"Ayah, bunda, Livi pengen bicara," ujar Livia. Suara Livia terdengar saat ayah dan bundanya seolah menghakimi Adam.
"Kejadian itu berlangsung sangat cepat, Livi lihat sendiri bagaimana usaha mas Adam menyelamatkan Livia, tendangan mas Adam sampai orang itu tersungkur, Livi lihat sendiri, ini kecelakaan yang Livi pikir nggak ada yang ingin, nggak adil rasanya kalau mas Adam yang disalahkan," ujar Livia. Adam menatap Livia dan hatinya yang tadi sakit tiba-tiba mengembang seketika.
"Kami menyayangimu Livia, setara dengan sayang kami pada Sena dan Ejak, kami tahu bagaimana cinta Adam padamu, kesetiaannya dan ketulusannya bertahun-tahun di sisimu kami tahu itu, tapi dengan kejadian ini kami jadi ngeri, wanita itu akan kembali melanjutkan niatnya saat ia bebas nanti, kami tidak ingin kamu mati konyol, ayah melihat sendiri mata wanita itu yang mengerikan mengatakan tidak menyesal telah melukaimu, ia berharap kamu mati, kamu tahu itu Livia?" Ananta menatap wajah Livia dengan kecemasan yang amat sangat.
"Ayah, ijinkan Livia melanjutkan niat mas Adam semula, bukankah ayah dan bunda mengijinkan kami menikah sebulan lagi, Livia bersedia, apapun resikonya karena Livia pikir, meninggal bisa di mana saja, saat melihat pisau di depan mata Livia, Livia akhirnya sadar bahwa mati tidak bisa kita takuti dan kita hindari, bisa kapan dan di mana saja, Liviaaa, Livia kasihan mas Adam, jika menanggung semua masalah ini, sekali lagi ijinkan kami menikah," Livia terisak dan Devi mendekati Livia, memeluk dan menciumi Livia yang berbaring.
"Kami sangat ketakutan Livi kami tak ingin kamu celaka, saran bunda, jika memang kalian sudah sangat ingin menikah maka setelah menikah, pindahlah ke Ubud, kau tangani lagi tiga toko kue di sana bersama Adam, toh salah satunya memang milikmu karena Ejak yang sibuk dengan hotel dan cafe, sedang Sena semakin tak terjangkau karena kau tahu sendiri aset papanya Nira seperti apa, bawa serta ibu Adam, jadi tak ada akses wanita itu untuk mencari informasi tentang keberadaan kalian," ujar Devi.
Ananta diam saja, ia tak berkomentar, hanya menatap Devi dan terlihat tak tahu harus berbuat apa.
"Mas gimana?" tanya Devi pada Ananta.
"Yah, tak ada jalan lain, aku tahu kau mencintai Livia, Dam, tapi kejadian ini benar-benar membuat kami ngeri, kalian tak melihat mata penuh dendam wanita itu saat diinterogasi, aku hanya tak ingin Livia dan Biru terluka, mati memang bisa di mana saja, tapi setidaknya kita ingin meninggal dengan cara tidak mengenaskan," ujar Ananta pelan.
"Hidup Livia penuh liku Dam, kami ingin dia baik-baik saja setelah menikah nanti, tak ada jalan lain bagi kami selain merestui kalian," ujar Devi.
"Hanya melihat luka di lengan Livia yang terlihat parah aku yakin bulan depan belum bisa terlaksana pernikahan kalian, paling cepat dua bulan lagi," ujar Devi.
"Tak masalah ibu, saya akan menunggu, saya tidak akan lelah menunggu Livia berada di samping saya," sahut Adam dengan kelegaan yang amat sangat.
Sementara Candra yang awalnya ingin masuk, ia terlihat diam cukup lama di depan pintu ruangan Livia. Menghembuskan napas berat, saat mendengar akhir dari percakapan orang-orang di dalam ruangan itu.
****
Saat Devi dan Ananta pulang dan tinggal Adam yang menemani Livia, secepatnya Adam memdekati Livia, mencium ujung kepala Livia berkali-kali.
"Terima kasih Livi, kau mempertahankan aku, aku berjanji tidak akan membuatmu menderita lagi, kita pergi jauh dari sini Livi, kita mulai hidup di tempat baru," ujar Adam.
"Aku melihat sendiri bagaimana mas melompat menyelamatkanku, pisau itu hampir mengenai mas, aku melihat mas mati-matian melindungi aku, aku tak tahu, aku cinta atau tidak pada mas, yang pasti apa yang mas lakukan padaku sudah cukup membuat aku yakin bahwa mas sanggup melakukan apapun untukku, maafkan ayah dan bunda, mereka hanya ingin aku aman," ujar Livia.
"Sejujurnya hatiku terasa diremas, saat ayahmu menyuruhku menjauh darimu dan akan memberikan uang pada aku dan ibu, cinta tak bisa dinilai dengan uang Livi, mungkin semua mengatakan aku bodoh, t***l telah menunggumu sekian tahun, tapi aku tak peduli, akan lebih t***l lagi jika aku memaksakan diri baik-baik saja tanpamu, aku pernah menjauh darimu sebulan, itu rasanya sudah sakit, apalagi jika kita benar-benar terpisah, terserah kau menganggap aku apa Livia, yang jelas, kita harus menikah, kita pergi jauh Livia, kita akan aman, aku, kau dan Biru," Adam kembali menciumi ujung kepala Livia berulang.
"Aku mencintaimu Livia,"
"Aku akan berusaha mencintai mas, wajah ketakutan mas dan berubah jadi beringas saat peristiwa itu menyadarkanku bahwa aku bahwa cinta mas tidak pernah main-main,"
Livia merasakan tangan Adam mengelus pipinya.
"Mengapa harus menunggu terluka, baru kau percaya bahwa aku tidak main-main," ujar Adam.
LIvia diam saja, ia hanya lelah menghadapi semuanya, ingin menjauh dari bermacam konflik yang ia hadapi.
****
Pagi hari saat Candra melihat luka di lengan Livia, tiba-tiba ia bertanya.
"Kamu mantap akan menikah dengan Adam?" tanya Candra tiba-tiba. Livia kaget dengan pertanyaan Candra yang tiba-tiba, tapi beberapa detik kemudian Livia sudah bersikap wajar lagi.
"Dia telah sabar menungguku bertahun-tahun, menemaniku mulai aku hamil, melahirkan sampai menjaga Biru saat sakit, dan aku pikir tidak semua laki-laki sanggup menunggu selama bertahun-tahun, apalagi dengan kondisiku yang hamil, jika dipikir kan alangkah bodohnya dia mencintai wanita bekas orang lain, mengasuh anak laki-laki lain, juga sabar menghadapi aku yang kadang nggak jelas, apalagi ditambah kejadian kemarin saat semuanya menghakimi dia tak bisa menjagaku, tapi aku yang mengalami langsung peristiwa itu dapat melihat bagaimana dia melompat berusaha menyelamatkanku, tak takut pisau yang ada di depan matanya, menendang orang yang menyerangku hingga tersungkur, hingga pada kesimpulan, tidak semua laki-laki akan bertindak bodoh seperti itu kecuali karena alasan dia betul-betul mencintaiku," ujar Livia panjang lebar.
"Kau mencintainya?" tanya Candra lagi.
"Setelah semua yang aku alami dalam hidup, ternyata kenyamanan lebih aku perlukan dari pada cinta, aku yakin cinta akan datang dengan sendirinya, karena pengalaman hidup yang aku alami cinta hanya mendatangkan kesesangsaraan Ndra, dan kau kembalilah pada pacarmu, dia mencintaimu, maaf jika aku ikut campur," ujar Livia.
"Dari mana kau tahu dia?" wajah Candra tiba-tiba berubah.
"Mas Adam yang bercerita jika pacarmu adalah teman smanya," jawab Livia. Candra mengerutkan kening.
"Apakah dia bercerita semua masalah kami pada Adam?" tanya Candra terlihat menatap Livia dengan tajam.
"Tidaaak dia hanya bercerita jika kau memutuskan hubungan dan saat disusul ke Singapura kau malah mengatakan sudah menyukai orang lain, ah Ndra kembalilah padanya, dia mencintaimu," ujar Livia.
"Tidak, dia mencintai pekerjaannya, dan aku diabaikan, dia lebih senang jadi dokter terkenal dari pada mendampingiku, aku tidak suka wanita dominan, mengapa sebagian laki-laki menyukai tipe wanita sepertimu, karena hanya dengan menatapmu seolah kau butuh perlindungan," sahut Candra.
"Kau hanya cemburu karena karirnya lebih bagus darimu, bicarakanlah lagi berdua, aku yakin dia mau mengalah, karena dia sampai nangis-nangis karena kau putuskan, artinya cintanya padamu sangat besar," ujar Livia lagi.
"Tapi cintaku padanya sudah hilang," sahut Candra.
"Tidak mungkin secepat itu, pasti kau hanya marah, renungi lagi bahwa cinta yang kau miliki....,"
"Hanya untuk kamu Livia....,"
Dan mulut Livia terbuka karena kaget.
****