Aku berada di tempat yang sangat tinggi. Udara bebas dan dingin di malam hari.
Tempat mandi terbuka, Air nya dingin sekali dan Aku merasa sangat malu karena aku tanpa busana apapun mandi bersamanya.
===================================
Aku terbangun dari tidurku, sambil mengeluarkan keringat dingin. Aku masih mengingat betul mimpiku. Mimpi yang sepertinya memberikan firasat buruk. Sesuatu akan terjadi. Mimpi yang membuatku malu. Aku merasa khawatir.
Seperti biasa, setiap sore ia berkunjung ke asrama. Entah berada di toko atau bersantai di depan asrama. Dan iya, itu memang menjadi rutinitasnya kini setiap sore jika tidak berolahraga. Hanya ingin bertemu dengan ku.
Ketika ada waktu yang tepat, kami sesekali ngobrol, aku selalu mengajak Vina untuk bersamaku. Setidaknya aku tak terlihat berdua saja dengan nya.
"Pak.., semalam saya mimpi," aku menceritakan mimpinya yg membuatku khawatir.
"Mimpi apa?",tanyanya
"Mimpi kita sedang mandi bersama di tempat terbuka, sepertinya ini firasat kurang baik", aku berargumen.
"Hhmm.. ngeliat donk punya saya", dia bercanda yang gak lucu saat itu.
"Gak lucu pak, beneran hati saya gak enak dengan mimpi itu".
"Sudah.. mimpi itu kan bunga tidur, Jadi jangan berfikir buruk, biar gak terjadi hal hal yang buruk juga", nasehatnya yang masih saja belum membuatku tenang.
Aku terus saja khawatir, berfikir akan terjadi hal memalukan apa nantinya.
Waktu terus berjalan, meski tanpa kencan berdua, kami masih saja menjalin komunikasi. Hanya komunikasi, dan itu tetap saja salah. Ya, aku sadar semua itu salah. Perasaan yang tidak bisa dilupakan, perasaan yang merasa masih ingin selalu diperhatikannya. Karena dia adalah sosok pria idaman yang aku impikan.
Cintaku membuatku gelap mata.
Perhatiannya tidak berubah, semakin perhatian.
Walau hanya lewat pesan, sering berkunjung ke asrama, dan membelikan makanan makanan kecil itu sudah membuatku sangat bahagia dan merasa juga memilikinya. Sungguh sempit hati ini.
"Mbak Liya....ada Abang di bawah, mbak Liya disuruh turun", kata Indah yg baru saja dari toko membeli mie instan.
"Oh .iya..makasih ya..", sambil aku beranjak dari tempat tidurku menuruni tangga dengan agak malas.
"Yank..," panggilku ketika kuliat Deddy duduk di bangku toko.
"Ta, Aku denger gosip gak enak tentang kamu sama mas Hadi", Todongnya langsung.
Dia memanggil Pak Hadi dengan sebutan Mas, karena sudah terbiasa begitu sejak pak Hadi masih bujang.
"Gosip apa yank?" tanyaku sok polos.
"Kamu digosipkan pacaran Ama mas Hadi, beneran ta?", sambil berwajah rada meyelidik dan curiga memandangku.
"Masak iya yank, aku pacaran ama pak Hadi, kan sudah punya istri..", berharap Deddy percaya pembelaanku.
"Awas, kalo Sampek aku denger yang aneh aneh tentang kamu sama mas Hadi", ancamnya sambil menjewer telingaku pelan.
"Soalnya mas Hadi itu sering, tanya tanya kamu, ceritain kamu di kelas, makanya aku curiga", lanjutnya.
"Kan biasa, dosen cerita mahasiswanya yang pinter", sambil berusaha mencairkan suasana yang tegang menurutku.
"Ya aneh, kalo ceritanya diulang ulang, ke semua kelas lagi." cerocos nya.
Aku hanya diam tidak menjawab pembicaraannya. Berharap pembicaraan ini tidak berlanjut.
Kemudia tanpa diduga, Ia datang dan berhenti di depan toko.
"Mas Deddy ngapain di asrama Akbid?", tanya nya.
"Kangen sama pacar mas,"sambil sok serius jawabnya.
"Mbak Liya gak boleh pacaran sama ibunya, Dititipin ke saya", Balasnya.
Aku malah deg degan ngeliat mereka berdua. Aku liat wajah Deddy mulai tidak senang.
Dan sebaliknya wajah Pak Hadi santai saja.
"Biar besok pas pulang langsung tak minta aja ke ibunya", Deddy masih sengaja melanjutkan obrolan basa basinya.
Aku Sik sibuk beli aneka jajanan di toko, dan aku cubit cubit lengan Deddy untuk berhenti bicara.
Pak Hadi akhirnya memilih pergi entah kemana.
"Tuh .. aku yakin mas Hadi itu suka sama kamu", Kata Deddy dengan wajah serius..
"Mana mungkin yank... udah deh, jangan berfikir aneh aneh. Pak Hadi emang bgitu sama siapa aja, suka bercanda", kataku mencoba mengalihkan.
"Ya udah , aku mau masuk, gak enak kalo ketauan dosen asrama,"kataku berharap Deddy segera pergi.
"Ya udah, awas lho ya..", sambil jari telunjuknya menunjuk ke arahku.
Aku hanya tersenyum dan mengangguk.
============≠=======≠===≠=≠≠≠========
Baru sampai di depan kamar,
"Mbak Liya.. telepon" Ira yang berada diujung lorong tepat telepon dinding berada di depan kamarnya.
Aku berjalan menuju telepon.
"Halo..Ass..",
"Ngapain Deddy tadi kesana?, kan buka jam kunjung, trus kenaoa dia bisa ngomong kayak gitu, ", cerocos suara diseberang sana.
"Jennengan itu apa apaan sih, kalo kayak gitu adanya semua orang pada tau, hubungan kita bukan hubungan normal,"Lirih aku menjawabnya. Khawatir anak asrama pada curiga.
"Jennengan katanya juga, sering bicara in saya dikelas STIKES, buat apa coba? kan malah cari masalah?!", sedikit tegas nadaku kali ini.
"Mbaknya juga sudah tau kok, aku sering cerita kamu ma dia, aku kalo ke asrama juga pamit kalo mau ke istri kedua", nada santai seolah olah ini hal yang biasa terjadi.
"Astaga.. Jennengan cari masalah namanya, ya pastinya mbak anggap Jennengan bercanda itu, kalo sampai curiga gimana?", sedikit keras lagi nada bicaraku.
"Biar sekalian tau kan lebih enak nanti, " jawabnya yang ngasal bikin aku kesal.
Aku tutup teleponnya. Dan aku kembali ke kamar. Sambil mikirin dia yang semakin tidak terkontrol.
Ada perasaan tidak enak hati beberapa hari ini.
Aku masih khawatir dengan mimpi ku tempo lalu. Serasa memberikan tanda untuk lebih berhati hati dalam melangkah. Terkadang ingin mengakhiri hubungan gelap ini. Namun, lagi lagi hati ini menolak. Tak ingin melepasnya, Sungguh dia sosok yang sempurna dimataku.
Memang akhir akhir ini, banyak mata memandangku sepertinya tidak senang. Banyak mata berusaha mencari tau siapa sosok yang diberitakan dekat dengan Mas Hadi, Dosen kesayangan mereka juga.
Aku merasakan ada tekanan yang memojokkanku setiap harinya. Ada perasaan kurang nyaman.
H :Kangen..
L : saya lagi kurang enak badan
H : Butuh VIT C
H : CIUM
................................................
Lampu Hp jadul Nokia 8250 berkedip kedip
Tampil nomor pak Hadi ..
Aku ragu mau angkat, karena tidak biasanya dia menelepon lewat Hp.
Akhirnya aku angkat juga..
"Halo..."
"Halo...ini siapa?,"suara wanita diseberang sana.
Aku langsung tutup teleponnya.
Aku tau itu suara siapa.
Ya, mbak Dwika. Isteri sah pak Hadi.
Aku sangat terkejut, Apa yang terjadi?
Kenapa bisa dia menelepon Nmrku?
Bukankah aku selalu mewanti wanti untuk tidak menyimpan pesan atau nomerku di Hp nya. Kemana dia?? Kenapa bisa HPnya tidak dibawa? Pikiranku kacau saat itu. Aku berusaha mencari Dimana dia sekarang.
Dan aku naik ke loteng atas untuk melihat di belakang asrama, tempat olahraga asrama . Disana dia bermain Badminton. Dan aku menyimpulkan. Hpnya dia tinggal di rumahnya. Mungkin juga pesan terakhir kami lupa tidak dihapusnya.
Astaga... ini awal mula bencana.
Aku bingung, aku takut dan gelisah.Sampai akhirnya dia mengirim pesan.
1102
Yang artinya dia benar benar Hadi
Td mbak Tlp sy
Tp saya tutup
Kok bisa?!
-------------
pesan kita lupa tidak sy hapus
hp ketinggalan di kamar
mbaknya ingin ketemu kamu
---------------
Trus gimana?
sy harus ngomong apa?
Jennengan bilang apa?
----------------
Saya jujur
saya blg ini salah saya
bukan salah kamu
gpp ya..temuin sjaa mbaknya
nanti habis isya' sy ma mbaknya ke asrama.
-----------------
Deg deg detak jantungku gak karuan.
Takut, resah, gelisah apa yang akan aku jelaskan nantinya. Tidak ada yang tau kejadian ini. Aku pendam sendiri. Berusaha menyelesaikan sendiri.
"Mbak Liya..., di cari Bu Dwika di bawah" , kata salah satu teman asrama kamar lantai bawah.
Semua mata teman kamarku saling pandang.
Mereka paham bahwa ini kurang baik.
Aku menuruni tangga dengan wajah cemas.
Jantungku berdebar kencang. Jujur, aku takut.
Kulihat Bu Dwika sedang duduk di kursi panjang sebelah toko. Dan dia berdiri di depan etalase sambil mengalihkan perhatian penjaga toko.
"Mbak Liya ya.." tanyanya langsung.
"Iya Bu, "
"Sini duduk ",
Akupun duduk disebelah Bu Dwika yang telah hamil 7 bulan.
"Saya ingin bertanya, mbak Liya ada hubungan apa dengan suami saya", jelas dan langsung pada sasaran. Sedikit ada penekanan dalam kata Suami saya.
"Saya tidak ada hubungan apa apa Bu, saya sejak pak Hadi belum menikah, sering bercandaan. Tapi jujur, saya memang suka dengan pak Hadi sebelum bliau nya menikah. Dan suka setelah itu hanya sebatas kagum saja, tidak lebih", penjelasan ku yang aku rancang sebelumnya agar masalah ini tidak berkelanjutan. Aku harus berbohong.
"Pak Hadinya bilang katanya memang suka sama kamu, kamu pinter, sopan, pendiem dan keibuan. pak Hadinya sering memang membicarakan kamu di rumah, saya anggap awalnya itu hal biasa. Tapi lama lama pak Hadi lupa kalau yang diajak bicara itu istrinya.",
Tampak wajah Bu Dwika begitu serius sambil melihat ke arah pak Hadi, yang hanya senyum senyum entah apa maksudnya.
"Saya minta maaf ya Bu, saya tau ini salah. seharusnya saya tau batasannya sekarang.
Saya janji tidak akan mengulanginya lagi", Aku tidak berani menatap wajah Bu Dwika. Dan aku merasa benar benar malu sekali.
"Sudah mi, yuk kasian mbak Liya nya., ini salahnya papi kok," sambil merayu istrinya yang sepertinya masih belum puas.
"Kowe itu kok gak malu, sebagai dosen kok kasik contoh tidak baik, kalo gak ketauan smsnya piye?", kata Bu Dwika menyalahkan suaminya.
"Sudah mbak Liya, sana kembali ke kamarnya, maaf ya mengganggu waktu belajarnya", perintahnya yang aku sadari untuk menyudahi, agar mahasiswi yang lain tidak semakin memojokkanku dan membicarakanku nantinya.
" Iya pak, maaf ya Bu Dwika, " sambil menunduk aku kembali berjalan ke lantai atas.
Sedikit tenang hati ini sudah melewati pertemuan yang hampir membuat jantungku lepas. Beberapa mata memandangiku sambil membicarakanku dibalik punggung.
"Ada apa mbak Liya..." Vina langsung mendekatiku mengkhawatirkan ku.
"Besok aku ceritain ya.., aku mau tidur pusing kepala", jawabku.
Mereka hanya melihatku dan diam seribu bahasa.
Mataku terpejam, namun pikiranku melayang.
Aku bertekad untuk menyudahi hubungan ini.
Mungkin ini adalah mimpi yang meresahkan ku. Dan aku masih merasa semua ini bisa diatasi dengan baik.
Tapi kenyataannya tidak seperti itu.