Semua masih berkumpul di rumah Ananta, Sena, Nira dan Zamora, juga Ejak, Nat dan si kembar Bayu serta Banyu, Broto dan Wulan pamit karena Bima kurang enak badan, Biru di ajak ke rumah besar itu, karena mereka ingin Livia dan Adam menikmati kebersamaan mereka berdua di suiteroom yang telah disiapkan oleh Devi, Nira serta Natasha.
Ananta menyarankan mereka berbulan madu, namun Adam dan Livia menolak dengan alasan kawatir pada kondisi Biru yang sering tidak pasti.
"Kalian semuanya tidur di sini dulu, kamar di rumah ini banyak, pembantu juga ada, kita kerjakan bareng, ayah sama bunda lama tidak kumpul dengan kalian kayak gini, juga agar Biru tidak selalu merengek jika ingat mamanya.”
"Ok bun, nggak papa, Sena juga kangen sama Ejak lama nggak ngobrol, pengen tahu gimana kelanjutan keinginannya ke S-2," ujar Sena.
"Eeeh abang Ejak sudah ikut tes dan keterima di salah satu universitas negeri di sini, mulai semester gasal tahun akademik depan ini aku mulai perkuliahan," ujar Ejak.
"Lah trus hotel sama cafe?" tanya Sena.
"Yaaa abang kan ada ayah dan Nat yang bantuin, lagian kan nggak full bang kuliahnya tapi Ejak usahain nggak sampe dua tahun lulus," sahut Ejak.
"Percaya deh abang, eh kita duduk di luar bentar yok Jak, ada perlu bentar," ajak Sena.
****
"Tidurlah Livi, pasti capek setelah acara tadi, dari pagi sampai siang malah menjelang sore kita masih saja asik ngobrol dengan keluarga besarmu, lepas maghrib kayak gini capeknya pasti baru terasa," ujar Adam saat melihat Livia baru ke luar dari kamar mandi, menggunakan baju tidur hingga tubuhnya yang mungil nampak semakin terlihat kecil.
"He'eh mas, baru terasa capeknya ya, tapi aku nunggu sholat isyak sekalian baru mau tidur," sahut Livi dan menoleh ke meja yang terdapat beberapa makanan.
"Siapa yang ngirim ke sini?" tanya Livia.
"Staff ayah kamu siapa lagi, tadi bilang nggak usah nelpon atau menghubungi siapapun, tiga hari kita di sini, makanan akan diantar ke kamar, tapi aku pikir kok terlalu lama tiga hari, aku kepikiran Biru," ujar Adam dan hati Livia menghangat, ia merasa telah memilih laki-laki yang tepat, tidak hanya memikirkannya tapi juga memikirkan Biru.
"Ya kita lihat nanti mas, aku akan terus nelepon ke bunda nanya Biru, tapi aku yakin ia baik-baik saja, kan bang Sena sama istri dan anaknya nginep di rumah, dan kayaknya Ejak sama Natpun juga, pasti rame kan ada anak kembar mereka juga," ujar Livia yang melangkah ke kasur dan merebahkan diri.
Adam beringsut mendekati Livia, memandamg Livia dari dekat, mencium kening Livia.
"Terima kasih sudah memilihku, aku akan selalu menjagamu dan Biru," Adam mengusap pipi Livia yang hanya tersenyum.
"Mas...ingin...sekarang?" tanya Livia pelan dan Adam menggeleng.
"Tidak, meski sebenarnya sangat ingin, tapi sejak laki-laki itu muncul tadi, aku takut ada bayangan laki-laki itu di matamu, aku tak ingin malam pertama kita jadi tidak baik-baik saja, aku bisa menunggu sampai kau benar-benar siap, tak masalah tidak malam ini, aku terbiasa menunggu," ujar Adam lirih dan mata Livia berkaca-kaca. Ia memeluk erat tubuh Adam. Tubuh mungil Livia tenggelam dalam badan besar Adam.
Adam mengusap punggung Livia yang masih erat memeluknya.
"Livi, tak masalah aku menunggu, tidak usah merasa bersalah," ujar Adam, Livia melepas pelukannya, menatap mata Adam dari jarak dekat.
"Boleh kalau aku hanya menciummu saja, tapi aku ingin kau tetap membuka matamu, aku ingin kau melihat aku yang menciummu, bukan yang lain," ujar Adam, mulai menundukkan wajahnya, ia melihat Livia yang gugup.
Adam berhenti sejenak, napas keduanya saling menyapu, menghangatkan wajah keduanya.
"Ingat jangan pejamkan matamu, tatap mataku, meski kau malu usahakan tetap menatapku, ini yang pertama bagiku Livia, aku juga gugup dan bingung," ujar Adam, meraih dagu Livia dan meraup bibir bawah Livia yang terbuka, melesakkan lidahnya perlahan, memperdalam ciumannya. Adam merasakan napasnya yang semakin cepat dan baru menyadari jika berciuman efeknya akan menjalar pada seluruh tubuhnya, reaksi di bagian lainpun mulai ia rasakan saat pangkal pahanya mengeras tiba-tiba, ia melepaskan ciumannya.
Mengusap bibir Livia dan menormalkan napasnya yang menderu.
"Maafkan aku, aku baru menyadari jika efeknya akan sedahsyat ini Livi," ujar Adam dengan suara parau dan serak. Livia menatap Adam yang wajahnya terlihat memerah.
"Benar tadi ciuman pertamamu, mengapa terasa ekspert?" tanya Livia pelan. Adam tertawa lirih.
"Laki-laki bisa belajar dari mana saja Livia, eh kenapa?" tanya Adam saat Livia kaget dan memundurkan badannya.
"Akuu merasakan milikmu yang mengeras di perutku," ujar Livia lirih dan Adam menarik Livia lagi dalam pelukannya. Tertawa pelan.
"Entahlah Livia, aku juga baru tahu jika efek berciuman denganmu akan membuat bagian itu merespon dengan cepat, tenanglah, aku akan mandi untuk menenangkannya, aku tidak akan berbuat apa-apa, aku ingin kau benar-benar siap saat melakukannya denganku, masih ada esok atau lusa," Adam melepas pelukannya dan mencium kening Livia.
"Kita sholat isyak dulu, aku duluan ke kamar mandi ya," Adam bangkit dan melangkah ke kamar mandi.
Livia menghembuskan napas kuat-kuat, ia sangat berterima kasih pada Adam yang telah memahaminya dan tak memaksanya melakukan keinginannya malam ini. Sejujurnya ia akui, meski tadi ia menatap Adam saat mereka berciuman, kelebat wajah Victor masih ada di pelupuk matanya. Maafkan Livi mas...
Livia memeluk bantal dan merasakaan air matanya luruh perlahan, ia tak ingin bayangan laki-laki itu ada di dalam pikitannya, Livia mulai merasakan perasaan biasa saja pada Victor, tak ada semacam keterikatan seperti saat ia ingin bersama Victor dulu tapi entah mengapa bayangan wajahnya masih saja berkelebat.
Saat ciuman Adam semakin dalam tadi, yang ia dengar dan rasakan justru deru napas Victor.
Pergi kau dari pikiranku, aku tak ingin sepanjang hidupku kau menjadi hantu dalam pikiran dan hidupku...
Livia menangis terisak, ia memukuli bantal yang ia dekap. Hingga tak merasakan Adam yang memeluknya dari belakang.
"Hei kenapa Livia, kenapa, apa aku menyakitimu tadi?" suara Adam mengagetkan Livia.
Ia berbalik dan memeluk Adam yang bertelanjang d**a. Livia menangis dan berulang mengatakan maaf pada Adam.
"Kenapa harus minta maaf, kamu nggak salah, kita sholat ya," Adam melepaskan pelukannya namun Livia justru semakin mengeratkan pelukannya dan menagis semakin jadi.
"Liviaaaa, Liviii, aku memaafkanmu, apapun yang kau lakukan padaku, tidak usah merasa bersalah," Adam melepaskan pelukannya, mencium kening Livia dan beranjak turun dari kasur besar itu. Lalu menarik pelan Livia agar mengambil wudu.
****
Setelah sholat dan makan malam dalam diam, terlihat Livia menelepon bundanya, menanyakan Biru yang ternyata baik-baik saja karena berkumpul bersama sepupu-sepupunya.
"Bagaimana Biru?" tanya Adam.
"Ia baik-baik saja, kata bunda sejak tadi ia bermain bersama Bayu dan Banyu," sahut Livia pelan.
"Livi tidur duluan ya mas, ngantuk banget," ujar Livia dan Adam mengikutinya menuju kasur.
"Sama mas juga capek, kita tidur saja," Adam ikut merebahkan badannya di sisi Livia yang mulai menejamkan mata.
Sementara di kamar lain, di hotel yang sama Victor duduk menatap foto Biru yang sempat ia ambil saat berada dalam gendongan Ananta. Matanya berkaca-kaca menatap wajahnya yang tergambar jelas dalam wajah Biru.
Aku akan membuatmu mencintaiku anakku, mamamu tak mungkin lagi aku raih, hanya cintamu yang akan membuat papa sanggup melanjutkan hidup...
****