21

1154 Words
"Kita ke luar kamar yuk mas," ajak Livia. "Iya mas juga ingin ke luar kamar, meski sebenarnya lebih nyaman di kasur saja, sambil meluk kamu," ujar Adam dan pipi Livia merona. "Ah mas Adam pagi-pagi dah gombal, yuk ah mas," Livia meraih celana jinsnya dan t-shirt tanpa lengan. "Pakai t-shirtmu yang lain, jangan itu, mas tak ingin lenganmu yang putih ini dilihat orang lain," ujar Adam, Livia hanya tersenyum dan mencari t-shirt lain yang sudah ia bawa. **** Adam melangkah sambil memeluk bahu Livia, menuju restoran di hotel itu. Beberapa karyawan yang tahu jika mereka anak pemilik hotel itu, menyapa mereka berdua dan tersenyum ramah. Mereka menuju buffet dan mulai memilih makanan. Lalu duduk berhadapan, saling menyuapi, dan Adam sesekali mengusap bibir Livia jika, ada yang berlepotan di bibir mungil istrinya. Dari sudut lain, Victor memandang keduanya dengan tatapan sedih, ia sendiri bingung dengan perasaannya. Hanya ia menyadari bahwa semuanya telah terlambat, kecintaannya pada profesinya membuat ia melewatkan banyak hal dalam hidupnya, ia terlalu asik dan menganggap semuanya tak penting. Hari ini Victor akan kembali ke negaranya, ia hanya ingin melihat Livia sekali lagi sebelum meninggalkan negara yang mulai ia cintai meski banyak hal menyakitkan yang ia alami, ia akan mengurus dokumen, dan menerima tawaran menjadi dosen tamu selama dua tahun,  di salah satu universitas negri di Indonesia. Livia dan Adam bangkit setelah mereka makan, keduanya sempat terpaku saat melihat Victor yang juga berdiri dan menatap kedunya, lalu berbalik ke luar dari restoran. "Dia sampai mengikutimu menginap di sini Livi," ujar Adam ke telinga Livia. "Tidak ada hubungannya dengan kita mas, kita kembali ke kamar saja," Livia menarik tangan Adam dan Adam segera memeluk bahunya. "Katanya mau jalan-jalan sekitar sini?" tanya Adam. "Nggak ah jadi males," sahut Livia. "Pasti karena laki-laki tadi kan?" kembali Adam bertanya dan Livia tak menjawab, ia hanya melangkah agak cepat. **** Sesampainya di kamar, Livia berganti baju, membuka celana jinsnya dan segera memakai hotpans lalu membuka t-shirt, hendak meraih baju tidur, namun Adam tiba-tiba memeluknya dari belakang, badan kecilnya seolah tenggelam saat tangan Adam memeluknya semakin erat. "Mas kenapa?" tanya Livia dengan suara bergetar dan d**a yang berdegup kencang, karena ia dapat merasakan kulit Adam yang menyentuh langsung kulitnya. "Aku hanya kawatir kau kembali mengingat dia," suara resah Adam bisa Livia rasakan. Livia berbalik dan memeluk Adam, antara malu, bingung karena mereka sama-sama belum menggunakan baju dengan benar serta keinginan untuk meyakinkan Adam bahwa ia sama sekali tak berpikir tentang Victor. "Mas," hanya itu yang ke luar dari mulut Livia. "Hmmmm?" "Aku nggak memikirkan dia, tadi cuman kesal aja, kenapa dia ngikut di hotel ini juga?" suara Livia lebih menyerupai bisikan dan Adam jadi menginginkan yang lain, ia mulai meraskaan boxernya yang sesak, ia lepaskan pelukannya, menunduk dan meraih dagu Livia, mencium lembut bibir mungil yang selalu bergetar jika ia cium. Menggendong tubuh mungil itu, melingkarkan kaki istrinya ke pinggangnya, berjalan menuju sofa tanpa melepaskan ciumannya. Ia rebahkan istrinya, memandangnya sekali lagi, saat ia lepaskan ciumannya. "Mas," terdengar suara lirih itu lagi. "Hmmmm?" "Lagi?" Tak ada sahutan hanya gerakan pelan Adam saat menurunkam hotpans dan celana dalam istrinya, juga boxer yang ia kenakan, membuat istrinya tampak gelisah, menutup dadanya dan merapatkan pahanya. "Kenapa?" tanya Adam. "Malu di sini terlalu terang," "Aku ingin kau melihatku, hanya melihatku," Adam menundukkan wajahnya menciumi paha istrinya, mengecupinya perlahan dengan lembut,ia mendengar desah tertahan istrinya. "Jangan ditahan sayang, lepaskan jika kamu ingin mendesah," Adam merasakan gerakan dan suara desah istrinya saat ia mulai melabuhkan lidahnya dan bibirnya dipangkal paha istrinya, memegang keduanya paha istrinya yang pingangnya mulai bergerak tak teratur. Juga remasan di rambutnya yang membuatnya semakin jadi menggerakkan wajahnya naik turun. "Maas maaas berhenti, akuu, akuu lemes banget," suara lirih istrinya saat ia merasakan cairan hangat itu dilidahnya. Adam bangkit, dan meraih istri mungilnya yang masih lemas, duduk dipangkuannya, mereka berhadapan dan wajah istrinya semakin memerah karena malu dan pelepasan tadi. "Merasa lebih nyaman?" tanyanya dan ia melihat anggukan ragu. Setelah ia pastikan istrinya merasa nyaman, perlahan Adam melesakkan miliknya dan masih saja terdengar desis kesakitan, ia tatap wajah istrinya yang mengernyitkan keningnya. "Sakit?" "Iya," "Lalu?" "Nggak papa," "Boleh aku lanjutkan?" Istrinya mengangguk. "Peluk bahuku dengan erat sayang, jika sakit atau aku terlalu kasar, gigit pundakku," Adam melihat istrinya yang gugup berusaha tersenyum. Adam bergerak perlahan, namun setiap tumbukan membuat istri mungilnya terlonjak dipangkuannya. **** "Mas tadi ada ibunya Adam ke sini, dia cerita banyak, ya curhatlah jika dia nggak mungkin ikut Adam dan Livia ke Ubud karena nggak mungkinlah dia meninggalkan usaha yang dia cintai yang katanya awalnya iseng tapi lama-lama jadi lumayan terkenal, juga karena ia menghidupi banyak karyawan," ujar Devi pada Ananta. "Ya terserah Adam dan Livia gimana enaknya, aku hanya ingin Livia aman itu saja," sahut Ananta. "Mana Biru?" tanya Ananta. "Jalan-jalan sama Sena dan Nira, besok kan dah mau balik ke Denpasar jadi sekalian tadi langsung ke rumah Ejak, ngajak anak dan istri Ejak juga paling," sahut Devi. "Hmmm entahlah, kenapa aku jadi mikiiiir banget sama Livia, takut dia kenapa-napa lagi," ujar Ananta. "Eh sayang siapa tuh di depan?" keduanya bangkit bersamaan dari kursi di ruang makan dan melihat Candra yang memegang goodybag. "Om, tante maaf pas nikahnya Livia saya, mama dan papa nggak bisa hadir," ujarnya pelan dan menyerahkan goodybag. "Titip untuk Livia," Candra hendak berbalik pulang saat Ananta bertanya. "Selamat Ndra, om dengar kamu menikah di Singapura?" Devi kaget dan mengusap bahu Candra, ia tahu Candra tak menginginkan pernikahan itu. "Ya, mama yang ingin, biarlah wanita itu menikah dengan saya, tapi tidak untuk hati dan tubuh saya," ujarnya pelan. "Hei sayang,  jangan begitu, cobalah, jalani dengan baik, tante yakin dengan berjalannnya waktu, kau akan mencintainya," ujar Devi. "Tidak tante, tak ada lagi cinta, selesai sudah," ujar Candra menunduk dan menghembuskan napas. "Belajarlah sayang, belajarlah mencintai istrimu," sahut Devi lagi. "Tidak tante, cinta saya sudah diambil semua oleh Livia," jawaban pelan Candra mengagetkan Ananta dan Devi. Mereka tahu jika Candra menyukai Livia, tapi mereka tak mengira Candra akan mengatakannya secara langsung. "Sampaikan salam saya pada Livia, saya pulang om, tante," ujar Candra lalu melangkah menuju pintu besar. **** Adam melihat Livia yang masih sangat nyenyak, ia selimuti tubuh istrinya. Dan menoleh kaget ke arah ponsel Livia yang berbunyi pelan, sebuah notifikasi masuk. Adam meraih ponsel itu dan membuka pesan yang masuk. Semoga bahagia selalu Livia, kau menikah dengan laki-laki pilihanmu, sedang di saat yang sama aku menikah dengan wanita pilihan mama, wanita yang sama sekali tak akan pernah aku sukai, aku akan selalu mencintaimu, mungkin pesan ini tak akan ada pengaruhnya padamu, tapi bagiku paling tidak kamu tahu jika pernikahanku takkan sama dengan pernikahanmu... Adam menghembuskan napas, ia genggam ponsel Livia. Meski ia merasakan ketenangan, karena satu lagi laki-laki yang menyukai Livia telah terikat dengan pernikahan, namun hatinya berdenyut perlahan membaca ungkapan cinta Candra pada istrinya. Perlahan jarinya bergerak menghapus pesan itu. Maafkan aku Livia, aku harus menghapus pesan ini, pesan yang sedikit banyak akan membuat kamu berpikir tentang orang yang selalu bisa membuat kamu tertawa. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD