"Apa karena Candra kalian mempercepat kepindahan ke Ubud?" tanya Devi.
Adam menghela napas..
"Mungkin itu salah satu alasan ibu, jika ia tidak berniat mengganggu kami, ia tidak akan berkirim pesan hingga berturut-turut dua malam pada Livia, mengungkapkan cinta, keresahannya dan kegundahannya, dia dan Livi sama-sama terikat pernikahan sekarang dan ini bukan main-main, maaf jika saya dinilai lancang membuka ponsel Livia, tapi saya ingin melindungi istri saya, milik saya," ujar Adam.
"Ah aku tak bisa ngomong apa-apa lagi, terserah kalian," ujar Devi.
****
Candra memasuki rumahnya saat hari sudah sangat larut.
Ia segera masuk ke kamarnya dan mendapati istrinya yang menunggunya.
"Dari mana selarut ini, aku menunggumu, aku pulang lebih awal, aku mengurangi jam kerjaku di rumah sakit papa," ujar Feyna dan Candra tak membuka mulutnya.
Ia memulai membuka bajunya memunggungi Feyna. Saat hanya menggunakan celana pendek tak lama ia rasakan tangan Feyna yang memeluk pinggangnya dari belakang. Badan bagian atas Candra yang telanjang dapat meraskaan hangatnya tubuh Feyna.
"Beri aku kesempatan, kita harus mencobanya Ndra, aku mencintaimu, sangat mencintaimu," bisik Feyna lirih.
Candra membuka lengan Feyna yang melingkari pinggangnya, ia berbalik dan menatap wajah cantik di hadapannya. Menggunakan baju tidur satin tipis, memperlihakan lekuk tubuhnya yang indah.
"Silakan jika kau mau mencobanya Fey, aku tidak, aku tidak mencintaimu," ujar Candra dan mata Feyna berkaca-kaca.
"Jadi kita selamanya begini?" tanya Feyna.
Candra dia tak menjawab dan kembali merasakan dekapan erat Feyna, ia tahu jika dibalik baju tidurnya Feyna tak menggunakan bra, pelukan erat Feyna membuat dadanya yang keras menekan erat d**a telanjang Cadra.
Dengan sedikit dorongan Candra berusaha melepaskan pelukan istrinya.
"Tidurlah, aku tidak mau kasar atau semakin menyakitimu," suara pelan Candra membuat Feyna sedikit nekat, ia turunkan tali spageti baju tidurnya hingga nampak dadanya yang indah.
Candra memejamkam matanya sejenak dan mengembalikan tali spageti pada bahu Feyna.
"Aku tidak mau jadi b******k, melakukan denganmu tapi pikiranku pada wanita lain," ujar Candra dan Feyna jadi terisak.
"Apakah aku tidak cukup cantik bagimu?" Feyna kembali memeluk Candra.
"Kau cantik, tapi aku tak mencintaimu, jika kau memaksaku melakukannya malam ini, aku yakin, dalam pikiranku ada wanita lain, aku tak ingin semakin menyakitimu," sahut Candra.
"Aku tak peduli Candra, aku ingin melakukannya denganmu, terserah kau berpikir tentang siapa," tangisan Feyna semakin jadi. Ia ciumi d**a Candra dan mengusap pelan milik suaminya yang masih tertutup celana pendek.
Candra kaget dan mendorong pelan bahu Feyna.
"Tidak, jangan, aku tak ingin melakukannya Fey," ujar Candra lagi. Lalu berbalik dan bergegas ke kamar mandi, meninggalkan Feyna yang semakin terisak dan terduduk di lantai kamarnya.
Sesampainya di kamar mandi, Candra menormalkan napasnya, ia laki-laki normal, usapan tangan Feyna pada miliknya mau tak mau membuatnya miliknya mengeras.
Dengan gerakan cepat ia turunkan celananya, mengerang sendiri saat tangannya bergerak cepat dan napasnya memburu, berkali-kali mulutnya menyebut wanita yang ia cintai sampai ia meraskan pelepasan, dan bergerak pelan membasuh tangan dan miliknya.
Lalu ia hidupan shower dan membiarkan badannya basah, menghilangkan pikiran tentang wanita yang ia cintai yang saat ini, yang malam ini pasti berada dalam dekapan hangat suaminya.
****
"Biru mana?" tanya Adam dan Livia berbalik.
"Tidur sama ayah dan bunda," sahut Livia.
"Mengapa di sana, bukankah tadi aku memeluknya di sini?" tanya Adam kaget sambil duduk.
Livia tersenyum dan menarik Adam agar berbaring lagi.
"Mas kecapean setelah seharian beres-beres di galery dan membantu ayah di hotel, jadi nggak bangun pas Biru nangis tadi, sudah aku beri s**u tapi masih nangis saja," ujar Livia.
"Ah mengapa tak kau bangunkan aku" tanya Adam.
"Nggak papa, Biru sudah nyenyak kok, aku baru dari kamar ayah dan bunda," ujar Livia.
"Aku tadi menyerahkan semua dokumen pada penggantiku, dan ayahmu menelponku agar membantunya di hotel, memang agak banyak pekerjaan tapi tak masalah, hanya sedikit lelah saja," ujar Adam, menoleh pada Livia dan memeluinya dengan erat.
"Kita segera ke Ubud Livi, bertiga dengan Biru, lalu bagaimana jika aku bekerja, kalian hanya akan berdua saja?" tanya Adam.
"Ada orang yang biasa membantu pekerjaan bunda di rumah, sampai sekarang dia juga yang menjaga rumah itu," sahut Livia.
"Oh ya sudah, aku hanya ingin memastikan kalian berdua aman," ujar Adam.
"Mas,"
"Hmmmm,"
"Aku kepikiran ibu jika beliau tak ikut kita," ujar Livia.
"Ibu tidak benar-benar sendiri Livi, kau tahu sendiri kan di rumah selalu ramai dengan pekerja catering, dan ada dua orang yang pasti menginap di rumah," ujar Adam.
"Ya tapi aku tetap merasa seolah mengambil mas dari ibu," ujar Livi dan Adam memeluknya dengan erat.
"Tidak, ibu malah sangat menginkan kita seperti ini Livi, ibu sangat bahagia kita bisa menikah," Livia meradakan ujung kepalanya dicium berulang oleh suaminya.
"Ya tapi setidaknya nanti, mas harua sering menengok ibu di sini, tak mungkin aku dan Biru ikut serta, kondisi Biru tak memungkinkan terlalu sering perjalanan jauh," ujar Livia.
"Ya tidak masalah, itu bisa kita pikirkan nanti," ujar Adam.
"Kita tidur ya mas, aku juga capek," suara lirih Livia membuat Adam tersenyum, ingat kembali saat mereka di suiteroom berdua, tiap malam ia telah membuat Livia kelelahan dan sesaat Adam kaget, ia balik tubuh Livia yang matanya telah enggan membuka.
"Apa lagi mas, aku capek," ujar Livia semakin lirih.
"Selama tiga hari di hotel kita tak menggunakan pengaman apapun, bagaimana kalau kau hamil, bukankah kau takut jika hamil karena kondisi Biru yang butuh perhatian ekstra?" tanya Adam menatap lekat wajah istrinya. Livia tersenyum dan mengusap pipi suaminya.
"Nggak papa, aku sedang tidak dalam masa subur itu yang pertama, yang kedua, rasanya kok aku nggak adil mas kalau aku menunda punya anak bersama mas, mas pasti ingin punya anak kan, kita bismillah saja, semoga jika kelak Biru punya adik, dia jadi lebih sehat, lagi pula Biru sudah tiga tahun lebih usianya, tahun pelajaran depan, dia sudah sekolah, nggak papa, kita tidur yah mas," pinta Livia dan matanya menutup rapat.
Adam memeluk Livia dengan mata berkaca-kaca, meski sempat kalut karena peristiwa penusukan Livia oleh adiknya yang akhirnya kini membawa hikmah, pernikahan dipercepat dan dia jadi memiliki Livia seutuhnya, dan Adam merasakan semakin hari Livia semakin dewasa.
Terima kasih Tuhan, terima kasih telah menyatukan kami, menguatkan kami setelah berbagai peristiwa menyakitkan....
****
Sementara itu, di dalam kamarnya Candra baru menyadari jika nomornya telah diblokir oleh Livia, ia tak bisa menghubungi Livia dalam bentuk apapun...
Ada apa Livi, aku tak yakin jika kau yang melakukan ini, pasti suamimu yang memegang ponselmu...
****