sakit hati muncul begitu saja setelah kamu bilang aku nggak pantas suka sama kamu."
"Iya, tapi seharusnya kamu juga ngertiin posisi aku saat itu, Sam. Di sana aku nggak punya teman selain mereka. Aku tau kamu emang bisa lindungi aku, tapi saat mereka main fisik? Apa kamu sanggup hajar mereka? Enggak kan."
"Pembelaan bukan hanya menghajar fisik mereka lalu menang Gwen, tapi apa sebegitu malunya kamu berada di dekat aku? Apa sekarang masih sama? Yang cupu dan jelek ini."
"Sekarang beda lah, Sam. Bukan karena kamu udah berubah. Tapi karena kamu suami aku. Setelah kamu berubah kita juga nggak pernah cocok, kan? Kamu nggak pernah tau apa yang aku rasain. Aku juga ikut ngerasa bersalah karena gimanapun kamu itu sahabat aku sejak kecil. Nggak selalu kesedihan itu dilihatkan di depan mata, Sam."
"Ya, aku paham. Aku cuma memastikan apa kamu ingat benda ini. Benda yang menurut aku berharga sama halnya kaya kamu, sangat berharga bagi aku." Mungkin dengan cara ini, Samudra bisa melepaskan rasa sakit yang masih tersisa di hati.
"Iya, aku ingat."
"Kamu mau memakainya? Aku nggak butuh alasan apapun."
Gwenny menganggukkan cepat, pertanda dia ingin memakainya
Samudra Yang memasangnya.
Akhirnya dipakai oleh perempuan pertama yang dia suka. Benar benar menguras emosi jika mengulik dimasalalu.
Gwenny lantas memeluk Samudra. "Maafin aku..."
"Sekarang aku tau bagaimana rasanya dicintai"
"Tapi aku boleh minta satu hal sama kamu?"
Meregangkan pelukan gweny.
"Apa itu? " penasaran
"Jangan pernah berubah lagi. Aku bukan layangan yang bisa kamu tarik ulur gitu aja."
"Bedanya? Kamu pernah tarik ulur, tapi aku tetap pada rasa yang sama untuk orang yg sama juga."
"Kondisinya saat itu usia aku berapa? Pikiranku belum matang, Sam. Kita juga gak ada hubungan saat itu, beda dengan sekarang. Aku udah jadi istri kamu. Tarik ulur bukan lagi jadi mainan di pernikahan kita."
Bel berbunyi membuyarkan percakapan mereka.
"Tunggu sebentar, kamu ajak siapa ke sini?"
Kawasan apartment elite, tidak mungkin sembarang orang bisa masuk
"Aku nggak tau, Sam. Aku nggak ada ngajak siapapun."
"Mamah?" kata Samudra saat pintu terbuka.
Wanita paruh baya dengan fashion yang modern berkelas atas.
Jihan tersenyum lebar. Bukannya memeluk Samudra, Jihan malah langsung mendekap menantu tercinta.
"Hallo sayang, apa kabar kalian? Gimana baik-baik aja? Samudra baik kan sama kamu?"
Gwenny sekilas melirik Samudra. Kemudian hanya memberikan senyum sebagai respons
"Aduuhh mamah kangen banget sama kamu, liburannya gimana ? Kalian suka?"
"Suka, Mah. Tapi, samudra jahat..." Gwenny memanfaatkan keadaan, matanya menyipit seakan ingin mengadukan perbuatan Samudra
Samudra yang bingung mengerutkan kening.
"Ha? A.. aku?"
"Aku lapar tapi nggak dikasih makan." Gwenny membisikkan itu ke telinga Jihan..
"Kamu?! Nggak ngasih makan menantu kesayangan mamah Sam?! Ya ampun! Kamu kenapa sih gak bisa bikin mamah seneng."
"Tuh mah, marahin aja. Siapa tau aku ngidam, masa malam-malam pengen seblak, tapi dia nggak mau beliin."
"Kenapa kamu jadi nyalahin aku? Apa di Paris ada seblak? Gak ada Gwen.
"Yaa mana aku tau. Kamu bikinin kek"
"Sejak kapan aku bisa bikin seblak, jangan ngada ngada deh!"
"Samudra! Kamu itu ya persis kayak papa kamu! Kamu kan udah bisa masak, tinggal google untuk resepnya!"
"Terus mamah nyalahin aku juga gitu? Rempah-rempah Indonesia susah dicari di Paris mah, plis lah mah.. jangan bikin aku jadi pejuang masak dadakan deh
"Mamah nggak mau tau, pokoknya laki-laki itu salah, perempuan nggak pernah salah!"
"Kenapa jadi aku yang jadi sasaran.. aneh." Samudra berlalu ke kamar, dia malas debat dengan kaum perempuan.
"Mamah sehat? Kok mamah sendiri? Nggak sama papa?"
"Sehat sayang, papah emang akhir-akhir ini sibuk banget. Jadi di kantor memang Samudra yang gantiin."
"Iya sih, Ma. Oh iya, Ma. Mama tau Ayla nggak?"
"Ayla... " mendadak mikir. Tapi buru-buru dijawab mamah.
"Ada apa memangnya ? Mamah rasa ada masalah dengan nama itu
"Gwenny menganggukkan kepala. Dia kerja di kantor Samudra. Kata Samudra udah empat tahun. Samudra juga keliatan akrab sama dia."
"Jangan pikirkan nama itu, biar mamah yang urus soal itu sayang. Oh ya, mamah bawa titipan dari Reza tadi ketemu di depan, dia buru-buru langsung pulang, ini obat kamu?"
"Iy--iya, Ma." Gwenny takut jika Jihan tau sakitnya, Jihan malah enggan memiliki menantu yang penyakitan.
"Mama nggak buka obatnya kan?"
"Reza bilang obat nyeri menstruasi ?"
Mamah Jihan nggak ambil pusing soal itu.
"Iya, hehe. Buat persiapan maa..."
Melihat keduanya begitu dekat Samudra tidak berani mendekat. Perihal dia mendengar soal Ayla.
Sementara Gwenny setelah minum obat, langsung istirahat. Reaksi dari obat tentu membuat rasa kantuk dan tenang yang teramat.
"Samudra, sini kamu. Mama mu bicara."
"Tentang Ayla?" Samudra seakan sudah menebak lebih dulu , kalau pun iya, Samudra sudah menyiapkan segala kata untuk berargument panjang lagi
"Ya, dia Ayla mantan kekasih kamu, kan? Kenapa dia kamu biarkan masuk di kehidupan kamu, Sam! Mama udah berusaha loh buat jauhin kamu dari dia! Sekarang dengan gampangnya kamu terima dia ditengah-tengah kamu dan Gwenny! Sam, jangan gegabah berurusan sama masa lalu! Mama tau kamu itu cinta sama perempuan itu! Tapi dia nggak baik, Sam! Ada Gwenny, dia jauh lebih pantas buat kamu!"
"Aku gak pernah memintanya untuk hadir mah! Sesuai dari arahan papah untuk kerjaan, sam lakukan mah. Lalu apa salah sam kali ini ?! Hanya perkara ayla datang untuk kerja sebagai profesinya lalu itu salah, Sam?! Salah juga kalau dia mampu merubah penampilan, Ssam ?! Iya begitu mah."
"Feeling seorang ibu nggak pernah salah, Sam! Dia kembali hanya untuk menghancurkan kamu, percaya sama mama! Mama pulang! Mama bakal ngomong sama papa kamu!"
Jihan ini bener-bener galak, wkwk kalau dia nggak suka ya nggak bakal suka.
"Dan siapa yang mau perjodohan ini tetap dilakukan?! Sam nggak pernah meminta untuk dijodohkan!"
"Karena mama tau yang terbaik buat kamu! Gwenny itu dari keluarga baik-baik, keturunannya jelas! Bukan seperti Ayla kamu itu! Ingat, Sam. Mama bakal marah sama kamu kalau kamu gagal menjadi lelaki yang baik. Sama aja mama udah gagal mendidik anak laki-laki mama!"
Jihan berlalu begitu saja, pergi dengan membawa rasa marah karena Ayla. Nanti saat sampai di rumah, Jihan akan meminta suaminya untuk mengeluarkan Ayla segera demi keselamatan anaknya.
Samudra enggan masuk ke dalam kamar. Meski itu kamarnya sendiri. Semakin hari semakin muak dengan perjodoh tidak berujung ini. Disaat bisa berbaikan dengan Gwenny ada saja hal yang membuatnya kembali membenci Gwenny.
Sesampainya di rumah, Jihan langsung menemui suaminya.
"Pa! Mama mau bicara sama papa!"
Segelas cangkir teh tidak jadi dia minum.
"Gimana mah Samudra dan Gweny?"
"Papa nggak usah ngalahin pembicaraan! Kenapa sih papa biarin Ayla masuk ke dalam perusahaan kita? Papa mau hancurkan perusahaan kita?!".
"Ayla cantik, berbakat, stylist, dia juga artis terkenal, itu yg membuat papah merekrut dia ke perusahaan papah, brand kita gak akan seterkenal ini kalau bukan karna ayla mah!"
"Nggak akan seterkenal ini kalau nggak ada dia?" Jihan tertawa Sarkas mendengar jawaban sang suami.
"Papa jangan ngaco! Perusahaan kita nggak akan rugi kalau nggak Makai dia, ada Gwenny yang jauh lebih cantik dari dia. Dia itu cuma bisa bawa masalah besar buat Sam, Pa! Mama udah mati-matian misahin mereka, papa dengan gampangnya bawa perempuan itu ke sini. Mama nggak mau tau, keluarin dia sebelum semuanya terlambat!"
"Terus kenapa mamah biarkan Samudra dan Ayla pernah berpacaran?! Apa salah papah juga?!"
"Mamah nggak pernah biarin mereka pacaran, makanya mama misahin mereka! Iya, Papa salah. Papa salah karena papa jadiin Ayla model di Perusahaan kita!"
"Cukup! Jangan hubungkan kerjaan dengan masalah rumah tangga Samudra, mamah bisa bedakan mana kerjaan dan mana yang bukan!"
Jihan menggelengkan kepala, "papa dengar baik-baik, perempuan itu punya niatan nggak baik sama keluarga kita!"
"Oke oke! Papah keluarkan dia besok, mamah puas?!""
"Oke! Awas kalau sampai papa nggak lakuin itu, karena besok mama bakal datang ke kantor buat ketemu perempuan itu!"
Papah Samudra lebih memilih berhenti debat.
"Iya. terserah apapun yg mama mau, silakan. Mamah kelola sendiri Perusahaan itu!"
Karena terlalu kesal, pria paruh baya itu lantas meninggalkan Jihan sendiri. Memasuki kamar dengan rasa marah yang masih tersisa.
***
Bersambung