Semua kembali normal, setelah kedatangan Luca beberapa hari lalu. Hunt menempatkan Luca dan Alvard untuk berada di sisi Alexa. Selama berada di mansion, Alexa selalu ditemani oleh kedua anak laki-laki itu.
Pagi ini, Alexa masih setia berada di atas ranjangnya. Ia menutup tubuhnya dengan selimut ,dan meringkuk seperti menahan sakit pada bagian perutnya. Saat ini, Paula dan Hunt sedang berada di pulau Camorra untuk berlibur. Sementara Darren baru saja tiba di mansion beberapa detik lalu.
BRAK
Pintu kamar Alexa terbuka dengan sangat keras. Tiga anak laki-laki masuk untuk membangunkan putri tidur itu.
"Al, sudah siang, kenapa kau belum juga bangun?" Tanya Darren yang akhirnya melompat ke atas ranjang.
"Nona, ayo bangun. Apa perutmu tidak terasa lapar?" sambung Luca yang kini berdiri di tepi ranjang.
"Tuan Putri, segeralah bangun ... atau aku akan menggendongmu untuk sampai di ruang makan!" tambah Alvard.
Alexa tidak menggubris ketiganya, ia masih meringkuk kesakitan di atas ranjang. Ketiganya saling menatap dan memberi isyarat untuk membuka selimut yang menutup tubuh Alexa.
Setelah aba-aba yang diberikan oleh Darren, akhirnya Luca menarik selimut itu, dan menampakkan Alexa dengan pakaian tidurnya yang berwarna putih sedang memegang bagian perutnya.
Mata Darren membulat melihat noda darah di sekitar pinggang Alexa, sementara Alvard dan Luca kini menggoyangkan tubuh Alexa, dan berharap gadis itu memberitahu tentang apa yang terjadi pada dirinya.
"Bodoh!" celetuk Darren yang akhirnya langsung menggendong tubuh Alexa untuk di bawa ke laboratorium.
"Kakak," rintih Alexa.
"Diam! Aku akan membawamu ke laboratorium!" ujar Darren.
Alexa hanya terdiam ,meringis menahan nyeri pada bagian perutnya. Sementara Luca dan Alvard mengekor pada Darren. Hingga sampai di laboratorium, Darren mencari keberadaan Candy, tetapi wanita itu tidak ada di sana.
"Siapa yang melakukannya?" tanya Darren.
"Ugh ... me-lakukan apa?" tanya Alexa tidak mengerti.
"Lihatlah! Kau mengalami pendarahan, apa yang terjadi?"
Darren masih terus menghujani pertanyaan pada Alexa. Sementara Luca dan Alvard ikut memeriksa semua CCTV yang terhubung pada kamar Alexa. Tetapi mereka tidak menemukan siapapun selain diri mereka sendiri yang memang selalu berada di dekat kamar itu.
"Apa kalian sudah mendapatkan sesuatu?" tanya Darren.
"Belum, kami tidak melihat siapapun mendekati kamar Alexa, selain kami," jelas Luca.
"Cepat katakan! Siapa yang melakukan semua ini padamu!"
"Kakak, a-aku sedang ...."
"Nona, sebaiknya kau katakan pada kami, saat ini kami sangat khawatir pada keadaanmu. Kau baru saja sembuh dari penyakit nipah," ujar Luca.
"Biar aku yang memeriksanya," ujar Alvard yang akhirnya melangkah mendekat pada Alexa.
"Kalian ini kenapa ? Aku sedang mengalami periode," ujar Alexa menahan nyeri.
"Apa itu?" tanya Darren dan Luca bersamaan.
"Tuan Putri, apa kau membutuhkan bantuan untuk mengganti pakaian dalammu?" tanya Alvard dengan wajah tanpa dosa dan senyuman yang sulit diartikan.
Darren memukul kepala Alvard dengan keras hingga terjatuh di atas perut Alexa. Dengan cepat Luca menarik pakaian Alvard dari belakang ,dan melemparnya hingga terbentur dinding.
BRAK
"Akh!" pekik Alvard.
Alexa turun dari atas ranjang, lalu berjalan perlahan menuju pintu keluar. Luca meraih tubuh Alexa lalu menggendongnya. Luca berjalan menuju kamar Alexa, seperti yang diinginkan gadis itu.
"Luca, aku ingin ke kamar mandi. Turunkan aku sekarang, aku akan membersihkan tubuhku sendiri," ujar LAexa.
Luca menurunkan Alexa dengan perlahan, lalu ia melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Luca memerintahkan pada asisten rumah untuk membersihkan ranjang Alexa dengan segera. Sehingga saat alexa keluar dari kamar mandi, ia bisa langsung merebahkan tubuhnya di sana.
"Dimana Al?" tanya Darren pada Luca.
"Nona sedang berada di dalam kamar mandi," jelas Luca.
"Darren, ada yang menghubungi aku ,ia bertanya tentang dirimu," ujar Alvard tiba-tiba.
"Siapa?" tanya Darren.
"Namanya Bianca, sepertinya ia melihatmu saat menghadiri pesta di tempat Julio beberapa waktu lalu," jelas Alvard.
"Aku tidak mengenalnya, dan tidak ingin dekat dengan wanita manapun!" ujar Darren dengan tegas.
"Dasar! Lalu siapa yang akan mau dengan pria seperti dirimu?" sahut Luca.
"Alexa," jawab Darren.
"Kau sungguh gila? Alexa bahkan adik kandungmu ,bodoh!" ujar Alvard kesal.
"Aku tahu, aku memang tidak bisa memilikinya, tetapi aku bisa selalu berada di sisinya," ujar Darren.
Ceklek
Alexa keluar dari dalam kamar mandi, ia hanya mengenakan handuk yang menutup sebagian tubuhnya. Dan hal itu membuat ketika anak laki-laki itu menelan ludahnya kasar.
"Ada apa dengan kalian?" tanya Alexa.
"Tidak. Cepat kenakan pakaianmu, Al."
" Iya, sebentar."
Alexa berjalan masuk ke dalam walk in closet, ia memilih pakaian yang terlihat santai tetapi tetap memancarkan kecantikannya. Setelah selesai mengenakan pakaiannya, Alexa keluar dari sana dan melihat ketiga orang itu masing-masing sibuk dengan ponsel di tangannya.
"Apa kalian tidak ada pekerjaan lain?" tanya Alexa.
"Tidak," jawab ketiganya bersamaan.
"Aku lapar, apa kalian akan menemani aku makan?
"Ya," jawab ketiganya lagi.
"Apa sekarang kalian sudah menjadi sahabat?" tanya Alexa.
"Tidak."
"Kalian melakukannya lagi secara bersamaan, kalian yakin ?"
Setelah perdebatan singkat itu, akhirnya mereka menuju ruang makan untuk sarapan. Darren selalu berada di sisi kanan Alexa, sementara Luca dan Alvard berada di belakang keduanya. Setelah sampai, mereka akhirnya duduk bersama dan ikut menikmati hidangan pagi itu.
"Ikut aku ke mansion setelah ini," ujar Darren.
"Kenapa?" tanya Alexa.
"Aku ingin melakukan sesuatu bersamamu."
"Aku ikut!" sahut Luca.
"Aku juga!" tambah Alvard.
"Kalian tidak di undang! Aku tidak mengizinkan kalian datang ke mansion milikku!"
"Cih, dasar kau ini!" celetuk Alvard.
"Mereka semua ikut!" ucap Alexa.
"Yess."
Darren terlihat kesal karena adiknya itu mengizinkan kedua saingannya ikut ke mansion Fjord. Akhirnya Darren membawa Alexa dengan menggunakan mobil miliknya ,bersama Cloud yang berada dibelakang kemudi. Sedangkan Luca dan Alvard berada di belakang mobil Darren.
Selama perjalanan, Alexa tidak terlalu banyak berbicara. Ia justru memilih untuk memejamkan matanya dengan tidur di pangkuan Darren.
"Hei, apa kau masih merasakan nyeri?" tanya Darren.
"Sedikit. Tidak terlalu sakit lagi," ujar Alexa.
"Kalau begitu, tidur saja. Aku akan membangunkanmu jika sudah sampai," ujar Darren.
"Kau memberikan obat bius padaku, apa ada musuh?" tanya Alexa yang langsung memejamkan mata setelah mengucapkan kalimatnya.
"Ya, maaf sudah membuatmu dalam masalah."
Darren menghubungi Alvard dan Luca melalui earpiece yang terpasang pada telinga kanannya.
"Musuh ada tepat di belakang kalian, apa kalian bisa mengatasinya?" tanya Darren.
"Mereka terlalu banyak, apa cyborgmu sedang berlibur?" jawab Luca.
"Aku akan membawa Alexa pergi, sampai bertemu di mansion," ujar Darren.
"Cih! Dasar! Pantas saja ia tidak terlalu ribut saat kita ikut," gerutu Alvard.
Cloud melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hingga mobil itu tidak lagi dalam pengawasan musuh.
***
Perlahan mata Alexa terbuka, gadis itu merasa berat pada bagian perutnya. Saat melihat ke samping kanannya, Darren terlihat tertidur dengan sangat tenang. Hal itu membuat Alexa sedikit tenang, tetapi beberapa saat kemudian, ia teringat dengan Luca dan Alvard yang juga berada di sana.
"Kakak, cepat bangun!" ujar Alexa.
"Hmm? Ada apa?" tanya Darren.
"Dimana Luca dan Alvard?"
"Mereka ...."
BRAK
Pintu kamar Darren terbuka dengan sangat keras, sehingga membuat keduanya terkejut. Darren menyeringai melihat kedua laki-laki itu masuk dengan wajah yang penuh emosi.
"Kenapa kalian mengganggu kami?" tanya Darren dengan seringaiannya.
"Nona ... kau baik-baik saja?" tanya Luca tanpa menghiraukan Darren.
"Aku baik-baik saja, Luca. Bagaimana dengan kalian berdua? Apa kalian baik-baik saja?"
"Ya, kami baik-baik saja. Hanya saja supir yang membawa kami mati karena serangan dari musuh," jelas Alvard.
"Apa?" seru Alexa.
"Siapa mereka?" tanya Luca pada Darren.
"Entahlah, Cloud sedang fokus menyetir, ia tidak bisa memindai siapa musuh yang berani menyerang kita," jelas Darren.
"Kakak!" teriak Alexa.
Sontak ketika laki-laki itu mendekat pada Alexa. Mereka kini terlihat panik saat Alexa tiba-tiba meringkuk seperti menahan sakit lagi.
"Al," panggil Darren.
"Apa di sini ada sesuatu yang bisa aku gunakan?" tanya Alexa.
Ketiganya saling menatap, mereka merasa bingung dengan ucapan Alexa.
"Al, bicara yang jelas. Kami tidak tahu apa yang kau butuhkan?"
"Kalian para laki-laki yang tidak berguna!" celetuk Alexa.
"Tuan Putri, apa kau tidak membawanya?" sahut Alvard yang sepertinya mengerti dengan ucapan Alexa.
"Tidak, aku melupakan hal itu."
Luca dan Darren menatap tajam pada Alvard, mereka juga ingin tahu apa yang Alexa butuhkan saat ini. Alvard yang mengerti dengan tatapan kedua rivalnya itu meraih ponsel dari saku celananya, Alvard menunjukkan suatu gambar pada keduanya.
"Ini yang dibutuhkan Alexa saat ini," ujar Alvard.
Darren mengangguk mengerti, kini ia menyuruh seorang mutan yang masih terlihat seperti manusia normal untuk mendapatkan apa yang Alexa butuhkan. Kini mereka menunggu sampai mutan itu datang membawa apa yang Darren perintahkan.
"Kakak, sakit."
Mendengar keluha Alexa, Darren memeluk adiknya dari belakang. Ia membantu Alexa dengan mengusap bagian perutnya yang terasa nyeri.
"Apa sudah lebih baik?" tanya Darren.
"Ya, lanjutkan. Aku akan berbaring dan menutup mata, aku harap kalian tidak baku tembak disini," ujar Alexa.
"Atau apa?" sahut Luca.
"Atau aku yang akan menembak kalian bertiga, dan akan aku suruh Cloud untuk menjadikan kalian bertiga sebuah cyborg," ungkap Alexa yang terlihat kesal.
"Kami akan mencoba sebaik mungkin untuk tidak baku tembak di hadapanmu, Nona," jawab Luca.
Akhirnya Luca dan Alvard duduk di sofa yang ada di dalam kamar itu. Sementara Darren masih mengusap perut Alexa perlahan hingga gadis itu terlelap di dalam alam mimpinya.
Beberapa saat kemudian, seorang mutan datang membawa pesanan Darren. Ketiga orang di sana menatap mutan itu dengan wajah penuh tanya. Darren yang melihat mutan itu kini merasa sangat emosi.
"Apa kau membeli seluruh isi toko itu?" tanya Darren.
"Tuan Muda, kau tidak memberitahu, aku harus membeli seberapa banyak," jawab mutan itu.
"Siapa namamu?" tanya Alvard.
"Aku Jiro, Tuan."
"Jiro, kau tidak salah ... Tuan Muda memang terlalu ceroboh saat menyuruhmu, Baiklah, sekarang letakkan satu bungkus benda itu di sini, lalu sisanya kembalikan ke toko tadi," jelas Alvard.
"Tapi ,Tuan ... aku tidak yakin toko itu akan mengembalikan uangnya," ujar Jiro.
Luca terlihat terkekeh mendengar ucapan mutan itu. Sementara Darren sudah tidak ingin berbicara apapun pada Jiro.
"Tidak apa, sebaiknya kau kembalikan saja. Lagipula dengan kehilangan uang yang jumlahnya tidak seberapa itu, pasti Tuan Muda tidak akan keberatan. Benarkan?" ujar Alvard.
"Baiklah ,Tuan."
Jiro meletakkan satu bungkus pembalut di atas meja, sementara sisanya ia bawa kembali ke toko tempatnya membeli semua itu. Setelah kepergian Jiro, Luca tertawa dengan keras, diikuti oleh Alvard yang kini memegang perutnya karena keram.
"Apa yang kalian tertawakan?" tanya Alexa yang sudah terbangun lagi.
"Tidak ada ,Nona. Ini yang kau inginka," ujar Luca sembari memberikan pembalut itu.
"Terima kasih, Luca."