30

1132 Words
"Mas, jadi hari ini?" tanya Livi saat Adam memakaikan kaos kaki dan sepatu Biru. "Yah, aku sudah berjanji, kami akan bertemu di toko roti," Adam menurunkan Biru dari kursi dan menggandeng tangan Biru. "Bai Biru, jangan rewel ya?" "Ya, mama, daaa mama?" ujar Biru dengan suara pelan. Sekali lagi menoleh pada Livia saat sampai di mulut pintu. Hari ini Adam ada janji dengan Victor. Laki-laki itu ingin bertemu dengan anaknya,  dan Adam mengiyakan. **** Mata Victor tampak berbinar saat melihat Biru yang datang digandeng oleh Adam. "Maaf menunggu lama," ujar Adam. "Nggak papa." "Ayo, salim sama Papa Victor," ujar Adam tersenyum pada Biru dan Biru hanya melongo, merasa pernah bertemu laki-laki asing di depannya. Sedang Victor kaget saat Adam mengenalkannya pada Biru dengan panggilan Papa Victor, meski pernah bertemu, Victor yakin Biru tidak begitu ingat padanya. "Papa?" tanya Biru terlihat raut bingung pada wajahnya. "Yah panggil om itu, dengan panggilan Papa, Papa Victor," ujar Adan mengulang dan Biru mengangguk. "Papa Victor bawa mainan, Biru mau?" tanya Victor sambil tersenyum mendekatkan wajahnya pada Biru. Saat memberikan mainan, Adam memberi kode pada Victor agar mendekat dan duduk di samping Biru. Adam mengamati keduanya, melihat haru saat keduanya tertawa karena dua mobil yang bertabrakan. Tak lama Victor pamit. "Cukup untuk hari ini, aku ingat jika dia tidak boleh capek," ujar Victor. "Ya," jawab Adam simgkat. "Aku hanya berpikir bahwa Biru sudah waktunya bersekolah, tapi bagaimana dengan kondisinya?" tanya Victor cemas. "Aku dan Livi sudah survei ke beberapa sekolah, ada sebuah taman bermain anak, sekolah internasional milik penduduk asli sini, yang aku dan Livia akhirnya yakin itu tempat terbaik, Biru perlu perlakuan khusus, tapi kalau dia pakai homeschooling kami kawatir ia kurang bisa bersosialisasi, akhirnya keputusan kami ya sekolah itu, ada guru khusus yang memantau Biru,  ah ya mahal memang tapi tak masalah yang penting Biru bisa tumbuh secara normal seperti anak-anak lainnya," ujar Adam. "Katakan padaku, berapapun biayanya, aku akan mengirimkannya padamu, aku papanya, harusnya aku yang menanggung semua biaya hidupnya," ujar Victor dengan wajah serius. "Ah, kami masih mampu membiayai Biru, tapi jika kau ingin, aku akan membicarakan dengan istriku," ujar Adam dan Victor mengangguk. "Aku pamit, jika aku tidak sibuk, aku akan ke sini lagi minggu depan." Victor melangkah ke pintu dan sempat menoleh pada Biru lagi, lalu menghilang di balik pintu. **** "Kau jangan ke rumah sakit dulu, belum sehat Ndra," ujar Feyna. "Sudah lumayan, aku mau berangkat saja," wajah Candra masih terlihat pucat, ia tahu bahwa dirinya masih lemah, tapi ia malas berlama-lama di rumah dengan istrinya. Feyna mengikuti langkah kaki suaminya ke pintu, dan cepat menahan bahu Candra dari belakang saat tiba-tiba badan Candra terhuyung. Tangan Candra memegang dinding. "Kan, apa aku bilang, kamu sakit, kamu nggak mau makan sih, tidur dulu, aku infus kamu, biar cepat segeran." **** Candra memejamkan matanya, dan memilih makan dari pada diinfus, meski dirinya seorang dokter, ia tidak suka jika badannya dimasuki benda yang satu itu. "Pesan bubur lewat aplikasi online saja, bubur buatanmu tidak enak," ujar Candra dan Feyna terlihat tersenyum menatap wajah Candra yang seperti anak kecil merajuk. **** "Duduklah, aku suapi," ujar Feyna dan kali ini Candra menurut. Feyna terlihat lega saat bubur yang ia beli habis tak bersisa. Setelah minum Candra kembali memejamkan matanya. Ponsel Feyna berbunyi dan secepatnya ia menyambar. Ada apa, Firman? ....... Oh, aku nggak masuk hari ini, suamiku sakit, aku akan nelpon papa ........ Sampe nanti malam pun aku nggak akan masuk, mau memastikan suamiku baik-baik saja Feyna meletakkan ponselnya lagi. Mendekati Candra yang terlihat mulai berkeringat. "Pacarmu yang menelpon?" tanya Candra. "Kamu ngomong apa, aku istrimu," ujar Feyna memelas. "Oh ya, tapi kan dia yang bersusah payah antar kamu ke sini, terserah kamu sih mau sama siapa saja, cuman jangan terlalu menyolok lah kalau mau jalan sama orang lain, kasihan papa mamamu, aku aja ngejar-ngejar Livia dulu ya main aman," ujar Candra dan mata Feyna berkaca-kaca. "Aku mencintaimu Ndra, sangat, kamu baik sebelum kita bertunangan, malah awal bertunangan kamu masih berusaha manis, meski akhir-akhir ini kamu agak kasar, aku menerima, sebagai konsekuensi telah memaksa kamu menikahiku, apapun kamu, aku menerima Ndra, tidak ada laki-laki lain yang aku cintai selain kamu, terserah kamu percaya atau tidak," ujar Feyna. "Aku percaya kau mencintaiku hanya yang aku sayangkan, catamu membuktikan cintamu, dengan jakan menjebakku itu yang aku ingat terus, seandainya kau menghubungi aku dulu," sahut Candra dengan ekspresi datar. "Kau pasti menolak, bukankah kau lebih mencintai Livia, bahkan kau masih berusaha mengejarnya setelah ia menikah, iya kan?" tanya Feyna menatap wajah Candra lebih dekat. "Aku tak bisa mencintaimu Fey," ujar Candra dengan suara lemah. "Belum, kau belum mencintaiku,".sahut Feyna cepat. "Aku sudah mencoba saat kita bertunangan, tapi...," Candra memejamkan matanya. "Aku yang salah, aku terlalu sibuk waktu itu, hingga sedikit mengabaikanmu, kita coba lagi, aku mohon Ndra," suara memelas Feyna membuat Candra membuka matanya. Ia melihat wajah Feyna yang sangat dekat, hembusan napasnya menyapu wajah Candra. "Menjauhlah Fey, aku lelah, capek, pikiranku yang sakit," suara Candra semakin lirih, Tangan Feyna menangkup pipi Candra yang hangat. Perlahan Candra merasakan bibir Feyna yang meraup bibirnya, Candra yang merasa lelah, hanya mampu mendorong bahu Feyna. Saat ciuman mereka lepas. "Aku tak merasakan apapun Fey, wajah wanita itu yang ada di mataku," Candra kembali memejamkan matanya. Mata Feyna berkaca-kaca. "Aku tak peduli Ndra, saat intimpun aku dengar kau menyebut namanya, sakit memang, tapi aku yakin, kau akan mencintaiku, jangan ceraikan aku Ndra, aku mencintaimu, akan aku lakukan apapun, asal aku tetap di sisimu." Feyna memeluk Candra yang diam saja tak bereaksi. **** "Laki-laki itu mengatakan akan mengirimkan biaya sekolah Biru, boleh?" tanya Adam sambil memeluk Livia, dan mengusap-usap perut rata istrinya. Livia membalikkan tubuhnya, menatap wajah sabar suaminya. Mengelus pipinya. "Kau laki-laki baik mas, selalu saja bisa membuat suasana canggung menjadi nyaman, maafkan aku yang terlambat menyadari, terserah mas, Biru juga anak mas Adam, semua keputusan tentang Biru aku serahkan penuh pada mas,"ujar Livia. Adam tersenyum dan merengkuh kepala Livia ke dadanya. "Sudah malam, kita tidur." "Yah, kita tidur, tidur beneran mas ya?" "Iya, mas hanya ingin meluk saja, dan berharap, perut rata ini segera...," "Segera ada isinya kan?"Livia semakin merapatkan tubuhnya pada tubuh suaminya. "Kalau kayak gini, bisa nggak tidur semalam, aku bikin capek lagi loh nanti," Adam menggoda Livia dan Livia menggeser badannya menjauhi Adam, Adam terkekeh geli, menarik tubuh istrinya,  mendekapnya dengan erat. "Kita tidur sayang, dan berharap apa yang aku tanam segera berbuah bayi yang manis, aku ingin Biru segera punya teman bermain," bisik Adam ke telinga Livia, dan terbelalak kaget saat menyadari Livia telah membuka kancing baju tidurnya satu-persatu, membiarkan dadanya terbuka, dengan wajah malu-malu kembali merapatkan dirinya pada Adam. Adam terkekeh geli, menciumi ujung kepala istrinya. "Kau mengundangku? Tapi malu, iya kan?" bisik Adam di sela-sela rambut Livia yang tergerai. "Baiklah, aku penuhi undanganmu." Adam menggendong Livia. "Maaas," "Kita sepakat kan, bikin adik untuk Biru?" ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD