Miniera - 3

1688 Words
Tiga bulan berlalu, Alexa merasa bosan karena Hunt masih belum mengizinkan dirinya untuk pergi berkeliling dunia. Ia sedang membolak balikkan ponsel di tangannya, laluterbesit pikiran untuk berkunjung ke mansion Fjord milik Darren. Alexa segera beranjak dari kamarnya menuju ruang kerja Hunt. "Daddy, bolehkah aku pergi ke mansion kakak?" tanya Alexa. "Tidak biasanya kau ingin bertemu kakakmu, apa sudah cukup lama anak itu tidak datang mengganggu dirimu?" tanya Hunt. "Kakak sudah tiga bulan tidak datang kemari, mungkin ia sangat kesal dengan perkataanku waktu itu," jelas Alexa. "Kalau begitu bawa Kakakmu kemari," ujar Hunt. "Siap, Dad." Alexa berlari mencari Zeon untuk menemani dirinya ke mansion milik Darren. "Zeon, antar aku ke mansion kakak." "Baik, Nona." Alexa masuk ke dalam mobil ,sementara Zeon juga sudah siap di bagian kemudi. Akhirnya mereka melaju menuju mansion Fjord hanya berdua saja. *** Mansion besar itu terlihat begitu sepi, karena hanya Darren yang tinggal di sana. Meski terlihat ada banyak cyborg, tetapi mereka hanya aktif jika ada pergerakan dari manusia. Sebuah mobil Range Rover masuk ke dalam halaman mansion, secara otomatis para cyborg itu bergerak termasuk Cloud. Mereka mendekati mobil itu, dan memastikan siapa yang datang. "Nona ... kenapa anda berada di sini?" tanya Cloud pada Alexa. "Dimana kakak?" tanya alexa. "Ia ada di kamarnya, sepertinya Tuan Muda masih terlelap," jelas Cloud. "Apa pekerjaannya berhasil? Karena jika tidak, aku akan memukul kepalanya yang bodoh itu," celoteh Alexa. "Tentu saja berhasil ,Nona." "Aku akan masuk dan menemui kakak." Alexa berjalan masuk ke dalam mansion sendiri, tanpa ada yang mengantar, gadis itu sudah mengetahui letak kamar Darren. Alexa membuka pintu kamar itu lalu melihat Darren masih di atas ranjang. Alexa menarik selimut Darren dengan paksa, Ia berusaha membangunkan kakaknya dengan keras. "Hai, ayolah ... kenapa kau masih tertidur?" tanya Alexa. Gadis itu kini melangkah mendekati Darren. Ia merasa aneh dengan Darren yang hanya terdiam saat ada yang mengganggunya. Alexa mengulurkan tangan menyentuh bagian kening Darren. "Akh! Panas!" pekik Alexa yang terkejut dengan suhu tubuh kakaknya. "Ehm," gumam Darren. "Dasar bodoh! Sebenarnya apa yang kau buat hingga tidak pulang ke mansion selama tiga bulan ini." Alexa memanggil Cloud untuk membawa dokter pribadi Darren ke kamarnya. Kini ia duduk di tepi ranjang dengan menyentuh tangan Darren. "Hei, aku memang marah saat kau mengatakan hal itu. Tetapi aku sadar, kau adalah kakak yang paling baik, terima kasih karena sudah menjaga aku dan melindungi aku hingga aku masih bisa bernapas sampai saat ini," ujar Alexa. Gadis itu tidak peduli jika Darren tidak mendengarkannya. Ia hanya ingin menumpahkan isi hatinya beberapa bulan ini karena merasa kesepian di mansion. Beberapa menit kemudian, Cloud datang bersama dokter. Alexa beranjak dari tempatnya dan sedikit mengambil langkah mundur. Sementara itu dokter tengah memeriksa detak jantung, dan juga suhu tubuh Darren. Wajah dokter itu terlihat datar, hingga Alexa kebingungan untuk menebak. "Bagaimana kondisi kakak?" tanya Alexa. "Tuan Muda hanya kelelahan dan kurang asupan makanan, aku akan memberikan cairan infus hingga kondisinya kembali," terang Dokter. "Ya, berikan yang terbaik untuk kakak. Aku tidak ingin hal buruk menimpanya." "Tenang saja ,Nona. Tuan Muda adalah orang yang kuat," ujar Dokter. Setelah selesai memeriksa Darren, dokter itu pergi dari sana ,dan meninggalkan Alexa bersama Darren. Gadis itu kembali duduk di tepi ranjang, ia mengusap wajah Darren lalu mencium keningnya. "Kau siapa?" tanya seorang lelaki. Merasa mengenal suara itu, Alexa menengok ke asal suara. Matanya membulat melihat siapa yang kini berdiri di hadapannya. "Lu-luca," panggil Alexa lirih. Gadis itu berdiri, ia melangkah menghampiri lelaki itu. Tanpa permisi, tangannya menyentuh wajah lelaki yang ia kenal sebagai Luca. Rasa tidak percaya kini menyelimuti dirinya, air mata bahagia mengalir dari matanya. "Luca?" ucap lelaki itu mengulang. "Apa kau melupakan aku?" tanya Alexa. "Maaf ,Nona. Aku bahkan tidak tahu siapa diriku, setidaknya aku mengingat jika seharusnya aku sudah mati," ujarnya. "Ka-kau adalah Luca, anak Paman Gary, dan Tante Irina. Kau adalah kakak angkatku," jelas Alexa. Gadis itu memeluk tubuh Luca yang sudah ia rindukan selama ini. Aroma tubuh Luca terasa berbeda, tidak seperti saat mereka masih bersama. "Luca ... apa yang terjadi padamu?" tanya Alexa. "Entahlah, Nona. Apa kau ingin membantu aku untuk mengingat semuanya?" tanya Luca. "Tentu saja, dan aku juga ingin meminta penjelasan pada kakak setelah ia sadar," ujar Alexa. Kedua orang itu kini keluar dari kamar Darren, mereka menuju ruang santai dan duduk bersama disana. Sementara itu, Cloud menggantikan Alexa untuk menjaga Darren di kamar. "Kau harus kembali ke mansion, dan kembali menjaga aku. Selama kau pergi, Zeon yang menggantikan dirimu," jelas Alexa. "Nona, jika aku tidak dapat mengingatmu lagi, bisakah aku terus berada di sisimu?" tanya Luca. "Tentu saja, kau adalah milikku! Tentu saja kau bisa terus berada di sisiku!" ujar Alexa. Alexa merasa sangat lega dengan kembalinya Luca, setelah itu Alexa kembali ke kamar Darren untuk memastikan kondisi anak laki-laki itu. "Kakak, apa yang kau lakukan pada Luca selama ini?" gumam Alexa sembari memegang tangan Darren yang terasa panas. "Ehm." "Kakak." "Al ... apa yang kau lakukan di sini?" tanya Darren yang terlihat terkejut dengan kedatangan adiknya. "Daddy ingin kau pulang ke mansion, tetapi sepertinya keadaanmu saat ini tidak memungkinkan," celoteh Alexa. "Apa kau bertemu dengan ... Luca?" Suara Darren hampir tidak terdengar saat menyebut nama Luca. "Ya, aku sudah bertemu dengan Luca." Darren terdiam, wajahnya terlihat sedikit kecewa. Sementara Alexa menantikan penjelasan dari Darren mengenai kemunculan Luca di sana. "Kak, aku menunggu penjelasan darimu, jika kau tidak ingin menjelaskannya saat ini, maka aku akan langsung membawa Luca kembali ke mansion." "Baiklah, aku akan menjelaskannya." Darren mengambil posisi setengah duduk, ia mengatur napasnya terlebih dahulu.  "Awalnya semua ini adalah rencana Cloud dengan Luca. Anak itu mempercayakan hidupnya padaku, karena ia ingin aku memperbaiki chip yang sudah membunuhnya. Aku sudah berusaha selama tiga bulan ini, hingga kemarin akhirnya Luca sadarkan diri," jelas Darren. "Terima kasih." "Untuk apa? Aku sudah berbohong pada semuanya tentang kematian Luca, jika Daddy tahu ... ia pasti akan langsung menghukum aku," celoteh Darren. "Tenanglah, ikut sertakan aku ke dalam rencana ini, aku akan membantumu menjelaskan semua ini pada Daddy," cetus Alexa. "Kau yakin?" "Ya, untuk Luca. Aku melakukan semua ini untuk Luca," ujar Alexa. "Baiklah, terserah kau saja." Alexa melihat Luca yang berdiri di pintu, melihat mereka dengan tatapan bingung. Akhirnya gadis itu berjalan mendekati Luca, meraih tangannya lalu mengajaknya untuk duduk di sofa.  "Apa kau ingin bertanya?" tanya Alexa. "Ya." "Baiklah, aku akan berusaha menjawab sebisaku, silakan bertanya,Luca," ujar Alexa. "Nona ... apa kita begitu dekat? Karena aku merasa jika sedang bersamamu, suasana hatiku terasa tenang, dan nyaman." "Ya, kita dibesarkan bersama, dan selalu bersama kemanapun berada," jelas Alexa. Wajah Luca masih memancarkan ketidaktahuan siapa dirinya. Perlahan, Alexa memegang tangan Luca, diletakkannya tangan itu pada wajah Alexa. "Coba kau ingat kembali, kau tidak perlu mengingat semuanya, mulailah untuk mengingat siapa aku," ujar Alexa. "Baiklah." Darren yang berada di atas ranjang terlihat sedikit memanas dengan gerakan yang sedang dilakukan oleh Luca dan Alexa.   "Alexa ... Al ...." "Kau ingat siapa aku?" tanya Alexa lirih. Luca memejamkan matanya sesaat lalu ia kembali membukanya. Matanya menatap dalam pada wajah cantik gadis di hadapannya. Bibirnya terasa ingin mengatakan sesuatu pada Alexa. "Ya, aku mengingat kau ... adikku yang kucintai," celetuk Luca sembari tersenyum. Alexa tersenyum menyambut kembalinya ingatan Luca. Ia memeluk Luca dengan erat ,membuat Darren harus berdeham beberapa kali untuk memisahkan mereka. "Kau sangat mengganggu!" ucap Luca. "Dan kau sungguh mutan yang tidak tahu terima kasih," celetuk Darren. "Dan kalian semua sungguh laki-laki yang selalu menyebalkan di depanku!" sahut Alexa. Darren turun dari ranjang, lalu berjalan menuju meja tempatnya menyimpan sebuah obat pemulih stamina buatannya sendiri. Seketika Darren kembali pada kondisi primanya, ia melompat beberapa kali untuk memastikan kondisinya.  "Kakak, apa yang kau lakukan?" tanya Alexa. "Mengobati diri sendiri," ujar Darren. "Apa? Kenapa tidak kau lakukan sejak tadi?" tanya Alexa. "Karena aku ingin melihat seberapa khawatir dirimu padaku." "Apa?" Alexa terlihat sangat kesal dengan sikap kakaknya. Ia memilih memalingkan wajahnya dan tidak menggubris Darren. Sementara Luca hanya menyeringai melihat kedua saudara itu bertengkar. "Luca, ayo kita kembali ke mansion!" ajak Alexa. "Hei, ingat! Kau kemari untuk menjemput aku," sahut Darren. "Kau bisa kembali sendiri ke mansion, jika tidak , akan kupastikan Daddy mengirim paman Reon kemari," ujar Alexa. Alexa menarik tangan Luca dan pergi dari sana. Mereka masuk ke dalam mobil berwarna hitam yang dikendarai Zeon.  "Zeon, kita kembali ke mansion." "Baik ,Nona." Zeon menatap Luca dengan bingung, ia tidak percaya dengan apa yang ada di hadapannya saat ini. Sementara Alexa duduk di bangku belakang bersama Luca, ia sangat menikmati kebersamaannya itu. "Al, apa virus itu sudah keluar dari dalam tubuhmu?" tanya Luca. "Aku sudah dinyatakan sembuh setelah menjalani serangakaian pengobatan di Italia bersama Black Eagle," jelas Alexa. "Tuan Sean?" "Ya, Paman Sean membantu aku untuk bisa sembuh dari virus yang sudah bermutasi itu," tambah Alexa. "Syukurlah." "Kau masih ingat semuanya?" tanya Alexa. "Kau menyuruhku mengingat semua tentang dirimu, kenapa kau masih bertanya," ujar Luca. "Aku hanya ingin memastikan," ucap Alexa. Alexa mendekatkan dirinya pada Luca, kepalanya bersandar bahu anak laki-laki itu. Selama perjalanan, mata Alexa terpejam hingga ia tidak tahu sudah berapa lama terlelap. Dan akhirnya mereka memasuki halaman mansion.  Para penjaga merasakan aura orang lain selain Alexa dan juga Zeon, hal itu membuat mereka mendekat dan mengerumuni mobil itu. Reon yang melihat dari CCTV ikut turun tangan agar tidak terjadi kekacauan di sana. "Ada apa ini?" tanya Reon pada Cyborg bernama Roger. "Orang asing, ia seorang mutan," jelas Roger. Alexa membuka pintu dan turun dari mobil. Dari belakangnya kini keluar Luca dengan tatapan tajam pada cyborg yang terlihat akan menyerangnya. "Luca!" seru Reon. "Paman, suruh mereka mundur! Luca kita sudah kembali," jelas Alexa. "Alexa, ada apa ...." Ucapan Hunt terhenti saat ia melihat sosok Luca berada di belakangnya. "Daddy, suruh mereka semua mundur!" teriak Alexa. "Reon," panggil Hunt. Reon menarik mundur para cyborg itu, akhirnya mereka mengizinkan Luca masuk. Hunt membawa mereka ke ruang kerjanya, dan juga memerintahkan Reon untuk memanggil Gary dan Irina. Saat semua sudah berkumpul di ruangan itu, Alexa mulai menceritakan semuanya. Alexa juga memberitahu usaha Darren yang ingin membuat Luca kembali hidup. Setelah selesai dengan ceritanya, Alexa melihat wajah Luca yang nampak bingung. Karena hanya Alexa saja yang saat ini ada di kepalanya. "Luca ... kau tidak mengenali aku?" tanya Irina. "Apa kau ibuku?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD