Bab 10

2073 Words
Satu Minggu sudah berlalu, sekarang Gwenny dan Samudra memutuskan untuk kembali ke Jakarta untuk melanjutkan aktivitas mereka. Gwenny masih harus menyelesaikan kuliahnya sementara Samudra harus masuk kerja untuk mengelola perusahaan Brand Fashion milik orang tuanya. Keduanya sekarang sudah berada di Bandara Charles de Gaulle Airport. Bersiap untuk terbang kembali ke Jakarta. "Sam, nanti kita ke rumah mama aku kan?" Samudra yang sedang asyik dengan handphonenya tidak peduli dengan apa yang dikatakan Gwenny di sampingnya. Ayla, mantan kekasih Samudra yang kemarin sempat mengirim email pada Samudra, membuat pertahanan Samudra berhasil buyar. Pewaris tunggal ROYAL SAMUDRA GROUP terbesar seasia tenggara itu sempat menjalin hubungan yang cukup lama dengan Ayla, hanya saja hubungan itu kanda karena Ayla memilih pergi atas permintaan Jihan, ibu Samudra yang hanya menginginkan Gwenny menjadi istri seorang Samudra Aditya Pratama. Kembalinya Ayla membuat Samudra merasa bahwa peranan yang kemarin dia rasakan pada Gwenny hanya rasa kasihan sesaat. Mendadak, Samudra menjadi ragu dengan perasannya sendiri. Semalaman dia berpikir apakah dia salah? Ternyata dia merasa bahwa mungkin memang apa yang dia rasakan pada Gwenny hanya tanggung jawab sebagai seorang suami. Perihal tentang isi surat yang sempat dia tulis di balon Helium, anggap saja itu permintaan Samudra agar Gwenny lekas sembuh. "Sam, kamu dengar aku ngomong gak sih?" Gwennya menarik tangan Samudra, ponsel Samudra nyaris lepas dari genggaman Samudra. Dengan sigap mengambil ponsel agar tidak jatuh, lalu Samudra metekan tombol off. "Iya aku dengar kok. Ada apa di rumah Mama? Aku minggu besok langsung masuk kerja, banyak investor yang harus aku temui nanti." Gwenny tersentak atas jawaban Samudra barusan. Ada yang aneh beberapa hari ini dengan Samudra. "Kamu kenapa jadi kasar gini sih? Ada apa? Samudra memijit kening sesekali. "Apanya yang ada apa Gwen. Aku bilang ada keperluan apa di rumah mama? Bukan maksud aku melarang kamu ke sana, kamu selalu overthinking begini gimana aku bisa kelola bisnis aku? Itu kan yang keluarga kamu butuhkan? Kinerja, perusahaan , dua perkara yang harus aku tunjukan harus begitu kan?" "Aku cuma nanya, kita tinggal di rumah mama kan? Kenapa kamu malah mgerespon begini. Aku nggak ngerti maksud kamu apa, tapi sumpah kamu beda banget." Lagi, terjadi argumen seperti ini sudah terdaftar di benak Samudra. Tapi kali ini harus benar-benar natural. Demi membalas dendam di masa lalu. Ya dendam, rasa sakit yang kembali teringat di benak Samudra bagaimana dulu Gwenny menolak cintanya dengan hinaan yang sangat membekas di hati Samudra. "Beda apanya ? Apa yang beda dari aku? Gwen, please! Kamu harus tau posisi aku. Kamu ngerti kan? Aku cukup dibuat pusing urusan kantor, kamu boleh tinggal di rumah mamah it's oke, fine! Silakan, tapi kamu pernah berpikir nggak? Gimana aku merasa nggak nyamannya di rumah mamah?" Gwenny selebihnya diam, percakapan seperti ini lumayan menyesakkan d**a. Gwennya tidak ingin serangan jantungnya kambuh ditempat seperti ini. "Terserah kamu, Sam." Kembali melanjutkan mengaktifkan handphone. Earphone terpasang playlist music guna melunturkan emosi. Cukup hari ini untuk argumen panjang tiada ujungnya. Lain halnya dengan berdebat sesama keluarga, akan kacau kalau mereka terlibat suasana ini. Sungguh menguras energi banyak juga ternyata. Di dalam pesawat, Gwenny menitikkan air mata. Rasa percaya pada Samudra saat kemarin perlahan mulai hilang. Dia merasa bahwa Samudra hanya mempermainkan perasaannya. Seorang lelaki yang membuatnya yakin bahwa mereka akan saling membuka hati dan berkomitmen bersama. Samudra yang begitu manis, berhasil membuatnya yakin dan menyerahkan hati secara cuma-cuma. 'Apa ini perasaan aku aja? Kenapa semuanya jadi beda kayak gini? Gwenny bertanya-tanya di dalam hati.' Hari yang panjang. Pesawat mendarat tepat waktu di International soekarno hatta airport. Rasa lelah bukan berarti mampu mengatasi semua yang terjadi di dalam pesawat hari itu. Samudra memiliki firasat akan banyak perdebatan diantara keduanya. Atau bahkan kedua keluarga Gweny dan Samudra Tak lama kemudian. Setelah pesawat landing, handphone samudra berdering. PAPAH "Hallo, pah." Samudra menjawab panggilan masuk dari sang papah. "Syukur lah, Sam akhirnya kamu sudah sampai. Gimana perjalanan selama di sana? Menyenangkan?" Melirik ke arah kanan. Gweny yang begitu penasaran , sedang apa mereka bicarakan. "Menyenangkan, oh ya pah. bisa jelaskan secara rinci soal pagelaran fashion show nanti seperti apa ? Masalah investor bagaimana pah." "Jadi, Nanti Fashion show akan diadakan di Bali. Di sana nanti akan ada model terbaru kita, dari perjalanan kariernya cukup baik. Kamu tau dia siapa? Ayla. Perempuan itu lumayan berbakat sekarang. Papa jadi tertarik mau makai dia di perusahaan kita sebagai model. Lagipula sekarang namanya sedang naik daun." "Ayla ?" Mengalihkan pandang ke arah Gweny yang semakin penasaran. Apa sedikit menggetarkan rasa keingin tahuan gweny ? "Umh.. aku dan Gweny nanti mampir sebentar ke rumah mamah mertua. Mungkin malamnya kita ke rumah papah juga." "Yasudah. Papa tunggu ya." sambungan telpon terputus. "Ayla siapa?" "Model, dia juga yang akan pakai rancangan dari Adelyn designer adalan di Perusahaan, memangnya kenapa?" Samudra juga cukup dibuat penasaran, kenapa Gweny begitu ingin tahu lebih dalam dunianya "Yakin? Tapi aku kayak ngerasa nggak asing sama nama itu. Kayak pernah dengar. Tapi lupa di mana." Berusaha serapih mungkin menyembunyikan Ayla dari gweny. "Nama bisa saja, tapi orang mungkin kebetulan familiar. Banyak nama yang sama juga kan? Nggak cuma satu orang di dunia ini." Hati yang retak di campakan tidak mudah di susun kembali. Samudra bukan lagi pemuda cupu yang jadi sasaran perempuan cantik untuk di manfaatkan. "Oke, aku harap itu bener. Kamu tau? Aku bisa maafin apa pun kesalahan yang mungkin bisa kamu lakuin ke depan. Sikap kamu yang berubah atau kamu yang mulai egois aku bisa maklumi. Tapi, kalau seandainya sampai ada orang ketiga di antara aku dan kamu, aku benar-benar nggak bisa maafin kamu, segimana pun caranya kamu menata kesalahan itu aku nggak bisa maafin." Gwenny memapihkan rambutnya. Mungkin kamu pernah tau apa kebiasaan aku dari kecil di saat aku kena masalah. Bahkan orang tua aku sendiri minta bantuan polisi di saat aku pergi dulu. Kamu ingat? Sekarang aku udah besar, menghilang dari hidup seseorang bukan perkara yang susah buat aku." "Lantas kamu lebih membahas masalah ini, bagaimana tentang masalalu, kalau aku boleh membahasnya apa dulu pernah berpikir bagaimana rasa sakit hatinya seorang laki laki saat cintanya di buat lelucon? Saat orang lain mencibir segala penampilan aku, tidak ada pembelaan atau sekedar melindungi aku? Aku pernah sebegitu cintanya sama kamu, cinta yang terobsesi ingin dicintai sepenuhnya oleh kamu, Gwen. Aku berani menentang pendapat orang lain, aku yang jelek dan cupu bisa memiliki kekasih seperti kamu. Berkali kali aku dibuat jatuh dan mencinta dengan orang yang sama, dengan rasa cinta yang sama, duduk menunggu seperti orang bodoh! Tapi, apa? Kamu selalu merendahkan aku karena aku cuma lelaki cupu! Mulut Samudra gemetar dengan tatapan merah dimatanya, menandakan sabarnya sudah di batas maksimum. Kamu mempermasalahkan aku di masalalu? Sam, bukannya kita udah bertekat buat ngelupain masa lalu? Kamu sendiri yang bilang kayak gitu. Kamu masukin hati permasalahan kita waktu kecil? Sam! Saat itu aku masih usia 15 tahun. Masih kecil! Belum ngerti sepenuhnya tentang cinta-cintaan!" Tangan Gwenny juga ikut gemetar. "Kita pulang sendiri-sendiri!" Gwenny pergi begitu saja. Samudra memilih pergi dengan arah berlawanan. Kali ini Samudra muak dengan topeng bak rumah tangga yang harmonis penuh cinta dan kasih sayang. Sejatinya tidak begitu. Dia tersiksa dengan sikap angkuh Gweny yang tetap gengsi memilikinya *** Gwenny memilih untuk ketemu sama sahabat dia. Sebab hanya dengan Naura, Gwenny merasa tenang. "Kamu bener, Nau. Seseorang yang nggak cinta sama kita nggak akan pernah bikin kita bahagia selamanya, Nau. Gue di Ghosting." "Di ghosting gimana maksud loe Gwen? Kan gue udah pernah bilang sama Lo Gwen. Ngapain Lo Nerima perjodohan itu kalau Lo sendiri nggak mau." "Gue bisa apa? Gue cuma bisa ikutin permintaan orang tua gue, gue nggak mau kecewain mereka. Gue pengen mereka bahagia. gue udah kasih semua ke dia, andai gue ikutin ucapan Lo, buat jaga diri gue, pasti dia nggak akan menang sebanyak itu." Naura memeluk hangat sahabatnya. "Jangan jangan loe udah mulai cinta sama samudra?" "Gue bodoh..." lirih Gwenny pelan. "Terus kedepannya loe mau gimana ? Loe kuat dengan semua ini?" "Gue coba kalau gue mampu. Kalau capek gue nyerah...." "Lo harus yakin sama diri lo sendiri Gwen." Gwenny menganggukkan kepala. Beruntung bisa memiliki sahabat seperti Naura. Seseorang yang selalu ada kapan pun dia butuhkan. "Sebentar lagi gue harus pulang. Sebisa mungkin gue bakal tutupin ini dari ibu, gue nggak mau mereka tau apa masalah gue sama Samudra." "Gue berharap loe baik baik aja dengan masalah ini" *** Hari pertama memasuki jam kerja kantor, Samudra seperti biasa mengawali hari dengan berbagai pertemuan orang orang penting lainnya Tiba-tiba, Ayla kembali dipertemukan dengan Samudra, setelah sekian lama dan kemarin sempat mengirim sebuah Email yang mengungkapkan kerinduan. Rasa cinta? Oh, tentu masih ada. Hubungan yang berakhir karena Samudra dijodohkan. Ditambah, dulu Jihan, ibu dari Samudra menemui Ayla agar Ayla menjauh dari anaknya. Sebab Ayla dianggap tidak pantas untuk mendampingi Samudra. "Samudra..." Air mata Ayla tumpah ruah. Rindu yang berat teramat hebat menimpa dadanya Samudra yang tengah berbincang dengan client. Samar samar mendengar namanya dipanggil oleh seseorang, samudra pikir itu suara Gweny. Menoleh ke sumber suara. 'Ayla?' Gumamnya dalam hati. Ayla tidak mampu lagi menahan kerinduan ini, didekapnya Samudra dengan hangat "Aku rindu kamu, Sam..." Samudra menyambut hangat Ayla. Di dalam dirinya, Samudra seakan merasakan hal yang sama. "Hai.. Apa kabar?" Aku, Aku baik. Kamu gimana? Selamat ya atas pernikahan kamu. Pasti kamu bahagia sekarang. Maaf, maafin aku... "Iya terimakasih juga untuk kamu yang masih menunggu aku, hmm.. ngomong-ngomong kita ke coffe break aja gimana?" M Samudra mengajak Ayla berbincang alam di coffe break kantor Samudra. "Iya. Aku mau. Tapi, gimana sama istri kamu?" Ayla sebenarnya tidak enak. Tapi dia juga tidak bisa menolak gejolak di hati "Mau aku telpon? Untuk bergabung sma kita? Atau kamu merasa canggung karena status aku sudah beristri?" Sambil menggandeng tangan Ayla. Disepanjang koridor banyak karyawan mempertanyakan ada apa mereka berdua sampai sedekat itu "Kamu yakin mau ajak istri kamu?" Samudra hanya tersenyum. Tangannya kanannya siap menekan nada panggil di handphonenya, Gweny. Masih marahkah dia atas sikapnya kemarin? "Yaudah, kamu ajak aja dia." Ayla tersenyum penuh arti. Tak menyangka bahwa Samudra akan memperlakukannya semanis ini. Belum ada jawaban dari Gweny. Samudra masih menunggu jawaban dari lawan bicaranya. "Hallo." Nada suara Gwenny pelan. Gwenny belum ingin terlalu banyak bicaram "Aku minta maaf Gwen, hari itu aku benar benar takut, bisa kamu datang hari ini di kantor? Sebagai permintaan maaf aku, aku mau mengajak kamu makan." Gwenny sempat kaget. Tapi dia senang karena Samudra mau mengajaknya makan dan meminta maaf lebih dulu. "Bener? Mau makan di mana?" "Di kantor, aku nggak mau membuat kesalah pahaman ini berlanjut, akan lebih baik kalau kamu ikut makan bersama." Gwenny langsung menuju tempat yang Samudra katakan. Tidak berlangsung lama, tiga puluh menit Gwenny sudah sampai ditempat tujuan. Tapi dia tidak menyangka kalau Samudra sedang terlihat begitu akrab dengan seorang perempuan. Hati Gwenny sangat sakit sekali. "Sam. Dia siapa?!" Mendekap mesrah pinggang ramping gweny. Seolah baik baik saja. "Gwen, ini ayla. Ay ini istri aku, aku juga masukan dia ke daftar pemotretan edisi terbaru nanti" meyakinkan gweny yg disampingnya. "Ayla?" Kening Gwenny berkerut bingung. Dia sempat mendengar nama ini saat masih di dalam pesawat beberapa Minggu yang lalu. "Hallo, Gwen. Kenalin aku, Ayla. Aku model di perusahaan Sam." Gwenny hanya menganggukkan kepalanya. "Yang papah ceritakan hari itu. Nggak apa apa kan ? Aku nggak mau kamu salah paham lagi. Jadi aku bawa kamu kesini, biar kamu bisa belajar banyak soal modeling." "Sama Ayla? Apa nggak ada perempuan lain, Sam?" Samudra terkekeh mendengar gweny sebegitu tidak sukanya debgan ayla. "Ada banyak model lain, tapi memang yang senior di sini Ayla." Mengusap lenbut pipi Gweny. "Aku melakukan yang terbaik untuk kamu, setelah kamu kuliah juga kamu masuk kekantor aku." "Yaudah. Aku percaya sama kamu. Tapi, kamu di sini, di dekat aku ya." "Aku nggak menjamin 24 jam bisa di dekat kamu, aku banyak pekerjaan yang seharusnyanaku tangani sendiri. Untuk itu aku masih belum bisa katakan janji." Setelah dibuat senang, sekarang dijatuhkan. Itu yang Gwenny rasakan dalam waktu sepersekian detik. Ayla memberikn kode pada Samudra. Seolah mengejek Gwenny dari belakang. Samudra menarik nafas panjang. Mengangguk paham , kehadiran Ayla membuatnya serba salah. Samudra menjadi bingung dengan dirinya sendiri. Seakan tidak mampu mengontrol dirinya sendiri. "Aku direktur disini, tugas ku bukan mengawasi jalannya fashion show berlangsung, ada tugas lainnya juga Gwen. Tolong pahami aku ,ya?" "Yaudah, terserah kamu. Aku lapar." Geleng kepala. "Hufh! Iya, aku jelaskan nanti di ruangan aku, nggak apa apa kan? Lebih lama lagi di sini?" "Iya. Tapi nanti aku pulang bareng kamu, ya." Gwenny memeluk lengan Sam. Dia tidak ingin lepas, kalau bisa dia akan menunjukan perjuangan untuk membuat Samudra kembali manis padanya. *** Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD