"Mama, Aku baik-baik aja. aku sehat, mama lihat sendiri, aku masih bisa kan angkat panggilan dari mama."
"Iya, Gwenny, mama tau. cuma mama kemarin itu benar-benar khawatir. perasaan Mama nggak enak. kemarin mama pengen banget Video Call sama kamu, tapi kayaknya si Samudra banyak alasan, makanya mama makin curiga kalau kamu kenapa-napa, Gwenny."
"Maaf ya ma, kemarin aku sama Samudra sibuk jalan-jalan di sini. mama kan tau, Paris adalah kota impian aku sejak dulu. jadi aku nggak mau nyia-nyiaiin waktu aku selama aku masih di sini. sebentar lagi aku juga bakal balik kan ke sana."
"Tapi kamu nggak bohongin mama kan?" Aruni memastikan sekali lagi. sebab dia melihat wajah Gwenny sedikit pucat. Apalagi Feeling-nya tidak mungkin salah. dia sudah sejak dulu menyaksikan Gwenny sakit, dan setelah sembuh dari kambuhnya penyakit itu, wajahnya akan terlihat pucat seperti sekarang.
"Ya Allah, Ma. ya Enggak lah ma mama kan bisa lihat sendiri. masa aku harus loncat-loncat, kan nggak mungkin ma. malu sama suami." kata Gwenny sambil menahan tawa. tetap saja rasanya sedikit geli saat menyebutkan bahwa Samudra adalah suaminya.
Gwenny masih sedikit malu, karena mereka juga baikan baru semalam. Gwenny menganggap ini masih terlalu dadakan.
"Yasudah. kamu janji sama ibu, di sana kamu harus jaga kesehatan kamu."
"Iya mamaku sayang...."
Aruni baru bisa bernapas lega setelah berhasil menghubungi Gwenny.
"Papa mana, Ma? kok nggak ada? papa nggak kangen sama aku?"
"Papa kamu udah berangkat kerja dari tadi pagi. ada urusan di kantor."
"Humm, yaudah, Ma. aku sama Samudra mau belajar masak lagi nih."
Aruni menganggukkan kepala sambil tersenyum tipis. dia juga bahagia ternyata Bisa melihat Gwenny sebahagia itu saat bersama Samudra.
"Yaudah, jangan capek, jaga kesehatan. salam ya buat Samudra."
"Iya ma.."
"Yaudah, Assalamualaikum..."
"Waalaikumussalam, Ma. love you...."
Gwenny meletakkan ponsel di atas meja. tidak lama setelah itu samudra datang.
"Yang nelfon tadi mama?"
"Iya. Sam."
"Mama bilang apa? mama tau kamu sakit?"
"Enggak, cuma mama emang curiga aja. Tapi gak apa-apa. semuanya udah baik-baik aja kok."
"Jadi hari ini jalan?" tanya Gwenny melanjutkan pembicaraan.
"Yakin kamu udah kuat?"
"Yakin. Kamu liat aja aku udah seger begini kan."
"Yaudah, kamu siap-siap. aku tunggu kamu di bawah."
Samudra melangkah tapi dengan cepat Gwenny menarik tangan samudra.
"Kenapa?"
"Makasih ya."
"Makasih? makasih untuk apa?" tanya Samudra bingung. sebab ia merasa bahwa dia tidak melakukan apa-apa yang harus membuat Gwenny mengucapkan terimakasih.
"Makasih karena kamu udah berusaha buat Nerima aku, makasih juga karena kamu udah memulai lebih dulu untuk memperbaiki hubungan kita. dan makasih juga udah mau wujudkan mimpi aku buat mengelilingi kota ini."
Samudra tersenyum kemudian mengelus kepala Gwenny.
"Iya, itu juga kebaikan untuk kita kedepannya. Jadi kamu nggak perlu merasa seperti itu dan berterimakasih, karena itu juga berfungsi untuk masa depan kita nantinya.
"iya tapi apapun itu aku bener-bener cuma mau ngucapin makasih sebesar-besarnya sama kamu karena jika kamu nggak nurunin ego kamu, Aku juga belum tentu seberani kamu untuk minta maaf lebih dulu. karena kamu tahu sendiri kan, ego aku itu terlalu besar."
"itu semua aku lakukan karena aku nggak mau kamu kenapa-napa. saat kamu ga sadar di Rumah sakit kemarin, aku benar kacau banget. aku sampai berdoa sama Tuhan jika kamu baik-baik aja aku bakal lakuin apapun untuk bikin kamu bahagia. dan ternyata Allah udah makan belum itu semua. Jadi sekarang tugas aku untuk memenuhi janji yang udah pernah aku ucapin sama Tuhan. janji untuk membahagiakan kamu. ke jalan satu-satunya adalah menurunkan ego kita sama-sama saling membuka pintu maaf dan mau berdamai dengan keadaan karena hanya dengan cara itu kita bisa membuka hati kita masing-masing aku membiarkan kamu masuk ke dalam hati aku dan kamu juga memberikan aku kesempatan untuk masuk ke hati kamu. Jadi orang spesial di hati Kamu dan menjadi satu-satunya laki-laki yang kamu cintai. sebaliknya aku juga akan melakukan hal yang sama, menjadikan kamu satu-satunya perempuan yang ada di hati aku dan sampai kapanpun hanya akan ada nama kamu di hati aku. bagiku tidak ada yang bisa memisahkan kita kedepannya kecuali ajal. dan jika seandainya aku boleh minta sama Tuhan jika kamu meninggalkan dunia ini aku juga ikut dengan kamu. biar kita bisa abadi dan melanjutkan cinta kita di surga.'
kedua bola mata perempuan itu berakhir terharu atas apa yang barusan diucapkan oleh Samudra. dia benar-benar tidak menyangka jika Samudra bisa melakukan hal seperti ini. untuk membuat hatinya tenang dan mampu membuat hatinya juga bahagia. karena saat ini semoga bener-bener bersikap bahwa dia sangat mencintai dirinya.
apakah Gwenny bangga? jangan ditanya lagi tentu dia merasa sangat bangga menjadi perempuan yang bisa diperlakukan begitu baik oleh Samudra.
mungkin di luar sana banyak perempuan yang tidak semua untuk dirinya. masih banyak terus anak perempuan yang menikah dengan laki-laki yang tidak sebaik Samudra. kebanyakan di antara mereka menemukan laki-laki kasar yang tidak jarang melukai fisik mereka. melakukan k*******n terhadap perempuan perempuan lemah.
lantas apakah sekarang dia salah jika dia menyebut bahwa dirinya adalah perempuan yang paling beruntung? untuk kesekian kalinya dia mengatakan bahwa dia memang lah perempuan yang paling beruntung. tidak apa jika itu hanya persepsinya saja.
"aku nggak tau harus ngomong apa lagi, aku cuma bisa bilang makasih sama kamu, makasih karena udah mau seperti ini sama aku."
"Iya, tapi kamu jangan ucapkan terimakasih terus, karena itu udah menjadi tugas aku. ingat tugas aku sebagai seorang suami. setidaknya kita menyadari ini semua sebelum semuanya terlambat kan. yang intinya kita berdua sudah mau membuka hati itu sudah cukup. aku juga terima kasih sama kamu karena kamu udah mau menerima aku juga. pikir kamu bakal gengsi. karena kan kamu emang suka gitu sih orangnya."
"ihh, jangan gitu. Ya aku minta maaf deh sama kamu aku orangnya emang gengsian dari dulu. namanya juga cewek gimana sih yang enggak ada rasa gengsinya. ku rasa setiap perempuan punya rasa gengsi di hatinya masing-masing. bukan cuma aku loh yang punya penyakit gengsian."
Samudra tertawa pelan kemudian menganggukkan kepala pertanda mengerti dengan apa yang dikatakan Gwenny.
"Ya udah sekarang siap-siap aku tunggu di bawah nanti antar ke mana pun kau memang."
"Oke. bos."
Samudra melangkah pergi meninggalkan Gwenny di dalam kamar. Samudra tidak bisa menyembunyikan ini semua. yang jelas, saat ini jantungnya sudah mulai berdetak kencang, tidak normal seperti biasanya. ia bisa menyadari kalau itu semua adalah lambang dari Cinta saat ini pada Gwenny.