NGEDATE 2

1003 Words
"Jadi ke butik Almira, Yang? Atau mau coba ke butik-butik yang lainnya juga?" tanya Pandu dengan melirik ke arah Larissa yang duduk di sampingnya. "Apa mau cari yang sejalur sama yang kita lewatin ini dulu aja, Yang? Siapa tahu malah yang dekat-dekat sini malah lebih cocok gitu," ucap Larissa menatap ke arah Pandu dan meminta pendapat dari pria tersebut. "Coba kamu buka maps aja yang daerah sini, Yang. Ntar kalau ada di jalan yang kita lewati mampir aja deh kita disitu," ucap Pandu sembari menunjuk handphone nya yang berada di dashboard tengah mobilnya. "Oh iya juga ya, Yang. Aku kok malah sampai nggak ada pikiran ke situ, hehe" ucap Larissa dengan terkekeh dan mengambil handphone milik Pandu. Larissa langsung saja melakukan pencarian butik yang ada di sepanjang jalan yang akan mereka berdua lewati menggunakan maps. Larissa yang sedang fokus menggunakan handphone milik Pandu tiba-tiba saja terganggu oleh adanya panggilan masuk w******p dari seseorang yang tak lain adalah Gina. Sontak saja Larissa ingin tahu dan terheran kenapa Gina sampai menelpon Pandu di saat hari libur seperti ini. 'Apa karena memang ada keperluan kantor yang mendesak? tapi kenapa harus Gina yang menghubungi Pandu. Kan Pak Hilman adalah kepala divisi dari mereka berdua. Seharusnya Pak Hilman lah yang memberikan mandat pekerjaan tersebut kepada Pandu," batin Larissa dengan pikiran yang berkecamuk di kepalanya hingga ia lupa handphone milik Pandu tersebut terus-terusan berdering. "Siapa yang telpon, Yang? Kamu angkat aja terus bilang aku lagi nyetir ya. Kalau ada keperluan yang penting banget untuk disampaikan ke aku nanti aku bakal telpon balik aja ke dia," ucap Pandu memberikan intruksi kepada Larissa untuk mengangkat panggilan telepon dari handphone miliknya. Larissa yang tersadar dari pikirannya langsung saja melakukan apa yang diperintahkan oleh Pandu sebelum panggilan telepon itu terhenti. "Halo! Selamat siang!" ucap Larissa menjawab panggilan telepon dari Gina tersebut. "E-eh iya, Selamat Siang! Saya Gina teman kantor Bapak Pandu. Apakah saya bisa bicara dengan Pak Pandu?" jawab Gina dari seberang telepon yang terdengar seperti ragu berucap dan canggung. "Santai aja Mbak Gina. Ini saya Larissa. Mas Pandu baru nyetir sekarang. Ada suatu hal penting yang harus disampaikan sekarang kah?" jawab Larissa dengan gamblang dan melirik ke arah Pandu. Ia ingin melihat ekspresi Pandu saat mengetahui bahwa Gina lah yang menelepon pria tersebut. Namun pria yang tak lain adalah pacar sekaligus tunangannya tersebut terlihat santai dan tenang saja. "Oh Larissa ternyata. Maaf ya aku ganggu waktu kalian berdua. Ada urusan kantor yang mau aku tanyakan ke Pandu, Ssa. Tapi kalau dia baru nyetir ntar aja aku telepon dia lagi," ucap Gina dengan lebih santai saat mengetahui bahwa penerima telepon tersebut adalah Larissa. "Nggak papa kok, Mbak. Oh gitu, Nanti aku sampaikan ke Mas Pandu ya, Mbak" ucap Larissa dengan ramah. "Oke, Ssa. Makasih ya! Kalau gitu aku tutup dulu ya teleponnya," ucap Gina dengan ramah dan lembut. "Sama-sama Mbak Gina. Oke, Selamat siang, Mbak" ucap Larissa dan setelah itu mengakhiri panggilan telepon antara dirinya dengan Gina tersebut. "Gina kenapa kok telepon aku, Yang?" tanya Pandu setelah Larissa mengakhiri panggilan telepon diantara keduanya tersebut. "Katanya ada urusan kantor yang mau dia tanyain ke kamu, Yang. Tapi kayaknya nggak yang urgent banget gitu harus sekarang. Jadi Mbak Gina tadi bilang bakalan telepon ke kamu lagi," ucap Larissa menjelaskan pembicaraan melalui panggilan telepon diantara dirinya dengan Gina tersebut. "Oh gitu. Kayaknya perkara proyek yang kemaren deh," ucap Pandu sembari mengetuk-ngetuk setir mobilnya. "Proyek yang di Bandung kemaren ya, Yang?" tanya Larissa dengan basa-basi tapi sekaligus penasaran pula. Ya, karena saat itu Pandu tidak menceritakan bahwa ia pergi ke Bandung bersama Gina. Larissa hanya mendapatkan info tersebut dari mulut Dandi yang katanya melihat keduanya saat berpapasan di parkiran kantor. Larissa hanya ingin mengulik sedikit saja info dan kejujuran dari pacarnya tersebut. "Iya, Yang. Kebetulan kemaren waktu ke Bandung aku sama Gina yang dikirim ke sana duluan sama Pak Hilman dan masih ada laporan yang baru kami susun juga. Mungkin dia ada yang bingung atau lupa. Nanti biar aku telepon lagi aja si Gina, Yang" jawab Pandu memberikan penjelasan dengan gamblang dan detail. "Oalah. Kalian cuma pergi berdua berarti, Yang?" tanya Larissa lagi dan berusaha terlihat natural dalam berucap agar Pandu tidak merasa terusik dengan pertanyaan-pertanyaan yang ia lontarkan tersebut. "Nggak kok, Yang. Ada yang lainnya juga. Cuma waktu itu aku berangkatnya satu mobil sama Gina dan kita berdua juga sempat disuruh Pak Hilman buat ninjau ke lokasi pembangunan hotel Partajasa, Yang" ucap Pandu dengan lugas. "Oalah. Pantesan kamu hari itu sibuk banget ya, Yang. Maaf ya akunya malah kemaren ngambek nggak jelas gitu sama kamu, Yang" ucap Larissa dengan menundukkan kepala dan merasa bersalah. "Nggak papa kok, Yang. Aku juga salah nggak ngasih kabar ke kamu dulu kalau harus mendadak ada urusan ke Bandung. Bahkan akhirnya malah menghilang seharian. Sedangkan kita berdua udah buat janji dan kamu sampai izin pulang cepat buat kita ke butik cari baju pernikahan kita kan, Yang" ucap Pandu dengan lembut dan mengusap kepala Larissa dengan penuh kasih sayang. "Pokoknya kita berdua yang salah, Yang" ucap Larissa dengan menatap ke arah Pandu. "Iya deh iya. Oh iya jadinya gimana? Ada nggak butik gaun pernikahan di sekitar sini, Yang?" ucap Pandu dengan terkekeh. "Oh iya. Malah jadi kelupaan kan akunya gegara bahas soal itu tadi. Tadi ada sekitar dua kilometer lagi, Yang. Ada di kanan jalan kok. Namanya butik L'come, Yang" ucap Larissa sembari membuka kembali aplikasi maps pada handphone Pandu. "Oke. Kamu sambil ngemaps aja ya, Yang. Ntar kasih aba-aba ke akunya jangan mendadak ya. Soalnya ini jalannya ramai banget. Takutnya kita susah buat putar baliknya lagi ntar" ucap Pandu sembari menunjuk jalanan yang berada dihadapannya. "Oke, Yang. Aku bukain maps nya sambil nyalain suara aja kali ya. Biar kalau kelupaan bilang kamu bisa dengerin aba-aba dari Mbak-Mbak maps nya gitu," ucap Larissa sembari meminta persetujuan dari Pandu. "Haha, Iya deh. Kan kamu juga keseringan salah bacain maps ya, hahaha" ucap Pandu dengan tawa renyahnya. "Kamu nih. aku kan nggak setiap kali salah baca. bisa dihitung jati salah bacanya, Yang. Dasar kamu mah lebih percayanya sama mbak-mbak maps," ucap Larissa dengan kesal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD