22

1057 Words
"Aku resah sama perkembangan Biru mas," ujar Livia saat malam terakhir di suiteroom dan mereka memilih duduk berdua di sofa. Adam merengkuh bahu Livia dan sesekali menciumi ujung kepala istrinya. "Memang kenapa?" tanya Adam. "Biru masih cadel dan kadang nggak jelas mau apa," sahut Livia. "Nggak papa, nggak masalah, anak abangmu si Bayu kan ya gitu juga, perkembangan anak beda-beda," Adam berusaha menenangkan Livia. "Besok kita sudah pulang Livi, kita akan tidur bertiga, aku tak sabar ingin memeluk Biru, menciuminya juga," ujar Adam dan Livia tersenyum. "Laluuu, jika mas ingin gimana?" tanya Livia kawatir. "Ada banyak cara," Adam mendekatkan wajanya dan mengecup bibir Livia, menahan tengkuknya, memperdalam ciumannya. "Maas," "Hmmmm," "Mas, sshhh, duh lagi?" tanya Livia saat Adam membaringkan badannya di sofa, menaikkan baju tidurnya dan menciumi perut rata Livia. Adam bangkit, tersenyum dan menatap istrinya yang terlihat gelisah, selalu saja begini, tiap akan memulai Adam melihat istrinya yang, bingung dan malu. Adam membuka kaos dan celana pendeknya, menyisakan bokser, lalu membuka pelan baju tidur Livia. "Di sini lagi?" tanya Livia lirih dan Adam tertawa perlahan. "Kenapa, kamu nggak nyaman?" Adam menyejajarkan wajahnya dengan wajah istrinya, tangannya bergerak menurunkan celana dalam istrinya, lalu mengusapnya pelan sambil memandangi wajah yang mulai memerah dengan napas lebih cepat. "Maas," "Hhhmmm?" "Mas apakan aku?" tanya Livia saat tangan suaminya mulai mencari-cari sesuatu di bawah sana, lalu mengusapkan ibu jarinya, mengaduk pelan dan memaju mundurkan jarinya dengan gerakan yang lebih cepat. "Maaass," Livia menarik tangan suaminya saat ia merasakan ledakan dalam dirinya. Adam tersenyum dan meraih tisu lalu mengusapkannya pada jarinya. "Sakit?" "Nggak," jawab Livia lirih. "Mau mas lanjutkan?" tanyanya lagi dan ia melihat anggukan ragu istrinya. Keduanya melenguh pelan saat, Adam menyatukan dirinya dengan istrinya. Mulai bergerak teratur, dan merasakan gerakannya semakin cepat saat ia hampir sampai. **** Candra menatap foto Livia dan Biru yang sempat ia ambil saat masih sering ke rumah Ananta. Memunggungi istrinya dan terlihat asik memandangi foto-foto itu. Lalu Candra merasakan sentuhan di bahunya. "Sampai kapan kita seperti ini Ndra?" tanya Feyna. Candra menepis tangan Feyna, dan bangkit dari kasurnya. "Bukankah kau sangat ingin menikah denganku, nikmati saja," Candra melangkah menuju sofa di dalam kamarnya dan meringkuk di sofa besar itu. Perlahan air mata Feyha luruh, ia sedih menerima kenyataan jika Candra masih saja mengabaikannya. Beberapa kali ia berusaha mencairkan suasana tapi Candra selalu menolak. Sampai kemarin ia merendahkan dirinya, dengan membuka bajunya di depan Candra yang ia dapatkan malah tatapan aneh dari suaminya. Feyna menyusul Candra ke sofa, duduk di dekat kaki Candra dan seketika Candra bangkit dengan tatapan marah. "Aku tak ingin kasar padamu, kau sudah mendapatkan aku, kau sudah berhasil membujuk mama, nikmati pernikahan kita, tapi jangan harap kita seperti keluarga yang lain, kita cukup berbagi kamar saja tapi tidak melakukan hal lebih, mengerti," Candra melangkah ke luar dari kamarnya dan membiarkan Feyna kembali menangis. Candra melangkah ke mini bar dan menemukan mamanya yang masih duduk di sana. Menatapnya dengan tatapan sedih. "Kau bangun, ada apa, apa kamarmu tidak cukup hangat?" Pertanyaan beruntun mamanya, membuat Candra akhirnya memilih duduk di sofa ruang tamu dan hanya sempat meraih botol air mineral dari meja yang ada di depannya, membuka segel dan tutupnya lalu meneguknya perlahan. "Besok kami mau pindah ma, ke rumah kami, yang sudah mama sediakan, seperti janji mama," ujar Candra dan mamanya kaget, ia tahu bahwa pernikahan putra bungsunya tidak baik-baik saja. "Jangan sayang, biarlah kamu dan Feyna tinggal bersama mama dan papa," "Tidak aku sudah putuskan, terserah dia ikut atau tidak," ujar Candra dengan tegas. "Kau masih belum menyentuhnya sayang?" tanya mamanya sedih. "Bukankah mama ingin kami menikah, aku sudah menuruti, dan itu sudah cukup, jangan meminta lebih," sahut Candra, bangkit dari duduknya dan masuk ke kamar tamu lalu berbaring di sana. **** Adam bangun saat ia mendengar bunyi notifikasi di ponsel Livia, bergerak bangkit dan meraihnya. Ia buka dan kembali pesan dari Candra. Malam ini aku yakin kau dalam pelukan hangat suamimu, sedang aku di sini menikmati kesendirian dan kesunyian, tapi tidak kesepian, karena aku ditemani fotomu dan juga foto Biru, aku akan selalu mencintaimu Livi, meski kita tak mungkin bersama,  akan aku nikmati cintamu dalam rindu. .. Adam menghela napas, kembali ia hapus pesan singkat itu. Ingin rasanya ia menghapus nomor Candra tapi ia tak ingin dianggap berlebihan oleh Livia. Adam meletakkan ponsel Livia di tempat semula dan berbaring lagi di sisi istrinya. Memeluknya dan menarik selimut agar menutupi tubuhnya dan tubuh istrinya juga. "Mas," tiba-tiba terdengar suara Livia. "Hmmm," "Peluk aku, aku kedinginan," "Baiklah," Adam menarik lebih erat selimut hingga menutup tubuh Livia sampai lehernya dan badan besarnya melindungi tubuh mungil itu. Kulit mereka kembali bersentuhan hingga menimbulkan gelenyar aneh pada diri Adam. Ia rasakan miliknya mengeras, tak ada jalan lain, Adam menyusupkan tangannya ke d**a istrinya meremasnya pelan dan menarik ujungnya dengan lembut. "Eegghh maaas," "Kenapa?" bisik Adam dengan suara parau. Livia diam saja ia merasakan tubuh bagian bawahnya berdenyut saat Adam memanjakan dadanya dan mulai nyesap lehernya. "Aku kedinginan kok diginiin?" suara lirih Livia membuat Adam semakin tak bisa menghentikan tangannya. Perlahan ia melesakkan miliknya dari belakang, terdengar desis Livia, lalu Adam memeluk erat tubuh mungil itu. "Kamu akan merasa hangat setelah ini, bahkan mungkin akan berkeringat, sudah merasa nyaman?" tanyanya dan istrinya mengangguk. Tumbukan teratur Adam, mulai Livia rasakan di bagian belakang tubuhnya yang ia rasakan semakin lama semakin cepat. Tak ada lagi suara laki-laki itu menggangunya, yang ia dengar dan rasakan adalah erangan suaminya, deru napas dan usapannya. Livia benar-benar mampu menghilangkan ketakutannya, ketakutan mengecewakan suaminya dan berterima kasih pada suaminya yang mampu melakukan semuanya dengan lembut. **** "Hari ini Livia dan Adam kembali," ujar Ananta. "Yah, aku sudah menyiapkan semuanya, kemarin aku sudah membenahi kamar Livia, kasurnya aku ganti yang lebih besar, dan ada kasur kecil juga di samping sofa di kamarnya," ujar Devi, kening Ananta berkerut. "Sayaaang mereka kan akan tidur bertiga, tapi pas Adamnya ingin gimana? ya biar mereka menyingkirlah ke kasur kecil itu, sudah aku kasi partisi, aman kok, yuk kalau mau lihat, kamar mereka aku pindah ke kamar belakang dekat taman, kamar besar itu," ujar Devi dan Ananta memeluk istrinya. "Kau memang bunda yang pengertian," ujar Ananta. "Eh mas kayaknya suara Livi deh," Devi dan Ananta bergegas ke ruang tamu dan memeluk Livia lalu Adam yang terlihat kaget saat menoleh ke salah satu sisi ruang tamu. Di sana berdiri Candra sedang menggendong Biru. "Kau....," wajah Adam terlihat mengeras tanpa senyum. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD