Alexa masih berada di mansion milik Darren, kakaknya. Ia kini tengah mengenakan gaun berwarna hitam, dengan punggung yang terbuka. Sementara ketika laki-laki yang selalu berada di dekat Alexa, nampak mengenakan jas hitam dengan dasi kupu-kupu. Mereka terlihat sangat rapi malam ini, karena Darren akan mengajak mereka ke sebuah pesta milik anak pengusaha kaya di Amerika.
Pesta itu memperingati hari ulang tahun salah satu anak dari pengusaha itu. Tidak hanya itu, perusahaannya juga sedang merilis sebuah senjata baru yang sudah dikembangkan. Sebuah senjata laser dengan bentuk seperti gelang, dan memiliki teknologi canggih yang bisa mengenali siapa pemiliknya. Darren juga ikut andil dalam pembuatan senjata itu, sehingga ia akan menjadi tamu penting di sana.
"Kakak, aku tidak terlalu suka dengan sebuah pesta," ujar Alexa.
"Kita hanya sebentar di sana, aku janji tidak akan lama," terang Darren.
Akhirnya mereka berjalan keluar dari kamar dan menuju pintu utama mansion. Diikuti oleh Luca dan Alvard yang berjalan di belakang keduanya.
Saat sampai di depan mansion, Cloud terlihat berdiri di samping pintu mobil. Cyborg itu membuka pintu mobil ,dan mempersilakan untuk Darren dan Alexa masuk. Sementara Luca dan Alvard berada di mobil lainnya.
Perjalanan menuju tempat pesta tidak terlalu lama, karena mereka tengah menggunakan salah satu mobil tercepat di dunia.
"Kakak, aku belum terbiasa dengan sebuah pesta, apa kau akan selalu mendampingi aku?" tanya Alexa.
"Tentu saja, dan jika aku sedang sibuk, kau masih bisa meminta Luca dan Alvard untuk menjagamu," ujar Darren.
Alexa mengangguk mengerti, ia memang tidak bisa selalu berada di samping Darren karena banyaknya orang yang akan hadir di pesta itu, dan mereka pasti akan berusaha untuk mengambil hati anak itu. Tidak perlu kaget jika mereka mengerumuni Darren, karena bagaimanapun, Darren adalah satu-satunya anak yang bisa membuat Cyborg dan Mutan di usianya yang masih belia, bahkan ia juga bisa menciptakan chip untuk menghidupkan kembali manusia itu.
Setibanya mereka di sebuah mansion besar bergaya eropa. Para pengawal dari mansion menyambut kedatangan mereka dengan sangat ramah. Ya, itu karena pengawal di sana adalah mutan buatan Darren. Sehingga mereka dapat dengan mudah mengenali masternya.
"Master, silakan masuk," ujar seorang diantara mereka.
Darren masuk dengan menggandeng tangan Alexa, diikuti Luca dan Alvard yang mengekor pada mereka. Saat masuk ke dalam ruang pesta, seorang pria bertubuh kekar dengan otot yang terbentuk sempurna tengah merentangkan tangan menyambut kedatangan Darren.
"Selamat datang, Tuan Muda," sapa Pria itu.
"Tuan Wild, senang bisa hadir di sini untuk peresmian senjata itu," ujar Darren.
"Tentu saja, kerja kerasmu kali ini akan membuat aku semakin kaya ... hahaha, maaf. Maksudku adalah usaha kita berdua," ujar Wild.
Mendengar penuturan Wild, Darren sedikit tidak menyukai kalimat candaan itu. Darren menyuruh Luca dan Alvard untuk menjaga Alexa dengan hati-hati. Karena sepertinya Wild memiliki rencana yang tidak dapat diduganya.
"Kakak," panggil Darren.
"Ah ... kau pasti Nona Alexa? Anak bungsu keluarga Camorra, benarkan?" ujar Wild sembari mengulurkan tangan.
Alexa sedikit tidak nyaman berada di sana, ia menyambut uluran tangan Wild dengan sedikit gemetar. Lalu Darren yang melihatnya langsung menyela ucapan Wild.
"Tuan Wild, bagaimana jika kita membicarakan tentang senjata selanjutnya?" ujar Darren sembari mengalihkan perhatian pria itu.
"Tentu saja, Tuan Muda. Mari kita berbicara bisnis di sana," jawab Wild dengan mempersilakan mereka semua untuk masuk ke dalam ruangan khusus.
Di sana, terlihat seorang anak perempuan yang mengenakan dress putih dengan hiasan mahkota kecil di kepalanya. Anak itu sedang duduk menunggu acara pesta itu dimulai.
"Tuan Muda, perkenalkan putriku ... namanya adalah Bianca," ujar Wild memperkenalkan putri satu-satunya.
Bianca tidak menggubris ucapan ayahnya, ia justru kembali berkutat dengan ponsel yang berada di genggamannya.
"Bianca!" panggil Wild dengan nada lantang.
"Daddy, aku sedang memperebutkan saham dari perusahaan Komari. Kenapa kau mengganggu aku dengan hal yang tidak penting?" gerutu Bianca.
Alexa tidak menyukai Bianca yang bersikap sangat tidak sopan terhadap tamunya. Akhirnya, Alexa berbisik pada Luca untuk segera pergi dari tempat itu. Darren yang mendengar percakapan mereka dari earpiecenya kini mengucapkan kalimat untuk segera kembali ke mansionnya. Namun, Wild mencegah kepergian Darren dengan berdalih bahwa acara akan segera dimulai.
Akhirnya mereka menuju sebuah meja berbentuk lingkaran dan di tengahnya terdapat tulisan nama Darren Bradford. Tidak lama kemudian ,acara itu berlangsung. Dari rentetan acara ulang tahun hingga peresmian senjata , dan acara itu berakhir dalam dua jam kemudian.
Tepat sebelum mereka melangkah keluar dari mansion itu, Bianca datang menghampiri Darren. Gadis itu terlihat tersipu malu saat melihat wajah tampan Darren.
"Ada apa?" tanya Darren.
"Kau memang tampan dari perkiraan, apa kita bisa menjadi seorang teman?" tanya Bianca.
"Entahlah, jika kau bisa meyakinkan adikku untuk menerima dirimu, maka aku akan mempertimbangkan hal itu."
Setelah kalimat itu selesai, Darren berbalik badan dan memeluk pinggang Alexa untuk segera masuk ke dalam mobilnya.
***
Hari ini, Alexa kembali ke mansion utama bersama Luca dan Alvard. Mereka berada di dalam satu mobil menuju mansion utama yang berjarak cukup jauh dari mansion milik Darren. Alexa yang selama perjalanan hanya memejamkan mata saja, tidak mengetahui jika mobil mereka baru saja diserang oleh beberapa mafioso lemah.
DOR
DOR
DOR
"Sialan!" umpat Alvard.
"Jaga Nona Alexa, aku akan keluar untuk mengakhiri hidup mereka," ujar Luca sembari melompat keluar dari sunroof mobil.
Dengan menggunakan baretta, Luca melompat hingga sampai di atap mobil musuh. Tidak terlalu banyak bicara lagi, Luca langsung menghujani musuhnya dengan tembakan beruntun. Hingga akhirnya mobil itu oleng, dan Luca harus melompat turun dari sana.
BRAK
Mobil yang ditumpangi Alvard dan Alexa berhenti untuk membiarkan Luca kembali masuk. Lalu mereka kembali melaju hingga sampai di mansion utama.
Di depan pintu utama, Hunt berdiri untuk menyambut kedatangan anaknya yang sudah satu minggu tidak ada di mansion. Saat mobil berhenti tepat di depan pintu, Hunt membantu Luca untuk menggendong Alexa yang masih tertidur.
"Apa kau memberikan dosis tinggi?" tanya hunt.
"Tidak, Tuan. Aku hanya memberikan dosis rendah seperti biasa," jelas Luca.
"Lalu kenapa ia masih terlelap dan belum sadarkan diri?" tanya Hunt yang kini sudah terlihat kesal.
Hunt menggendong tubuh anaknya itu hingga masuk ke dalam mansion, dan berakhir di kamar pribadi Alexa. Hunt merebahkan tubuh putrinya di atas ranjang, lalu mengecup kening gadis itu.
Hunt menatap tajam pada Luca dan Alvard yang masih setia berdiri di ambang pintu. Mereka nampak takut untuk masuk ke dalam kamar itu selama Hunt ada di sisi gadis itu. Namun, tidak lama setelah itu, Paula datang dengan membawa nampan yang berisi makanan untuk Alexa.
"Apa kalian tidak ingin sedikit membuka jalan untukku?" tanya Paula.
Terkejut dengan suara yang mereka kenal, keduanya akhirnya menyingkir dari sana dan memilih untuk menunggu di luar kamar.
"Apa kau membuat mereka takut?" tanya Paula pada Hunt.
"Tidak, mereka sendiri yang ketakutan saat melihat aku, sayang," ujar Hunt.
"Benarkah? tetapi kenapa aku tidak melihat seperti itu," sahut Paula.
"Aku sedang tidak ingin berdebat dengan dirimu, sayang. Aku hanya sedang membuat mereka mengetahui kesalahannya, kau lihat sekarang? Anakku masih tertidur dan belum sadarkan diri," uajr Hunt.
"Jangan melebih-lebihkan ,Hunt! Alexa kelelahan karena memang perjalanan yang mereka tempuh tidak sebentar," terang Paula.
"Kau selalu membela mereka!" celetuk Hunt.
"Ehm ... Dad, Mom ... kalian sangat berisik, ada apa ini?" tanya alexa yang baru saja sadar.
"Tidak ada ,sayang. Mommy hanya membawakan dirimu makanan untuk memulihkan keadaanmu saja," jelas Paula.
"benarkah? Aku sudah sangat lapar ,Mom. Berikan padaku makanan itu," ujar Alexa dengan penuh semangat.
Setelah memberikan makanan itu pada Alexa, Hunt memilih untuk berdiri lalu beranjak dari sana. Hunt melangkah keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pun, pada Alexa dan juga paula.
Saat berada di depan kamar, Hunt melihat dua anak laki-laki sedang berdiri dengan posisi siap. Hunt menyuruh keduanya untuk mengikuti langkahnya menuju ruang kerja. Sampia di ruang kerja Hunt, ia ingin tahu apa saja yang dilakukan Alexa saat berada di mansion milik Darren. Tentu saja Luca dengan senang hati menceritakan semua kegiatan yang dilakukan Alexa di sana. Tidak hanya itu juga, Luca juga memberitahu soal bisnis Darren yang berkembang pesat bersama beberapa perusahaan ternama di Amerika.
Usai bercerita pada Hunt, mereka akhirnya kembali ke mansion selatan. Tempat dimana mereka tinggal. Hunt sengaja menyuruh keduanya untuk kembali ke mansion selatan, agar mereka bisa beristirahat dari tugas yang terlihat mudah, tetapi penuh perjuangan. Karena tidak sedikit orang yang ingin menghancurkan Camorra dan ingin membunuh semua orang yang berurusan dengan Camorra.
Hunt duduk dengan wajah sedikit khawatir, pasalnya Alexa ingin melakukan perjalanan ke seluruh dunia. Ya, keinginan saat ia masih berada di Italia untuk menjalankan pengobatan karena virus nipah.
Ceklek
Pintu ruang kerja Hunt terbuka, dan dari baliknya muncul Paula. Wanita itu kini melangkah mendekati suaminya , lalu berakhir di atas pangkuan Hunt. Paula membelai wajah Hunt yang memiliki sedikit bulu halus pada bagian dagunya.
"Hunt, apa yang kau pikirkan saat ini? Kenapa wajahmu terlihat begitu serius? tanya Paula tidak mengerti.
"Tubuhmu."
Paula mengerutkan keningnya, dan mencoba mencerna ucapan suaminya itu. Setelah sadar dengan ucapan Hunt, Paula melumat bibir pria itu dengan lembut. Hunt yang menerima ciuman itu, tangannya menekan tengkuk Paula untuk memperdalam ciuman mereka. Hunt yang tidak ingin kalah dari istrinya, kini ia menjulurkan lidahnya hingga masuk ke dalam rongga mulut Paula. Lidah itu mengabsen tiap deretan gigi milik istrinya, mereka juga saling bertukar saliva agar semakin menaikkan gairah.
Tangan Hunt kini berhasil menelusup masuk ke dalam pakaian Paula. Tentu saja Hal itu membuat Paula semakin b*******h dan ingin melanjutkan aksinya.
"Ahh," desah Paula saat Hunt meremas dadanya.
Hunt menekan tombol yang berada di meja kerjanya, hingga sebuah pintu rahasia terbuka dari belakang meja kerja itu. Hunt menggendong tubuh istrinya untuk masuk ke dalam ruangan yang memiliki pencahayaan remang-remang itu.
"Kau sungguh menggoda, Sayang," ujar Hunt.
"Benarkah? Jika memang begitu, mari kita lakukan hingga kau merasa puas," ujar Paula dengan tersenyum miring.
Hunt yang mendengar ucapan istrinya hanya bisa menyeringai, dan semakin mempercepat langkahnya agar bisa sampai di sebuah ruangan rahasia yang ada di sana.