Prince Charming is Coming

1867 Words
Soal urusan cinta. Rencanamu bukanlah sebuah trik untuk mengelabuhi belaka, tapi strategi meluluhkan dan meyakinkan pasanganmu. Karena cinta itu harus diperjuangkan, My Maaan. [Alister Abimara, Jenna Himeka Saba — Irudimena: Fantasy] Mau bilang apa lagi dia? Gombalan model apa lagi kali ini yang bakalan dia keluarin?!  Gue mendengus kesal, "Awas aja kalau sampai lo ngegombalin gue yang macem-macem lagi!" bentak gue sebelum dia mulai membuka mulutnya. Dia menautkan kedua alis tebalnya yang membuat wajahnya terlihat lebih seksi berkali-kali lipat, "Gombal? Apa itu?" tanyanya nampak bingung dan asing dengan pilihan kata yang gue pakai. "Mengatakan hal-hal manis yang terlalu berlebihan untuk merayu lawan jenis," jelas gue. Dia tertawa lepas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya seketika, "Jadi, dari tadi kamu menganggap saya sedang mencoba merayu kamu?" terkanya dengan wajah heran. “Iya, ‘kan? Kalimat lo terlalu mengada-ada untuk seseorang yang baru ketemu beberapa jam," cicit gue sedikit mengernyit gak yakin karena dia memberikan respon yang gak gue duga. Jadi, sebenernya dia ngegombal atau serius sih? Gak mungkin serius juga, ‘kan? Gue gak mau terlalu percaya diri apalagi sampai salah paham. "Saya hanya mengatakan apa yang sedang saya rasakan saat ini. Sebenarnya bukan hanya saat ini saja sih, tetapi dari awal saya melihat kamu sepertinya saya sudah jatuh cinta sama kamu. Wait! BUKAN SEPERTINYA. Saya yakin kalau RASANYA SAYA MEMANG BENAR-BENAR JATUH HATI SAMA KAMU, dan hal inilah yang ingin saya katakan sama kamu tadi," cerocosnya membuat gue makin tercengang saat mendengarnya. Terutama saat dia menekankan beberapa kata dengan sangat meyakinkan tanpa ragu sedikit pun. Mungkin dia khawatir kalau gue masih menganggap dia kagak serius atau semacamnya. Gue tertawa tak percaya padahal hati gue mulai berteriak menggila ketika mendengar suara husky-nya yang lantang meneriakkan kata cinta, "Wow wow wow easy, Mister! Serangan lo mendadak banget sih. Untung aja gue gak ada riwayat penyakit jantung. Kalau gak udah fix gue bakal Knock Out denger kalimat lo barusan,"  komen gue sambil terbahak. Walaupun dia bikin luka akibat kecewa gue mendadak sembuh sekejap mata, tapi gue gak boleh lengah sama cowok apalagi kalau tampilannya macam dia. Gue gak percaya sama kata-kata dia, lebih gak percaya lagi sama istilah cinta pandangan pertama yang dia gunakan. Ini cowok naif, polos, apa nge-test?  Gila ini orang! Bisa segitu delirious-nya dan blak-blakan banget. Gue curiga dia player tingkat savage dengan deretan para gadis cantik nan seksi di sekitarnya. Alister menyunggingkan senyum mautnya yang bisa bikin diabetes seketika lalu berkata, "Saya sangat serius dan jangan berpikir saya biasa mengatakan ini kepada sembarang perempuan lain. Karena pada kenyataannya saya tidak punya banyak waktu untuk sibuk merayu. Seperti yang saya bilang sebelumnya, saya sibuk menghabiskan waktu saya untuk melakukan banyak penelitian di dalam lab dan kamu adalah perempuan pertama yang mendapat hak eksklusif ini, bahkan kalau mau mungkin bisa jadi satu-satunya?" rayunya sambil mengerling. Oops! dia seolah bisa menebak apa yang sedang gue pikirkan. Ternyata bukan cuma penampakannya aja yang bisa bikin gue tergila-gila, cara dia merangkai kata-kata pun bisa bikin gue menggila. So, setelah ini bagian apa lagi yang bisa bikin gue 'gila'? Gue tersenyum manis sedikit diplomatis. Oke kalau dia mau bermain-main, gue punya lebih dari cukup waktu luang buat menghibur diri sama kejadian paling konyol dalam hidup gue sekarang ini, "Gue gak ada bilang kalo lo playboy, loh. Lo aja yang membuat kesimpulan secara sepihak," elak gue sedikit mencoba menjadi tuan rumah yang ramah. "Kamu semakin cantik kalau tertawa seperti itu." Tatapan matanya dalam dan lekat memandang tepat ke manik mata gue. Menembus ke dasar hati, menggetarkan sesuatu di dalam sana yang hampir saja mati membeku. Wah gawat, gue jadi ketularan picisan kayak ini orang. Wajah tampan emang berbahaya.  Spontan gue memutar bola mata gue mendengar rayuannya, "Jadi, maksudnya gue gak cantik kalo gak senyum, gitu?!" sembur gue.  Dia terlihat terkesima, "...,  dan ternyata saya baru tahu kalau kamu juga memiliki sisi seksi seperti barusan." Tatapan matanya masih dalam, tapi sama sekali tidak merendahkan. So, pujian seksi yang barusan dia lontarkan bukan bermaksud sebagai godaan cenderung melecehkan, kah? Gue memutar bola mata dengan jengah sekali lagi karena mendengar kalimat cheesy  yang dia lontarkan tiba-tiba, "Ini yang disebut gak pernah ngerayu cewek di luaran sana dan selalu ada di lab sepanjang hari?!" sinis gue. "Hahahaha, Saya benar-benar serius. Saya harus membuktikan perkataan saya dengan cara apa lagi agar kamu percaya?" tanyanya dengan nada meyakinkan walaupun terdengar sedikit, frustasi?! "Lalu bisakah kamu berhenti memutar bola mata seperti itu. Don't you know every time you do that, you drive me crazy?" akunya tanpa filter. Oke kalimat barusan bikin gue makin merinding. Ini orang kenapa bisa kelihatan tergila-gila banget ke gue padahal kami baru aja ketemu? Belum ada dua puluh empat jam loh ini dan dia seyakin itu sama perasaannya?!  "Kalimat lo makin ke sini makin bikin merinding tahu gak? Merinding karena ngeri ya, bukan hal lain! Kita ngobrol aja belum ada dua puluh empat jam dan lo udah muji gue, Said that you're in love with me or something like that?!" ujar gue meragukan kesungguhannya. Biarin aja dah kalo dia nganggep gue apatis atau bahkan gak menghargai perasaannya. Gue aja gak yakin apakah ini nyata atau halusinasi? "Apa menurut kamu harus ada batas waktu tertentu sebelum bisa menyukai atau bahkan mencintai seseorang?"—ia menghela napas—"atau kamu tidak percaya kalau seseorang bisa jatuh cinta pada pandangan pertama? Apakah untuk jatuh cinta itu artinya harus menemukan alasan yang tepat lebih dulu baru boleh jujur kepada orang yang disukainya? Bagaimana kalau ternyata waktu tak berpihak dan kata cinta itu tak pernah terucap?" Tembakan yang tepat sasaran mengenai ego gue. Gue masih terdiam sambil melihat bahasa tubuhnya. Antara tidak menemukan kalimat yang tepat untuk menjawab dan menyanggah atau bahkan tidak bisa berkata-kata karena alasan lain yang mungkin gak gue pahami. "Cinta itu lebih rumit formulanya dari pada semua obyek penelitian paling rumit yang pernah saya teliti selama ini. Bahkan mungkin butuh waktu seumur hidup buat mencari tahu dengan detail." Terdiam, gue masih terhipnotis dengan hipotesanya yang bahkan enggak rumit sama sekali. "Jadi, kalau saya harus menghabiskan seumur hidup untuk mencari jawabannya. Bolehkah saya melakukan penelitian ini bersama denganmu, Jenna?" Tanpa gue sadari sekarang dia sedang menggenggam tangan gue. Kalau ini bisa dikategorikan sebuah lamaran yang berawal dari kegilaannya dan kelicikan gue, udah jelas gue langsung jawab iya aja. Yang penting gue bisa beneran terbebas sepenuhnya dan secepatnya dari masalah Ex kemarin dan juga tuntutan Papi, tapi emangnya gue bisa seegois dan sejahat ini padahal pernikahan bukanlah hal yang main-main? "So, yang barusan itu pertanyaan atau pernyataan? Terus dari mana lo tahu nama gue?" tanya gue dengan polosnya. "Jelas pertanyaanlah, Jenna Himeka Saba. Saya meminta kesempatan untuk mengenal kamu lebih dekat lagi walaupun saya tipe orang yang tidak suka membuang waktu, tetapi perasaan ini ‘kan seharusnya dua arah. Jadi, tidak mungkin kalau saya memaksakan perasaan saya ke kamu. Kalau soal nama, seharusnya kamu tidak lupa dengan piagam penghargaan di bidang desain yang kamu pajang di dalam kamarmu." Laki-laki ini, padahal gue baru tahu beberapa jam doang, tapi semakin mengenalnya selalu berhasil membuat gue terheran-heran karena sepertinya dia bisa dengan mudah membaca pikiran gue. Dia berbeda! Ya jelas aja orang dia dari abad yang berbeda pula. Tadi dia sempat bahas soal tugas juga, apa dia punya alat buat pertahanan diri dengan membuat makhluk lain yang berpotensi menjadi halangan atau bahkan ancaman tersingkir secara gak sadar dengan sendirinya? Pasti ini akal-akalannya aja nih biar gue lengah, makanya dia sengaja mainin hati gue. Bahkan dengan mudahnya dia berhasil meyakinkan gue saat gue sendiri belum merasa pasti dengan keyakinan itu, dan lebih gilanya lagi ini semua pasti karena He's exactly like my wildest dream's Prince Charming makanya dia bisa dengan mudah bikin gue terlena. To the point, tapi tak arogan. Berprinsip, tapi tidak memaksakan sudut pandangnya. Jika ditambahkan dengan pengetahuan, penampilan, dan attitude-nya udah jelas he's beyond my expectation! Apalagi sorot mata emeraldnya, his dimples, senyumnya, dan suara raspy husky-nya. Sungguh paket lengkap yang istimewa. So, Jenna Himeka Saba apa lo yakin mau melewatkan yang satu ini, meskipun lo sekarang terlihat sangat jahat karena bermaksud buat memanfaatkan situasi ini untuk kepentingan lo sendiri?! Entah ini beneran pengaruh alat atau alasan lain yang bikin seolah dia jadi kelihatan seperti jawaban atas semua doa gue, itu gak jadi masalah asal dia bisa diajak kerja sama. Apa mendingan gue ajakin nikah kontrak aja ya? Niruin kayak yang di novelnya kak Diba atau DraKor gitu. "Kita bisa coba dengan saling mengenal lebih dulu, ‘kan?" usul gue dengan senyum termanis sambil mengeratkan genggaman tangan kami. KAMI? yes, it's mean you and me! "Seriously?!" Please, bahkan ekspresi terkejutnya aja setampan ini coba. Gue pasti bakalan mudah bucin sepertinya. "Sure, tapi tetep ada masa training enam bulan ya," jawab gue sedikit menggodanya. "No problem. Biasanya setelah training itu ada kontrak lagi, ‘kan? Boleh saya mengajukan kontrak seumur hidup?" ujarnya sambil mendekat ke arah gue dan menarik lembut tangan gue untuk berdiri. "Kalau soal kontrak seumur hidup berarti proposalnya harus dapet persetujuan dari bapak Barend Yodha Saba sama ibu Ekacitta Machiko lebih dulu. Emang udah siap?!" tantang gue asal. “Asalkan baterainya di-charge sampai penuh tiap hari, apa pun tantanganmu pasti akan saya penuhi," ujarnya dengan nada sok yakin. "Charging baterai?" beo gue sambil mengernyit. Tanpa menunggu lama dia memeluk gue dengan erat. "Jadi, ini maksudnya charging?" Gue tertawa geli dalam pelukannya saat gue merasakan dia mengangguk dengan antusias. "Kita harus punya panggilan kesayangan, ‘kan?" Pertanyaan yang gak gue duga dari seorang cowok. Biasanya yang ribet soal beginian ‘kan cewek. "Aku ikut kamu aja asal jangan yang norak!" timpal gue sambil menatap wajahnya. Gue cuma setinggi dadanya jadi gue bisa denger detak jantungnya yang sekarang sedang berdetak kencang. Berarti dia lagi gak bohong dong dari tadi? "Jadi, sekarang sudah aku-kamu manggilnya?" godaannya, langsung gue sambut dengan cubitan gemas di pinggangnya. "Mau aku balik lagi pakai lo-gue atau ngikutin kamu pakai saya-kamu aja?" rajukku mencebikkan bibir. "Jangan bikin aku khilaf, please," ucapnya sambil mendekatkan wajah. Bikin gue nahan napas seketika. "Breathe, Sweetheart. Aku masih tahu batasannya kok." Setelah membisikkan kalimat itu dia mencium kening gue cukup lama. "Jadi, sekarang panggilnya Sweetheart nih?" goda gue lagi-lagi menghancurkan suasana romantis tanpa sengaja. "Sebenarnya aku lebih suka dengan pilihan yang lain. Istriku misalnya, tapi ini ‘kan masih masa training hari pertama. Jadi, aku harus sabar menunggu." Dia tersenyum manis dengan dimple di kedua pipinya. Akhirnya gue memberanikan diri buat menyentuh lesung pipi itu karena gue udah gemes banget dari tadi, "Kalau itu ‘kan udah tahu harus lewat fit and proper test lebih dulu. Sabar, ya," jawab gue sambil kembali menikmati pelukan hangatnya. Ini semua masih terlalu indah buat jadi nyata. Gue yakin ini mimpi dalam mimpi kayak kemarin. By the way, ngomong-ngomong soal test. Tumben banget ponsel gue sunyi senyap. Seperti ada yang aneh, tapi gue masih enggan lepas dari pelukan ternyaman setelah pelukan anggota keluarga gue ini. Mungkin sebentar lagi ini bakalan jadi pelukan terfavorit gue sih. Hehehe, maafkan putrimu ini Papi dan Mami. Gue juga bakal secepetnya kasih tahu A Willy, Kak Yumna, Kak Diba, Kak Bella, Bang Mauza dan Nasima sebelum makin banyak praduga aneh bermunculan seketika. Jenna PoV end
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD