18

1049 Words
Persiapan pernikahan Livia dan Adam mulai dirasakan di rumah besar itu meski Ananta dan Devi masih sempat melakukan aktivitas pekerjaan utamanya seperti biasa. Pernikahan yang kurang seminggu itu mulai terlihat saat rumah besar itu mulai bersolek. "Bun kok sampai begini persiapannya?" tanya Livia saat beberapa pekerja mengganti semua korden di rumah itu, pengecatan tembok juga baru selesai dua hari yang lalu. Devi tersenyum merengkuh bahu Livia dan mengusap rambutnya. "Kau anakku, ini adalah kesibukan kami yang sesungguhnya karena kau adalah anak perempuan kami, kami yang punya hajat, ayahmu dan bunda menganggapmu sama seperti Ejak dan Sena jadi karena ini adalah hajat pertama dan terakhir ya kami buat semampu kami," ujar Devi, dan Livia menangis terharu dalam pelukan Devi. "Berbahagialah bersama Adam, Livia, dia laki-laki baik meski terus terang bunda ngeri jika memikirkan adiknya, tapi melihat keteguhanmu untuk terus bersama Adam, ayah dan bunda akhirnya memasrahkan diri pada Allah, semoga kau selalu dilindungi dari segala hal yang membahayakan jiwamu," ujar Devi lagi. **** Ananta kaget saat sekretarisnya mengatakan ada orang yang memaksa ingin bertemu dengannya. Akhirnya ia mengijinkan meski dalam hati bertanya-tanya. Namun wajahnya mengeras saaat ia melihat siapa yang datang, waktu pintu ruanganya terbuka. "Maafkan aku mengganggu waktumu," ujar Victor. "Aku tak punya waktu banyak," kata Ananta. "Aku tahu, aku tak diinginkan oleh seluruh keluargamu, tapi ijinkan aku menemui Biru, bagaimanapun aku papanya, aku ingin melihatnya tumbuh, aku tak akan menganggu Livia lagi, ijinkan aku, aku mohon," suara serak Victor mau tak mau menggugah rasa kemanusiaan Ananta, ia mengingat dirinya sendiri saat jauh dari Sena dan Ejak dulu. "Aku tak bisa memutuskannya sendiri, aku harus membicarakan ini dengan istri dan anakku, kami harus berhati-hati sejak peristiwa penusukan pada Livia, kami membatasinya bertemu siapapun," ujar Ananta dan mata Victor terbelalak. "Livia, ditusuk, lalu bagaimana dia, bagaimana Biru?" tanya  Victor dengan kecemasan yang tak dibuat-buat. "Semuanya baik-baik saja, Liviapun sudah sehat, baiklah aku ada jadwal lain, nanti aku hubungi jika ada keputusan dari istri dan anakku, ini kartu namaku," ujar Ananta dan Victor bangkit, sekali lagi menatap wajah Ananta. "Aku mohon, beri aku ruang untuk melihat Biru sebagai anakku dan dia melihatku sebagai papanya," Victor berlalu dari hadapan Ananta. **** "Aku kasihan menatap keputusasaan di matanya sayang, aku jadi ingat saat pertama bertemu Sena dan Ejak, ingin merengkuhnya tapi tak bisa, takut  mereka menolak, mungkin lebih baik kita ijinkan laki-laki itu bertemu Biru, tapi harus dalam pengawasan kita, tidak boleh ke mana-mana ya di sini saja," ujar Ananta setelah pulang, ia berbicara pada istrinya. "Aku akan membicarakan hal ini dengan Livia karena kita kan juga harus menjaga perasaan Adam setelah menjadi suaminya," ujar Devi dan Ananta mengangguk. **** "Terserah ayah dan bunda enaknya gimana, Livia juga nggak berani ngambil keputusan sendiri," ujar Lvia saat keesokan harinya Devi mengatakan masalah itu pada Livia. **** "Maafkan kami harus mengatakan ini padamu Dam, kami akan mengijinkan laki-laki itu mengenal Biru karena walau bagaimanapun ia papa biologisnya, aku yang akan mengawasinya secara langsung, ia tak akan bertemu Livia, hanya Biru," ujar Ananta dan Adam mengangguk. "Ya saya mengerti Pak," **** Victor merasakan bergetar saat pertama kali melihat Biru dalam jarak dekat, ia berdiri dari duduknya saat melihat Ananta mendekat sambil menggendong Biru. "Ini salaman sama om," ujar Ananta dan Biru menggeleng. Victor tersenyum dengan mata berkaca-kaca. "Ayo anak pintar kasi tangan sama om, salim dulu," pinta Ananta lagi dan Biru menjulurkan tangannya, Victor tak bisa menahan air matanya saat Biru mencium tangannya. "Untuk pertama aku rasa cukup, dia masih belum mengenalmu, jika ingin ke sini lagi kasi kabar ke aku dulu, dua hari lagi Livia menikah," ujar Ananta. Victor mendekat dan mencium kening Biru. "Terima kasih sudah diijinkan bertemu anakku, aku akan ke sini lagi setelah kesibukan di rumah ini reda," ujar Victor. Sekali lagi menatap mata Biru yang menatapnya dengan tatapan mata anak kecil yang polos, mengerjab dan menyandarkan pipinya pada d**a Ananta. "Permisi, aku pulang," ujar Victor. **** Pagi-pagi keluarga Ananta dan Devi sangat sibuk karena akad nikah akan berlangsung jam 10.00 pagi. Sena dan Nira serta anaknya yang cantik Zamora telah siap sejak tadi, tak lama muncul Ejak dan Natasha dengan anak kembar mereka Bayu dan Banyu. Senyum lebar Ananta menyambut kedatangan cucu-cucunya, Ananta tampak menggendong Biru. "Ayah turunkan saja Biru, biar bergabung dengan Bayu dan Banyu bentar lagi paling Bima datang sama Pak Lik Broto dan Bu Lik Wulan," ujar Ejak. "Turun sayang ya, tuh main sama Banyu, loh mana dah Bayu?" tanya Ananta. Dan semuanya tertawa saat Bayu yang biasa tidak bisa diam, tiba-tiba mendatangi Zamora dan duduk diam didekatnya sambil sesekali menatap wajah Zamora dari dekat. "Wah waaaah kok ya tahu kalau ada anak cantik kamu le langsung ngapel dan diam tak bergerak," ujar Ejak yang ditertawakan oleh semuanya. "Lah iya nurun siapa wong papanya pemalu," ujar Devi yang baru saja selesai berdandan dan bergabung di ruang keluarga yang luas. "Nurun mamanya bun," sahut Ejak dan Nat memukul bahu Ejak. "Sembarangan, enak aja, dulu kamu juga yang nyosor duluan," bisik Nat dan Ejak hanya tertawa. Tak lama Livia telah siap, dan semuanya bersiap menuju hotel tempat dilaksanakannya akad nikah dan resepsi pernikahan. **** Acara akad nikah berlangsung lancar dan saat sesi foto, tiba-tiba Victor hadir. Adam melirik wajah Livia yang ia rasakan berubah gugup, tangannya segera menggenggam jari Livia. "Selamat semoga bahagia, aku tak akan mengganggumu lagi Livia, hanya ijinkan aku untuk selalu bisa bertemu Biru," ujar Victor, lalu bersalaman dengan kedua mempelai juga Ananta dan Devi. "Weh datang juga tuh bule," ujar Ejak. "Rumit banget ya kisah Livi, semoga ke depannya lancar-lancar aja," ujar Nira yang diamini oleh suami dan ipar-iparnya. **** Tepat jam 12.00 resepsi digelar di tempat yang sama, tamu yang tidak begitu banyak membuat suasana tampak akrab dan hangat, Ananta dan Devi hanya mengundang sekitar 500 orang tamu. Livia kembali melihat Victor di mulut pintu hall, meski jauh ia dapat melihat tubuhnya yang jangkung. Hanya melihat dari jauh tanpa masuk dan bergabung dengan tamu yang lain. Livia berusaha tak melihat, ia berusaha berkonsentrasi dan tersenyum pada tamu yang memberinya selamat. Saat tamu mulai sepi Livia melihat Victor menuju pelaminan dan mendekati mempelai lagi. "Ini kado untuk kalian, maaf tadi aku lupa menyerahkan," ujar Victor sambik menyerahkan kotak kecil pada Adam. "Terima kasih, mana istri anda?" tanya Adam. "Dia ada di negaranya, kami sudah bercerai," Victor berusaha tersenyum meski sulit dan berlalu dari hadapan keduanya. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD