20

1091 Words
Livia merasakan keningnya dicium oleh Adam, ia mulai membuka matanya dan melihat wajah Adam yang sangat dekat. "Bangun, sholat subuh dulu," Livia menatap laki-laki yang sekarang sudah menjadi suaminya. Ia sentuh pipi Adam Adam memegang tangan Livia dan menciumnya sambil memejamkan mata. "Bangunlah, jangan sentuh aku, nanti  kayak tadi malam lagi," Livia bangkit dan tertawa pelan. **** Selesai sholat subuh Livia kembali bergelung di dalam selimut, mulai memejamkan mata lagi saat kasur bergerak perlahan dan tangan besar Adam memeluk pinggang Livia. Entah mengapa Livia berdebar, ia jadi takut melukai Adam, ia takut pikirannya pada laki-laki itu. "Livia, aku tahu kamu tidak tidur," suara lembut Adam membuat Livia berbalik dan berusaha tersenyum. Mereka saling pandang dalam diam. Adam mengusap pipi Livia lalu mendekatkan wajahnya. Meraup bibir Livia yang Adam rasakan kembali bergetar. Adam juga merasakan tangan Livia yang meremas erat kaosnya. Saat Adam melepas ciumannya, Livia tiba-tiba memeluk Adam dengan erat. Adam mengusap punggung Livia. "Jika kau tak ingin sekarang tak masalah, aku tahu kekawatiranmu, tapi aku akan membuat kamu hanya mengingat apa yang aku lakukan dan menghapus ingatanmu tentang apa yang dia lakukan padamu Livia," Adam berbisik di telinga Livia. Livia melepas pelukannya dan menatap Adam dengan mata berkaca-kaca. "Aku mencintaimu Livia," kembali suara lembut itu terdengar. Adam membuka kaosnya dan terlihat Livia yang canggung dengan wajah memerah. "Boleh?" Livia mengangguk dengan ragu. Adam kembali melabuhkan bibirnya pada bibir mungil Livia. Merasakan badan kecil itu bergetar perlahan saat tangannya mulai menyusup ke dalam baju tidur Livia. **** Selama aktivitas pertama mereka berkali-kali Adam menyebut nama Livia, hingga Livia mau tak mau membuka mata dan menatap wajah suaminya yang kadang tersenyum, kadang terengah dan terakhir saat rasa sakit pada miliknya mulai terasa, Livia mendesis pelan. Adam kaget dan sempat kawatir, karena ia tahu ini bukan yamg pertama bagi Livia, namun mengapa Livia terlihat kesakitan? "Sakit?" Livia mengangguk lemah, menatap suaminya dengan keringat di wajah juga bahu kekarnya yang terlihat basah. "Boleh mas lanjutkan?" Livia kembali mengangguk. Merasakan tumbukan teratur Adam yang berkali-kali menyebut namanya lagi. Terakhir Livia memeluk erat tubuh besar itu saat ia rasakan miliknya mulai menghangat. "Terima kasih Livia," Adam mencium kening basah Livia, kedua matanya lalu berakhir di bibirnya lagi. Mas Adam berbeda, dia lembut, benar-benar menungguku sampai aku selesai selalu menanyakan aku nyaman apa tidak, terima kasih mas, maafkan aku yang lemah ini, terima kasih telah berusaha mengusir bayangan laki-laki itu yang selalu hendak hadir tanpa aku inginkan, panggilan mas berkali-kali, suara lembut mas saat menyebut namaku selalu membuat aku tersadar bahwa mas suamiku, hanya satu-satunya laki-laki yang boleh berada dalam pikiranku, suara erangan tadi, desah napas tadi yang aku dengar adalah suaramu, bukan lagi suaranya. **** Adam menatap tubuh Livia di balik selimut, ia usap punggung Livia, tubuh mungil yang selalu ia rindukan kini berada dekat di depannya, ia ciumi punggung Livia yang hanya bergerak sedikit lalu diam. Ia tahu Livia kelelahan, tapi ia tak menuntut lebih meski sebenarnya ingin lagi dan lagi, ia hentikan saat mereka telah sampai dan tubuh kecil itu terlihat sangat kelelahan. Adam memeluk Livia dari belakang dan tubuh telanjang mereka kembali bersentuhan, Adam menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Livia menoleh dengan mata lelah. "Kenapa?" tanya Adam dan Livia mengernyitkan keningnya. "Mas ingin lagi?" Adam mengangguk lalu menggeleng dengan cepat. "Tidak, tidurlah," sahut Adam mengusap bahu Livia. "Tapi, milik mas aku rasakan mengeras," ujar Livia perlahan. "Biarlah, nanti ia tidur juga jika tak aku pikirkan," terdengar suara tawa Adam. Livia berbalik dan mengusap pipi Adam berkali-kali dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih mas selalu mengerti aku, aku akan berusaha menjadi istri yang baik, aku akan berusaha semampunya mengusir bayangan laki-laki itu," ujar Livia dan Adam mengangguk sambil tersenyum. "Aku tahu, aku tahu kau berusaha Livi, saat matamu berusaha memandangku, mencari-cari sesuatu lewat matamu di wajahku, aku tahu, makanya aku sebut, aku panggil namamu berkali-kali, agar kau tahu, yang sedang berada dekat dengan tubuhmu adalah aku, bukan yang lain, terima kasih kau mau berusaha, terima kasih kau berani menatap wajahku saat seperti tadi yang aku yakin wajahku jadi aneh dan jelek," ujar Adam tersenyum lebar dan Livia menjadi malu. "Aku suka, aku suka kamu seperti tadi, berada di bawahku dengan rambut basah dan tak beraturan, jika nanti kita melakukannya lagi, aku tak ingin kau menahannya, sebut namaku, jika kau ingin mendesah, mendesah sajalah jangan gigit bibirmu, mengerti Livi?" Adam masih saja mengusap rambut Livia yang sejak tadi ia rasakan tangan Livia hanya menyentuh dadanya. "Aku juga menyukai mas Adam yang seperti tadi, mas yang sabar jadi lain jika kayak tadi, aku sempat takut tapi saat suara lembut mas yang sesekali memanggilku membuat aku jadi tersadar bahwa mas ingin membuat aku nyaman, maafkan aku jika belum membalas apapun dan hanya diam saja, menerima semua yang mas lakukan padaku, karena meski mungkin aku pernah dengan yang lain tapi aku benar-benar tak tahu harus bagaimana," ujar Livia dan Adam hanya tersenyum. "Biarlah semuanya berjalan dengan wajar Livia, kita sama-sama belajar," kembali Adam mendekap Livia dalam pelukannya. **** Ketukan di pintu membuat Adam melangkah ke pintu dan menemukan wajah ibunya yang tiba-tiba memeluknya. "Ada apa ibu ke sini?" tanya Adam kawatir. "Aku hanya sebentar," Bu Resti meraih kotak dalam goodybag dan menyerahkan pada Adam. "Ini ibu buatkan untuk Livia, ia sangat menyukai puding caramel ibu, dan apakah kalian sudah...," Pertanyaan ibunya membuat wajah Adam memerah dan mengangguk sambil menggaruk rambut basahnya. Kembali ibunya memeluk Adam, hingga Adam agak kerepotan karena tangan kananya memegang kotak berisi puding. "Ibuu masuk yuk," ajak Adam, ibunya melepas pelukannya dan menggeleng. "Tidak, hari ini ibu ada pesanan kue dan nasi kotak dalam jumlah banyak, makanya ini nanti kita bicarakan lagi Dam, rencanamu yang akan membawa ibu ke Ubud, rasanya sulit, ibu punya kehidupan sendiri, ibu mempunyai beberapa karyawan yang bekerja di catering milik ibu, jika ibu menghentikan usaha catering ini maka akan mematikan mata pencaharian banyak orang, pikirkan lagi anakku, ibu akan tetap di sini, kamu, berangkatlah dengan Livia, ada beberapa pembantu di rumah, mereka telah menemani ibu dalam jangka waktu yang cukup lama," ujar Bu Resti panjang lebar. "Loh ibuuuu, ayo masuk ibu, kok berdiri di pintu," "Ah ibu langsung pulang nak, ini ibu buatkan puding kesukaanmu, hari ini ibu sibuk banyak pesanan kue dan nasi kotak, sudah ya ibu pulang," Bu Resti memeluk Livia dan bergegas meninggalkan mereka berdua. **** "Ada apa mengapa mas makan sambil melamun?" tanya Livia. "Ibu tidak akan ikut kita jika kita pindah ke Ubud," sahut Adam dengan wajah sedih. Livia diam saja. "Aku paham karena ibu sudah pernah bicara padaku," ujar livia. "Aku juga berat meninggalkan ibu Livia," Adam meraih tangan Livia dan menggenggamnya dengan erat. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD