Makan siang telah selesai. Ellen tampak membersihkan mulut setelah meneguk tetes terakhir minumannya.
"Terimakasih atas jamuan ini. Aku akan kesini dalam tiga hari untuk tandatangan kontrak.", ucap Ellen.
"Tentu. Aku bahkan bahagia karena satu temanku telah kembali. Semoga ada waktu lebih untuk kita hangout seperti dulu. Kau tidak merindukanku, huh?", tanya Anne yang hanya diperhatikan oleh dua lelaki di depannya.
"Jangan bercanda, aku selalu mengikuti perkembanganmu, Ann. Aku pasti juga rindu."
Anne dan Ellen saling saling melempar senyum senang. Mereka adalah teman lama yang kembali bersama. Beberapa tahun lalu Anne dan Ellen bertemu saat mereka berkonsentrasi mencari pekerjaan. Bertemu di beberapa event jobfair membuat kedekatan mereka semakin hari semakin baik.
Setelah Anne bergabung dengan G-hotel dan sibuk, hubungannya dengan Ellen juga menurun. Intensitas bertemu jadi berkurang. Ellen juga sempat memilih untuk melanjutkan pendidikan ke Singapore setelah sebelumnya di Venice.
"Aku tunggu panggilan hangout darimu, nona terlalu sibuk.", canda Ellen pada Anne.
"Ya, dan jangan berani menolaknya, nona es batu.", balas Anne.
Mereka tertawa setelah itu. Satu pesan masuk ke ponsel Ellen dan menginterupsi keduanya.
"Baiklah, sudah saatnya aku pergi. Sekali lagi terimakasih.", pamit Ellen.
"Tentu, Ell. Selamat melanjutkan aktivitas."
Ellen berdiri kemudian meraih tas di kursi sampingnya.
Arslan berjingkat, lelaki ini seperti baru siuman dari pingsan saat melihat Ellen beranjak. Jujur saja sejak tadi Arslan hanya asik menikmati pemandangan di depannya dengan malu-malu. Bagaimana Ellen berbicara, menggerakkan bibirnya, memainkan rambutnya, kemudian saat Ellen menebar senyum dengan sangat manis adalah momen dimana Arslan mendapat ketenangan hati.
Setelah sadar bahwa Ellen akan pergi, Arslan ikut berdiri, "Tunggu."
Ellen berhenti dan matanya menatap Arslan dengan dingin. Sangat berbeda saat Ellen berbicara pada Anne tadi.
"Maaf, ada hal lain? Kukira untuk hari ini sudah selesai.", Ellen menjawab seruan Arslan.
Mereka berdua berdiri dengan saling bertatap dan mengabaikan situasi bahwa ada Anne dan Dave di sana.
"Sedikit. Mak...sudku, sedikit waktu lagi. Biss..a kita bi...cara?", susah payah Arslan berucap.
Ellen belum mengalihkan tatapannya dari mata kecoklatan Arslan.
"Aku harus pergi sekarang.", tegasnya.
Arslan kehabisan cara karena sejak tadi otaknya seperti dipermainkan keadaan.
"Kumohon.", pintanya dengan lembut namun tetap dengan postur tegas.
Setiap wanita akan terpesona pada Arslan disaat dia lemah tapi tetap tampan seperti ini, tapi Ellen tidak.
"Kekasihku sudah menungguku di lobby. Permisi."
Kalimat terkahir Ellen mampu membuat Arslan tidak berkutik. Dia membiarkan wanita itu berlalu dengan cepat. Dia hanya mampu bersyukur bahwa hari ini bukanlah mimpi.
Setelah Ellen pergi, Arslan kembali duduk dengan sedikit lesu namun sedetik kemudian dia menegang dan melotot pada sepasang kekasih di hadapannya.
"Baik. Siapa yang akan mulai menjelaskan hal ini?", cecar Arslan.
"Tentang apa, dude?", ejek Dave.
"Tidak perlu berputar, sialan.", balas Arslan kesal.
"Hey, kau yang harus menjelaskan pada kami. Untuk apa kau memburu temanku seperti itu?", sela Anne.
Arslan mengusap wajahnya lelah.
"Teman??? Aku hanya..... mmhh kita sebut saja itu sebagai hutang budi. Ya, itulah urusanku dengannya. Jadi, bisakah kalian mulai bagaimana kalian tahu dia yang aku cari dan dia bisa disini?"
Anne dan Dave tersenyum melihat ekspresi jelek yang dimiliki sahabatnya.
Anne memulai penjelasan tentang bagaimana dia dan Ellen bertemu kemudian menjadi teman.
"Jadi, kalian teman dekat?", tanya Arslan.
"Teman baik.", jawab Anne meluruskan.
"Oke lanjutkan bagaimana akhirnya kau menemukan dia."
Anne menggeleng sedikit kesal mengingat persengkokolan Arslan dan Dave dibaliknya.
"Sudah kukatakan jika kalian perlu wanita di setiap rencana. Jika saja dari awal kau menyebut nama Ellen di dekat telingaku, sudah sejak lama kau temukan dia."
Dave meminta maaf dengan berbisik melihat kejengkelan tunangannya.
"....... Dave bertanya padaku tentang Ellen saat hari pertunangan kami. Aku tahu yang dia cari adalah Ellen temanku, jadi aku perlu sedikit mengerjaimu dengan tidak mengatakannya secara langsung. Hukuman atas kerahasiaan yang kalian sembunyikan dariku, ingat.", terang Anne.
Arslan menyandarkan punggungnya dengan kasar.
"Sial. Aku selalu kalah. Aku hanya tidak ingin kau menertawakanku karena ini pertama kalinya aku memburu wanita. Sebenarnya bukan memburu dalam arti itu, mmhh ini hanya sebatas hutang budi."
Dave mencoba faham walaupun sebenarnya dia masih penasaran.
"Ya ya, apapun alasanmu, aku hanya bersyukur kau masih mau berinteraksi dengan wanita. Oh tapi sayang sekali dia sudah memiliki kekasih, Ars. Tentu ini bukan masalah jika memang kau tidak berniat mendekatinya."
Arslan kembali dipojokkan oleh dua manusia ini. Kebiasaan yang susah dihindari sejak dulu.
"s**t. Kau mau kita bertengkar disini? Sudah kubilang aku tidak dalam porsi itu, bodoh. Baru saja aku peringatkan.", tegas Arslan.
Dave kembali tertawa melihat kelakuan sahabatnya.
"Hey pecundang, kau lawan dia sama dengan kau melawan aku juga.", bela Anne.
"Oke stop. Bisa kau jelaskan saja kenapa bisa kau bawa dia ke hotel ini? Aku sudah muak dengan kekompakan kalian untuk menjatuhkan harga diriku."
Anne mengangguk dengan mencebikkan bibir. Memang benar itu terjadi.
"Sejujurnya kerjasama ini tidak ada dalam rencanaku. Dia hadir secara alami. Kau ingat bahwa kita sudah berencana menambah partner untuk akomodasi sejak bulan lalu? Aku hampir kehabisan ide jika saja Dave tidak bertanya tentang Ellen dan membuatku ingat bahwa ada teman yang sedang merintis perusahaannya sendiri di bidang itu."
Arslan kembali merutuki kebodohannya beberapa waktu lalu.
"Itulah kenapa aku tidak menemukan namanya di penyewa mobil waktu itu. Sial, dia adalah pemiliknya."
"Tepat sekali. Kuharap kau tidak meragukan keputusanku. Aku sangat yakin Ellen mampu bekerjasaman dengan kita."
Arslan melembut, "Terimakasih.", jawabnya.
"Aku tidak akan mencampuri urusan pribadimu dengan Ellen. Aku hanya mengingatkan bahwa kita memiliki kontrak yang harus kita jalani dan dia adalah wanita yang sudah memiliki kekasih. Kau sudah memegang identitas pribadinya sebagai partner. Perhatikan langkahmu dengan baik.", kali ini Dave berbicara dengan bijak.
Arslan berdehem dan menegakkan tubuhnya sekali lagi.
"Aku masih Arslan yang sangat mencintai perusahaan keluargaku dan lelaki paling berwibawa disini.", sahutnya dengan yakin.
"Bagus.", ucap Dave dan Anne secara bersamaan.