chapter 6 Semakin Tak Terkontrol

1663 Words
Semua kini sudah pada tau, kalo aku pacaran dengan anak keperawatan yang bernama Deddy. Deddy adalah tergolong mahasiswa yang akademiknya hampir dibawah rata rata. Beberapa dosen di kampusku juga mengajar di kampus Keperawatan. Termasuk Dosen terfavorite Hadi Wijaya,S.Kep,Ns. Dan semuanya bermula dari sini. "Anas.," dia mengabsen mahasiswa keperawatan. "Hadir pak", jawab Anas teman sekelas Deddy. "Oh iya..,Anas asli Blitar ya?, Blitar mana?", tanya nya. "Iya pak, saya Wlingi", "Wlingi itu Deket gak dengan Srengat?",tanya nya lagi.. Srengat adalah nama desa tempat aku tinggal. "Kenapa pak? kok tanya tanya Desa Srengat?, punya kenalan ya pak?", canda Anas. "Deddy pak pacarnya orang Srengat", Lanjut canda Anas., Karena mereka sebenarnya tau arah pertanyaan dosen mereka itu. Ada apa di Srengat, Mereka paham benar, bahwa Dia pernah punya hubungan denganku. Pacar Deddy saat ini. "Ta.. , tadi di kelas kan mata kuliahnya pak Hadi, Kenapa ya pak Hadi kayaknya kalo ada mahasiswa yang asal Blitar pasti ditanya rumahnya Deket Srengat gak? gitu",. sambil melihat responku Deddy menunggu jawabanku. "Ya gak tau yank, kok tanya aku", aku males meladeni. "Sini Baju yang kotor, turunin semuanya, tak cuciin", Ini salah satu caraku untuk berusaha menjalani hubungan ini dengan baik. Aku berusaha menumbukan perasaanku untuk Deddy yang sangat baik dan perhatian padaku. Aku berusaha menjadi pacar yang baik dan perhatian. Meski dengan terpaksa. Praktek Klinik Kebidanan hampir tiba, semua persiapan telah dilakukan. Pembagian jadwal lokasi Tempat praktik pun sudah diumumkan. Dan aku kebagian praktik di Kota Tulungagung Dosen tanam istilah dari Dosen yang ditempatkan untuk ikut stay di tempat mahasiswi praktik yang ditugaskan membimbing di lahan praktik dan di tempat kos juga. Jadwal setiap Minggu akan di rolling dengan Dosen yang lain. Minggu pertama jadwal Dosen tanam untuk RS Orpeha Tulungagung adalah Bapak Hadi Wijaya. "Ayah mbak Liya dosen tanam pertama", bisik Vina yang kebetulan dia terjadwal praktik satu kelompok denganku. Aku pura pura tidak perduli. hati hati ya ta.. jaga mata jaga hati Sering kabarin aku isi sms Deddy sambil menunggu Bis kampus yang ngantar kami ke tempat praktik berangkat. Dia melambaikan tangannya dan memberi isyarat untuk jangan lupa menelepon. Aku hanya bisa menganggukkan kepala. "Anna, Anik, Aurel, bla bla bla..Liya sudah ada di bis?" absen yang berlebihan. "Sudah pak," jawab beberapa mahasiswa berbarengan. "Semua lengkap ya, Baca do'a dulu sebelum berangkat, sudah pamit ya ke bapak ibu, pacar dan tunangan?", candanya merilekskan suasana. "Sudah pak...", serentak mahasiswanya menjawab sambil tertawa. Tapi tidak denganku. Aku yang memilih duduk di kursi bis paling belakang berjejer dengan Vina dan Indah teman sekamarku juga. "Geseran mbak indah," Tiba tiba dia memilih duduk di kursi belakang tepat disampingku. Astaga... Apa maunya orang ini.., Mahasiswa lainnya pun banyak yang menoleh, dan aku tau mereka berbisik bisik. Aku sungguh kesal. "Mbak Vina, yang disebelah ini kok diem aja ya, apa sedang sariawan?," dia berusaha bikin lelucon. "Iya mungkin pak," Vina menjawab sambil tersenyum ke arahku. Aku hanya diam saja. Aku pejamkan mata, dan mencoba untuk tertidur. Dan lama lama, terasa ada hangat menggenggam Jari jariku. Jantungku berdebar kencang, Keringat dinginku rasanya mengucur deras. Tangan siapa ini yang menggenggam ku, perasaan campur aduk, takut ada yang melihat, tapi hati ini sepertinya sangat bahagia, namun ada rasa benci. Entah perasaan apa ini. Aku mencoba melepas kan genggaman tangan itu, tanpa membuka mataku yang kupaksa untuk terpejam. Tapi tangan itu semakin erat, seakan tak mau aku lepaskan. Tiba tiba Rem mendadak dari sopir bis yang bisa melepaskan genggamannya . Aaahh... syukurlah.., Aku merubah posisi dudukku lebih miring, berharap dia tidak melakukannya lagi. Beberapa waktu kemudian, kami sudah sampai di tempat kos yang sudah disiapkan kampus untuk kami selama praktik. Rumah besar milik keluarga salah satu mahasiswa kampus kami. Ada beberapa kamar, dan 1 kamar dosen. Aku bersama 6 teman termasuk anak yang punya rumah menempati kamar di rumah sebelah bersama dosen tanam. Mengapa begitu pas sekali momennya. Aku akan lebih sering bertemu. Usai merapikan semua perlengkapan praktik. Kami ada bimbingan sebelum besok berangkat ke RS. Aku ditunjuk sebagai ketua kelompok. Aku sudah menduga. Makan malam tiba, Dan Nila menyuruhku untuk memanggil pak Hadi untuk makan malam. Menu makan malam sudah disiapka. di meja makan, kami makan bergantian. Karena aku ketua kelompok, jadi segala urusan yang berhubungan dengan dosen tanam aku yang mengurus. Aaahh... ini tidak benar. Tok Tok tok.. Aku ketuk pintu kamarnya. "Assalammualaikum.. Pak.., Makan malam sudah siap", "Waalaikumsalaam.., mbak Liya tolong saya diambilkan saja ya, bawa ke sini. Saya kok kurang enak badan sepertinya.", pintanya dengan suara yang hampir saja aku kurang jelas mendengarnya. "Iya pak," jawabku sambil sedikit bingung Aku ambilkan menu yang menurutku pantas. Sayur lodeh, ikan laut goreng dan kerupuk, tanpa sambal. Karena aku tau dia tidak suka sambal. Dan segelas teh panas yang sengaja aku buatkan karena dia bilang sedang kurang enak badan. Aku ketuk lagi pintu kamarnya, "Pak, ini makanannya.." "Bawa masuk saja mbak Liya..",pintanya Aku bingung, takut dan entahlah perasaan khawatir juga ada. Aku buka pintu perlahan lahan, aku masuk dan aku melihatnya terbaring sambil memakai jaket terlihat wajahnya rada pucat. Spontan aku letakkan nasi dan teh hangat di meja, lalu aku sentuh dahinya melihat apa kulitnya panas atau tidak. Sedikit terasa lebih hangat dari suhu normal. "Bapak Demam?", tanyaku memastikan. " Iya.., sepertinya saya masuk angin, mual ingin muntah tapi tidak bisa", jelasnya. "Minum teh ya dulu pak, mumpung hangat", pintaku sambil menyodorkan gelas ke arahnya. Dia bangun perlahan, dan meminum tehnya hingga separuh gelas. "Mbak Liya bisa kerokin saya," tanyanya sambil meringis sepertinya ada yang sakit ditubuhnya. Aku bingung, harus bagaimana. "Bisa pak, tapi saya gak enak pak", jawab ku. "Minta tolong ya mbak, soalnya saya kebiasaan dikerokin kalo masuk angin begini", "Hmm...saya ambilka koin dan minyak kayu putih dulu ya pak", akhirnya aku pasrah. Aku juga kasian melihat dia dengan kondisi seperti itu. Aku kembali ke kamarnya, dan dia sudah membuka kaosnya . Aku sedikit malu melihatnya, tapi aku bisa apa. "Saya kerokin ya pak", aku meminta ijin. "Iya mbak Liya..maaf ya merepotkan", Aku mulai kerokin dia, sambil sesekali tangan kiriku menyentuh punggungnya untuk menekan agar punggungnya tidak bergerak gerak. Setelah selesai, aku cepat cepat merapikan dan bergegas beranjak dari tempat tidurnya. Diapun segera memakai kembali kaosnya. Tanganku di tahannya. Jantungku terpompa dengan sangat cepat. Rasa takut, khawatir, kangen, campur jadi satu. Aku di tariknya mendekat hingga akhirnya dia menciumku. Dia mencium bibirku. Terasa Hangat dan lembut, sambil berbisik "Saya kangen", Aku dengan segera melepas genggamannya dan keluar dari kamarnya. Jantung ini tak berhenti berdebar. Perasaan ku kacau, aku buru buru merapikan tempat tidurku dan memaksa untuk terpejam. Kejadian itu masih saja ada di dalam pikiranku. Aku sulit tertidur. Ada sms masuk, Makasih sudah dikerokin.. Maaf yang tadi.. Aku kangen.. Deg deg deg.. jantungku terus berdebar. Aku sungguh merasa bersalah, merasa bahagia, merasa sedih, kacau, perasaan apa ini sebenarnya. Aku segera menghapus sms itu. Ada sms masuk lagi.. Ta.. Sudah bobok? sms Deddy aku acuhkan. Aku memilih untuk menutup layar Hp, dan memilih tidur. Adzan subuh sudah terdengar. Vina membangunkan ku perlahan lahan.. "Mbak..sudah subuh..bangun..sholat yuk".. Ajaknya. Vina memang paling rajin nomer 2 dikamar asrama untuk selalu bangunin untuk sekedar ingetin kami sholat setelah Anni teman kamar yang juga rajin bangunin kami. Aku agak malas bangun tapi aku paksakan, aku susah tidur semalam. Vina belum tau apa yang terjadi semalam. Dan aku memilih untuk diam. Kamar mandi antri mahasiswi persiapan untuk pertemuan orientasi mahasiswa praktik di RS, aku menunggu giliran sambil di kursi depan Ruang TV, sambil membaca majalah lama yang ada di atas meja. Beberapa menit kemudian, aku mendengar pintu kamar sebelah dibuka. "Mbak Liya ngantri mau mandi?, pakai kamar mandi yang khusus dosen saja". "Gak papa pak, saya nunggu antrian saja, gak enak kalo yang lain tau". "Ini Capucinonya pak, sudah saya siapin", Tanpa punya niat apapun, aku melayaninya sebagai dosenku, dan sebagai ketua kelompok aku bertanggung jawab untuk itu. "Makasih ya", sambil tersenyum dengan tatapannya yang selalu membuatku luluh. ================================ Setelah menghadiri pertemuan di aula RS, mahasiswa yang terjadwal shift pagi tetap berada di RS, sedangkan yang lainnya kembali ke tempat kos. Aku terjadwal shift malam. Sambil menunggu aku mempersiapkan beberapa buku utk tugas yang harus dikerjakan selama praktik. "Mbak Liya.. Dipanggi pak Hadi", kata indah menghampiriku di kamar. "Pak Hadi dimana?",tanyaku "Di ruang tamu mbak,"jawabnya. "Oke, makasih ya," Akupun keluar menuju ruang tamu. "Pak, Jennengan panggil saya?", "Iya mbak Liya, sini. Saya mau membicarakan tugas untuk presentasi kasus nanti", Aku mengangguk sambil duduk di kursi sebelah pak Hadi. 15 menit berlalu kami membicarakan kasus yang akan dipilih untuk presentasi. Seperti biasa, penjelasannya tentang konsep materi sangat mudah dimengerti. Itu yang membuatku mengaguminya. Cerdas dalam segala bidang. "Trus ada lagi mbak Liya yang perlu saya bahas", lanjutnya . "Masalah apa pak?", "Tentang kita",sambil menatapku tajam. Deg!! dari tadi jantungku tak berhentinya berdetak kencang. Kini semakin kencang. "Jujur saya belum bisa melupakan apa yang terjadi dengan kita, dan saya tidak bisa jika dipaksa untuk memilih saat ini. Saya sayang sama mbak Liya,dan saya tau ini salah saya, seandainya mbaknya (menyebut istrinya) mau, saya ingin nikahin kamu juga, dan seandainya ayah saya masih hidup, pasti lebih mudah". Aku melongo, tercengang, tidak menyangka dia berbicara seperti itu. "Pak, Jennengan sadar bicara seperti ini?, saya mahasiswanya Jennengan, dan sekalipun bisa Jennengan gak tanya saya mau atau tidak?, mana ada pak, perempuan yang mau diduain?", pelan dan lirih saya menjawab pernyataannya. "Kamu gak ingin hidup mendampingi saya?, Kamu sudah serius sama Deddy?", "Yah, sampai sekarang saya masih punya perasaan yang sama seperti kamren, itu justru keinginan saya yah, bisa hidup menua dengan Jennengan,Tapi itu kemaren. Deddy, saya hanya mencoba move on aja yah, biar saya tidak terlalu larut dengan rasa kecewa saya.". "Kita kan masih bisa berhubungan mbak Liya, meski harus diam diam", "Selingkuh yah itu namanya.., kejadian smalem saja bikin saya susah tidur,merasa bersalah," "nanti saya pelan pelan bicara dengan mbaknya, nanti saya coba dekatkan kamu dengan dia", Aku gak bisa berfikir lagi, dan aku gak bisa berkomentar lagi. "Mbak Liya, saya gak bisa kalau harus menyudahi hubungan ini,kita coba dulu ya", rayunya. Entah apa yang ada dalam pikiranku tidak sejalan dengan hati kecilku. Aku galau setengah mati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD