PART 12

1227 Words
Waktu untuk penandatanganan kontrak. Sebelum hari ini, Ellen bersemangat untuk menemui Anne dan Dave di G-hotel, tetapi sebuah kabar membuat moodnya buruk. '......Maafkan aku tapi kerjasama ini sudah dilimpahkan ke kantor pusat, Ell. Berita baiknya adalah cakupan bisnis yang lebih luas, sedangkan berita buruknya adalah kita tidak akan sering bertemu karena kontrakmu bukan hanya di G-hotel......', terang Anne. Ellen tahu bahwa tujuannya kali ini bukan lagi G-hotel, melainkan kantor lelaki b******k yang sedang dihindarinya itu. Meski begitu Ellen tidak bisa mundur. Dia sudah menantikan dan sangat membutuhkan kerjasama ini. Perusahaan Arslan bukanlah perusahaan skala kecil. Tentu kredibilitas Ellen akan terangkat jika dia berhasil membuat kontrak dengannya. Logika Ellen lebih mendominasi daripada egonya sendiri. Dia memantapkan diri untuk pergi menemui Arslan. Saat dia bersiap dan merapikan makeup, ada satu panggilan telepon masuk. Di layar ponsel tertera jelas nama 'Samuel Eddie'. "Ya?', jawab Ellen pendek. 'Kau yakin pergi sendiri?', tanya suara di seberang sana. "Kau meragukanku lagi?" 'Tidak. Aku hanya takut kontrak ini lepas karena kau bersikeras untuk belajar bisnis.' Mood Ellen semakin buruk mendengar kata-kata Samuel. "Dengar, Sam. Aku masih sadar untuk tidak menghancurkan perusahaanku sendiri." 'Iya tapi kau mulai melupakan aku, Ell. Ingat, masih ada aku.' Ellen jengah untuk menjawab. "Cukup. Biarkan aku bekerja dan akan kukabari hasilnya nanti." 'Baiklah, segera hubungi aku. Jika sampai tengah hari tak ada kabar, aku akan lari kesana dan memperbaiki kerusuhan yang mungkin telah kau buat. Mengerti?' Ellen sudah tidak tahan untuk segera menekan tombol off di ponselnya dan membanting ponsel itu ke sembarang tempat. Tidak ada jawaban akhir dari Ellen untuk permintaan Samuel. Dia sudah hafal akan kelakuan lelaki itu. Samuel hanya suka menggertak dengan merendahkan kemampuan Ellen agar dia merasa selalu dibutuhkan di hidup Ellen. "Bedebah...." Sudah hampir dua tahun mereka dekat. Samuel adalah manajer umum di perusahaan Ellen. Segala kebutuhan perusahaan dihandle olehnya. Ellen sebagai founder hanya diminta untuk tenang. Semakin lama, Samuel semakin berani. Dia tidak segan lagi untuk semena-mena terhadap apapun, termasuk diri Ellen. *** Kantor pusat G-group. Ellen dipersilahkan untuk langsung masuk ke ruang pimpinan. Awalnya dia tidak percaya, namun kalimat itu sangat jelas diucapkan oleh resepsionis. Kini dia sudah di depan pintu ruangan Arslan setelah sekretarisnya menunjukkan jalan. Pintu diketuk kemudian suara dari dalam mempersilahkan masuk. Ellen melihat Arslan sedang duduk menghadap layar komputer. Sedetik dia menoleh ke arah pintu kemudian kembali ke monitor. "Duduk, Ell. Kau mau minum apa?", tanya Arslan sopan. Ellen mengambil posisi duduk di sofa berwarna abu di dekat lemari pajangan deretan piala penghargaan G-group. di sebelah kanan meja Arslan ada dinding kaca yang tidak terlalu silau namun tampak indah memperlihatkan pemandangan luar dari ketinggian. "Tidak perlu.', jawab Ellen. Arslan menoleh. "Kalau begitu aku ambilkan air mineral. Sebentar lagi, oke? Aku harus mengirim email sialan ini dalam lima menit atau aku akan kehilangan salah satu investor." Ellen hanya diam memperhatikan gerak-gerik Arslan. Lelaki itu tampak serius dengan urusannya. Dia sempat berbicara apa yang dia lakukan kepada Ellen, yang bahkan belum terlalu dia kenal. Sepersekian detik Ellen terlena dengan postur tubuh Arslan. Dia teringat beberapa waktu lalu tubuh itulah yang memberi ketenangan untuknya. Oh bukan, bukan hanya tubuh namun perlakuan Arslan juga. Tiba-tiba sebuah suara mengejutkannya. "Oke, Finish.", seru Arslan sambil menghentakkan kaki di lantai marmer. Arslan sepertinya sudah mengirim email yang dia sebut sialan tadi. Kini lelaki itu berjalan ke arah lemari pendingin dan mengambil air mineral untuk Ellen. "Kau yakin hanya mineral?", Arslan meletakkan itu di meja. "Iya...... Pak.", jawab Ellen tidak yakin. Arslan mengangkat alis. "Pak?? Aku tidak mau terlihat tua di depanmu. Kita santai saja.", pintanya. Ellen tidak lagi tegang seperti sebelumnya. "Tidak baik untuk tidak berbahasa resmi." "Kepada partner kerja, kita dianjurkan untuk bersikap sopan, bukan wajib bersikap formal. Bedakan itu. Kurasa kita lebih cocok untuk bersikap santai karena aku belum bapak-bapak dan kau belum ibu-ibu. See?" Ellen memang sudah pernah berhadapan dengan Arslan sebelumnya, jadi dia sendiri pun merasa kikuk jika harus bersikap formal. "Oke. Jadi dimana kontraknya?", tanya Ellen ke point. "Kenapa kau terburu-buru? Apa hanya kontrak yang ada di pikiranmu saat ini?" Ellen terperangah mendengar kalimat menyeleweng itu. "Agenda kita sudah jelas. Tanda tangan kontrak. Tidak ada yang lain." Arslan mengeratkan gigi karena Ellen sungguh menganggap pertemuan ini begitu mudah. Dia tidak tahu jika Arslan menantikannya sejak lama. "Baiklah." Arslan berjalan ke arah meja, mengambil berkas dari laci dan menyodorkannya pada Ellen. "Aku sudah mengirim salinannya kemarin. Kau sudah mempelajari semua dan sudah aku revisi sesuai kesepakatan. Disana sudah ada tanda tanganku juga. Aku melakukan itu untuk mengikis keraguanmu tentang kerjasama ini." Ellen menelan ludah dengan sikap percaya Arslan padanya. "Kau belum tahu sepak terjangku di dunia bisnis tapi kau sudah menandatanganinya?" "Entahlah. Instingku berkata kau bertekad keras dan itu bagus.", sahut Arslan. Ellen kemudian membuka berkas dan memastikan isi kontrak sama dengan apa yang dia baca terakhir kali lewat email. "Aku tahu kau pasti menilaiku sebagai penjilat karena aku mendapat kesempatan ini dari temanku, Anne. Tapi aku tidak peduli. Aku hanya ingin bekerja dengan baik.", terang Ellen pada Arslan yang ternyata sejak tadi masih memperhatikan wajah Ellen. "Dengar. Aku juga bukan orang bodoh yang sembarangan memilih partner. Aku tahu jika armada mu dirawat dengan baik, jumlahnya memenuhi kebutuhan perusahaanku, dan yang terpenting adalah legalitas. Aku tidak menolak dengan kekuatan koneksi karena itu justru membantu memfilter secara lebih cepat, lalu aku tinggal mengurus sisanya. Jadi, jangan khawatir aku menganggapmu apa. Aku hanya butuh kau menaati kontrak." Penjelasan panjang Arslan didengar baik oleh Ellen. Meski lelaki itu menyebalkan, namun sejak awal kata-kata profesional yang dia ucapkan bisa terdengar nyaman di telingan dan otak Ellen. Tak lama, Ellen mengambil pena dan menandatangani kontrak di depannya. "Selesai. Deal kita bekerjasama. Aku sangat menghargai jika kau bisa menjaga sikap profesional diantara kita. Aku akan mulai mempersiapkan segalanya dengan timku. Seharusnya aku juga akan berkoordinasi dengan satu orang bawahanmu. Segera kenalkan dia padaku. Terimakasih" Ellen berdiri dan mengulurkan tangan untuk menjabat Arslan. Arslan ikut berdiri dan menyambutnya dengan cepat. Satu, dua, tiga detik mereka bertahan. "Lepaskan.", pinta Ellen melirik ke arah tangannya. Arslan mengeratkan gigi tanpa mengeraskan genggaman tangannya. "Belum, masih ada urusan yang harus kita bahas. Jangan menghindar. Kau tidak bisa keluar karena pintu sudah terkunci." Ellen menoleh ke arah pintu. Perasaannya tidak baik. Dia yakin Arslan akan membahas tentang pertemuan terakhir mereka di Venice. Secara cepat Arslan bergerak menyeberangi meja dengan menjaga tangannya tetap bersatu dengan Ellen lalu tinggallah jarak hanya setengah meter diantara mereka. "Jaga sikapmu, Ars. Kau bilang akan bersikap sopan pada partner." Arslan melembutkan pandangan. Garis muka dan ketegasan pundak yang dia tunjukkan saat membahas pekerjaan kini sudah berubah menjadi santai. Arslan masih belum melepas tangan Ellen. "Sekarang kita tidak membahas pekerjaan lagi, Ellen. Aku sudah menahan diri sejak di G-hotel. Kau bersikap seolah tidak terjadi apa-apa diantara kita, tapi maaf aku tidak semudah itu." Ellen mencoba menarik tangannya namun genggaman itu berubah menjadi tautan. "Kau sedang berhadapan dengan wanita yang sudah memiliki kekasih.", tegas Ellen. "Tapi akulah orang yang merebut mahkotanya!!", kalimat Arslan menghujam jantung Ellen. Ini bukan sedih, bukan marah, juga bukan kecewa. Ellen tidak tahu, dia hanya merasa sedikit gagal untuk suatu hal. Namun dia bertekad untuk bertambah kuat tentang segala hal. "Sudah kubilang jangan mengkhawatirkan itu. Kita bukan remaja belasan tahun yang takut akan terjadi sesuatu seperti....." "Hamil?", sela Arslan cepat. Ellen menelan ludah dengan berat. "Aku tidak akan hamil, jika itu yang kau takutkan. Kau tidak perlu takut aku akan datang dengan menangis memohon pertanggungjawaban agar kau nikahi atau meminta banyak uang untuk membesarkan anak. Aku sudah melihat siklus bulananku dan jelas sekali aku tidak dalam masa subur waktu itu." Arslan hanya bisa menggeratkan gigi mendengar tuduhan Ellen padanya. Belum ada kalimat untuk menjawab. Arslan justru memberanikan diri menarik tubuh Ellen ke dalam dekapannya. "Apa yang kau lakukan, b******n?", tolak Ellen meronta mencoba melepaskan diri. Sayang sekali pelukan Arslan semakin kuat. Terdengar suara lemah dan lirih dari Arslan dibalik punggung Ellen. "Apa aku seburuk itu?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD