2. Abian

2208 Words
“Progress renovasi cabang yang di kuningan gimana?” Aku melangkah cepat sambil bertanya pada Raihan, sekretaris yang baru bekerja dua bulan terakhir denganku. Siang ini aku ada rapat bersama seluruh kepala divisi terkait persiapan hotel yang rencananya akan dipakai tinggal oleh tim sepak bola dari Inggris selama dua minggu. Dan aku baru saja pulang dari kantor PSSI untuk membahas akomodasi para atlet itu. “Sudah 80% Pak. Info dari PIC di sana tinggal finishing bagian lobi dan perbaikan taman. Estimasi selesai 100% sekitar satu bulan lagi.” Aku berdecak pelan seraya melangkah masuk ke dalam lift khusus direksi yang sudah terbuka. Begitu lift bergerak ke lantai tempat ruang rapat yang akan digunakan, aku menoleh ke samping dan menatap tajam Raihan seraya bersedekap. “Saya nggak suka kata sekitar yang kamu ucapin barusan. Kesannya nggak pasti dan nggak meyakinkan.” Raihan hanya menunduk seraya menggumamkan maaf. “Kamu harus bisa mendapatkan tanggal pasti dari mereka. Saya mau acara ulang tahun perusahaan diadakan di sana sekalian.” “B-baik, Pak.” Aku menatap kasihan pada Raihan yang sedang mengetik pesan di ponselnya dengan jari bergetar. Terlihat jelas jika dia takut padaku, padahal rasanya selama ini aku tidak pernah membentak atau melakukan sesuatu hal yang kasar padanya. Kenapa dia harus takut? Apa aku terlalu keras padanya? Ah, tapi Mikayla saja bisa bertahan selama dua tahun menjadi asistenku padahal dia perempuan. Aku menghela napas perlahan. Memang tidak mudah bekerja denganku karena aku orang yang sangat detail dan perfeksionis. Aku tidak suka jika laporan yang kuterima hanya mencantumkan data yang tak pasti, seperti apa yang dilaporkan Raihan tadi. Aku butuh tanggal jelas kapan cabang hotel yang sedang di renovasi itu bisa selesai. Satu bulan tidak bisa dijadikan acuan karena nantinya penanggung jawab proyek itu bisa saja berkilah jika yang mereka maksud adalah satu hari atau bahkan satu minggu setelah satu bulan yang aku maksud. Penafsiran kami bisa jadi berbeda. Maka dari itu aku butuh tanggal yang jelas sebagai batasnya. Begitu sampai di ruang rapat yang sudah dipenuhi oleh pimpinan masing-masing divisi, ponsel di dalam saku jasku bergetar. Aku mengeluarkan benda pipih keluaran terbaru itu dan mendapati nama Sandra di layar. Aku mendesah pelan seraya mengembalikan ponsel ke dalam saku jas, mengabaikan panggilan Sandra untuk kesekian kalinya. Aku sedang tidak ada waktu sekarang. Sepertinya setelah ini aku harus meminta Raihan untuk membantuku melakukan sesuatu. **** “Kamu sudah siapkan apa yang saya minta?” Aku melangkah santai menuju ke ruanganku diikuti Raihan. Rapat semua divisi baru saja selesai. “Saya sudah booking Amuz untuk malam ini, Pak.” Aku mengangguk-angguk mendengarkan laporannya. “Hadiahnya juga sudah saya siapkan. Ada di atas meja, Bapak.” Sudut bibirku tertarik sedikit. “Good,” pujiku sambil menepuk-nepuk pundaknya dan membuka pintu ruanganku. Dari sudut mata kulihat Raihan tersenyum tipis. Tampak senang dengan tanggapanku. Begitu sudah berada di dalam ruang kerja, mataku langsung tertuju pada sebuah buket bunga mawar merah dan putih yang dirangkai dengan amat cantik di atas meja. Aku meneliti sekilas bunga pilihan Raihan dan mengangguk puas. Di samping buket bunga itu juga terdapat sebuah kotak berwarna merah berisi hadiah yang aku siapkan untuk Sandra. Malam ini aku sengaja menyisihkan waktu untuk menemuinya setelah hampir dua minggu terakhir disibukkan dengan banyak pekerjaan. Kupikir inilah saat yang tepat untuk memperjelas hubungan kami setelah tiga bulan yang cukup menyenangkan ini. Pukul tujuh malam aku mengendarai Lexus milikku menuju restoran yang sudah di booking Raihan siang tadi. Kami akan langsung bertemu di sana karena aku terlalu lelah untuk menjemput Sandra di apartemennya. Empat puluh lima menit perjalanan aku akhirnya sampai di Amuz. Restoran fine dining yang menawarkan menu makanan khas Perancis itu memang menjadi salah satu tempat yang biasa aku datangi bersama para teman kencanku. Selain karena makanannya yang memang lezat, aku juga sangat menyukai suasananya yang nyaman. Interior ruangan yang sangat elegan dengan d******i warna gelap dan kilau cahaya lembut dari lampu gantung di sepanjang ruangan menciptakan suasana romantis yang selalu disukai teman kencanku. “Bian!” Aku tersenyum tipis saat melangkah mendekati meja yang sudah di reservasi. Di sana sudah menunggu Sandra yang tampak cantik dengan gaun hitam berbahan satin melekat sempurna di tubuhnya. Gadis itu menyerukan namaku sambil melambaikan tangannya dengan semangat. Lalu berdiri menyambutku ketika aku berjalan semakin dekat. “Hai …” Sandra mengulurkan tangannya padaku yang langsung kusambut dengan rangkulan dan kecupan di pipi. “You look gorgeous.” Aku membisikkan pujian di telinganya seraya mengangsurkan buket bunga yang kubawa. Sandra menerima bunga pemberianku dengan senyum lebar. Aku hanya balas tersenyum tipis. Entah setelah aku menyampaikan tujuanku nanti dia masih akan tersenyum seperti ini atau tidak. “Aku pikir kamu sudah nggak mau ketemu aku lagi.” Sandra mengerucutkan bibirnya yang berpoles lipstik merah dengan manja. Kalau tidak mengingat tujuanku malam ini, mungkin sekarang aku sudah memagut bibirnya yang menggoda itu. Menciumnya keras dan dalam. Tapi aku hanya tersenyum mendengar ucapan Sandra lalu menuntunnya untuk kembali duduk. Jika dibandingkan dengan teman kencanku yang lain sebenarnya aku cukup menyukai gadis di hadapanku ini. Dia tidak hanya cantik tapi juga pintar dan cukup menyenangkan. Sandra seorang model yang sudah memiliki jam terbang tinggi di Indonesia. Dia pernah memenangkan ajang Asian Next Top Model lima tahun yang lalu. Tak heran jika saat ini nama Sandra selalu menjadi pilihan utama banyak desainer kenamaan untuk ikut dalam berbagai pagelaran busana. Selain itu yang aku tahu Sandra juga menjadi brand ambassador beberapa produk kecantikan wanita. Wajahnya kerap menghiasi televisi dengan berbagai macam iklan. Actually she’s perfect. Sosok ideal yang pasti diinginkan setiap pria. Memiliki wajah cantik, tubuh seksi yang menggoda, otak pintar, karir cemerlang dan bonusnya hebat di ranjang. Hanya saja beberapa minggu terakhir ini aku mulai merasa jengah dengan tingkahnya yang hampir tiap detik menerorku dengan rentetan pesan dan panggilan telepon yang tak berjeda. Aku muak. Dan malam ini aku ingin mengakhiri semuanya. “Kita makan dulu, ya.” Aku menatap Sandra yang tampak bahagia. “Aku laper banget.” Setelah pelayan yang mencatat pesanan kami berlalu, aku merogoh saku jas dan mengeluarkan kotak berwarna merah yang sudah aku siapkan. Menaruhnya ke tengah meja sambil menatap Sandra yang melebarkan matanya terkejut. “Buat aku?” tanya Sandra antusias. Aku mengangguk. “Buka dong.” Sandra menarik kotak merah itu mendekat lalu membukanya. “Oh My God … Bian ini cantik banget,” bisiknya seraya mengeluarkan hadiah pemberianku dari kotaknya.  Aku hanya menarik sudut bibir sekilas. Baguslah kalau dia suka. Setidaknya aku tidak perlu terlalu merasa bersalah saat nanti mengakhiri apapun hubungan kami sekarang. Anggap saja gelang seharga lebih dari sepuluh ribu dollar itu adalah bentuk permintaan maafku.   **** “Berengsek!” Aku mengusap wajahku yang baru saja disiram oleh Sandra dengan sapu tangan yang ada di saku celana. Aku masih mempertahankan senyum setelah akhirnya berhasil menyampaikan keinginanku untuk kembali bebas, sementara gadis yang menyiramku itu berdiri dari kursinya dengan napas terengah-engah menahan emosi. Untung saja aku sudah menyelesaikan makanku, jika tidak sayang sekali kan membayar mahal hanya untuk hidangan yang tidak bisa lagi disantap karena sudah lebih dulu terguyur air. “Aku pikir malam ini kamu mau melamarku setelah banyak malam yang kita habiskan bersama. Ternyata rumor tentang kamu itu benar adanya. Pria berengsek nggak punya hati yang bisanya mempermainkan wanita. Sialan kamu Abian!” Aku berdecak pelan, mengembalikan sapu tangan ke saku celana. Bisa-bisanya para wanita itu berkata aku mempermainkan mereka. Padahal aku tidak pernah menjanjikan apapun. Mereka sendiri yang datang mendekat padaku dan terus menggoda. Sekarang ketika aku tidak ingin melanjutkan semuanya mereka bilang aku berengsek? Padahal ketika aku membelanjakan mereka hadiah-hadiah mahal yang diinginkan, mereka bilang aku yang terbaik. Dasar wanita. “Ayolah, San. Aku nggak pernah menjanjikan apa-apa sama kamu saat pertama kali kita memulai semua ini. Kamu sendiri tahu bagaimana aku, tapi kamu tetap maju dan meminta kesempatan bersamaku. Sekarang begitu aku ingin mengakhiri ini kamu bilang aku berengsek?” Aku mendengkus pelan. “Tapi kenapa?” tanya Sandra lirih. Gadis itu sudah kembali duduk di tempatnya memandangku dengan mata berkaca-kaca. “Apa yang kurang dariku sampai kamu nggak mau kita melangkah lebih jauh?” “You’re perfect, tapi maaf aku nggak bisa lagi. Semua pesan dan telepon kamu beberapa minggu terakhir jujur aja membuatku terganggu. Aku sedang sangat sibuk sekarang dan kamu terus merengek meminta perhatian. Aku nggak bisa seperti itu, San. Kamu sudah tahu dari awal jika apa yang kita jalani ini hanya untuk bersenang-senang. Daripada kamu semakin sakit hati, lebih baik kesenangan kita selama tiga bulan ini berakhir sampai di sini saja. Kamu pasti bisa mendapatkan pria lain yang sesuai dengan apa yang kamu mau.” Sandra kembali menatapku tajam dengan raut wajah yang jelas menampakkan kemarahan. Mau bagaimana lagi, aku tidak bisa melanjutkan ini. Persepsi kami mengenai hubungan timbal balik yang penuh dengan kesenangan ini nyatanya sudah berbeda. Sandra mengharapkan lebih sedangkan aku tidak. Aku sama sekali belum berpikiran untuk menetap bersama satu wanita. “Suatu hari nanti kamu akan merasakan apa yang aku rasakan, Bian. Di saat kamu menginginkan seseorang yang kamu yakini untuk menjadi satu-satunya, tapi orang itu nyatanya hanya mempermainkan kamu.” Aku hanya melipat bibir sambil menyandarkan tubuhku pada sandaran kursi. Kelip lampu di luar sana yang seharusnya tampak indah dilihat dari jendela besar di samping kami ini, nyatanya tidak bisa menyurutkan amarah Sandra sama sekali. Baiklah. “Di saat itu nanti, akulah orang pertama yang akan memberikan kamu selamat,” lanjutnya. Sandra bangkit berdiri setelah sekali lagi memaki dan mengutukku dengan kata-kata yang membuatku cukup takjub bisa keluar dari bibirnya yang biasanya hanya bisa mendesah saat bersamaku. Sepertinya dia benar-benar sakit hati. Gadis itu lalu melenggang pergi meninggalkan aku yang masih diam di tempat. Ah, terserahlah yang penting saat ini aku sudah lepas darinya.   **** “Pastikan semua bisa selesai sesuai jadwal. Saya mau cabang ini diresmikan kembali berbarengan dengan ulang tahun perusahaan.” “Baik, Pak. Saya akan pastikan semuanya sesuasi rencana.” Aku hanya mengangguk menanggapi sambil memandang interior hotel yang sudah diperbarui. Tidak sia-sia aku menunjuk sebuah kantor desain interior khusus untuk membantu menangani renovasi ini karena hasilnya ternyata memang sangat bagus. “Oke kalo gitu silakan dilanjutkan lagi pekerjaannya, saya mau keliling di sekitar sini sebentar.” Aku meninggalkan Dino dan timnya yang bertanggung jawab mengenai renovasi hotel untuk meneruskan pekerjaan mereka. Raihan aku minta untuk tinggal dan mengamati seluruh bagian yang di renovasi dan mencatat kekurangan yang mungkin masih belum diperbaiki. Aku melangkah ke arah parkiran dan memandang sekitar lingkungan hotel yang berdekatan dengan gedung perkantoran dan sebuah yayasan sekolah swasta bergengsi. Di sebelah kanan hotel juga ada beberapa kafe dan tempat makan yang cukup ramai, minimarket dan juga bakery? Keningku berkerut saat menyadari sesuatu yang nampak berbeda di seberang sana. Seingatku saat terakhir kali aku melakukan pengecekan renovasi hotel ini, belum ada toko kue dengan nama Eat Me Cake & Bakery di sana.    Karena penasaran akhirnya aku memutuskan untuk menyeberang dan melihat-lihat isi toko itu. Siapa tahu ada penganan yang cocok untuk kunikmati di sore hari ini sambil menunggu kemacetan terurai sebelum pulang. “Selamat datang di Eat Me …” Sapaan ramah itu langsung terdengar bersamaan dengan denting lonceng kecil yang ada di atas pintu begitu aku mendorong pintu dan memasuki toko. Perhatianku langsung tertuju pada etalase yang berada persis di sebelah kiri pintu yang menyajikan beragam kue-kue kecil berbagai warna dan bentuk. Mataku kemudian menangkap deretan muffin berwarna cokelat dengan taburan choco chips di atasnya. Aku menarik sudut bibir membentuk senyum senang karena menemukan kue favoritku sepanjang masa dan memutuskan untuk memesan. “Saya mau dua muffin dan secangkir teh chamomile,” ucapku pada seorang lelaki muda yang berdiri di belakang konter. Lelaki muda dengan nama Ari yang tercetak diseragamnya itu langsung melayaniku dan segera membuat pesananku. Aku kembali mengamati isi etalase sesaat sebelum kembali menegakkan tubuh dan menoleh ke sisi lain dari toko ini. Entah mengapa aku merasa ada seseorang yang tengah menatapku dari seberang sana. Dan ternyata benar. “Oh, Mika?” ucapku setelah beradu pandang dengan sosok gadis yang berdiri kaku di ujung konter dekat kasir. Dia langsung menundukkan kepalanya ketika aku memanggil. Mulutnya komat-kamit berucap entah apa. Mungkin terlalu terkejut bertemu lagi denganku di sini. Tak lama kemudian gadis itu mengangkat kepalanya kembali dan menatapku. “Pak Abian,” sapanya kaku sambil tersenyum. Aku menatapnya lama kemudian mengedarkan pandangan pada seisi toko. Apa Mikayla bekerja di sini setelah dia mengundurkan diri dari The Crown? “Kamu kerja di sini sekarang?” tanyaku penasaran. “I-iya Pak,” jawabnya gugup. Aku hanya mengangguk pelan dengan masih menatap wajahnya yang tampak pucat. Lucu sekali. Baiklah karena sudah bertemu dengan mantan sekretaris kurang ajar yang mengundurkan diri tanpa persetujuanku sama sekali, sepertinya aku ingin sedikit bermain-main. “Kalau begitu kamu bisa temani saya menikmati muffin-nya?” pintaku dengan seringai jail. Cukup menyenangkan melihat ekspresi Mikayla yang tampak takut saat menatapku. Matanya melebar seolah akan keluar hanya karena aku minta ditemani sebentar. “T-tapi, Pak.” “Come on cuma lima belas menit aja,” pintaku. “Saya mau sedikit berbincang dengan sekretaris, ah, mantan sekretaris maksud saya,” ralatku. Dan seketika raut takut di wajah Mika berubah jengkel. “Ya udah, ayo! Tapi cuma lima belas menit, ya, Pak. Saya masih harus kerja.” Aku terkekeh pelan. Astaga, siapa yang bos dan siapa yang mantan pegawai kurang ajar di sini sebenarnya? Bisa-bisanya dia malah lebih galak dariku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD