It's a deal between this two lunatics. Benarkah ini hanya kesepakatan atau memang sebuah takdir indah seperti yang dia yakini, mereka yakini?
[Alister Abimara, Jenna Himeka Saba — Irudimena: Fantasy]
"Saya serius loh. Kamu mau dengar satu kenyataan yang baru saya sadari?" tutur Alister sengaja menggantungkan kalimatnya.
Jenna menautkan kedua alisnya. Dia masih mencoba membaca bahasa tubuh Alister. Mencari-cari dimanakah letak kebohongan dari setiap gerak-gerik maupun perkataan dari seorang pria yang baru beberapa jam ini dia temui di dalam kamarnya.
"Bisa gak, kalau mau ngomong tuh to the point aja?" sembur Jenna mencoba memancing kekesalan Alister.
"Saya rasa, saya benar-benar suka sama kamu," ucap Alister tepat ketika Jenna telah menyelesaikan kalimatnya.
Jawaban jujur dari Alister membuat Jenna benar-benar terperanjat. Dia tampak seperti baru saja tersengat ribuan ubur-ubur.
‘Oh my ..., bukan ini yang gue maksud. Nih cowok beneran lagi menyatakan perasaannya atau lagi ngerjain gue? Terus, sekarang apa lagi? Gue harus bilang apaan? Kalau gini sih bukannya gue yang dapet jawaban dan bisa ngusir dia secepatnya, malah makin ga sinkron aja kerja otak gue dia buat. Wait, kalau dari tatapan mata dan intonasi bicaranya nih cowok jujur deh, tapi jangan ke-PD-an dulu Jenna Himeka Saba! Bisa aja nih cowok emang tipe pakboi masa kini yang kian marak terpampang nyata di dunia nan fana ini,’ jerit batin Jenna dalam hati. Ia mencoba menarik logikan agar tak terombang-ambing dalam kesesatan euforia yang ia rasakan sejak bangun tidur tadi.
Jenna masih memandang lekat Alister dengan ekspresi yang membuat Alister semakin gemas sekaligus jatuh cinta. Bukannya merasa risih atau takut jika Jenna akan bereaksi berlebihan seperti yang dia baca di buku diary milik Jenna, Alister malah balik memandangi Jenna dengan tatapan mata sedalam palung marina namun penuh dengan cinta melalui iris mata emeraldnya. Suatu kenyataan yang membuat mereka sama-sama bingung.
Beberapa menit kemudian, acara saling tatap itu harus terhenti karena dering ponsel Jenna yang berbunyi semakin nyaring karena kesunyian yang mereka ciptakan. Tepat lima menit setelahnya Jenna kembali ke area pantry untuk melanjutkan pembicaraannya dengan Alister yang sempat terputus.
Saat tiba di depan meja sarapan ada suatu hal yang janggal. Jenna tidak menemukan siapa pun kecuali dua buah gelas berisi air putih yang hampir tandas, lengkap dengan sebotol air putih yang hampir samar tetesan embunnya.
"Lho, kemana dia? kok ilang gitu aja? Jangan bilang yang barusan itu—" Jenna seketika teringat kejadian beberapa bulan lalu saat dia nekat membeli makanan tengah malam dan berakhir menabrak Mauza di lobi apartemen. Ketika Jenna hendak memutar tubuhnya yang sudah mulai merinding, dia hampir saja terbentur pinggiran meja karena Alister tiba-tiba sudah berada di belakangnya. Refleks Alister menahan tubuh Jenna agar tidak membentur tepian meja kaca.
"Sepertinya kamu suka sekali menjatuhkan diri saat berada di dekat saya? Saya tidak keberatan sih, kalau harus merasa dejávu dengan kejadian seperti ini, tapi jangan pernah punya pikiran aneh dengan menganggap saya sedang mencari kesempatan agar bisa memeluk kamu seperti sekarang. Lagi pula saya tidak mungkin membiarkan gadis yang saya sukai terluka di depan mata saya, ‘kan?" ungkap Alister. Lagi-lagi Jenna hanya bisa terdiam dalam pelukan hangat Alister. Merasakan otot lengan kiri Alister yang saat ini menahan bobot tubuhnya, Jenna seakan kehilangan refleks yang dia miliki dari hasil latihan taekwondo selama bertahun-tahun.
"Jenna?" Alister berkata pelan, mencoba menarik Jenna kembali ke alam nyata.
"Jenna Himeka Saba?" lirih Alister lagi.
“Jenna Himeka Abimara?" Akhirnya Alister nekat mengucapkan satu kalimat berbahaya yang bisa membuatnya terluka jika Jenna mengamuk.
"Ap-Apa yang lo bilang barusan?!" pekik Jenna dengan mata terbelalak seketika saat menyadari kalimat terakhir yang baru saja berhasil dicerna oleh otak cerdasnya, "Coba ulangi sekali lagi, lo panggil gue apa tadi?!" Intonasi Jenna kembali naik satu oktaf.
"Ternyata berhasil," ujar Alister sambil terkekeh.
"Bukan itu yang gue maksud Alister Abima—! Woah, unbelievable! berhenti ketawa mister Alister yang terhormat. Maksud lo apaan ganti-ganti nama orang seenaknya? Lo kira gue bakal blushing salah tingkah kalau lo pakai rayuan kuno begini? Di abad dua puluh lima juga masih ada rayuan gombal macem gini? Lagi pula ini juga salah lo yang main ngilang seenaknya, terus muncul tiba-tiba macem mahkluk horror! Lo mau bikin gue gagal jantung?!" cecar Jenna menghakimi Alister.
"Kalau itu satu-satunya cara untuk menyadarkan kamu, sepertinya sangat layak dicoba. Lagi pula kalau kamu butuh napas bantuan, saya juga bisa melakukannya. Dengan senang hati malah," jawab Alister yang seakan-akan menantang sekaligus mempermainkan Jenna.
"Lagi pula tadi saya sudah bilang kalau saya menyukai kamu, ‘kan? Maksud saya kalau kamu mau memberikan kesempatan, ijinkan saya menunjukkan keseriusan saya sama kamu. Saya serius, saya yakin kalau saya bisa membahagiakan kamu. Bahkan kalau kamu mau kita bisa menikah sekarang juga," kata Alister sambil menatap lekat mata Jenna.
Jenna tidak terbiasa menghadapi cowok bucin yang nekat seperti Alister. Di Mata Jenna, Alister terlihat terlalu sempurna walaupun sisi budák cinta yang dia tunjukkan selalu mampu merusák imajinasi yang dimiliki Jenna. Dia sebenarnya lebih suka tipe pria cool nan menggemaskan seperti Naoki Irie, tapi si Alister ini. Entah mengapa Jenna merasa lelaki di hadapannya ini akan sulit ditaklukkan apalagi dikendalikan. Mungkin karena Jenna belum pernah bertemu dengan seseorang yang tulus menyukainya karena apa adanya dia, tanpa ada motif ingin memanfaatkannya seperti yang sudah-sudah? Setidaknya itulah yang Jenna yakini. Tentu saja jika para saudara kesayangannya tahu mereka jelas akan membuat keributan seperti negara api yang menyerang ketika mereka tahu ada pria senekat Alister sudah ada di unitnya.
"Lepasin dulu. Lo ga pegel nahan badan gue di posisi begini atau emang dasarnya lo tipe cowok yang suka mengambil kesempatan?" ketus Jenna menutupi kegugupannya.
"Bukankah setiap orang harus selalu mengambil kesempatan yang ada di depan mata sebelum momentumnya berakhir? Lagi pula memastikan seseorang yang saya cintai tidak terluka selama berada di dekat saya adalah hal yang wajar, bukan?" ucap Alister santai dengan suara raspy-nya.
Skakmat! Logika seorang Alister selalu bisa mengambil alih kewarasan Jenna. Lebih tepatnya logika dan kebucinan tingkat alam semestanya. Ini tidak bisa dibiarkan. Jenna harus segera bertindak sebelum hal-hal konyol terjadi tanpa bisa dikendalikan lagi.
"Whatever! Mending kita bicarain hal yang lebih penting. Kepala gue udah pusing sama tingkah lo." Jenna kembali mengambil tempat duduk di seberang Alister.
"Sekarang apa mau lo?" tanya Jenna sambil menaikkan satu alisnya dengan kedua tangan terlipat di depan dadanya.
"Kesempatan untuk menikahi kamu." tutur Alister singkat, padat dan gamblang.
"Woah! Tunggu dulu, Tuan Muda! Kenapa sekarang tiba-tiba jadi nikah?" Jenna benar-benar dibuat mati kutu setiap Alister mengutarakan apa isi kepalanya.
"Saya tipe orang yang tidak suka bertele-tele. Lagi pula dengan menikah bukankah semua lebih mudah? It's like win-win solutions. Kamu tidak perlu menyembunyikan apa pun dari orang-orang terdekatmu dan saya bisa bebas menunjukkan perasaan yang saya miliki sama kamu tanpa khawatir ada adegan film action dari keluargamu. Selain itu kamu bisa terbebas dari mimpi burukmu juga, ‘kan?" ungkap Alister secara gamblang.
Jenna tidak percaya dengan jalan pikiran Alister. Sepertinya dia tahu tentang sesuatu, "Mimpi buruk?" Jenna bertanya menyelidik.
"Sebenarnya alasan saya berakhir di kamar kamu semalaman karena saya mendengar suara tangisan seseorang. Saat saya mendekati ranjangmu, kamu yang sedang mengigau malah menarik dan menggenggam tangan saya. Karena itu pula saya mengesampingkan misi saya dan memilih kamu." Alister mencoba menyimpulkan kejadian semalam agar Jenna berhenti bertanya lebih jauh.
"Jadi, maksudnya gue yang mulai duluan?" Jenna setengah tak percaya jika kebiasaan tidurnya saat kecil semenjak kejadian traumatis dulu kembali lagi. Sepertinya kejadian dengan Excel menghempaskannya kembali ke trauma masa lalunya.
"Memang kamu yang memulai, tapi keputusan akhir tetap ada pada saya, ‘kan?" ucap Alister setelah melihat perubahan raut wajah Jenna dengan rahang mengeras.
"Jadi, maksud Lo, gue harus setuju sama keinginan lo, gitu? Masalahnya gue gak merasa ini pertukaran yang adil. Kalau gini mah lebih untung situ dari pada sini dong," geram Jenna. Enak sekali Alister menggunakan fakta-fakta yang sudah jelas dan membuatnya terdengar seperti ini adalah pertukaran yang adil, sementara Jenna belum yakin dengan maksud utama Alister si misterius di depannya. Kalau ternyata Alister penjahat atau lebih buruk dari Excel bagaimana? Pertanyaan itulah yang sekarang berputar di kepala Jenna.
"Saran saya lebih baik sih kamu setujui saja. Saya tipe pria yang tidak mudah menyerah saat sudah membuat keputusan." Alister berkata dengan sangat yakin.
"Jadi, sekarang lo pake acara ngancem gue segala?!" Jenna tidak percaya mendengar perkataan Alister dengan nada terlampau percaya diri itu.
"Tidak. Ini hanya pilihan yang lebih mudah daripada kita membuang waktu untuk hal tak penting." Alister memainkan alisnya mencoba menggoda Jenna.
"Ish, tapi sayangnya gue suka memperumit sesuatu yang mudah. Terutama kalau itu berurusan dengan pria." Jenna tersenyum meremehkan. Dia kembali meyakini satu hal yang pernah dia bahas bersama Nasima, “Kayaknya emang pria tampan itu jauh lebih berbahaya deh, Jenno. Ya, gak? Apalagi kalau paketnya mendekati lengkap. Makin ngeri gak sih ngadepinnya?” Perkataan Nasima hari itu kembali terngiang-ngiang di telinganya. Jenna berpikir jika Alister dengan segala bualannya memang sengaja mencari keuntungan maka dia juga akan ikut bermain peran demi keuntungannya sendiri.
"Oke, tidak masalah. Saya sangat suka sesuatu yang menantang," ujar Alister sambil menaikkan alis kanannya.
"So, wanna make a deal, Mr. Alister?" Jenna kembali tersenyum miring.
"With a pleasure, Milady." Alister menjawab tantangan Jenna.
"Lo harus bisa bikin gue jatuh cinta dan meyakinkan semua orang yang ada di sekitar gue kalau lo layak jadi calon suami gue maka gue akan terima lo saat itu juga," tantang Jenna dengan penuh percaya diri.
"Jangka waktunya? Masih enam bulankah?" tanya Alister memastikan kontrak cinta mereka.
"More faster will be better. Itu kalau lo percaya diri, sih," jawab Jenna dengan tatapan semakin mengintimidasi.
"Nice! Saya akan buktikan, SECEPATNYA saya bisa membuktikan bahwa saya layak menjadi SUAMI kamu. Bukan hanya CALON SUAMI," tegas Alister penuh penekanan, diakhiri senyuman mautnya, "Deal?" Alister mengulurkan tangan kanannya.
"Absolutely!" Jenna menyambut uluran tangan Alister.
"Jadi, ayo mulai membahas tentang hal penting sekarang. Gue tinggal di apartemen ini gak sendirian. Ada tiga orang saudari dan seorang saudara gue. Biasanya kami selalu menyempatkan diri buat berkumpul entah untuk sarapan atau makan malam di salah satu flat ini." Jenna mengawali pembahasan tentang hal-hal yang perlu Alister waspadai
"Lalu alasan saya tidak melihat satu pun keberadaan mereka?" Alister semakin penasaran sekaligus waspada dengan orang-orang di sekitar Jenna. Karena satu langkah yang salah, maka rencana yang sudah dia buat bisa berantakan.
"Tadi gue dapet telepon dari kak Diba. Semalem tiba-tiba ada badai, jadi Kak Diba masih terjebak di Edinburgh pas harus ketemuan sama relasi bisnis keluarganya. Sementara Bang Mauza ada di Liverpool buat bicarain ekspansi bisnis termasuk kafe kami sama beberapa temannya. Kalau Kak Bella dan Nasima lagi ada di London karena mereka akan mengambil kelas khusus sekaligus mau kembangin beberapa menu buat resto keluarga mereka, termasuk kafe kami juga sih." Jenna menjelaskan panjang lebar tentang keberadaan para penghuni apartemen ini.
"Artinya tidak ada yang akan mencurigai saya selama saya di sini?" tanya Alister membuat kesimpulan.
"Untuk beberapa waktu sih iya, tapi gak mungkin selamanya juga ‘kan lo bakal tinggal di sini sama gue?! Lagi pula apa kata keluarga besar gue kalau sampai staf keluarga Aryasatya yang biasanya beberes di apartemen ini mergokin lo tinggal bareng gue? Bisa-bisa kita dikawinin lebih cepet." Jenna berkata sambil memutar bola matanya.
"Bukankah malah lebih bagus? Itu artinya takdir bekerja lebih cepat." Alister terkekeh menggoda Jenna.
"Yeee, situ aja yang ngarep. Gue mah ogah kawin gara-gara digrebek. Bisa hancur reputasi keluarga Saba." Jenna mendelik menanggapi perkataan Alister.
"Apa pun alasannya, menikah ya menikah," tanggapan ngawur Alister membuat Jenna nyaris melempar kotak tisu yang ada di dekat tangannya.
"So, ada lagi yang harus dibahas?" tanya Alister kembali fokus menatap Jenna.
"Kapan lo keluar dari flat gue?" Jenna memajukan tubuhnya dan bertumpu pada meja makan.
"Saya tidak mungkin meninggalkan orang yang saya sukai sendirian apalagi masih ada kemungkinan badai susulan bisa datang sewaktu-waktu, ‘kan?" Alister mengikuti Jenna memajukan tubuhnya. Membuat wajah mereka semakin berdekatan.
"Lo ga mau kerja? Kalau lo memilih tinggal di sini harusnya lo punya persiapan, ‘kan? Apalagi lo dengan yakin mau memperistri gue." Jenna menaikkan alis kirinya sembari bertanya.
"Tenang saja, Calon Istri. Saya sudah punya rencana sendiri. Jangan pernah meremehkan kemampuan calon suamimu ini." Alister tersenyum miring dengan tatapan misteriusnya.
"Asal lo gak bikin masalah aja. Jangan harap gue mau bantuin lo apalagi sampai menggunakan koneksi gue, males banget kalau berurusan dengan hal-hal merepotkan macam itu," ancam Jenna yang dibalas dengan cubitan gemas Alister di pipi kiri Jenna.
"Jangan terlalu sering membuat ekspresi yang menggemaskan seperti itu. Saya ini pria normal, bisa saja saya menculik kamu ke kantor catatan sipil terdekat sekarang juga." Alister tersenyum jahil sambil mengacak poni Jenna.
"Coba aja kalau lo berani,"—tantang Jenna menepis tangan Alister—"dan jangan sentuh wajah gue karena gue paling benci jerawatan." Jenna mendelik ke arah Alister yang direspon dengan kekehan renyah pria adonis di depannya.
"Lo bisa pakai kamar yang pintunya bercat kuning itu. Kamar mandi ada di dekat walk-in closet gue di sebelah sana, dan gue gak perlu mengingatkan lagi tentang letak kamar gue, ‘kan?" Jenna menjelaskan tata letak ruangan di unitnya yang direspon anggukan Alister.
"Jadi saya boleh mandi dan tidur sekarang? Rasanya mengantuk juga setelah sarapan masakan yang dibuatkan, Calon Istri," Alister sengaja bertanya untuk menahan langkah Jenna yang akan meninggalkannya. Padahal dia hanya sedang mencari alasan saja. Mana mungkin dia mudah mengantuk.
"Ini masih terlalu pagi untuk tidur. Mendingan sekarang lo mandi dan kita bakal pergi buat beli beberapa barang yang lo butuhin. Karena gak mungkin juga ‘kan lo pakai barangnya Bang Mauza sementara gue gak tahu dan gak pernah menyimpan barang keperluan pria di sini, kecuali barang pribadi milik Papi gue. Emang lo mau pakai barangnya Papi apa?" Jenna menanggapi perkataan Alister sambil melenggang pergi ke arah walk-in closet. Sementara Alister masih sempat tersenyum sebelum dia menyadari sesuatu yang genting sedang terjadi.