"Ayaaah, bunda, kok ngasi kabar kalau mau ke sini," Livia berteriak dan bergegas menuju pintu, memeluk ayah dan bundanya bergantian.
"Ni anak ya, kamu sudah punya suami dan anak, masih kayak anak kecil lari-lari," ujar Devi tertawa dan segera mendekati Biru yang hanya berdiri tertegun dengan mata berkaca-kaca.
"Heeei anak ganteng," Devi berjongkok dan Biru memeluk neneknya, dengan air mata yang telah menetes.
"Eh sayaaaang, kangen nenek ya?"
Biru mengangguk dan Devi mengendong Biru, mendekatkan Biru pada Ananta.
Biru meraih pipi Ananta dan mencium pipi kakeknya kanan kiri.
"Kangen kakek juga, sayang, yuk sini, gendong kakek."
Ananta meraih Biru dari gendongan Devi dan mengajaknya ke taman samping, mendekat ke kolam ikan. Keduanya duduk dan terlihat Ananta mendudukkan Biru dipangkuannya.
Devi dan Livi melihat keduanya dari ruang tamu. Duduk dan menatap pergerakan Biru yang terlihat ceria di pangkuan kakeknya.
"Ah anak itu sudah semakin besar, sebentar lagi dia bersekolah Livi, rencanamu bagaimana, apa akan di sekolahkan di sekolah umum?" tanya Devi kawatir, menatap Biru yang terlihat tertawa sambil melemparkan makanan ikan ke dalam kolam.
"Iya bun, tak jauh dari sini ada sekolah bagus, Livi sama mas Adam sudah ke sana, bercerita pada beberapa guru dan kepala sekolah kondisi Biru, mereka memahami, akan ada guru yang akan memantau perkembangan Biru, mahal memang bun, tapi kalau homeschooling kasihan Biru, kawatir nggak bagus interaksi sosialnya, seusia Biru pelajaran utama kan belajar berinteraksi secara sosial, mengenal lingkungannya, dan yang pasti harus bermain, ceria lah gitu pokoknya, cuman ya karena kondisi Biru, dia harus tetap dibatasi dan diawasi," ujar Livia.
"Baguslah kalau begitu, eh iya ini ada oleh-oleh, ada titipan dari Ejak dan Nat juga, mana Adam?" tanya Devi.
"Makasih bun, oh mas Adam? Ke cafe, ada yang booking tempat hari ini, kayaknya prospeknya bagus toko roti plus cafe itu bun, selalu rame, kadang ya sampe resevasi duluan," ujar Livia.
"Alhamdulillah kalau gitu, apa perlu buka satu lagi?" tanya Devi
"Nggak perlu bun, kayaknya perluasan saja deh,"sahut Livia.
"Eh iya bun, Livi ingin minta ijin bunda, tanah di samping, sebelah kolam itu kan luas, punya bunda juga kan?" tanya Livia. Devi mengangguk dan terlihat penuh tanya.
"Lalu, ada rencana apa?" tanya Devi.
"Livi dan kak Nira pengen punya galery kayak ayah, hanya yang dikenalkan ya budaya Jogja dan Bali, boleh nggak bun?" tanya Livi.
"Kalau bunda boleh saja, coba tanya ayah dulu ya, biar enak, soalnya yang punya pengalaman kan ayah, nanti bicara aja langsung kalian bertiga, telepon saja, Sena sama Nira biar ke sini," ujar Devi.
"Iya, iya, bun, tak suru ke sini saja," Livia mengeluarkan ponselnya dari saku celana pendeknya, dan terlihat mulai menelpon.
****
Selama Candra sakit dua, Feyna benar-benar merawat suaminya. Ia jadi ijin tidak masuk, manemani Candra di rumah sampai Candra terlihat mulai sehat.
****
Pagi hari ia melihat Candra yang sudah mandi, mencari bajunya dan Feyna memeluk suaminya dari belakang, Candra diam saja, tanpa bergerak sedikitpun. Mulai ia rasakan tangan Feyna yang mengusap perutnya. Candra hanya melilitkan handuk dipinggangnya dan belum menggunakan apapun.
Tangan Candra memegang tangan Feyna yang mulai menyentuh miliknya.
"Jangan, jangan meminta lebih Fey, aku belum bisa, aku belum bisa mengenyahkan bayang-bayangnya, aku tak ingin saat kita melakukan itu, yang ada di bayanganku, aku melakukan dengannya."
Tangan Feyna menyentak kasar. Mengusap milik Candra, menggerakkannya dengan teratur. Candra mengerang perlahan.
"Aku tak peduli Ndra, aku hanya ingin melakukannya denganmu, mungkin aku terlihat murahan, tapi akan aku lakukan apapun agar kau hanya jadi milikku."
Feyna menggerakkan tangannya semakin cepat dan merasakan milik suaminya mengeras sempurna.
Candra berbalik dengam napas menderu, handuknya sudah terlepas sejak tadi. Manik matanya menggelap karena napsu.
"Aku tak ingin melakukannya denganmu Fey."
Suara Candra terdengar marah. Namun melihat istrinya yang perlahan membuka kimono tidur dan tak menggunakan apapun di dalamnya, akhirnya Candra mendekat.
Feyna mundur dan merebahkan tubuhnya di kasur, membiarkan Candra menatap tubuhnya.
Hati kecil Feyna sebenarnya menangis perih, ia terlihat murah, hingga menawarkan diri pada suaminya.
Biarlah aku bertingkah seperti ini Candra, aku istrimu, apapun akan aku lakukan agar kau, mau melihatku, merasakan harum tubuhku..
Mata Candra semakin berkabut, ia melihat wajah malu-malu Livia berbaring di kasurnya, menantangnya dengan d**a membusung dan pangkal paha yang mulai terbuka sedikit demi sedikit.
Ia menundukkan wajahnya, meraup pangkal paha itu dengan kasar, memainkan lidah, bibir dan gigitan-gigitan kecil, terdengar lenguhan dan desahan Feyna.
"Panggil namanku Livi, teriakkan namaku," suara Candra terdengar diantara teriakan tertahan Feyna.
Candra merangkak, menyejajarkan badannya dengan badan Feyna, sesaat ia sadar bahwa Feyna yang ada di bawah tubuhnya.
Candra tertegun dan mengangkat badannya.
"Maafkan aku Fey, aku tak bisa."
Feyna bangun dan mendorong kasar tubuh Candra. Memegang milik suaminya yang masih keras, dan perlahan melesakkan ke dalam miliknya.
"Aagghh Fey..."
Feyna mendekap bahu kekar Candra, menggerakkan pinggulnya maju mundur, semakin lama-semakin cepat.
Candra menggigit bibirnya merasakan miliknya yang diremas dan diurut maju mundur. Hasratnya yang sempat padam muncul lagi, Candra memejamkan matanya, berkelebat lagi bayang wajah Livia.
Ia bangkit dan mendorong tubuh Feyna. Menghentaknya berkali-kali hingga Feyna terlonjak dan mendesahkan nama suaminya.
Feyna memejamkan matanya saat hentakan terakhir, ia mendengar, meski samar, suaminya berkali-kali menyebut nama wanita itu.
Tidak apa-apa Ndra, apapun yang kamu lakukan, aku memaafkanmu, aku yang telah memaksamu masuk dalam situasi tak nyaman ini, maafkan aku...
****
"Lihat dua cucu kita, mereka selalu terlihat manis," kata Ananta, melihat Biru menyuapi Zamora dengan es krim ditangannya.
"Semuanya akan baik-baik saja ayah, asal satu, jangan ada si Bayu, pasti rame," ujar Sena dan semuanya tertawa.
"Anak itu terlalu aktif, bukan nakal, ia terlalu ingin tahu segalanya, heran juga ya, dulu si Ejak kan kalem waktu kecil," ujar Ananta.
"Nurun si Nat kali," sahut Devi dan Livia tertawa, mengangguk dengan keras dan mengacungkan jempolnya.
"Bener bun, aku juga berpikir begitu."
"Eh, iya mengenai rencana kalian, ayah dan bunda setuju, silakan mulai kapan pembangunan galery itu," ujar Devi tiba-tiba. Dan Ananta menambahkan.
"Ya, silakan, kalau ada apa-apa telepon ayah, jika dananya kurang...,"
"Biar Sena, ayah," sahut Sena.
"Waaah ayah bangga pada semua anak dan menantu, yang tekun dalam bekerja, menghargai apa yang sudah dibangun oleh orang tua kalian," ujar Ananta sambil tersenyum lebar.
Adam memeluk bahu Livia, menatap pada kedua mertuanya yang selalu mengajarkan bahwa mencintai dan menekuni pekerjaan itu harus dilakukan bersama-sama agar menghasilkan hal yang maksimal.
****
Ting tong...
Bel berbunyi di unit apartemen Candra.
Feyna bergegas membuka dan melihat mama Candra terlihat di sana.
Mama Candra tampak bahagia, ia memeluk Feyna yang masih dengan rambut basahnya terlihat jelas.
"Mana Candra?" tanyanya pelan.
"Masih mandi ma," sahut Feyna. Mata mama Candra membulat.
"Maaf kalau boleh mama bertanya, apakah kalian sudaah...," pertanyaan menggantung mama Candra hanya dijawab anggukan ragu oleh Feyna dan ia merasakan pelukan erat ibu mertuanya.
Hatinya terasa pedih karena meski Candra melakukan dengannya, yang ada dalam pikiran laki-laki itu masih saja wanita lain, tapi Feyna tak mempermasalahkannya, ia akan terus mencoba sampai suaminya melihat bahwa dirinya yang ada di dekatnya.
"Mama?" suara Candra mengagetkan keduanya. Dan mamanya melepaskan pelukannya pada Feyna.
Candra memakai kaos di depan mamanya dan mamanya menghambur memeluknya sambil terisak.
"Terima kasih, sayang," ucap mamanya.
Candra hanya mengernyitkan keningnya dan menatap wajah istrinya dengan tatapan dingin.
****