Ketika hidupmu terasa berat, enaknya diapain yah tuh lemon?
[Jenna Himeka Saba — Irudimena: Fantasy]
Mister Stanley mendapatkan laporan tentang adanya badai susulan dari anak buahnya walaupun tak berlangsung lama saat dia akan kembali ke Oxford, tapi tak ayal membuat semua orang khawatir karena menyadari badai itu hanya terjadi di Oxford. Sementara mereka jelas-jelas tahu jika hanya Jenna yang terjebak di kota ini sendirian meskipun banyak orang-orang yang bekerja untuk keluarga mereka sedang berada di dekatnya, tapi itu jelas berbeda karena mereka memiliki batasan yang tertera dalam kontrak kerja mereka karena yang memiliki akses untuk naik ke setiap lantai di apartemen itu haruslah seizin Mister Stanley, masalahnya dia sedang mengantarkan Nasima yang berangkat ke London saat matahari belum terbit bersama satu orang pengawal khusus untuk Nasima. Bagaimanapun sebagai kepala tim keamanan dia harus memastikan keselamatan para ahli waris dari ketiga keluarga secara langsung setiap kali ada hal penting tak terduga seperti jadwal Nasima kemarin. Dengan perasaan was-was mereka semua memutuskan untuk kembali dan sengaja mengatur waktu agar sampai di Oxford dalam waktu yang bersamaan, sementara Mister Stanley sibuk mengoordinir anak buahnya yang ada di Oxford untuk berjaga jika ada badai susulan yang tak terduga seperti semalam. Termasuk mengantisipasi perjalanan Mauza dan Farahdiba karena hanya mereka berdua yang saat ini ditemani oleh anak buah Mister Stanley saja.
✧✧✧
"Ini bungsu kemana dah? Masa udah sore gini kagak ada keluar juga dari flat!" Mauza menggerutu sambil terus menekan tombol intercom dan menggedor pintu unit Jenna sekaligus.
"Sore apaan? ‘dah waktunya makan malam nih, Bang. Mana teleponnya kagak diangkat dari tadi. Apa gunanya punya handphone bagus keluaran terbaru kalau pas dibutuhin gini kagak ada fungsinya? jangan bilang itu handphone lagi-lagi dia setting mode geter, bisa gue patahin kalo sampe nemuin tuh benda ntar! Astagaaa, kebiasaan! Mulai pusing nih gue denger suara tat t!t tut mulu dari tadi. Mana makin laper, gue makan juga tuh bocah kalau nongol!" geram Nasima. Dia tak bisa tenang karena jelas ini bukan kebiasaan si bungsu Jenna. Apa dia ngambek karena sudah ditinggal sendirian? Ah, rasanya tak mungkin. Perdebatan itu terus meracuni otak Nasima yang pada dasarnya tak terbiasa dengan hal-hal kekanakan macam ini.
Abella yang sudah pusing mendengar suara bel pintu yang ditekan berulang kali ditambah gedoran pintu dan ocehan Nasima lengkap dengan gerutuan Mauza. Dia juga khawatir dan berinisiatif mengirimkan pesan pribadi kepada Farah sambil berusaha menenangkan dua orang yang selalu hilang kesabaran ketika dilanda lapar seperti sekarang ini, "Kalian sabar dong, kali aja emang si Jejen baru bisa tidur habis begadang lagi semaleman. Dia ‘kan biasa gitu, kalau udah fokus sama sesuatu pasti tenggelam dalam dunianya sendiri sampai lupa sama segala hal. Ngantuk aja gak punya kalau udah gitu." Bella mencoba menenangkan sekaligus mengingatkan kedua orang di hadapannya.
"Iya, tapi ini udah berapa lama kita di sini, Kak? Kakak emangnya kagak pegel apa? Mana pakai heels setinggi langit kayak gitu." Nasima melirik ngeri ke arah killer heels berwarna pastel yang masih melekat manis di kaki jenjang Abella.
"Udah biasa kali dek pakai high heels gini. Jangan bikin heboh napa." Bella tidak nyaman jika ada yang mengkritisi soal barang favoritnya itu. Setelah beberapa saat dia bertukar pesan dengan Farah, dia memutuskan untuk menuruti saran Farah.
"By the way, gue mau ke bawah dulu ya cari Mr. Stanley. Kali aja 'Mister Stanley who Always Know' bisa kasih kita pencerahan setelah dapet laporan detail dari timnya. Mereka pasti tahu si Jejen masih di dalem atau ada keluar ke mana gitu." Bella hendak pergi namun ditahan oleh Mauza.
"Pakai handphone gue aja, lagian gue ngeri lihat lo jalan-jalan pake begituan. Lihat tuh mata kaki lo udah melotot minta diselametin." Mauza yang terkadang mengeluarkan candaan di saat tak tepat namun selalu logis menyerahkan telepon genggam dan sneakers kesayangannya untuk dipakai Bella.
"Gue gak apa-apa kali, Tam. ‘Kan gu—" ucapan Bella terpotong saat melihat Mauza menatap lurus tepat sasaran ke arah iris cokelat terang milik Bella, dan itu berarti satu hal, Mauza sedang tidak ingin didebat atau mendengar penolakan. Bella hanya bisa menurut ketika Mauza membantu melepas killer heels cantik sekaligus mengerikan itu dan menggantinya dengan sneakers putih yang memiliki simbol tiga garis dengan warna yang mencolok sebagai ikon. Posisi mereka saat ini jelas bisa menimbulkan pertanyaan setajam samurai.
Farah yang baru saja datang setelah mampir ke Alice terlebih dahulu dalam perjalanan pulang mereka, tampak terkejut saat baru saja keluar dari lift. Dia melihat adegan dongeng dari Mauza dan Bella, sementara Nasima terlihat masih sibuk menghubungi seseorang di telepon genggamnya. Sudah pasti dia menghubungi si pemilik flat yang selalu membuat kehebohan di antara mereka. Saat Mauza bangkit dan akan kembali menggedor pintu unit Jenna, mereka bertiga seperti tersadar sedang diamati oleh seseorang.
"Kok belum masuk? Masih belum dibukain juga? Udah lewat sepuluh menit dari lo hubungin gue lho, Bel? Apa kata Mr. Stanley?" Seperti biasa, Diba mengajukan serentetan pertanyaan dengan nada khas seperti seorang ibu sambil mengernyitkan dahi.
"Gimana mau masuk kalau yang punya tempat aja kagak bukain pintu udah dari berabad-abad yang lalu, Kak," gerutu Nasima sebelum yang lain menjawab. Sedangkan Mauza kembali sibuk menyiksa pintu unit yang tidak bersalah milik Jenna Himeka Saba.
"Gue baru aja mau hubungin Mister Stanley, dia pasti lagi sibuk memastikan aset milik keluarga kita di tempat lain." Bella segera mencari nomor kontak pria yang bertanggung jawab menjaga, merawat, dan mengawasi beberapa aset milik keluarga mereka di seantero tanah Sang Ratu sekaligus memastikan keselamatan para ahli waris saat mereka ada di Britania Raya.
"Gue udah dapet jawaban dari Mister Stanley nih, katanya si Jejen kagak kelihatan keluar dari kemarin. Apalagi semalem sama tadi pagi ada badai juga, ‘kan?" tukas Bella memberi penjelasan.
"Lah, terus? Si Jejen ga bakal kenapa-napa ‘kan di dalem?" Farah mulai panik. Mauza menatap ke arah Farah, Bella dan Nasima bergantian.
"Apa gue bobol aja ni pintu?" Mauza mengeluarkan ide barbar.
"Setuju, Bang! Kita bisa berubah jadi kentang bertunas kalau nunggu lebih lama lagi di depan pintu ni bocah," geram Nasima yang segera ditanggapi anggukan setujui oleh yang lain.
Bella berinisiatif untuk kembali menghubungi Mister Stanley agar membantu Mauza untuk membuka paksa pintu unit milik Jenna. Sementara Mauza masih terus menggedor pintu tak berdosa di depannya.
“Coba lo hubungin terus deh, Dek. Handphone Jenna ga aktif atau ga nyambung?" selidik Farah semakin resah.
"Ada nada sambungnya sih, Kak. Astaga ni bocah kemana coba?!" Nasima mulai ikut gelisah.
✧✧✧
Sementara di dalam unit yang menjadi target “amukan masa”,
Gubrak!!
Prang!!
"Aduuuh, lagi-lagi! Astogeeee, Jennoooo!" Jenna jatuh telentang dari atas sofa yang terletak di walk-in closet miliknya. Secara tidak sengaja kakinya sempat menendang koleksi gift set parfume dengan botol mungil beraneka bentuk favoritnya dari atas meja kaca. Beruntung kepalanya terjatuh tepat di atas boneka Teddy Bear raksasa yang berada persis di dekat bibir sofa.
“Kok bisa-bisanya gue ketiduran di situ? Mana sampai sore begini lagi!” gerutu Jenna saat dia hendak mengambil beberapa barang yang dibutuhkan untuk membersihkan kekacauan yang dia buat. Samar-samar dia mendengar suara dari arah pintu unit berwarna merah marun miliknya yang berasal dari layar intercom. Terlihat semua orang sedang berkumpul di depan pintu unitnya, tapi kenapa Mauza malah menggedor pintu bukannya memencet bel intercom? Pikir Jenna keheranan.
Klik!!
Ceklek!!
"Lhah? Pada ngapain di mari? Ini Abang mau apain pintu Jenna coba? Kenapa Mister Stan bawa-bawa begituan?" heran Jenna dengan wajah polos tidak menyadari keadaan.
Seketika mereka semua mengembuskan napas lega, tetapi sedetik kemudian wajah mereka berubah menatap horor ke arah Jenna.
"Widiihh, bukannya jawab malah pasang muke mo ngunyah tulang hidung begini yak?" Jenna mundur teratur sambil menatap wajah saudara-saudaranya yang terlihat tak bersahabat. Sementara Mister Stanley dan anak buahnya terlihat kembali ke lift service khusus pengurus apartemen.
"Lo emang minta dikunyah, diremukin, dikuliti, Jen! Lo kagak tahu kita udah nungguin berapa purnama di depan pintu artistik lo ini?! Terus sekarang malah lo muncul persis kayak anak gadis yang nyaris diperkosa gini!" Nasima yang selalu bereaksi berlebihan saat dia khawatir mulai berbicara hal-hal yang absurd. Apalagi melihat rambut Jenna sangat berantakan.
"Lo kemana aja sih, Jen? Lo ga kenapa-napa, ‘kan? Ga enak badan, kah?" Lagi-lagi Farah mulai memberondong Jenna dengan pertanyaan bertubi-tubi khas para ibu yang sedang mengkhawatirkan anak-anaknya.
"Itu sapu, pengki, sarung tangan, sama plastik buat apaan, Jen? Terus kenapa kaki lo?" Bella yang menyadari kondisi Jenna seketika membuat yang lain tersadar. Mauza yang terakhir masuk sambil membawa sepatu Bella juga mulai waspada menunggu jawaban Jenna.
"Oh, ini? Biasa, mau beresin kekacauan, Kak. Hehehe." Jenna malah menanggapi dengan cengiran tak berdosanya.
"Kekacauan gimana maksudnya? Ngomong yang jelas bisa gak!" bentak Mauza setelah meletakkan sepatu Bella di samping meja serba guna yang terletak di dekat pintu.
"Tuh, tuuuh, mulai lagi deh sukanya ngajak gelut aja nih Bang Mauza sama Nanas! Kaki gue nendang botol-botol parfum kesayangan gue! Terus sekarang meja gue juga jadi retak! Puas kalian berdua!" Jenna membela diri sambil menahan isakannya antara merasa bersalah, bersyukur karena diperhatikan atau jengkel mendengar reaksi berlebihan semua orang, tapi dia juga tidak tahu apa alasan pastinya.
Nasima segera mengambil alih alat pembersih, sementara Farah mengambil kotak obat, diikuti Bella yang mengambil baskom berisi air. Sedangkan Mauza menggendong Jenna dan mendudukkannya di sofa ruang tengah.
"Lo, tuh ya! Bener-bener deh, Jejen! Kagak bisa banget ditinggal sendirian! Untung aja kami cepet balik pas jalan udah dibuka! Kalau kagak mungkin ini gedung udah lo jadiin api unggun kali!" cecar Mauza sambil melipat ujung celana rumah yang dipakai Jenna.
"Hiks, ya ‘kan gue ga sengaja, Bang! Hiks, apalagi itu barang ‘kan koleksi gue yang unyu-unyu! Hiks, lagian siapa bilang gue lagi sendirian?!" gusar Jenna disela isakannya.
"Emang sama siapa?" selidik Farah heran sambil memeriksa luka Jenna.
"Ada tuh, cowok ganteng tidur di kamar Papi. Boleh ngintip, tapi jangan dibangunin loh, Bang Ma—" Belum sempat Jenna menyelesaikan perkataannya, Mauza segera melesat membuka pintu kamar bercat kuning yang berada tepat di belakangnya. Sementara yang lain menunggu dengan was-was. Mauza yang baru saja membuka pintu kamar tiba-tiba langsung menutupnya kembali seketika, lalu menatap Jenna dengan tatapan horor.
"Lo, yakin kagak benturin kepala lo pas jatuh tadi, Jen?"
"Kagak lah, Bang! Kalau kebentur mah udah pasti bakal kecipratan darah ini baju Elmo kesukaan gue! Lagian kenapa pertanyaan Abang aneh banget?”
"Apa gedung ini beneran ada han—" sambung Mauza dengan kalimat yang terputus karena perkataannya disela oleh teriakan Nasima yang baru saja keluar dari walk-in closet milik Jenna.
Nasima refleks mengacungkan sapu di tangan kirinya ke arah Mauza. "Stoooop! Jangan diterusin, Bang! Tahu sendiri gue paling geli sama satu kata itu! Hiiihh, ngeri kali!"
Bella mengambil alih sapu dan pengki dari tangan Nasima lalu menjitak kepala Nasima sedikit keras yang dibalas dengan tatapan tajam oleh Nasima. "Apa?! Masih berani melotot? Dasar kebiasaan! Lo tuh, Dek! selalu gak perhatikan sama apa pun yang lagi lo bawa. Lagian gak sopan banget sih nunjuk Bang Mauza pakai sapu gini!" omel Abella pada Nasima yang saat ini sedang tercengang.
"Bang Mauza?! Sejak kapan kakak manggil Bang Mauza pakai sebutan ‘Bang’ gini? Biasanya langsung sebut nama." Nasima membuat tanda kutip dengan kedua tangannya sambil menatap Bella dengan tatapan menyelidik.
“Bisa diem gak kalian? Gue masih konsentrasi nih! Coba sini, ada yang mau nolong gue ambilin gunting gak? Sekalian bantu potongin nih kasa." Farah menyudahi hal yang tidak penting dan kembali fokus pada keadaan Jenna.
Setelah selesai membersihkan dan mengobati luka Jenna. Farah melanjutkan pembicaraan mereka yang sempat tertunda, "Jadi, Tamtam. Bisa jelasin apa maksud lo tadi?"
"Jenna bilang ada cowok lagi tidur di kamar itu, ‘kan? Pas gue cek kagak ada siapa-siapa tuh. Itu kamar masih bersih, suci dan wangi," jelas Mauza sambil menatap mata Jenna disertai beberapa penekanan dalam kalimatnya. Jenna yang tidak percaya berniat bangkit untuk memeriksanya sendiri, tapi di tahan oleh Farah sebab khawatir sayatan di tungkai kaki si bungsu bisa semakin lebar.
"Beneran, Bang? Kagak ada yang aneh?" tanya Nasima mulai duduk tegak membenarkan posisinya yang setengah menempel pada punggung Farah. Sedangkan Bella yang mulai memahami keadaan beralih menuju pantry untuk mengolah makan malam yang tertunda dengan bahan makanan yang tadi sempat dia pesan saat yang lain sedang sibuk. Tentu saja sambil mendengarkan apa yang sedang mereka perbincangkan.
"Coba lo cek sendiri kalo kagak percaya, dan kalo berani sih," ledek Mauza ke arah Nasima yang segera dibalas Nasima dengan lemparan bantal berbentuk kepala hewan milik Jenna.
Jenna yang kebingungan masih berusaha mengingat kejadian yang dia alami, "Aneh banget, gak mungkin juga sih kalau Bang Mauza bakal sesantai ini kalo beneran ada Al di sini. Terus yang tadi tuh apa? Masa gue lagi-lagi mim—" gumaman Jenna terhenti saat dia merasakan sentuhan di bahu kirinya.
“Semalem kenapa, ada apa? Mau cerita sama Kakak?" Farah berbicara pelan saat mendengar gumaman Jenna yang duduk tepat di sampingnya. Sedangkan Nasima dan Mauza tidak memerhatikan karena masih sibuk bertengkar ala bocah dengan saling melempar bantalan sofa berbentuk kepala kodok, bebek, kucing, dan kelinci yang dibuat sendiri oleh Jenna.
"Gak apa-apa kok, Kak. Nothing happens," jawab Jenna mencoba menutupi dengan senyum samar. Dia nyaris tidak percaya dengan kejadian yang dia alami akhir-akhir ini. Semuanya tampak nyata sekaligus mustahil. Jenna kembali larut dengan pertanyaan-pertanyaan yang terlintas di kepalanya.
"Kalau ada apa-apa, lo tahu harus apa, 'kan? Jen, terkadang saat kita mengalami hal-hal yang menguras emosi secara berlebihan dan terus-menerus bisa bikin otak kita terbebani dan kelelahan, tapi lo harus selalu inget kalau lo punya kami semua yang selalu ada untuk lo. Lo boleh mencoba menelaah keadaan yang terjadi sama lo, tapi lo tetap harus tahu batesnya. Kalau gak kuat jangan dipaksain. Kalau lo percaya sama kami, lo bisa datang kapan pun. Kali aja keadaan lo itu pernah kami alami sebelumnya. Jadi, kami bisa kasih advice. Kalaupun kami belum pernah mengalaminya, kita kan bisa cari solusinya sama-sama," saran Farah yang merasa Jenna sedang menyembunyikan hal besar.
"Sama-sama ke mana? Pergi gak ngajak-ngajak nih ceritanya?" Mauza yang kelelahan meladeni aksi barbar Nasima menjatuhkan dirinya, duduk di sofa panjang di samping Farah.
"Ternyata lo udah semakin tua, Bang. Masa baru begini aja udah ngos-ngosan? Katanya rajin nge-gym atau lo kebanyakan minum corona?" ledek Nasima.
"Heh, bocah tengil! Sorry, ya. Gue minum smirnoff bukan coronaaa—" pekik Mauza tiba-tiba
"Aaaaaa—" susul Nasima yang ikut menjerit kesakitan juga.
Mauza dan Nasima serempak berteriak saat merasakan tangan lembut, tapi terasa dingin yang sedang menjewer telinga mereka berdua.
"Apa?! Mau ngajak gue gelut juga? Bantuin gue ambil makanan, gih. Orang lagi masak bukannya dibantuin nyiapin meja malah gelut kayak bocah aja lo berdua. Bikin gue stres mulu seharian!" titah Bella. Ternyata pelaku kekerasan yang dengan tega membuat telinga Mauza dan Nasima terasa panjang sebelah adalah Abella yang saat ini sedang melotot, tetapi masih terlihat cantik di mata Mauza dan imut di mata yang lainnya karena mengenakan apron bergambar Cookie Monster milik Jenna dengan beberapa helai anak rambut yang mencuat keluar dari ikatannya.
Makan malam terlambat yang sedang mereka santap saat ini membuat Jenna melupakan sejenak kejadian yang lagi-lagi membuatnya teralihkan dari dunia nyata. Dia jadi tak enak saat tahu Bella dan Nasima tak jadi memperpanjang jadwalnya di London dan segera kembali setelah acara Nasima selesai. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa sosok lelaki bernama Alister Abimara terus saja mengganggu ketenangan dan hidup Jenna semenjak kejadian Excel hingga dia tak bisa lagi membedakan mana yang nyata dan halusinasi. Apakah sebenarnya itu hanyalah mimpi atau fantasinya saja? Bisakah itu disebut pertanda tentang sesuatu yang akan terjadi? Kenapa Jenna harus mengalami banyak kejadian tak masuk akal akhir-akhir ini?