part 1

1368 Words
"lana...sampai kapan kau akan mempermalukan keluarga hah...?"bentak pedro sang ayah saat ia mendapat panggilan dari dosen pembimbing lana yaitu daniel. "papa..lana hanya.." "tutup mulutmu s**l-"saat pedro akan mengangkat tangannya untuk menampar lana dengan cepat daniel menahan tangan pedro. "maaf tuan ini bukan arena ring tinju jadi saya mohon bersikaplah layaknya orang yang berpendidikan.." "kau.."pedro segera mengibaskan tangan daniel dengan sangat kasar lalu kembali berkata"berani-beraninya kau menghinaku..!!" Daniel tersenyum sinis mendengar ucapan pedro dan dengan sangat santainya ia berdesis"tuan...saya mengundang anda kemari hanya ingin memberitau anda jika anak anda lana mendapatkan nilai yang sempurna dalam mata kuliah saya...apa anda sudah mengerti tuan...?" Mendengar ucapan daniel lana sedikit tersentak kaget"benarkah..?bukankah aku sering terlambat saat mata kuliahnya"batin lana tidak percaya. "benarkah...?apa anda tidak salah mr..?"tanya pedro tidak percaya mendengar ucapan daniel pasalnya ia tau jika lana hanya bisa membuat ulah dan sering malas masuk kampus. "benar tuan...jadi saya harap anda jangan terlalu memandang rendah anak anda.."ucap daniel. "saya harap anda bisa membimbing anak saya lebih giat lagi dan saya minta maaf jika sudah salah paham kepada anda.." "tidak apa tuan...saya mengerti..." Pedro segera berpamitan setelah mendengar penjelasan daniel yang cukup membuatnya puas bahkan sangat puas. ** Setelah kepergian papanya lana segera menutup pintu ruangan daniel dan segera berlari menghampiri daniel yang duduk diatas kursi kebesarannya sambil menatap layar ponselnya. "mr...apa kau bercanda dengan ucapanmu...?"tanya lana tidak semakin percaya. "ya...kau benar...aku bercanda.."dengan entengnya daniel menjawab tanpa menatap lana,ia masih tetap asik dengan layar ponselnya seakan tidak ada seorangpun didekatnya. Melihat tingkah daniel yang seenaknya lana segera mengambil ponsel daniel lalu berkata dengan sangat sinis"kau memang dosen pembimbingku tapi kau tidak ada hak mencampuri kehidupanku...kenapa kau berbohong...hah..?" Daniel masih tetap diam sambil terus mencengkram sandaran tangan dikursinya ia berdesis"apa kau memang ingin ditampar oleh papamu..?aku hanya berusaha melindungi bocah.." "aku tidak butuh bantuanmu mr..asal kau tau..dengan cara seperti inilah kau membuatku semakin muak...!!aku tidak mau papa semakin membebaniku..." "seharusnya kau bangga dengan prestasi yang bisa kau banggakan didepan papamu.." "tidak...aku tidak pernah bangga dengan kebohongan..." Daniel tersenyum sinis lalu berdiri sambil menggebrak meja"maka dari itu tunjukan jika kau bisa berprestasi.." Meski sedikit tersentak kaget lana dengan percaya dirinya menatap mata daniel"bukan urusanmu aku berprestasi atau tidak...!!sebaiknya kau diam saja jika tidak tau apa-apa...!!cukup diam tanpa berkomentar ..bukankah pihak kampus hanya taunya aku bayar tepat waktu...jadi cukup diam dan jangan menjadi sok pahlawan.." Sambil terus menahan airmatanya lana menarik tangan daniel dan menyerahkan ponsel milik dosennya"cukup diam dan banyak komentar mr...aku benci jika ada orang sok ikut campur urusan pribadi saya.." "lana..."daniel berteriak saat mendengar lana yang menutup pintu ruangannya dengan sangat keras. Apa yang sebenarnya terjadi padamu bocah..??tanya daniel dalam hati namun ia tidak mau ambil pusing,ia segera mengambil berkas dan tas kerjanya lalu melangkah keluar. ** "amma...amma...kau dimana..?"daniel berteriak saat melihat kondisi rumah yang sepi namun tidak terkunci. Dengan sangat tergesa amma segera berlari dari teras belakang mendengar tuannya memanggil namanya"maaf tuan...saya sedang mencuci jadi tidak tau jika tuan datang..." Daniel menyerahkan tas kerjanya kepada amma sebelum melangkah keatas ia bertanya kepada amma keberadaan istrin dan anaknya"dimana rendra dan selyna...?" "nona selyna pergi pertemuan. Tuan dan tuan muda rendra dititipkan dirumah granma..." "baiklah..terimakasih amma...aku akan segera menjemput rendra...sebaiknya kau siapkan makan malam untuk kami amma.."daniel mengurungkan niatnya untuk menaiki anak tangga ia segera mengambil kembali kunci mobilnya dan segera keluar dari rumahnya. Kenapa kau tidak kunjung berubah selyna..!!dengus daniel kesal.      “mam...dimana rendra..?”tanya daniel saat ia baru saja masuk kerumah mamanya dan mendapati mamanya yang sedang menonton tv tanpa ada rendra disampingnya. Melihat anaknya yang baru saja datang cristina segera beranjak dari duduknya lalu melangkah mendekati daniel dan memberinya pelukan terhangat”rendra ada didalam sayang...dia baru saja tertidur...” “aku akan mengajaknya pulang mam..”daniel segera melangkah meniggalkan cristin yang mengikuti langkahnya dari belakang. “dimana selyna..?apa kalian bertengkar lagi...?kenapa selyna tidak ikut denganmu..?apa dia tidak merindukan anaknya..?kenapa setiap hari selalu saja kau yang menjemput rendra..” Mendengar pertanyaan mamanya yang begitu banyak daniel segera menghentikan langkahnya tepat didepan pintu kamar rendra lalu berbalik untuk menatap mamanya”pertama...aku tidak tau dimana selyna kedua..aku sudah muak berbicara padanya ketiga dia sangat sibuk dengan teman-temnnya keempat tanyakan saja pada selyna apa dia rindu atau tidak dan kelima meski aku lelah rendra harus tetap berada dirumahku...mama...sudah jelas..!!”jawab daniel dengan sedikit rasa jengkel. “tunggu...”cristin kembali menghentikan daniel yang akan membuka kamar cucunya rendra”kenapa selyna tidak kau tegur niel...katakan padanya jangan terlalu banyak main diluar...suruh dia mengutamakan keluarga...” “mam...aku sudah bilang padamu...jika aku sudah muak berbicara kepada selyna...!!dia selalu membantah jika aku memperingatinya..!!jadi tolong jangan pernah menyuruh daniel untuk menasehatinya...” “lalu bagaimana nasib rumah tangga kalian...?” Daniel tersenyum masam mendengar pertanyaan dari mamanya”kau bertanya padaku mam..?rumah tanggaku sudah hancur...hancur mam...!!selyna sudah tidak pernah menganggapku sebagai suaminya...jika aku memperingatinya dia selalu saja melempari ku dengan benda yang ada didekatnya...bukan hanya itu selyna juga sering memukul rendra...jika aku sedang tidak dirumah..”jawab daniel dengan mata yang berkaca-kaca namun sekuat tenaga ia menyembunyikan keadàn hatinya yang benar-benar terluka karena perselingkuhan selyna. Mendengar jawaban daniel, cristina segera membekap mulutnya,ia tidak percaya jika menantu yang ia pilihkan untuk anaknya adalah wanita yang tempramental dan susah diatur”kenapa kau tidak pernah menceritakannya kepada mama..?itu tidak mungkin daniel?” “jika aku menceritakannya apa mama akan mempercayaiku...?bukankah dia wanita yang selalu mama banga-banggakan...!!” “ceraikan dia..”suara bariton dari arah belakang membuat daniel dan cristina sedikit tersentak dan menoleh keasal suara. “dad...jika aku bercerai bagaimana nasib rendra...aku tidak mau rendra kehilangan keluarga yang utuh ..” jawab daniel dengan nada yang terdengar sangat menderita. "Kau bisa mencari mama baru buat rendra.."jawab robet dengan santainya. "Sayang...bagaimana kau bisa bicara seperti itu...!!kau berdosa jika menyuruh anakmu becerai sayang..." Robet berjalan mendekati istrinya lalu mengusap rambut istrinya dengan sangat lembut"tuhan tidak akan marah jika anak kita bisa bahagia dengan wanita lain...sayang...!!!apa kau tega melihatnya begitu tersiksa..?" "No...aku tidak mau...!!maafkan mama sayang...karena mama kau jadi tersiksa...!!kali ini mama akan menerima apapun keputusanmu...!!papamu benar...jika kau tidak bahagia kau bisa mengajukan gugatan perceraian sayang..." Daniel tampak berfikir sejenak sebelum berkata"aku akan pertimbangkan mama..!!jika selyna mau berubah..aku akan mempertahankannya...tapi jika selyna lagi-lagi berselingkuh...aku akan menceraikannya..." Cristian dan robet tersenyum bahagia mendengar jawaban anaknya,mereka tidak ingin jika kehidupan rumah tangga anaknya tersiksa karena perlakuan istrinya yang tidak bisa terkontrol. Meski dalam hati critina meragukan cerita daniel,yang ia tau selyna adalah wanita yang sangat lembut dan penyayang bukan hanya itu selyan juga bukan tipe wanita yang suka berselingkuh seperti apa yang daniel ucapkan. ** "Lana...lana tunggu..." Lana menghentikan langkahnya saat namanya dipanggil,ia segera berbalik lalu menatap vianka dengan sangat tajam"ada apa hah..?kenapa kau menghentikan langkahku...?"tanya lana tak suka. Ia benar-benar tidak suka jika melihat vianka banginya vianka adalah musuh besarnya meski mereka saudara kembar lana tidak pernah menganggapnya sebagai saudara. Banginya vianka hanyalah boneka mainan bagi keluarganya,otaknya yang cerdas dan penurut membuat papanya selalu membanggakan vianka dibanding dirinya. Tapi bukan itu yang membuat lana sepenuhnya membenci vianka,jika saja vianka bisa sedikit membantah papanya mungkin lana tidak akan sebenci ini kepada vianka. Ia merasa kasihan jika melihat vianka yang selalu dimanfaatkan oleh keluarganya. Ingin  rasanya ia membawa vianka lari dari keluarga yang membosankan dan juga memuakkan baginya. "Lana...kau kenapa selalu sinis kepadaku..?apa aku mempunyai salah padamu..?"tanya vianka muram. "Benarkah seperti itu...?tidak kau tidak punya salah padaku hanya saja aku tidak suka melihat wanita yang bodoh sepertimu..."jawab lana mencibir. "Bodoh...?aku tidak sebodoh yang kau kira lana..." "Kau tidak bodoh...tapi idiot...pakek otakmu...!!kau sudah dimanfaatkan...sadarlah..." "Tidak lana...mereka tidak memanfaatkanku..."sanggah vianka. "Ah...sudahlah...!!jangan pernah menggangguku...!!pergilah...urus kehidupanmu sendiri..."lana mengibaskan tangannya keudara lalu kembali melangkah menaikki anak tangga meninggalkan vianka yang memandangnya dengan penuh kesedihan. Jika saja kau menjadi diriku lana...tentu kau akan tau kenapa aku berbuat seperti ini....aku juga sudah muak lana...hanya saja keadaan tidak mendukungku...aku berjanji lana suatu saat aku akan berbuat sepertimu... Vianka tersenyum sinis kepada dirinya sendiri lalu membalikkan badannya untuk kembali melanjtkan kuliah dan pekerjaannya. "Siapkan semuanya besok kita akan mengerjakan semuanya..."ucap vianka kepada pengawal yang selalu membuntutinya. "Baik nona..." "Dan satu lagi...jangan pernah kau membuntutiku lagi...aku muak melihat wajah kalian..."ucap vianka kesal. "Tapi nona..." Tanpa memperdulikan para pengawalnya vianka segera berlari kedalam mobil yang berada di depan terasnya. Tanpa memperdulikan para pengawal yang tertinggal vianka segera menekan pedal gas dalam-dalam.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD