"Sam, ayo. Tapi, ini kita nggak cepat pulang kan? Nanti pas sampai di sana kamu malah ngajak aku pulang dengan alasan supaya aku istirahat. Ingat aku udah sembuh sesuai kemauan kamu loh."
Udara semakin menyeruwak masuk kedalam pori pori kulit, meskipun sudah berlapis mantel tebal dan baju lengan panjang, sepatu musim dingin. Suhu malam ini hampir -19 derajat celcius.
"Kamu nggak takut kedinginan ? Tunggu di sini."
Samudra berjalan kembali mendekati lemari pakaian dan mengambil mantel yang lebih tebal lagi, dia tidak akan membiarkan udara dingin menjalar beku di tubuh Gwenny.
Dengan gerakan pelan, Samudra memakaikan Mantel hangat berwarna coklat di tubuh Gwenny.
"Ini akan jauh lebih hangat, kamu tahu kan? Malam ini hampir minus 19 derajat suhunya"
Gwenny tersenyum tipis, di tatapnya Samudra dengan malu. Sungguh, masih seperti mimpi rasanya saat Samudra memperlakukannya semanis ini.
"Tapi kan tadi aku udah Makai kaos panjang, Sam."
"Kaos kaki panjang emangnya bisa bikin kamu sehangat aku yang peluk hum?"
"Emangnya kapan kamu meluk aku?" Gwenny langsung membalikkan badan, merasa bahwa sudah salah bicara. Sumpah demi apapun saat ini dia sedang dihadang rasa malu luar biasa. Bagaimana jika Samudra menganggap bahwa dia ingin dipeluk?
Tanpa ragu. Samudra memeluk Gwenny dari belakang dengan mesra.
"Begini maksudnya ? Jangan dikode, minta langsung juga nggak apa apa." kata Samudra sambil ketawa kecil.
"Ihh apaan sih, Sam. Nggak gitu...."
Kedua pipi Gwenny memerah. Pertama kali merasakan dekapan seorang Samudra setelah mereka menikah.
Tidak hanya itu, jantung Gwenny pun seakan berdetak tidak normal. Tapi, ibu bukan serangan jantung, detak yang saat ini terasa tidak membuatnya merasa sakit. Apa ini yang dinamakan detak cinta?
Gwenny mengigit bibir bawahnya, berusaha agar tidak terlihat memalukan di depan Samudra."
"Aahh, hangantnya dipeluk begini."
Samudra semakin erat memeluk, semakin jauh tercium aroma parfum Gwenny. Sempat sedikit tergoda olehnya. Tapi bukan saatnya. Ingat! Sadarlah samudra.
"Ayok, kalau kamu peluk aku terus, kapan kita berangkatnya?"
Samudra meregangkan pelukan.
"Oke, oke. Mau makan dulu atau kita jalan jalan dulu? Aku tahu berberapa tempat yang bagus untuk berdua." tanya Samudra sambil mencek handphone, mencari lokasi yang tidak jauh dari apartment mereka. Terlalu bahaya untuk berjalan jauh seperti ini di suhu yang extreme.
"Masa makan lagi? Kan barusan udah. Nanti aja pas mau pulang, oke?"
"Uummh. Jadi kamu jalan ke mana? Shopping? Jangan terlalu jauh dari apartment kita."
"Ternyata kamu itu pikun juga ya, dalam waktu sepersekian menit doang kamu lupa aku pengen kemana? Kan aku mau ke Eiffel. Masa aku harus panggil kamu sayang dulu biar nggak alasan buat batal pergi?"
Gwenny memukul pelan lengan Samudra.
Samudra pelan meringis.
"Aawwwh ! Kok jadi marah sih , kan cuma tanya lagi, barangkali mau ke tempat yang lain."
Samudra menekuk muka menjadi cemberut.
"Ayok, nggak mau kan aku serangan jantung lagi?"
"Hust kalau ngomong, suka ngelantur."
Mereka jalan menuju menara eiffel. Menyaksikan orang lalu-lalang semakin ramai menjelang tengah malam di kota penuh cinta dengan sentuhan suasan romansa begitu menawan.
Gwenny berjalan sambil sesekali berlari kecil, merentangkan kedua tangan menikmati suhu dingin di kota Paris.
Tubuh Gwenny yang kecil begitu mudah menyusup diantara kerumunan orang. Nyaris Samudra tidak bisa melihat di mana Gweny berada.
Bak anak kecil menemukan mainan lamanya yang hilang. Samudra mencari celah menyelinap dihimpit banyak orang. Gwenny berhasil hilang dari pantauan Samudra. Hal itu tentu membuat Samudra merasa khawatir setengah mati.
"Gwen! Gwenny!"
Serasa napasnya hampir tidak tersisa, teriakan bukan hambatan yang susah untuk memanggil gweny lebih keras lagi. Membuat orang-orang yang mendengar menatap Samudra dengan heran.
Berkali kali handphone samudra menghubungi gweny. Tidak ada jawaban.
'Panggilan ini sedang di alihkan, atau silahkan tinggalkan pesan setelah nada berikut.' suara operator terus terdengar.
Kacau sudah titik fokus samudra mencari Gwenny tak kunjung ditemukan.
Bahkan ada beberapa orang yang menghampiri Samudra, menanyakan alasan Samudra berteriak seperti mencari seseorang. Ternyata benar apa yang orang-orang itu duga, Samudra mencari seseorang yang hilang dari jangkauan mata.
Gwenny berada tepat di depan menara Eiffel, dia memotret beberapa kali menara tinggi itu dengan Camera yang dia bawa. Saking senangnya, dia sampai lupa bahwa dia dan Samudra sudah terpisah
Satu jam lamanya memutari sekeliling area taman menara eiffel. Satu persatu samudra mengamati orang disekitarnya. Tak lama kemudian matanya menangkap sosok yang dia kenal. Rambut terurai ikal, sedikit berwarna blonde kecoklatan, mantel berwarna coklat, dan tentunya parfume yang dia kenal dari kejauhan.
"Gwen !!!" Teriak Samudra keras melengking digendang telinga.
"Gwenny terlihat mencari arah sumber suara, namun dia belum peka ada Samudra yang menghampirinya."
Samudra berlari menghampiri gweny. Deru napasnya nyaris tedengar habis. Demi Gwenny apa pun dia lakukan. Meskipun harus berlari ribuan kilometer dia jalani.
"Kamu ... hhh... telepon aku .. hhh... kenapa, Gwen?! Aku hampir gila mencari kamu di segala sudut taman ini ! Kamu tahu kan hhh.. seperti apa khawatirnya aku? Hhh..." tanya Samudra penuh rasa cemas. Nafas Samudra masih tersenggal-senggal. Ini musim dingin, tetapi lebih dingin lagi keringat Samudra karna rasa khawatir yang menguasai otaknya.
"Sa--Samudara? Kamu, kamu dari mana?"
Raut muka stress bercampur baur dengan kesal. Mata Samudra hampir terbelalak keluar mendengar Gweny seolah tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Kamu yang darimana, aku lari setengah mati mencari kamu di setiap sudut taman Gwen! Kamu paham nggak sih?! Gimana kalau kamu hilang ditengah kota seperti ini?"
Kening Gwenny berkerut bingung, dia masih belum sadar dengan apa yang terjadi. Tapi, tatapan mata Samudra tidak main-main, apa tadi mereka sempat terpisah?
Tapi, sungguh. Gwenny tidak bermaksud untuk membuat Samudra cemas, dia hanya bahagia karena bisa keluar dari apartemen dan menikmati udara sejuk seperti sekarang ini.
"A--aku. Nggak ngerti maksud kamu, Sam."
"Astaga... handphone kamu mana? Puluhan kali aku hubungi nomor kamu, jangan buat aku semakin cemas, Gwen!"
Samudra berdecak kesal atas sikap Gweny.
Gwenny mengambil ponsel yang ada si saku mantel, dan ternyata benar. Baterai handphone nya habis.
"Hape aku, hape aku mati, Sam. Lupa ngecas semalam."
Gwenny mengigit bibir bawahnya. Dia tidak berani menatap mata Samudra yang sudah merah
Samudra hanya mampu menghela nafas panjang .
"It's oke! Setelah ini kita kembali ke Apartment lagi, jangan sampai kejadian ini terulang kembali, paham?"
Perlahan Gwenny menganggukkan kepala. Namun, wajah Gwenny masih tertunduk ke bawah.
"Gwen..."
Samudra merarik dagu Gweny agar sejajar dengan wajahnya. Kini tatapan mereka bertemu.
"Jangan pernah lepas dari pandangan aku. Sejauh apa pun kamu pergi, ribuan mil aku kejar, dimanapun itu, yang kamu tahu hanya aku yang mampu mengejar kamu sejauh mana pun yang kamu tuju."
"Maaf...."
Hanya itu yang bisa Gwenny katakan. Ternyata Samudra benar-benar membuktikan ucapannya. Ingin membuka hati lantas dia langsung memberikan perhatian sebesar ini.
Mendengar ucapan Gwenny, Samudra merengkuh tubuh gweny di pelukannya. Moments indah yang tidak bisa ditukar dengan waktu, musim, ataupun nyawa.
"Udah, peluknya jangan lama-lama, nanti diliatin orang, malu..."
Samudra merenggangkan sedikit pelukannya. Nampaknya wajah Samudra semakin mendekat, dalam beberapa detik, bibir Samudra mendarat di kening Gwenny. Gwenny memejamkan mata, merasakan hangatnya sentuhan bibi Samudra di keningnya.
Beberapa detik selanjutnya bibir Samudra mendarat di pipi Gwenny. Kali ini, dia benar-benar yakin bahwa dia sudah mantap untuk mencintai Gwenny.
"Aku sayang kamu." Bisik Samudra pelan di telinga Gwenny. Gwenny yang mendengar itu, hanya mampu tersenyum tipis. Tapi hatinya amat bahagia.
****
Besambung