Miniera - 6

1633 Words
Hunt merebahkan tubuh istrinya di atas ranjang berukuran king size. Pria itu menindih tubuh Paula hingga tidak ada jarak diantara keduanya. Mereka melanjutkan aksinya di dalam kamar itu. Hunt menggesekkan bagian bawahnya pada intim kewanitaan Paula yang masih terbungkus rapi oleh celana dalam bermotif garis. Tangan Hunt juga kembali meremas bagian d**a istrinya dengan sedikit keras.  "Ehm," desah Paula tertahan oleh ciumannya. Mata keduanya terpejam ,dengan gairah yang semakin meninggi. Hunt melepaskan ciumannya, lalu ia membantu istrinya untuk melepaskan pakaian yang dikenakannya. Hingga akhirnya kedua pasangan itu tidak mengenakan sehelai kain yang menutup tubuhnya.. Hunt melebarkan posisi kaki Paula, dengan wajah yang sudah menghadap pada kewanitaan istrinya. Tangan Paula mencengkeram seprai berwarna merah itu, dengan mata terpejam dan tubuhnya menggelinjang karena geli. "Aahh, Hunt." Hunt kini tengah menikmati kewanitaan istrinya, dengan mengulum dan juga menjilati liang senggama itu. Paula bergerak tak beraturan menahan gejolak yang kini makin membuatnya menggila. Pria itu selalu membuatnya puas dengan sentuhan-sentuhannya. Lidah Hunt sudah masuk ke dalam liang senggama Paula, bergerak keluar-masuk dengan sesekali menghisap kewanitaan itu. Kewanitaan Paula sudah sangat basah karena rangsangan yang suaminya berikan.  "Aaahh, Hunt ... jangan mempermainkan aku," ujar Paula. Hunt menyeringai, kini ia menghentikan aksinya, lalu menggantikannya dengan jari tengahnya yang masuk dan mengaduk liang itu. "Ahk!" pekik Paula saat merasakan jari Hunt yang masuk terlalu dalam. Hunt beralih pada bagian d**a Paula. Ia kini terlihat menyusu seperti bayi, beberapa kali Hunt menggigit puncak d**a istrinya. Hingga akhirnya puncak d**a Paula mengeluarkan darah segar karena gigitan itu. "Hunt! Akh! Kau gila! Sakit," protes Paula yang melihat puncak dadanya terluka. "Maaf ,sayang. Kau terlalu nikmat, hingga aku lepas kendali," ujar Hunt dengan santai. Pria itu kembali mencumbu istrinya dengan lembut. Memberikan sentuhan yang membuatnya kembali merasakan kenikmatan. Tubuh Hunt kembali menindih Paula, perlahan ia menggesekkan kejantanan miliknya yang sudah berdiri sempurna. "Aaahhh," desah keduanya saat penyatuan itu terjadi. Hunt bergerak perlahan, lalu memompa tubuh itu dengan tempo yang membuat Paula menatap tajam pada suaminya itu. Tangan Paula melingkar pada leher Hunt ,lalu menariknya hingga membuat mereka kembali berciuman. Hunt menjulurkan lidahnya dan mengabsen deretan gigi Paual satu persatu. Sementara Tangan Hunt bermain pada bagian d**a istrinya secara bergantian. Hunt memberikan pijatan-pijatan lembut pada d**a Paula yang terasa mengeras karena terangsang. "Aahh, aahh ... Hunt," desah Paula. Hunt menegakkan tubuhnya, lalu tangannya menekan kaki Paula agar sedikit melebar lagi. Pinggul Hunt kini bergerak sedikit cepat, dengan kepalanya yang menengadah merasakan kenikmatan persetubuhan panas itu. "Aahh ... milikmu masih saja sempit, sayang. Kau membuat aku menginginkannya terus menerus," ujar Hunt. "Hunt, lebih cepat ... aku akan sampai," ujar Paula. Pria itu mengikuti perkataan istrinya dengan bergerak cepat dan semakin memperdalam kejantanannya di dalam sana. Setelah beberapa detik kemudian, Hunt merasakan cairan hangat membasahi kejantanan miliknya. "Aaaahhh," desah panjang Paula saat mendapatkan pelepasan-nya. Melihat tubuh istrinya yang sudah lemas, Hunt kini membalikkan tubuh itu hingga menghadap badan ranjang. Tangan Paula menahan tubuhnya dengan berpegangan pada badan ranjang. Wanita itu sedikit terkejut saat merasakan kejantanan Hunt kembali memasuki liang senggama-nya. Hunt kembali memompa tubuh Paula dari belakang. Dengan tangannya yang memegang pinggul Paula, membuat gerakan itu mengeluarkan suara yang terdengar keras. "Ah, ahh, aahh." "Oh ... sayang, aku tidak bisa berhenti," ucap Hunt. Kini tubuh Hunt sedikit membungkuk, tangannya meraih d**a Paula lalu meremasnya.  "Aahh, Hunt ... lebih dalam," desah Paula. Sepuluh menit kemudian, Hunt mengeluarkan kejantanannya dari dalam liang itu. Sementara itu tubuh Paula jatuh dengan posisi menelungkup. Tentu saja Hunt tidak akan membiarkan istrinya itu beristirahat. Hunt turun dari atas ranjang, lalu ia menarik tubuh Paula hingga bagian bawahnya berada di tepi ranjang. "Hunt ... bisa kita lanjutkan lagi nanti?" tanya Paula dengan tersenyum menggoda. "Tidak." Tepat setelah menjawab ucapan Paula, kejantanan Hunt kembali masuk dan memenuhi liang senggamanya. "Akh!" pekik Paula saat merasakan kepala kejantanan itu menabrak dinding rahimnya. Hunt kembali menghujani Paula dengan gerakan memompa. Namun, kali ini gerakannya semakin cepat. Beberapa kali Hunt merasa kewanitaan istrinya berkedut, menandakan jika Paula sudah mendapatkan pelepasan beberapa kali. Tiga puluh menih berlalu, Hunt masih memompa tubuh Paula. Wanita itu merasa sudah sangat lelah ,bahkan ia merasa nyeri pada bagian kewanitaannya. "Hunt ... aku sungguh lelah, apa kau tidak ingin segera mengeluarkannya?" "Ayolah ,sayang ... aku masih ingin menikmati tubuhmu," rengek Hunt. "Kalau begitu kau bekerja sendiri, aku hanya akan diam." "Baiklah kalau begitu," ujar Hunt. Hunt membenarkan posisi paula di atas ranjang, lalu kembali menindih tubuhnya. Kejantanan Hunt kembali masuk kedalam sarangnya. Hunt bergerak kembali dengan bermain sendiri saat ini. Ia melihat Paula yang hanya bisa memejamkan matanya sembari mendesah dengan suara yang menggoda. Hingga akhirnya Hunt mendapatkan puncaknya, ia bergerak semakin cepat, dan kejantanan itu terasa mengeluarkan cairannya di dalam sana. "Aahhh ...." "Sudah?" tanya Paula. "Lagi, setelah kita membersihkan diri, dan kau beristirahat dalam beberapa menit." "Dasar menyebalkan!" "Aku tahu, aku juga mencintaimu, sayang." Hunt mengeluarkan kejantanannya, lalu ia turun lagi dari atas ranjang. Pria itu meraih tubuh istrinya dan membawanya ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri bersama. Hunt merebahkan tubuh Paula di dalam bathup, ia memutar keran air dan mengatur suhunya agar terasa hangat. Setelah itu, pria itu ikut bergabung bersama istrinya, dengan posisi dirinya yang berada di bawah Paula. "Hunt, kita selalu melakukan hal ini, apa tidak ada satu kali pun di pikiranmu untuk melakukannya dengan wanita lain?" tanya Paula. "Pertanyaan itu tidak perlu kujawab, karena kau sudah tau jawabannya," ujar Hunt. "Hunt, apa kau melihat keanehan pada Darren?" tanya Paula. "Ya, anak itu mencintai adiknya sendiri," celetuk Hunt. "Aku khawatir ia tidak bisa menemukan wanita lain." "Tenanglah ,sayang. Darren tahu batasan antara dirinya dengan Alexa. Kau tidak perlu khawatir akan hal itu," jelas Hunt. "Baiklah, aku akan tetap bersikap biasa pada mereka, tetapi jika Darren melanggar aturan, aku akan mengasingkannya," jelas Paula. "Aku juga akan melakukannya, Sayang." Setelah perbincangan itu, Hunt mengakhiri kegiatannya dengan membilas tubuh mereka di bawah guyuran air. Hunt yang tahu jika istrinya mudah terangsang, dengan jahil meremas dadanya hingga desahan lembut terdengar dari mulut Paula.  "Hunt, kau bilang akan membiarkan aku beristirahat untuk beberapa menit kan?" tanya Paula kesal. "Ya, dan sekarang sudah lewat beberapa menit," ujar Hunt dengan menyeringai. "Kau menipuku lagi?" "Tidak, aku tidak pernah menipumu, sayang." "Aahh, Hunt." Hunt membalikkan tubuh Paula hingga menghadap dirinya. Dengan cepat, Hunt kembali mencium Paula. Hunt memerlukan waktu sampai miliknya kembali berdiri sempurna, dengan melakukan pemanasan dan membuat dirinya sendiri terangsang. Tangan Paula kini berada pada bagian bawah Hunt. Wanita itu tahu apa yang harus dilakukannya. Ia meremas kejantanan Hunt, dan memainkannya hingga Hunt merasa gairahnya kembali naik. Tiba-tiba saja Paula melepaskan ciumannya dari hunt. Kini tubuhnya merendah hingga sejajar dengan kejantanan Hunt. Paula mengulum kejantanan itu dan akhirnya membuat Hunt semakin menggila. Milik Hunt kini sudah berdiri dengan sempurna, tangan Hunt menahan tubuhnya pada dinding kamar mandi. Ia menggerakkan pinggulnya perlahan agar tidak membuat istrinya tersedak saat mengulum miliknya. Paula menjilat, menghisap ,dan membuat kejantanan Hunt basah karena air liurnya.  "Aahh, oh, s**t!" ucap Hunt. "Ehm." Wanita itu mempercepat gerakannya, hingga akhirnya membuat Hunt tidak tahan lagi untuk tidak memasukkan miliknya ke dalam liang senggama Paula. Hunt menghentikan Paula, ia membuat Paula menungging ,dan akhirnya kejantanan itu kembali memasuki kewanitaan Paula. "Aaahhh ... Hunt," desah Paula. "Kau sangat nakal ,sayang." Hunt mempercepat gerakannya, dan membuat Paula beberapa kali hampir terjatuh jika tangannya tidak menahan tubuhnya. Setelah puas, Hunt mengubah posisinya lagi. Kini ia duduk di atas closet, lalu membuat Paula menghadap padanya dan kembali memasukkan kejantanan miliknya ke dalam liang senggama itu. Kini, Paula bergerak untuk mencari kepuasan. Ia melingkarkan tangannya pada leher Hunt, dengan bibir yang saling melumat. Tangan Hunt menyentuh pinggang Paula ,lalu menggerakkannya. "Aahh, Hunt ... nikmat sekali," desah Paula. "Kau puas?" tanya Hunt. "Ya, tentu saja ... kau selalu membuatku puas ,Hunt." "Aahh, aahh ... Hunt, aku akan sampai." "Keluarkan saja, sayang." Paula bergerak sedikit cepat hingga akhirnya desahan panjang terdengar. Tubuh Paula kembali lemas dengan kepalanya yang bersandar diantara leher Hunt. Hunt kini berdiri, dengan masih menautkan miliknya. Pria itu kembali menggerakkan pinggul istrinya hingga desahan penuh kenikmatan kembali terdengar. Hunt membawa kembali istrinya ke kamar, lalu melanjutkan kegiatannya di sana. Pria itu menggerakkan pinggulnya dengan cepat, hingga akhirnya ia kembali mengeluarkan cairannya di dalam rahim Paula. Setelah kegiatan itu, Paula memilih untuk berbaring di atas ranjang bersama Hunt. Ia menarik selimut untuk menutup tubuh polos keduanya. *** Sementara kedua pasangan itu menikmati persetubuhan panasnya. Alexa tengah termenung di kamar, dengan memikirkan beberapa hal. Luca dan Alvard juga ada di sana untuk memantau kesehatan Alexa. "Nona, maaf." "Untuk apa?" tanya alexa tidak mengerti. "Karena sudah memberikan obat bius padamu," jelas Luca. "Sudahlah, aku tahu maksud kalian agar aku tidak takut. Tetapi asal kalian tahu, aku juga sudah berlatih beberapa tahun, dan hal seperti itu sudah biasa untuk diriku. Aku harap kalian tidak menganggap aku sebagai gadis cengeng yang tidak bisa melakukan apapun." "Nona, apa kau marah?" "Tidak. Aku hanya kesal pada kalian. Kenapa kalian tidak mengizinkan aku untuk ikut bertarung melawan musuh bersama kalian?" "Nona, kami harus melindungimu, bukannya membiarkan dirimu ikut bertarung," ujar Luca. "Tuan putri, jangan mempersulit posisi kami di sini. Membuatmu tidak sadarkan diri adalah hal yang paling sulit untuk kami," sahut Alvard. "Aku ingin berlatih lagi! Kali ini aku akan memilih sendiri, siapa yang akan melatih aku," ujar Alexa. Setelah mengatakan hal itu, Alexa beranjak dari tempat tidurnya untuk mencari seseorang. Luca dan Alvard mengikuti Alexa dari belakang. Mereka menyusuri setiap sudut mansion ,hingga akhirnya bertenu dengan orang yang ia cari. "Paman ...." Pria itu menengok ke asal suara lalu tersenyum dengan sedikit membungkuk kan tubuhnya. "Nona Muda, ada apa?" tanya pria itu. "Aku ingin Paman Reon melatih diriku!" "Apa? Kenapa aku? Bukankah di belakangmu sudah ada dua laki-laki yang siap untuk melatih dirimu, Nona." "Kau tidak mau?" "Bu-bukan begitu, baiklah ... aku akan melatih dirimu," ujar Reon kemudian. Alexa tersenyum lalu membalikkan badannya menghadap Luca dan Alvard. Alexa menjulurkan lidarnya lalu kembali berjalan menuju kamar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD