"Livia, Adam, kok bengong aja, ayo kasi selamat ke Candra, dia dah nikah juga, barengan sama kalian, makanya dia nggak bisa datang pas kalian nikah," ujar Devi.
Mata Livia membulat dan bergegas menyalami Candra yang kesulitan mengulurkan tangannya karena menggendong Biru.
"Waaah kejutan banget Ndra, sama kak Fey kan?" suara riang Livia tak membuat wajah Candra berubah, ia tetap diam dan berusaha tersenyum meski sulit.
Adam juga mendekat dan mengucapkan selamat.
"Semoga kalian bahagia, dia wanita baik, aku sangat mengenalnya," ujar Adam dan Candra hanya mengangguk tanpa tersenyum.
"Biruuu nggak kangen papa?" tanya Adam dan Biru bergerak-gerak digendongan Candra hendak meraih tangan Adam dan Adam segera mengambil Biru dari gendongan Candra.
Adam menciumi pipi Biru, Biru tertawa sambil membalas ciuman Adam.
"Aku pulang dulu Livi, om, tante, tadi saya ke sini karena kangen Biru, dan pembantu tante yang menggendong Biru memberikannya pada saya, aku pulang Dam,"
Candra melangkah meninggalkan rumah besar itu.
"Aneh tuh anak, dapat istri cantik, tajir eh malah sedih," ujar Livia mendekati Adam yang menggendong Biru dan berjinjit mencium pipi anaknya.
"Kayak nggak tahu mamanya saja, dia dipaksa menikah," sahut Devi.
"Ya si Candra aneh juga bun, kak Fey itu kurang apa, dia baik, cantik," ujar Livia.
"Ah sudahlah, ayo kalian masuk kamar, bunda tunjukkan kamar kalian yang baru," ajak Devi dan Ananta tersenyum melihat wajah Livia dan Adam yang nampak bingung.
****
"Waaah bundaaa keren kamarnya, dan kok ada ini?" Livia bingung saat melihat ada kasur besar dan kasur kecil di balik partisi.
Devi mendekat, berbisik pada Livia dan Adam.
"Itu tempat melarikan diri jika kalian tiba-tiba ingin,"
Livia terlihat bersemu merah wajahnya, sedang Adam tersenyum lebar, dan berterima kasih pada ibu mertuanya yang sangat pengertian.
Livia memeluk bundanya dan menciumi pipinya. Devi menangkup pipi Livia, menatap mata anak angkatnya yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri, seperti Sena dan Ejak.
"Saatnya kau bahagia sayang, kokohkan hatimu, abaikan semua hal yang tak penting dalam hidupmu, berbahagialah di sisi Adam, dan segera tentukan kapan kalian akan segera ke Ubud, aku tak ingin kau celaka lagi,"
"Iya Livi dan mas Adam akan segera merencanakan bun, kapan enaknya kami berangkat," sahut Livia.
"Dam, cepet banget si Biru tidurnya, kecapean paling, pagi-pagi dia sudah di ajak jalan-jalan sekitar sini sama kakeknya, tidurkan saja Dam," ujar Devi sambil melangkah ke kasur dan membenahi bantal untuk Biru.
Adam melangkah hati-hati, metebahkan Biru di kasur. Lalu berdiri lagi sambil mandangi wajah tenang Biru
"Ok selamat menikmati hidup baru, dan kamar baru," Devi menutup pintu dan Adam segera memeluk Livia.
"Kita harus bersyukur punya bunda kayak bunda Devi, dia pingin kita nyaman, sampai nyiapkan kamar yang besarnya kayak gini, sayang kita bisa mencobanya di mana-mana," suara Adam semakin lirih dan wajah Livia jadi memerah.
"Ih mas m***m," rengek Livia dan Adam tertawa pelan.
"Mesumin istri sendiri nggak dosa, coba pikir sayang ngapain bunda nyediakan sofa besar kayak gini, kasur kingsize dan single bed juga, lalu meja kerja di pojok, ngapain hayo kalau tidak untuk kita eksplor berdua," ujar Adam semakin menggoda Livia.
"Iiiiih maaaas, "
"Nggak nggaaaak, mas cuman bergurau, mas nggak akan mencoba yang aneh-aneh, mas terbiasa menunggumu bertahun-tahun, maka saat menikmati kenikmatan bersamamu mas akan selalu menunggumu nyaman, mas nggak mau cuman mas aja yang merasakan nikmat," Adam memeluk Livia dengan erat.
Lalu melepaskan pelukannya saat ponselnya berbunyi sebuah notifikasi masuk.
"Siapa ya, tumben,"ujar Livia, Adam mengerutkan keningnya. Livia membuka ponselnya dan terlihat tekun membaca, lalu mengetik dengan cepat dan melihat ke arah suaminya.
"Mas, mas pernah buka hpku?" tanya Livia penuh tanya. Dan Adam akhirnya tahu dari siapa pesan itu.
"Mengapa, apa Candra mengatakan telah berkirim pesan dua kali namun tak kau jawab?" Adam bergerak mendekat ke arah istrinya yang terlihat kaget.
"Terpaksa aku lakukan Livi, dua kali, dua kali setelah kita menikmati kenikmatan bersama sebagai suami istri,dia berkirim pesan padamu, semuanya pernyataan cinta, aku lakukan karena kau istriku, aku berhak melakukan itu, menyelamatkan pernikahan kita yang baru beberapa hari, aku bisa saja memblokir nomornya di ponselmu, tapi aku ingin kau sendiri yang melakukannya, jika dia tak ingin mengganggu pernikahan kita mengapa selalu malam hari dia berkirim pesan mesra, pernyataan cinta, penderitaannya karena pernikahannya tak sesaui keinginannya, itu masalah dia, tak perlu dia ceritakan padamu, kalau kau menganggap aku lancang, aku minta maaf, tapi yang aku lakukan adalah menyelamatkan bahteraku," Adam memeluk Livia, mengusap punggung ringkihnya.
"Kita baruuu saja bersama Livi, aku tak mau dia menjadi duri dalam pernikahan kita, memang sebaiknya secepatnya kita pindah ke Ubud," Livia melepaskan pelukan suaminya, menatap mata kelam di depannya.
"Aku nggak nyalahkan mas, hanya mas kok nggak cerita?" tanya Livia.
"Buat apa, dia bukan orang penting bagi kita kan, kamu mau memblokir nomornya demi kita, demi rumah tangga kita?" tanya Adan dan Livia mengangguk.
Adam kembali merengkuh Livia, memejamkan matanya dan gerahamnya ia katupkan dengan erat.
"Dia tak tahu, berapa tahun aku berjuang mendapatkanmu Livi, lalu dia datang tiba-tiba dan ingin mengambilmu,"
"Mas, aku tak pernah punya perasaan khusus padanya, dia hanya suka bergurau," ujar Livia.
"Tapi aku tetap tak suka, dia tetap berusaha mengalihkanmu dariku," sahut Adam.
****
Ananta pamit pada Devi hendak menuju hotel karena ia ada janji dengan slaah satu departemen milik pemerintah, hotelnya akan dijadikan tempat untuk seminar nasional dengan jumlah peserta yang besar, saat akan ke luar kamarnya, ia menoleh lagi pada istrinya.
"Aku tak suka tatapan Candra pada Livia, aku tahu sejak awal jika ia tertarik pada Livi, tapi sekarang beda karena mereka telah sama-sama menikah, harusnya ia berhenti ke sini, oklah dia sayang pada Biru, tapi harusnya ia bisa menahan diri, aku melihat tatapan Adam yang menahan marah tadi," ujar Ananta.
"Mungkin sebaiknya mereka mempercepat rencana pindah ke Ubud, itu jalan satu-satunya agar mereka aman, tidak usah beritahu dia, ada di mana Livi dan Adam, mungkin sebaiknya bulan depan mereka pindah," ujar Ananta lagi.
"Dia tak tahu, seberapa letih menunggu," ujar Ananta menahan marah.
Devi mengusap lengan suaminya, ia tersenyum.
"Yah kita sudah merasakan itu puluhan tahun, saling menunggu, dan...," Devi mendekatkan bibirnya pada bibir suaminya, melumat dengan lembut hingga Ananta benar-benar berbalik dan menahan tengkuk istrinya.
Devi melepas ciumannya dan mengusap bibir suaminya. Keduanya tersenyum sambil menahan tawa.
"Ah kakek nenek hot, usia lewat setangah abad masih saja begini rasanya," bisik Devi, kembali Ananta mengusap lengan istrinya dan merengkuhnya dengan gemas.
"Tidak ada kata bosan jika kita saling mencinta, usia senja hanya mengingatkan kita agar lebih arif menyikapi semua masalah, urusan yang satu tetap jalan selama kita ingin," Ananta berbisik dan Devi memukul d**a suaminya perlahan sambil tertawa.
"Ah sana berangkat, nanti terlambat,"
****
Devi menoleh saat di belakangnya ada langkah mendekat. Nampak Livia dan Adam.
"Mana ayah bun?" tanya Livia.
"Ke hotel, ada janji katanya, ada apa sayang, duduklah," Devi menarik tangan Livia dan Adam juga mendekat ke arah Livia duduk.
"Ada apa?" tanya Devi melihat keduanya yang saling pandang.
"Minggu depan, kami akan pindah ke Ubud sesuai saran ayah dan bunda," ujar Adam. Devi terlihat kaget.
"Ah yaaa tidak apa-apa, tapi mengapa tiba-tiba?"
****