Beware of what you say because your wish might come true in a split of seconds, karena ucapan adalah doa.
[Jenna Himeka Saba — Irudimena: Fantasy]
Rencananya mereka berlima memutuskan untuk pulang ke Indonesia dua hari setelah minggu ujian para duo bungsu diadakan. Mereka? Iya. Jenna dan Nasima memutuskan mengikuti saudara-saudara mereka Bella, Farahdiba, dan Mauza melanjutkan pendidikan di benua terkecil kedua setelah Australia, yaitu benua Eropa. Semenjak menjadi bagian dari Nasima bersaudara delapan tahun lalu, Jenna tidak bisa lepas sedetik pun dari mereka.
Saat ini Jenna sedang fokus mempersiapkan diri untuk ujian akhir kuliahnya di salah satu universitas Ivy League. Tempat yang sama di mana Farahdiba, Abella, dan Mauza juga mendapatkan gelar setelah menyelesaikan masa Integrated Masters di departemen mereka masing-masing persis seperti yang sedang ditempuh oleh Jenna dan Nasima sekarang. Ini adalah sebuah program di mana masa perkuliahan S1 mereka digabung dengan S2. Jadi, mereka secara efektif mengenyam pendidikan selama empat tahun lamanya. Selain itu Farah, Nasima, Abella, dan Mauza sejak awal memang memilih program yang berhubungan dengan bisnis dan manajemen sebagai persiapan untuk mengambil alih bisnis keluarga mereka. Sedangkan Jenna sendiri lebih memilih jurusan dalam bidang arsitektur dan pembangunan. Awalnya ia tak ingin mengambil alih bisnis keluarga, tapi dia hanya ingin fokus menggeluti bidang arsitektur karena dari kecil Jenna sangat suka dengan hal-hal berbau artistik dan lingkungan.
Selama menyelesaikan masa kuliah empat tahun mereka di sini. Mereka mencoba untuk membuat sebuah kafe dimana mereka bisa mengelolanya bersama sesuai dengan kelebihan dan jurusan pendidikan mereka masing-masing. Kakak Farahdibalah yang memberikan ide ini. Ardan mengatakan sudah saatnya adik-adik tercintanya itu memiliki sesuatu yang mereka kerjakan dari nol sebagai pembuktian bahwa mereka memang mampu mengelola bisnis keluarga nantinya. Tentu saja anak-anak yang memiliki sifat suka dengan tantangan dan tidak pernah mau diremehkan ini menyambut ide itu dengan sangat antusias. Karena bagi mereka lebih baik meluangkan waktu di luar jam perkuliahan dengan cara seperti ini sebagai bentuk refreshing, daripada menghabiskan waktu untuk hal yang bisa saja menjadi sorotan atau berada dalam lingkungan yang bisa disalah gunakan oleh pihak lain karena siapa pun jelas tahu mereka adalah para ahli waris jaringan bisnis milik keluarga mereka.
Jenna yang bergabung setelah dia dan Nasima mulai masuk kuliah bertanggung jawab untuk segala hal yang berhubungan dengan desain kafe. Mulai dari pemilihan gradasi warna, wallpaper atau mural yang digunakan, membuat logo kafe dan kemasan unik yang digunakan untuk pesanan take-away. Nasima dan Bella berperan di balik berbagai jenis kudapan penutup dan olahan minuman berbentuk unik dengan paduan cita rasa yang hanya ada di Alice's Tea Chamber Cafe. Farah mengelola sistem manajemen dan pembukuan kafe. Sedangkan Mauza dengan kemampuan diplomasinya berperan dalam investasi dan pemasaran kafe.
Berkat keahlian mereka memanfaatkan waktu juga kegigihan mereka, Alice's Tea Chamber sekarang menjadi salah satu tempat hits yang nyaman dan instagramable untuk menghabiskan waktu saat membutuhkan tempat melepas penat sambil membaca buku. Salah satu pelanggán setia Alice's Tea Chamber adalah sahabat Mauza, lebih tepatnya seniornya di kampus dulu. Mereka bertemu di kafe ini pertama kali karena mereka berbeda program. Raizel adalah lulusan dari departemen bisnis yang sempat menjadi kakak tingkat Farah dan Mauza. Sedangkan Hwanhee adalah alumni dari departemen ilmu medis. Sebenarnya kedua orang ini adalah senior yang Mauza kenal karena hobi otomotif mereka. Berkat kemampuan lobbying Mauza, dia berhasil mengajak kedua sahabatnya itu untuk berinvestasi di kafe mereka.
—✧✧✧—
"Lo masih betah aja jadi jomlo, Jaein? Emang di sini kagak ada yang sesuai selera lo? Cari yang model gimana, sih? Tinggi di atas 170cm? Kulit putih, cokelat, kuning, merah, pucat, eksotis? Tinggal tunjuk doang di sini mah. Jangan sia-siain kesempatan Jaein, mumpung lo masih berstatus gantung antara mahasiswi kagak, alumni juga belom," cerocos Mauza di suatu sore saat mereka berkumpul di Alice's Tea Chamber Café setelah dia dan Farahdiba kembali dari perjalanan bisnis mereka, juga ada Bella yang baru datang setelah selesai mendapatkan sertifikat kursus terbaru di bidang kuliner dari program khusus di Perancis. Ketiga kakak ini memutuskan tetap kembali ke Oxford sesering mungkin sekaligus memanfaatkan waktu untuk memperluas koneksi mereka di sekitaran Benua Eropa selama duo bungsu masih menyelesaikan kuliah mereka. Tidak ada kata menyia-nyiakan kesempatan bagi para ahli waris jaringan bisnis keluarga yang bergerak di segala bidang ini.
Tak terasa masa-masa tiga minggu yang paling menentukan dalam kehidupan Jenna dan Nasima sebagai seorang mahasiswi sudah terlewati tanpa halangan berarti. Ini artinya mereka tinggal menunggu hari wisuda yang rencananya akan diadakan dua bulan lagi sesuai jadwal. Karena waktu yang cukup lama itu membuat mereka memutuskan untuk kembali ke Indonesia esok lusa. Sebab setelah tiga minggu sakral kemarin, sudah jelas jika duo bungsu ini membutuhkan waktu untuk mengistirahatkan jiwa dan raga mereka setelah “menaiki wahana paling menegangkan” yang paling menentukan nasib mereka selama empat tahun ini.
"Dih, Bang Tamtam yang super nyinyir kek emak-emak lagi ghibah. Jangan panggil Jaein kenapa? Nama udah imut binti keren gini malah diganti-ganti sesuka hati!" sembur Jenna.
"Kenapa lo ngegas? Hwan aja boleh panggil Jaein, kenapa gue kagak?" sambar Mauza tak terima.
"Karena lidah Hwan Oppa tuh kasus khusus. Udah biasa kalau orang Korea nyebut nama gue jadi kelebihan huruf vokal kayak gitu. Lagian nih, kalau Hwan Oppa yang nyebut tuh kesannya lebih cute daripada Bang Tamtam," jawab Jenna cuek.
"Udah, jangan mengalihkan topik pembicaraan. Lagian selama kita mengembara di sini ‘kan lumayan banyak tuh para pejantan yang nguber-nguber elo, Jejen. Kenapa juga lo masih aja jual mahal? Ntar kalau kita pada ngumpul sama pasangan masing-masing lo malah jadi salty," timpal Nasima.
"Dih, kalian kenapa sih? Gue jomlo ‘kan gak nyakitin orang ini, kenapa pada mojokin gue? Inget ya! bullying itu dilarang," sungut Jenna mulai jengah dengan pertanyaan yang sama selama bertahun-tahun, "lagian ya, gue tuh bukannya jual mahal kali, Bang! Padahal nih ya, gue gak punya banyak kriteria macem-macem loh. Cukup satu kata aja. Gue mau yang keren, udah cuma itu doang," beber Jenna.
"Beneran cuma keren doang?" selidik Bella meragukan.
“Iya, Kak Bella sayang. Keren itu maksudnya keren orangnya, sifatnya, otaknya, mobilnya, keluarganya, ahahaha. Just kidding, tapi kalau gue dapet yang model begitu mah udah jelas kagak nolak sih. Apalagi kalau dia bisa nyanyiin lagu favorit gue sambil main gitar, beuuuh mantab kali itu," terang Jenna sambil tetap fokus pada game onlinenya.
"Bah! Lieur pisan ni bocah, itu mah bukan lagi banyak kriteria Jejen, tapi lo aja yang banyak maunya! Gini nih kalau keseringan maraton drama Korea, halunya udah tingkat bumi nembus ke langit. Gak bisa ketolong lagi," celetuk Farahdiba yang sedari tadi mendengarkan perdebatan tidak penting sahabat-sahabatnya akhirnya tertarik untuk ikutan menggoda Jenna.
"Kak Diba kok ikutan dua makhluk absurd ini sih? Kemana perginya Bunda Diba yang penyayang, lemah lembut, dan baik hati?" ucap Jenna merajuk, "Ish! Lihat aja, gue bakal dapet cowok sebelum gue resmi menyandang gelar sebagai seorang alumni yang membanggakan dan pulang ke Indonesia sambil gandeng cowok kece! Cowok yang sesuai dengan impian gue, dan saat hari itu tiba gue pastikan bakal bales kalian dengan cuekin kalian habis-habisan. Lagian gue nonton draKor juga baru-baru ini setelah selama ini gue selalu b******u dengan buku, masa gue sekarang gak boleh ngehalu?" rajuk Jenna. Dia hendak pergi, tapi sahabat-sahabat Mauza datang lalu menengahi.
"Kenapa pada ribut sih? Gak takut para pelanggán pada pergi? Kamu juga jangan ngambek terus gitu, Jaein." Hwan yang baru masuk bersama dengan Raizel menyudahi adu mulut tidak penting mereka di sore hari yang cerah nan gerah bagi Jenna.
"Hwan Oppa, kasih tahu mereka nih. Being SINGLE itu gak dosa, yang dosa tuh kalo nge-bully orang rame-rame kayak sekarang." Jenna mencoba mencari sekutu dengan memasang wajah innocent bak Puss in Boots andalannya.
"Udah, jangan bully Jaein lagi. Kalau dia sampai merajuk bisa-bisa kita kehilangan teman main game, hahahaha." Mereka semua tertawa mendengar tanggapan Hwan. Tentu saja kecuali Jenna.
"Baru tahu. Ternyata segini aja pertemanan kita selama ini. Beraninya main keroyokan!"
“Udah, Jenn. Gak perlu ngambek gitu, tujuan mereka ‘kan baik." Kali ini si cool Raizel menimpali.
"Baik gimana sih, Bang Rai? Orang mereka jelas-jelas ngeroyok gue dari tadi. Bang Rai juga gak ada di pihak Jenna nih?" harap Jenna, matanya mulai berkaca-kaca.
"Gue orang yang paling netral di sini. Maksud gue tadi, apa lo lupa terakhir kali kita pulang pas liburan musim dingin kapan hari? Orang tua lo udah kasih ultimatum. Kalau lo gak kenalin calon lo paling lambat setelah acara kelulusan seperti yang lo pernah janjiin kemaren, pasti bokap lo udah nyiapin calon menantu pilihan buat dikawinin sama lo atau gini aje deh, lo mau gue kenalin sama temen gue? Anaknya jago game juga, mukanya lumayan, dan yang pasti bukan tipe kutu buku. Kalau gak, lo minta aja dikenalin sama junior Hwan yang udah jelas pinter. Temen Mauza juga bisa dipilih walaupun kelakuannya palingan gak beda jauh sama dia. Kalau misalnya lo lebih suka cowok yang jago masak tinggal tanya sama Bella atau Nasima sekalian," jelas Raizel panjang lebar.
Bukannya menjawab. Jenna malah melempar smartphone yang dia pegang ke atas sofa di sampingnya, lalu segera menghampiri Raizel dan memeluknya.
"Ngapain lo meluk-meluk gue?! Buruan lepasin! Gue gak mau kena kamera paparazzi. Ntar ada yang lapor ke nyokap lo terus gue dikorbanin buat jadi calon menantu keluarga Saba. Gak sanggup gue kalau punya bini macem lo!" Raizel hanya bisa berkata pedas tanpa bermaksud mengurai pelukan mereka. Beginilah cara unik Raizel saat menunjukkan perhatiannya.
"Jenna terharu. Bang Rai akhirnya punya banyak kosa kata dan bisa ngomong panjang banget. Penantian kita selama ini, sampai gue dan Nasima hampir wisuda ternyata gak sia-sia. Si Ice Prince akhirnya mulai meleleh," Jenna yang pada dasarnya memang susah untuk serius malah melontarkan kalimat konyol, "lagian mana bisa Jenna yang imut ini marah lama-lama ke kalian. Kalian 'kan sayang banget sama Jenna yang bohay ini."
"Mulai deh, si Drama Queen dengan khayalannya! Lo kalo mau dikenalin sama calon imam minta dikenalinnya selain ke Bang Tamtam sama Kak Bella. Tahu sendiri mereka berdua yang paling payah soal roman-romanan. Dua-duanya ‘kan udah terkenal yang satu bucin akut, yang satu casanova." Kali ini lemparan cushion sofa dari Bella dan Mauza sudah melayang tepat sasaran ke tubuh ramping Nasima.
"Kalau kamu mau blind date bilang aja Jaein. Kami pasti bantuin dengan senang hati," usul Hwan disambut anggukan setuju oleh yang lainnya.
"Tenang Oppa. Masih ada waktu sampai dua bulan lagi sampai tanggal deadline. Paniknya masih bisa ditunda. Mending sekarang kita balik yuk, ada beberapa barang yang belum di-packing nih. Takutnya besok gak kebawa ke Indo 'kan bisa gawat gajah nginjek kawat." Jenna menanggapi cuek lalu menggandeng lengan Hwan keluar dari kafe terlebih dahulu.