Misi Alister Abimara

2747 Words
Kalau sekarang kamu belum ketemu sama pasanganmu. Bisa aja dia lagi terjebak di dimensi yang berbeda. Yah, seperti kami ini contohnya. [Alister Abimara, Jenna Himeka Saba — Irudimena: Fantasy] Semalam di suatu tempat, Di abad kedua puluh lima. Sesaat sebelum Alister memulai perjalanannya, "Semoga kali ini aku berhasil mendapatkan banyak informasi dan bisa secepatnya menyelesaikan semua tugas ini tepat waktu. Karena aku juga harus menemukannya." Alister masih sibuk dengan perangkat di genggaman tangannya untuk memastikan dia tiba di tempat yang tepat. "Frank!" "Yes, Master."  "Pastikan semuanya sempurna seperti biasa!"  "All set, Master. Tolong periksa kembali titik koordinatnya dan kita akan siap melakukan perjalanan kali ini," "Rencana kali ini harus berhasil seperti biasa, masih ada hal penting yang harus segera kita selesaikan. Aku ingin semua ini segera menemukan titik terang." "Tentu saja, Master. Semuanya sudah sesuai arahan Anda. Good luck, Master."   ✧✧✧   Ziiiiiiiing! "Oh, s**t! hampir saja aku terbentur pintu. Tak adakah tempat landing yang normal? Kenapa harus di walk-in closet?" gerutu Alister. Untung saja refleksnya masih sempurna. "Apa ini baju milik mereka? Eh, tapi buat apa menghamburkan uang seperti mereka akan tinggal di sini selamanya saja!" cecarnya heran. Saat dia berbalik. Dia terpesona melihat sebuah foto poster full body seorang gadis dengan senyum yang sangat manis dan bola mata indah kecokelatan yang mampu menghentikan waktu seketika. "An Angel on earth. Who's this girl?" Semakin lama memandangi foto di depannya tanpa dia sadari ada sesuatu yang aneh dengan dirinya. Sesuatu yang asing dan tak bisa ia kendalikan. Alister tak sadar sudah berapa lama dia mematung, terpesona di dalam ruangan yang tak terlalu besar namun terlihat sangat rapi ini. Mungkin jika dia tak mendengar sebuah suara, bisa dipastikan dia tak akan punya kekuatan untuk sekedar menggerakkan kaki dari ruangan ini.  "hiks ..., hiks ...."  Suara tangisan memenuhi rungu Alister. Dari mana asalnya? Saat keluar dari walk-in closet hanya ada ruang tengah yang menyambung dengan pantry. Dia menoleh ke kanan dan menemukan dua buah pintu. Tepat di samping ruang ganti di belakangnya ada ruangan lain rupanya. Saat dia melewati pintu itu,  suara tangisan yang tadi terdengar samar mulai terdengar jelas. Alister berjalan dengan penuh waspada ke arah ruangan yang dia prediksikan sebagai kamar tidur, dan wallaa ternyata pintunya tak terkunci. Kakinya memerintahkan ia untuk masuk, tapi otaknya meminta dia melanjutkan misinya. Sungguh ironis, tapi akhirnya dia memilih untuk mengintip dari celah pintu yang tak tertutup sempurna. "Papi jangan paksa Jenna tetep lanjut sama Excel hiks ..., dia jahat Pi, dia mau misahin Jenna sama semua orang yang Jenna sayang. Dia cuma mau perusahaan dan warisan Jenna aja Pi. Dia gak cinta sama anak Papi ini. Katanya setelah menikah nanti dia mau buat hidup Jenna lebih buruk dari neraka. Dia bahkan akan tetap tinggal dengan jalangnya hiks ...." racau Jenna di sela isak tangis yang terdengar menyayat hati.  ‘What?! that's rude!’ benak Alister melontarkan komentar jijiknya. Akhirnya dia memutuskan untuk masuk dan mendekat ke arah ranjang setelah tak tahan mendengar suara gumaman yang menyakitkan itu, ‘Soal diamuk oleh si pemilik kamar ini, itu sih urusan belakangan,’ batinnya lagi. Sekarang yang pasti dia jadi sangat penasaran dengan pemilik suara yang baru saja mencurahkan isi hatinya yang sangat menyakitkan tadi. Alister sudah berada di tepi ranjang, ‘Wait! This is that beautiful Angel yang ada di poster tadi, ‘kan?!’ pekik Alister dalam hati, matanya terbelalak seketika. Hatinya semakin sakit saat mengingat kembali kalimat yang terlontar dari bibir ranum gadis di depannya beberapa saat yang lalu. "Bagaimana bisa kamu bertemu dengan pria seperti itu, dan Papi kamu diam saja setelah tahu semua ini? Ah, tapi orang bréngsek akan selalu punya akal licik," gumam Alister sambil memandangi gadis yang masih mengerutkan keningnya. Ia jadi merasa tak tega dengan nasib buruk yang menimpa gadis di depannya, ‘Sekali saja aku ingin menghapus air matanya, apa boleh?’ pikirnya. Tepat saat saat ujung telunjuknya menyentuh lelehan air mata di pipi Jenna, gadis itu tiba-tiba memicingkan mata. Alister tersentak kaku, ‘Bodoh! Aku harus bilang apa nih sekarang?!’ umpatnya dalam hati. ‘Wait! Kok dia malah tersenyum?’ bingung Alister dalam pikiran paniknya.     "Are you my prince charming? Kamu beneran dateng setelah dengar permohonanku semalem? Kamu gak akan pernah tinggalin aku, ‘kan?" gumam Jenna tak sadar. Setelah mengatakan hal membingungkan itu dia kembali terlelap dengan menggenggam erat tangan kiri Alister yang tadi sempat menyentuh pipinya. ‘I'm done! Bukannya aku tak suka dengan situasi ini, tapi sebagian otak warasku sedang meneriakkan permasalahan utama yang harus kuprioritaskan dan hal yang lebih penting itu adalah aku harus cari tahu kenapa bisa sampai terjebak di tempat ini dan bagaimana caranya aku bisa segera menyelesaikan semua misiku seperti perintah yang harus segera kuselesaikan dan kembali dengan semua informasi yang dibutuhkan secepatnya?’ pikir Alister dengan logikanya yang kembali berjalan. Saat dia mencoba melepaskan tangannya dari cekalan tangan Jenna, gadis itu  malah semakin mengeratkan genggamannya di tangan besar Alister. Sekarang satu-satunya hal yang bisa Alister pikirkan dan lakukan adalah mencari informasi sebanyaknya tentang Jenna. Ya, gadis manis yang sekarang sedang terlelap dengan menggenggam erat tangan kirinya, “Pasti dia adalah kunci kenapa aku bisa sampai di tempat ini dan kemungkinan besar dia jugalah yang bisa membantuku,” tebak Alister. Alister mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar dan menemukan beberapa piagam penghargaan di bidang desain dan arsitektur. "Jenna Himeka Saba," cicitnya setelah mengamati seisi kamar bernuansa pastel di depannya, ‘Buku designs and arts, apakah dia masih kuliah?’ terka Alister saat kembali mengamati sekitarnya dengan lebih teliti, ia merekam semuanya baik-baik dalam ingatannya. Informasi sekecil apa pun akan sangat berarti, itulah yang selama ini dia pelajari. Kembali menyusuri isi kamar Jenna sampai matanya menangkap seutas tali kecil warna biru langit yang menyembul dari dalam laci nakas. Dia membuka laci itu perlahan dan menemukan sebuah buku. Rupanya itu sejenis buku harian dengan cover warna-warni dan sebuah nama cantik tertulis di sana menggunakan tinta glitter gold, ‘Sepertinya dia membuat cover ini sendiri. Aku tahu saat ini aku sedang lancang karena melanggar privacy orang. Bahkan ini untuk yang kedua kalinya setelah masuk ke kamar tidur seorang gadis sembarangan. Oh sepertinya aku sudah melakukan banyak kesalahan sejak pertama kali mendarat di sini. Nenek Ratu pasti akan meneriakiku saat tahu ..., Oh, that’s right! Tugas Grandmére untuk mencari tahu tentang seseorang! Bisa saja jika gadis ini ...!’ Lagi-lagi Alister berteriak heboh dalam pikirannya. Alister mulai mencari tahu sampai ia menemukan beberapa kecocokan dalam informasi di kepalanya, ‘Jadi, dia adalah gadis yang mereka maksud? Pantas saja dia terlihat sangat tak asing, harus kuakui jika Grandmére hampir selalu benar. Sudah jelas ini bukan hanya suatu kebetulan belaka. Berarti aku harus menyusun rencana untuk membuatnya bisa segera menerima keberadaan seorang Alister Abimara. Semakin cepat mendapatkan kepercayaannya maka semuanya akan segera selesai,’ sumpah Alister dalam hati. Entah sebagai seorang pria yang mulai tertarik dengan bidadari di depannya ataukah karena udah kebiasaan karena pekerjaan yang membuatnya mudah sekali penasaran.  Alister mulai membaca buku harian di tangan kanannya. Halaman pertama ada sebuah foto polaroid lengkap dengan tulisan "my lovely ohana" dan tertulis beberapa nama. Nasima, Kak Diba, Kak Bella, Bang Mauza, ‘Oke, Mauza sudah pasti pria yang ada di tengah ini. Lalu Nasima mungkin gadis tomboy yang berada di samping Mauza dengan rambut dikuncir ekor kuda, karena dua orang lainnya terlihat lebih dewasa jadi kemungkinan besar mereka adalah Diba dan Bella yang dia panggil Kak.’ Alister mengangguk kecil setelah ia merasa yakin. Halaman kedua masih sebuah foto polaroid, tapi kali ini mereka bertujuh. Ada dua tambahan personil dan keduanya pria. Tertera nama Hwan dan Rai di sana, ‘Kalau ini masih termasuk mudah ditebak dilihat dari namanya saja. Hwan pasti pria berwajah Asia ini, jadi yang satu lagi jelas bernama Rai.’ Halaman selanjutnya sampai terakhir berisi curahan hati Jenna. Mulai dari teman yang selalu memanfatkannya sejak dia sekolah, kenangan tentang perkelahian pertamanya dengan Nasima, awal mula persahabatannya dengan Nasima, perkenalan pertamanya dengan kakak-kakak Nasima yang akhirnya menjadi kakak-kakaknya juga, sedikit kisah mencengangkan menurut Jenna bahwa ternyata orangtua mereka saling mengenal, cerita tentang kakak ipar yang sudah dia tunggu kedatangannya selama ini, nama keponakan pertamanya, pertengkaran kecilnya dengan sang Papi yang bernama Barend Yodha Saba tentang fakultas dan universitas yang harus dia pilih, tantangan dari seseorang bernama mas Ardan yang ternyata kakak kandung Diba agar mereka bisa membuktikan diri dan terhindar dari stereotype para ahli waris yang hidupnya penuh dengan hal-hal berbau hedonisme, dia yang sempat digoda karena masih single dan lebih mementingkan game dan drama daripada menghabiskan malam minggunya pergi menonton dengan kekasihnya, keinginan absurd-nya tentang pria impiannya, perkenalan yang tidak berjalan mulus dengan beberapa pria yang merupakan teman-teman dari kakak-kakak kesayangannya, pernikahan Ardan yang dipercepat, berita perjodohan dan beberapa petuah dari maminya yang bernama Ekacitta Machiko tentang bagaimana menjadi istri yang ideal dan terakhir cerita tentang pria yang tadi membuatnya menangis dalam tidurnya, Excel. Dari sekian lembar tulisan rapi itu ada satu hal yang dari tadi terus menarik perhatian Alister. Curahan hati dan deskripsinya tentang husband material. Dengan deskripsi detail yang tertulis, "My Prince Charming impian gue itu seseorang yang bisa menerima gue apa adanya termasuk hobby ngegame gue. Bagus lagi kalo dia juga suka ngegame jadi kita bisa dating sambil main game. Sepertinya bakalan seru kalo gue dukung dia pas lawan Bang Mauza dan Nasima, terus dia harus penyabar dan penyayang like every man around of me karena Papi, Aa, Ayah dan Daddy Arya's, Papa Valerian termasuk Mas Ardan dan Bang Mauza mereka semua selalu melindungi kami, para gadis dan wanita yang mereka sayang and to be honest mereka termasuk kategori lelaki bucin sama pasangannya. Terus dia juga harus punya wawasan yang luas, humoris biar dia bisa menjauhkan gue dari hari-hari yang gloomy, dia juga harus lebih tinggi dari gue biar gue merasa nyaman setiap kali gue dapet pelukan dari body peluk-able-nya, disempurnakan dengan bibir lumat-able, dan tatapan mata yang selalu bisa menghipnotis gue. Bagus lagi kalo dia berwajah Adonis. Well, paling gak dia punya pesona dan kharismanya sendiri. Gak jago main gitar gak apa deh, asal jarinya panjang-panjang biar enak digandeng. Eh tapi, kalo dia tinggi otomatis tulang jarinya panjang, ‘kan? Whatever deh, yang jelas semoga kali ini gue bisa ketemu dengan Prince Charming impian gue yang punya kriteria husband material seperti yang udah gue deskripsikan tadi. Semoga aja Tuhan gak lupa ciptain yang model begitu. Aamiin," gumam Alister membaca rentetan harapan gadis cantik yang terlihat tidur lelap setelah menggenggam tangannya, “Gadis yang lucu dan menarik.” Alister mengembalikan buku harian milik Jenna ketempat semula persis seperti posisi terakhir yang jelas saja dia ingat berkat memori tajamnya. Masih dengan senyuman yang tersungging di wajah adonisnya. Mungkin sekarang ini kalau dilihat dia akan terlihat sangat konyol pikirnya, “Baru tahu sekelumit masa lalunya saja sudah membuatku tersenyum seperti ini.” Alister kembali menggeleng kecil sambil memandangi wajah terlelap Jenna. "Jadi, ini yang dimaksud hal spesial hanya terjadi pada orang-orang spesial di waktu yang spesial pula? Kalimat yang terdengar fantastis. So, Jenna. Lovely Jenna. Sepertinya sudah jelas aku tidak akan melepaskan kamu dengan mudah," cicit Alister dengan senyuman saat menyebut nama gadisnya sambil memandang lekat wajah cantik Jenna-nya. ✧✧✧     Hari sudah hampir fajar dan Alister masih setia memandangi wajah Jenna tanpa bosan. Sesekali otak cerdasnya bekerja merangkai kalimat yang akan dia ucapkan saat malaikat cantik di depannya nanti terbangun dari peraduannya, ‘Kalau nanti aku langsung peluk dan minta dia jadi istrinya seorang Alister Abimara, apa dia akan menamparku? Dia pasti menyangka aku psycho. Kalau kuajakin pacaran dulu gimana? Nanti dia bisa meragukan maksudku dan mengira ini hanya sekedar ajakan untuk pacaran saja atau langsung dilamar saja? Minta ketemu sama orang tuanya buat minta dia secara baik-baik? Lagi pula menurut data yang sudah terkumpul berkat tulisan Jenna di buku hariannya, dia harus bisa membawa calon suaminya sebelum hari kelulusannya, ‘kan? Ini berarti akan menjadi simbiosis mutualisme karena kami berdua bisa menyelesaikan dua tuntutan sekaligus.’ Otak Alister terus saja memikirkan semua kemungkinan, penyelesaian, dan menyiapkan beberapa rencana sepanjang malam. ‘Jadi, sementara ini kami bisa melakukan pendekatan dan saling mengenal lebih jauh sampai hari kelulusan Jenna tiba. Aku juga bisa punya cukup waktu untuk meyakinkan sahabat-sahabatnya. Dengan dukungan mereka yang akan membantuku secara tidak langsung saat membicarakan tentang niatku pada kedua orang tuanya saat kami bertemu nanti. Okay, it's sounds perfect for us,’ yakinnya dalam hati. Sekarang yang perlu Alister lakukan adalah menunggu sleeping beauty-nya bangun agar dia bisa segera memulai rencana brilliant yang sudah tersusun rapi di kepalanya. Jenna bergerak kecil dalam tidurnya, dia merenggangkan otot tubuhnya yang otomatis melepaskan genggaman tangan mereka. Alister merasa hampa seketika, tapi ini lebih bagus daripada Jenna bangun dalam keadaan menggenggam tangan pria asing. Alister segera beralih ke sofa yang terletak di dekat jendela. Dia masih bisa mengamati Jenna dari duduknya, menikmati keindahan yang sepertinya sudah sengaja Tuhan ciptakan untuknya. Benar-benar maha karya yang patut dihargai dan dijaga pikirnya. Alister melirik ke arah jam yang terletak di atas nakas, sudah hampir jam empat sekarang. Alister jadi merasa tak sabar,  ‘Waktu cepat sekali berlalu. Sekarang aku jadi tak sabar menunggu kapan Jenna akan terbangun. Cepat bangun dong, Sweetheart and let's talk about our future,’ doa Alister dalam hati dengan tatapan terpaku pada sosok cantik di depannya. Well, meskipun dalam keadaan yang sedikit kacau karena tidur sambil menangis. ‘Memang aku sudah tak sabar untuk membicarakan banyak hal dengan Jenna, tapi bukan berarti aku harus mengejutkannya di saat pagi buta seperti ini. Karena aku tak berencana untuk ditendang keluar sebelum berhasil mendapatkan hatinya,’ pikir Alister lagi. Kalah sebelum berperang tidak akan pernah ada di kamus seorang Alister Abimara. Apalagi misi kali ini adalah mendapatkan hati calon istrinya. ‘Oh my ..., aku suka sekali dengan kata-kata itu 'calon istri', 'Istri'. Ya ampun, memang benar perasaan seperti ini sangat berbahaya jika harus ditambah dengan keadaan yang sekarang sedang kami alami. Ada rasa hampir meledak karena terlalu bersemangat. Jenna Himeka punya sihir apa sih sampai membuat perasaan seorang Alister Abimara jadi seperti ini? Tenang Alister. Please jangan kekanakan seperti ini. Kemana perginya Alister Abimara yang selalu tenang dan berwibawa?’ rutuknya dalam hati. ‘Kamu jangan bertingkah memalukan seperti ini dong, Al. Apa tak malu dengan image seorang Alister Abimara selama ini? Ingatlah kalau Alister masih disegani oleh para senior dan dijadikan role model oleh para juniornya. Apa kamu tak akan malu kalau mereka tahu kelakuanmu bisa sampai seperti ini hanya karena sedang jatuh cinta?’ Alister tersenyum geli, ‘but, Dude. Aku sudah menunggunya sampai selama ini. Bahkan tenggelam dalam pekerjaan dan tugas besar yang tak berujung. Apa salahnya kalau aku merasa bahagia ketika sudah menemukan belahan jiwaku? Jelas aku juga butuh seseorang yang akan menemani hari-hariku seperti yang seharusnya. Seseorang yang bisa aku bahagiakan dengan semua milikku. Seseorang yang akan selalu ada untukku apa pun keadaanku. Someone that I call my home, and that is her, Jenna Himeka Saba. Gadis yang instingnya sedikit buruk karena dia masih belum bangun juga walaupun aku sudah ada di dekatnya semalaman. Bahkan aku sempat beberapa kali berbisik, tapi dia tetap tak terpengaruh apalagi membuka mata.’ Pertentangan batin Alister terhenti saat melihat Jenna kembali bergerak dalam tidurnya. Dia terlihat mengernyit dan sedikit gelisah dalam tidurnya.  “Apakah hari-harimu begitu berat sebelum aku datang? Kamu sudah banyak menangis dan terluka, Jenn. Mulai sekarang Alister Abimara ini berjanji akan selalu ada untuk Jenna Himeka Saba. Kamu tidak akan pernah sendirian lagi mulai sekarang. It's no longer just you or me, from now on it's us. Jenna Himeka ...,” gumaman Alister kembali terjeda saat ia mengingat sesuatu, ‘Wait! Should I call you Jenna Himeka Abimara mulai sekarang? Kata si trouble maker number one. Di Indonesia setelah menikah para gadis akan menggunakan nama belakang suaminya. Jenna Himeka Abimara memang terdengar lebih bagus daripada Jenna Himeka Saba, sih. Rasanya sudah tak sabar untuk memanggilmu dengan nama yang benar. My Jenna Himeka Abimara!’ Monolog panjang Alister terhenti seketika saat Jenna mulai menggeliat dan merenggangkan otot-ototnya. Tidak lama disusul dengan gerakan menutup wajahnya malu-malu, ‘Apa yang sedang dia pikirkan? Dia terlihat sangat menggemaskan saat menendang-nendang selimut seperti itu. Apalagi saat dia mulai berteriak tertahan seperti yang baru saja dia lakukan. Demi Tuhan rasanya aku ingin memeluk dia sekarang juga. Ayo dong, Sweetheart lihat ke sini.’ Seolah mendengar teriakan batin Alister. Jenna perlahan menoleh ke arah tempat Alister duduk dengan penuh gaya saat ini. ‘Ok. It's showtime, Al! Saatnya untuk menjalankan misi tak terduga ini!’ teriak batin Alister sambil tersenyum saat ia mengingat misi besarnya sudah di depan mata.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD