Episode 8 Terkucilkan

1609 Words
Beberapa hari setelah pertemuanku dengan mereka, kami benar benar berhenti berkomunikasi. Saling menyapa pun tidak. Aku benar benar menjaga jarak dengannya. Berharap semuanya sudah berakhir dan benar benar berakhir. Tetapi ternyata ini semua baru saja dimulai.. "Mbak Liya.. dicari Abang di depan toko, seperti nya Abang lagi marah mbak, wajahnya memerah", kata Yanti cemas. Aku berjalan menuruni anak tangga dengan hati cemas, aku berfirasat Deddy mengetahui semuanya. Setibanya di depan toko, aku melihat wajah Deddy tidak pernah semarah ini, semua tampak memerah. "Kamu bener ya ternyata pacaran dengan Mas Hadi, kok bisa kamu berbuat seperti itu Liya ,!!", Panggilan cinta tak lagi kudengar. "Kita putus mulai hari ini", katanya tegas tanpa memandang wajahku sedikit pun. Aku hanya diam tak bersuara sepatah katapun. Aku terima keputusannya, karena memang aku bersalah. Diamku menandakan semuanya ini memang benar. "Kembalikan fotoku yang aku kasik ke kamu", Aku langsung balik badan dan pergi ke kamar untuk mengambil foto yang ia berikan kepadaku untuk di pajang di dompet kecilku waktu itu. Aku sodorkan fotonya, iapun langsung mengambil dan pergi begitu saja. Aku hanya bisa melihat punggungnya hingga menghilang di ujung jalan Entah perasaan seperti apa ini, aku hanya merasa kosong, tidak bersedih, apalagi bahagia. Terasa hampa saja. Yanti bertanya kepadaku "Ada apa mbak?", sambil menghampiriku yang duduk di lantai depan lemari baju. "Abangmu mutusin mbak" "Dia tau kalo mbak ada hubungan dengan...", aku tak melanjutkan perkataanku. "Pak Hadi?, semua anak anak bicarain mbak yang di labrak ma Bu Dwika katanya ", "Ya sudah lah.. semuanya sudah terjadi". kataku sambil melanjutkan tugasku menulis laporan praktik yang direvisi. "Mbak Liya, saya perlu bicara", tiba tiba Bu Dwika berada di depan pintu kamarku. mengajakku ke tempat yang lebih sepi. Jujur aku kaget, ada apa lagi? Sampai aku tidak memakai sandal menghampirinya. "Kamu punya hubungan apa dengan suami saya?, Sejauh apa hubungan kalian selama ini?", tanya nya sambil menahan amarah. "Saya kan sudah bilang Bu, saya hanya sekedar sms an, saya tidak pernah melakukan apa apa dengan pak Hadi", jawabku. "Semua mahasiswa tau mbak, kalo kamu dan pak Hadi itu ada hubungan, kata mereka kalian sering bersama", sambil berkaca kaca Bu Dwika menatapku. Aku sungguh sangat menyesal. "Kami bersama bukan berarti melakukan hal yang jauh Bu, pernah saya masuk kamar pak Hadi di tempat praktik itupun karena pak Hadi minta dikerokin, itu saja. Kami tidaj melakukan hal yang jauh", jelasku berharap ia bisa percaya. "Saya sedang hamil, tapi pak Hadi tega melakukan ini kepada saya, mbak Liya kan juga perempuan, gimana perasaan mbak kalau ada di posisi saya?!", Aku hanya diam dan menunduk sambil terus berkata "Maafin saya Bu, saya khilaf", Bu Dwika pergi meninggalkan aku yang berdiri terdiam sambil menata hati yang berdebar kencang. Menyalahkan diri ini yang tidak tau diri selama ini. Akupun kembali ke kamar dan berpura pura baik baik saja. Sekarang aku harus menerima apapun resiko nya. Sendiri, tanpa dia yang biasanya memberikan semangat kepadaku. Hanya teman teman sekamarku saja yang tetap mendukung dan memberikan semangat kepadaku. Hanya mereka.. Terutama Vina, yang selama ini menemaniku. Semua mata selalu memandangiku dengan sinis, terutama mahasiswi STIKES Keperawatan yang juga tinggal di asrama kami. Mereka membicarakan ku sambil menatap sinis . Setiap hari, setiap waktu. "Mbak.. mbak Liya gak usah turun ke ruang makan ya, biar aku ambilin," Vina paham betul kondisi sekarang ini, dia merasa kasihan melihatku yang menjadi bahan gosip dan cibiran di kampus dan juga di asrama. Aku mengangguk menyetujui saran Vina. Sejak itu kami makan di dalam kamar bersama. Dan merekapun tidak ada yang bertanya apapun kepadaku. ===================================== Beberapa Minggu berlalu dengan sangat berat. Aku sungguh sangat marah kepada diriku sendiri. Dan aku juga sangat marah kepadanya (Hadi). "Mbak.., ternyata ada yang memberitahu Bu Dwika, kalo pak Hadi sama mbak itu sering bersama di tempat praktik, mbak yang kerokin pak Hadipun itu ada yang tau", kata Anni mendapat info dari kakak perempuan nya yang kuliah di Keperawatan. Aku mengira dia yang bercerita kepada isterinya. Ternyata bukan, dan aku tau siapa yang memberitahu semuanya itu. Dia teman beda kamar denganku tetapi teman sekelas. Namanya Ayun, dia selama ini yang selalu bertanya dan mencoba menyelidiki hubunganku dengan pak Hadi. Ya, aku yakin dia orangnya. Namun aku bisa berbuat apa, karena memang aku bersalah. Aku hanya menjalani semuanya seperti tidak terjadi apa apa. *** Tiba tiba aku kangen dengan teman sekamarku yang kini tinggal di Surabaya bersama suaminya. Ia sahabatku yang mengerti segala permasalahanku. Mungkin karena usianya sama denganku. Jadi pemikiran kamipun hampir sama. Dia bernama Aisyah, Yang Drop Out akibat melanggar aturan kampus, sehingga dia di terminal kan. Aku berencana pergi ke tempatnya hari Sabtu besok, dan menginap disana. Akupun meneleponnya, dan mengatakan ingin bermalam di tempatnya. Dia sangat senang, dan mengatakan akan menungguku. *** Jadwal pulang mahasiswa pun tiba, sebagian besar mereka pulang, dan aku memilih untuk pergi ke Surabaya. Aisyah menungguku di depan gang kontrakannya. Dia tampak senang sekali melihatku datang menjenguknya. Suaminya kerja di Hotel ternama di Surabaya. Hotel JW.Marriot. Dan saat itu suaminya sedang bertugas. Aku bercerita semuanya kepada Aisyah. Dan dia selalu saja bisa menenangkan ku. "Yank..sebenarnya kapan hari Deddy itu kesini, dia cerita semuanya ke Mas Arul", Aisyah memanggilku dengan panggilan sayank, dan Mas Arul itu adalah suami Aisyah dan pernikahan mereka tanpa restu orang tua Aisyah. "Hari inipun Deddy mau kesini, maaf ya aku gak bilang takut kamu gagal ke sini", kata Aisyah merayuku agar tidak marah. " Gak papa, toh aku juga sudah putus ma Deddy, " "Iya..putus baik baik kan?", "Kalo akunya yank, maunya baik baik tapi Deddy setiap ketemu aku gak pernah mau nyapa", kataku sambil manyun. Aisyah hanya tertawa dan kembali memelukku gemas. Aku merasa nyaman didekat Aisyah. Terdengar seseorang mengucap salam di depan pagar. Dan aku tau persis suara siapa itu. Ternyata Mas Arul sengaja ingin mempertemukan ku lagi dengan Deddy. Dia menyuruh Deddy ke Surabaya tepat di hari aku berkunjung juga. Deddy tampak kaget setelah melihatku berada di dalam rumah kontrakan Mas Arul. Dia pun tidak menyapa. Aku hanya diam saja sambil memainkan hp ku. Deddy terlihat salah tingkah. Mas Arul pun datang, Dan seperti biasa keramahannya mencairkan suasana tegang di ruangan itu. "Kok diem dieman??.Katanya masih Sayang Ded ".. Mas Arul tiba tiba langsung ngeledekin Deddy. Deddy tampak tersipu malu dan memilih merokok untuk membuatnya lebih rileks. "Kamu Lapo kok putus ma Deddy,..kalian lho serasi..", kata Mas Arul black blakan. "Deddy masih sayang ma kamu, dia cerita kapan itu sambil nangis".. Bisik mas Arul di dekat telingaku. Aku hanya tersenyum namun tak berkata apapun. "Ayo baikan..", mas Arul menengahi kami yang tidak saling pandang apalagi sapa. Dan tetap saja suasana saat itu tegang. "Pa, Ayuk kluar beli makanan ", ajak Aisyah yang sepertinya mereka sengaja ingin meninggalkan kami berdua. "Tak tinggal dulu ya Ded, sebentar", " Eh..iya mas", jawabnya sok santai. "Kamu bareng sapa Liya kesini?", tiba tiba Deddy mengawali obrolan. " Sendiri", jawabku singkat tanpa menoleh ke arahnya. Jujur saat itu Jantungku berdebar, entah ada apa. " Kamu setiap ketemu aku kenapa gak pernah menyapa?", tanyaku " Males, jadi inget kamu terus", Jawabannya malah membuat jantungku makin berdebar keras. Kenapa ini?? apa aku mulai menyukai Deddy?? mengapa baru sekarang jantung ini berdebar saat berada didekatnya?. "Sudah baikan belum?", suara mas Arul memecahkan keheningan. Aku hanya tersenyum, Kami berempat makan bersama, meski rasa canggungku belum hilang. Aku berusaha menutupi kecanggungan ku. "Nginep sini ya Ded," kata Mas Arul "Gak mas, besok aku pulang ke Blitar", jawab Deddy . "Liya nginep disini, kita tidur berempat lah disini nanti, apa kamu mau tak sewain kamar di hotel?", sambil melirik ke arahku Deddy tersenyum. Aku hanya diam membisu, canggung dan bingung mau berkata apa. Aku dan Aisyah bercerita sampai lupa waktu. sampai akhirnya kami pun tertidur. Terasa baru sebentar tertidur ternyata matahari sudah sangat tinggi. Kami bangun kesiangan. Gang di rumah kos sudah sangat ramai dengan ibu ibu yang belanja di tukang sayur keliling. Aku dan Aisyahpun juga belanja di akang sayur itu. "Loh..itu kan Deddy yank..", sambil menunjuk ke arah depan gang. Aku pun menoleh mencari sosok Deddy. "Katanya mau pulang dia", Aisyah berkata lagi. "Mas Arul ada mbak", tanya Deddy tanpa melihat kearah ku. "Ada di dalam Ded, masuk aja, Mas Arul libur hari ini", jelas Aisyah. "Oh..iya mbak, " jawab Deddy singkat sambil berlalu dari kami. "Hmmm... ada apa ini ya? " guman Aisyah sambil melirik menggodaku. Aku pura pura tidak perduli. Padahal aku juga penasaran, bukan ya dia bilang semalam mau pulang ke rumahnya. Aku ikutin Aisyah ke dapur, sambil bikinkan kopi buat mas Arul dan Deddy. "Ni kopinya mas, Ded,", kataku sambil meletakkan 2 cangkir kopi Capuchino. "Liya, Aku mau ngomong", tiba tiba Deddy bicara padaku. "Wis, kalian ngomong disini aja. Biar aku bantuin Istriku di dapur., tuntasin Ded..", kata Mas Arul yang tambah membuatku penasaran. " Aku perlu ngomong sama kamu, sebenarnya semalem, cuma pikiranku belum siap", "Aku tuh masih banyak menyimpan pertanyaan Sama kamu, kamu itu sebenarnya memang benar benar pacaran gak sih sama mas Hadi?", tanyanya begitu serius. "Kenapa baru sekarang kamu tanyakan hal ini?, Waktu itu, aku mau menjelaskan kamu gak mau tau", Aku merasa benar dan ada sedikit rasa senang dalam hati. Tiba tiba tangan Deddy meraih tanganku samil mendekatkan tubuhnya ke arahku. "Aku sakit hati ta, dengar kabar itu dikelas. Semua anak anak bicarain kamu. Mereka ngeledekin aku. Aku saat itu benar benar marah. Gak tau marah sama siapa. Aku sayang banget sama kamu ta, sampai sekarang", Jantungku berdebar kencang. Keringat dinginku mulai bercucuran. Aku terdiam, dan sedikit gemetar. "Aku mau kita baikan". "Aku kepingin kita kayak dulu lagi". "Kamu harus janji ma aku, jauhin mas Hadi", "Aku tau dia suka sama kamu." Aku terkejut mendengar apa yang Deddy katakan. Apa iya dia serius ngajak balikan? Atau dia hanya mau mempermainkan ku saja? ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD