14

975 Words
Adam baru saja ke luar dari salah satu ruangan di kantor polisi lepas isyak, ia banyak menerima pertanyaan seputar ciri fisik orang yang menyerang Livia, berkali-kali Adam menghela napas, meski kejadian begitu cepat, meski penyerang berusaha menutup wajahnya dengan topi, kacamata dan masker, Adam hafal betul postur tubuh penyerang Livia, ia terpaksa mengatakan tidak jelas pada penyidik, ia akan mengurus masalah ini secara pribadi, ia akan membuat perhitungan pada penyerang Livia. **** Saat Adam baru sampai di parkiran rumah sakit ia melihat dua orang polisi berpapasan dengannya, seketika hati Adam berdetak keras, apakah mereka telah mendapat informasi dari Livia? Sejuta tanya Adam bermunculan di kepalanya. Saat akan masuk ke ruangan Livia, ia berpapasan dengan Candra yang menatapnya dengan tatapan tajam. "Kau mengaku tunangannya, tapi tak becus menjaga nyawanya, untung sabetan di pinggangnya tidak parah, hanya lengannya yang robek agak memanjang," "Tidak ada urusan denganmu, kau bukan apa-apanya," sahut Adam. "Dia klienku, dia masih sering meminta nasehatku, dia sering mengeluh kau terlalu posesif, ditambah mulut adikmu yang membuatnya kehilangan percaya diri,lebih baik kau menjauh, kalau bukan karena kau, dia takkan mengalami nasib seperti ini, tadi polisi banyak  bertanya pada Livia dan bundanya, sekarang sudah ketahuan siapa yang merencanakan ini, kau tahu polisi sempat curiga padaku, tapi aku bukan orang gila yang akan membunuh wanita yang aku sukai," Candra berlalu dari hadapan Adam. Adam hendak mengejar Candra saat Devi muncul dihadapannya dengan mata berkaca-kaca. "Dam, bagaimana mungkin sampai sejauh ini, bagaimana mungkin Daaam, ibumu ada di kamar Livia sekarang, tadi polisi sudah mencocokkan dengan keterangan Livia, dia masih lemah, tapi ia bisa menjawab pertanyaan polisi, juga ibumu diitrogasi," akhirnya air mata Devi mengalir juga. "Maksud ibu..maksud ibu bagaimana?" tanya Adam bingung. "Kami semua kaget saat polisi menangkap adikmu, tidak mungkin adikmu yang melakukan ini, penyelidikan polisi sangat cepat, kejadian ini pagi, mas Nanta langsung lapor polisi dan baruuu saja adikmu ditangkap, barang bukti yang berupa pisau ditemukan di area hypermart, mereka akan segera melakukan penyidikan malam ini juga Dam, pembuktian sidik jari saat ini sedang dilakukan menurut mereka, tapi kami tak yakin, tak mungkin adikmu yang melakukan, apa alasannya dia melakukan ini, meski benci pada Livia mengapa sampai berniat melukai, atau mungkin ingin membunuh Livia, ibu juga tak percaya Dam," ujar Devi sambil sesekali mengusap air matanya. "Aku jadi berpikir, jika akan membuat Livia celaka akan lebih baik kau menjauh Dam dari Livia, jika memang benar adikmu yang melakukan ini, suatu saat dia bebas, maka aku yakin ia akan melakukannya lagi, lalu apa alasannya mengapa sampai berbuat senekad ini pada Livi, aku curiga dia mempunyai perasaan suka padamu, kalau hanya sekadar membenci Livia tidak akan sampai melakukan percobaan pembunuhan seperti ini, pikirkan lagi Dam, apakah kau akan melanjutkan hubunganmu dengan Livia yang malah membahayakan hidupnya seperti ini,"  ujar Devi meninggalkan Adam yang mematung sendiri. Sejenak Adam memejamkan matanya, setelah sekian tahun akankah dia harus mundur, akankah penantiannya berakhir mengenaskan? **** "Biru bagaimana bun?" tanya Livia dengan suara lemah. "Jangan mikir Biru, dia akan baik-baik saja, di rumah dia terbiasa dengan banyak orang, kadang Ejak dan Nat membawanya ke rumah mereka, paling tidak ada teman bermain bagi Biru," Devi menyuapi Livia yang terlihat enggan makan. "Makanlah yang banyak Livia, masak baru tiga sendok sudah malas makan?" tanya Devi, bersamaan dengan Candra masuk ke ruangan Livia. "Alah itu manja paling tante, minta saya yang nyuapin, sini tante biar saya," Candra meraih boks makan dari tangan Devi dan duduk menggantikan posisi Devi di samping Livia. "Ayo, kalau tidak mau makan aku cium kamu, ak buka mulut," ujar Candra dan Livia menurut, Devi hanya tersenyum melihat tingkah konyol Candra. "Biar kalau susah makan lagi, panggil saya tante," pinta Candra dan Devi hanya tertawa. Pintu kamar terbuka lagi dan terlihat wajah Adam yang melihat pemandangan di depannya dengan wajah dingin. Candra berusaha santai sambil menyuapi Livia yang terlihat canggung, mungkin karena ada Adam yang langsung berdiri di sisinya. "Ayooo cepet tinggal dikit, nanti biar cepat pulih tuh jaringan yang ada dilengannya, ada-ada saja, Livia, nasib kok gini amat," ujar Candra meraih air dan mendekatkan ke bibir Livia. "Biar saya yang melanjutkan menyuapi," pinta Adam. "Sudah habis," ujar Candra dan berlalu dari hadapan Adam serta Livia. "Tante, saya ke luar dulu ya, mau visit ke pasien yang lain," Candra pamit pada Devi dan melambaikan tangan pada Livia yang tersenyum padanya. "Ibu, saya akan tetap di sisi Livia, ijinkan saya, setelah kami menikah, saya ajan membawanya ke tempat yang aman, kami akan hidup bertiga, agar tidak ada gangguan lagi pada Livia," ujar Adam. Pintu tiba-tiba terbuka dan nampak wajah Ananta yang mengeras melihat wajah Adam, lalu duduk di samping Devi. "Adikmu benar-benar keterlaluan, kau tahu saat di ruang interogasi, ia tak menampakkan wajah menyesal malah dia bersumpah akan membunuh Livia, aku yakin kau tahu jika dia pelakunya saat kejadian makanya kau tak berusaha keras untuk melawannya, aku setuju Devi, lebih baik kau menjauh dari Livia, aku tak ingin sepanjang hidup Livia akan berbahaya, aku yakin bukan hanya Livia, hidup Biru nantinya juga akan terancam, dia wanita yang terobsesi untuk hidup denganmu, maka semua rintangan akan dia singkirkan ya maklumlah kata ibumu orang tua anak itu berpisah, dan dia merasakan hanya kamu yang bisa memberinya kasih sayang, makanya saat ada Livia yang kamu cintai, ia merasa ada saingan, dan saingan itu akan ia singkirkan, aku minta dengan sangat, aku memohon padamu, demi Livia dan Biru, menjauhlah dari kehidupan kami, aku akan memberi kompensasi yang cukup, untuk hidupmu dan ibumu," ujar Ananta dengan wajah memerah menahan marah. Adam menunduk, napasnya terasa sesak karena ia baru tahu jika Lauza mencintainya sebagai laki-laki dewasa. "Saya mencintai Livia sejak lama Pak, Bu, apakah perjalanan saya harus terhenti sampai di sini?" tanya Adam memandang Livia dengan tatapan sedih. "Cintamu akan membuat hidupnya berbahaya Dam, sepanjang hidupnya, kau mau dia mati di tangan adikmu, kau bisa menjamin dia tak akan membahayakan Livia lagi?" tanya Ananta dan Adam tak bisa menjawab. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD