"Kakek ayo makan malam sudah siap, Susan ayo ikut makan malam bersama kami," ajak Lisna
"Susan ini sudah larut malam lebih baik kamu makan malam di sini dan menginap saja," ucap kakek
"Eh gak usah kek, Susan pulang saja, kasihan mamah sendirian di rumah," ucap Susan
"Yah.., kan kamu sudah disini, aya makan bersama kami," ucap Lisna
"Tidak usah, aku harus pulang," ucap Susan
"Baiklah kalau kamu tetap bersikeras mau pulang tapi setidaknya makan malam dulu bersama kami, masakan Lisna sangat enak," ucap kakek
Lisna tersenyum pada Susan
"Baiklah..," ucap Susan yang akhirnya menurut
"Susan ayo duduk di sebelah aku," ucap Lisna yang langsung menggandeng tangan Susan
Lisna memperlakukan Susan dengan penuh perhatian,
"Di rumah ini aku gada temennya, aku senang banget kamu datang," ucap Lisna
Susan hanya mencoba tersenyum pada Lisna
Suasana makan malam begitu hangat, Lisna yang lebih tua tiga tahun dari Susan dia sangat pandai memasak dan juga sangat ramah. Dia dengan tangan nya sendiri menyajikan semua masakan yang sudah ia siapkan bersama pelayan rumah.
"Susan ayo silahkan di makan," ucap Lisna pada Susan yang duduk di sampingnya
"Ayo Susan cicipi masakan sepupu kamu," ucap pak Candra
"Ia om," jawab Susan yang menikmati makan malam bersama mereka
Setelah selesai makan malam Susan pamit pulang,
"Om, kakek.., Susan harus pulang," ucap Susan
"Ia, pulang lah. Katakan pada ibumu jika dia sudah tidak bisa mempertahankan pernikahannya pintu rumah ini masih terbuka untuknya," ucap kakek
"Baik kakek, Susan akan memberitahu mamah," ucap Susan
"Alangkah baiknya hari Minggu nanti setelah nenekmu pulang dari luar negri, kami akan mengadakan pesta keluarga di rumah ini. Ajaklah ibumu untuk datang kemari dia sudah duapuluh tahu tidak berkunjung kemari," ucap kakek
"Baik kakek, Susan akan memberitahu mamah," ucap Susan
"Ya sudah ini sudah larut malam lebih baik kamu pulang, biar om kamu yang mengantarkan," ucap kakek
"Gak usah kek, Susan bisa pulang sendiri," ucap Susan
"Tidak baik anak gadis pulang sendirian biar om ikuti kamu pakai mobil om," ucap pak Candra yang bersiap untuk pergi mengantar Susan
"Ia Susan, setidaknya biarkan pamanmu mengikutimu dari belakang," ucap kakek
"Ia kakek... Baiklah om Susan setuju," ucap Susan
"Lisna papah pergi dulu mengantar sepupumu," ucap pak Candra
"Ia pah, hati-hati di jalan. Susan juga ya. Sampai ketemu lagi," ucap Lisna yang memeluk Susan
"Ia, terimakasih banyak," jawab Susan
Lisna tersenyum ramah pada Susan;
"Ayo Susan," pak Candra mengajak Susan
"Kakek Susan pulang dulu ya," ucap Susan yang mencium tangan kakeknya
"Ia hati-hati di jalan," ucap kakek
Susan kembali ke rumah dengan di ikuti pak Candra dan dia berhenti di depan gerbang rumahnya kemudian turun dari mobil dan menghampiri pak Candra
"Ayo om mampir dulu," ajak Susan pada pak Candra yang menurunkan kaca mobilnya
"Lain kali saja, ini sudah malam besok om harus bekerja. Kamu masuk lah," ucap pak Candra
"Baiklah om, Susan masuk dulu ya.., dah om;" Susan pergi dan masuk kembali ke mobilnya tak lama gerbang terbuka dan Susan masuk ke rumahnya
pak Candra terus menatap rumah itu
"Apakah kamu bahagia sekarang Hil? kamu tega meninggalkan keluarga hanya demi penipu itu. Semoga dengan kejadian ini kamu sadar akan kesalahanmu," ucap pak Candra kemudian dia pergi kembali melajukan mobilnya dan kembali ke rumah utama
Susan masuk ke rumah. Dan di sana dia bertemu dengan seorang gadis yang tak lain dan tak bukan adalah Sinta saudari tirinya.
"Bi.., bibi..!!" teriak Susan yang memanggil bi Ira
"Ia non," jawab bi Ira yang menghampar susan
"Siapa dia?" tanya Susan yang melihat Sinta yang sedang duduk di ruang makan dan makan sendirian
"Ini nona Sinta saudarinya non Susan," jawab bi Ira
"Sejak kapan dia di sini dan mana mamah?" tanya Susan
"Tadi sore non Sinta di bawa pak Bram ke rumah untuk tinggal di sini non," jawab bi Ira
"Mamah di mana?" tanya Susan ketus
"Tadi bibi lihat ada di ruang kerja bersama pak Bram non," jawab bi Ira
"Dasar sampah!!" ucap Susan yang membuang muka melihat Sinta dan pergi berjalan menuju ruang kerja untuk menemui kedua orang tua nya
Susan masuk dengan begitu marahnya...
" pah... kenapa anak haram itu ada di rumah ini ???? " tanya Susan yang begitu marah
" apa tidak cukup jawaban papah di kantor hari ini... mulai sekarang dia akan tinggal bersama kita di rumah ini " ucap pak Bram
" kenapa???? kenapa papah membiarkan dia tinggal di rumah ini " Susan memaki pak Bram
" karena dia adalah anak papah juga ... " jawab pak Bram
" mah... kenapa mamah diam saja... katakan sesuatu mah... " ucap Susan pada Bu Hilda yang duduk dengan deraian air mata
" Susan... kita terima saja Sinta di rumah ini... mamah sudah cukup sakit hati atas kenyataan ini " ucap Bu Hilda
" sukur lah kalau kau tahu diri... " ucap pak Bram
" papah keterlaluan kenapa papah bicara seperti itu pada mamah??? " teriak Susan
" kalian berdua tidak bisa mengelak jikalau Sinta adalah putriku... dengan persetujuan atau tanpa persetujuan kalian Sinta akan tetap tinggal di rumah ini " teriak pak Bram
" papah jahat " Susan pergi meninggalkan kedua orang tua nya dan berlari ke kamar nya
Susan terus menangis dan dia begitu kesal akan hadirnya Sinta di rumah nya.
"Aku harus mencari cara untuk menyingkirkan anak haram itu," ucap Susan
malam yang begitu menegangkan kini berlalu, pagi hari yang sunyi tiba. Susan dan Bu Hilda sedang menyiapkan sarapan. Sinta dengan santainya duduk di ruang makan, bersama pak Bram
"Tuan putri baru bangun mah," ledek Susan
"Biarkan saja, dia kan baru merasakan tidur di kasur empuk," ucap Bu Hilda yang begitu kesal pada Sinta yang tak tahu malu
"Ia mah, maklum dia kan baru merasakan tidur di rumah mewah ini. Oh ia mah, mamah gak lupakan mengingatkan suami mamah kalau ini rumah mamah," ucap Susan yang duduk dengan santai sambil menikmati sarapannya
"Mungkin dia lupa sayang kalau dia hanyalah menumpang di rumah mamah," ucap Bu Hilda yang duduk di samping Susan dan suami nya pak Bram
"Mamah harus mengingat kan dia supaya tidak seenaknya membawa sampah dari luar," ucap Susan
Brak! pak Bram menggebrak meja makan.
"Pagi-pagi sudah berisik!" ucap pak Bram
"Kenapa pah, apa papah tersinggung?" tanya Susan
"Susan lebih baik kamu tidak ikut campur dalam masalah orang dewasa!" ucap pak Bram yang berteriak pada Susan
"Pah sudah pah, kasihan saudariku jangan papah bentak seperti itu. Tidak apa-apa mereka bicar seperti itu pada Sinta, memang kenyataan nya benar Sinta baru merasakan tidur di kamar yang mewah. Dan semua yang mamah Hilda dan saudari Susan bilang memang benar pah," ucap Sinta dengan lemah lembut
"Sejak kapan kamu jadi saudariku!?" tanya Susan dengan sombong nya
"Susan.. aku tahu kamu lebih muda dariku tiga tahun, aku harap kamu mau menerima ku di sini," ucap Sinta dengan lemah lembut
"Loe tau kan loe kagak di terima di rumah ini, dan gue gak suka ya loe panggil nyokap gue dengan panggilan mamah!" ucap Susan yang melotot pada Sinta
"Susan! cukup! jaga bicaramu, dia adalah kakak perempuan mu, hormati dia!" pak Bram berteriak kembali pada Susan
"Susan gak pernah merasa punya kakak! dan untuk apa Susan menghormatinya, dia hanyalah anak haram dari hubungan terlarang papah dan w************n itu! Susan gak Sudi dia tinggal di rumah ini!" Susan pun berteriak pada pak Bram
"Berani nya kamu berteriak pada papah!" pak Bram bangun dan manarik tangan Susan dan menampar wajah Susan