1. Mikayla

2269 Words
Aku mengajukan pengunduran diri dua minggu setelah pernikahan Mbak Indi dan Bagas. Yap, sejak saat di mana Bagas mengutarakan niatnya menikahi Mbak Indi, juga saat tanggal pernikahan resmi ditetapkan, aku sudah tidak bisa berkonsentrasi untuk bekerja. Ada saja kesalahan yang aku lakukan yang membuat bosku kesal. Puncaknya adalah satu bulan yang lalu, aku kembali melakukan kesalahan dan kali ini lebih fatal. Aku yang sudah diberitahu jika klien yang akan ditemui adalah seseorang yang memiliki alergi kacang malah menginstruksikan pada bagian dapur restoran hotel untuk menyiapkan satu menu dengan tambahan kacang di dalamnya. Pak Abi, bosku yang dari awal sudah mewanti-wanti agar aku tidak melakukan kesalahan lagi sontak murka. Pasalnya kerja sama yang sudah sejak lama ia nantikan dengan pengusaha perhotelan dari Singapura itu terancam batal karena ulahku. Mr. Robert Hong terpaksa dilarikan ke rumah sakit karena napasnya terasa sesak setelah menyantap hidangan yang disajikan. Tamat sudah riwayatku. “Saya benar-benar nggak ngerti apa yang terjadi sama kamu satu bulan terakhir ini, Mikayla. Kamu nggak fokus, banyak melamun dan jadi lebih sering melakukan kesalahan,” tegur Pak Abi. Sementara aku hanya bisa menunduk dalam. “Dan yang tadi itu adalah yang terparah,” desisnya geram. “Saya benar-benar minta maaf, Pak.” Aku tidak berani menatap wajah Pak Abi yang tampak seperti malaikat pencabut nyawa sekarang. Mati saja kau Mikayla!  “Kalau sampai kerja sama ini gagal hanya karena kejadian tadi …,” Aku meremas kedua tanganku yang berkeringat, memandang takut-takut pada Pak Abi yang menatapku tajam. “Argh! Sudah, balik ke meja kamu sana!” teriaknya frustrasi. Aku mengerjap pelan mendengar jeritannya. Rasa bersalah seketika muncul. Aku mengacaukan semuanya sekarang. “Saya … saya sungguhan nggak sengaja, Pak. Saya benar-benar minta maaf. Kalau ada yang bisa saya lakukan untuk memperbaiki ini, saya pasti akan lakukan.” Aku menatap Pak Abi yang hanya menghela napas dalam. “Sudahlah, kembali ke meja kamu sekarang. Biar saya yang bicara dengan Mr. Robert.” Aku hanya terdiam mendengarnya kemudian mengangguk lemah. Setelah kembali ke meja kerja, aku berpikir untuk membuat satu keputusan besar agar tidak lagi menyulitkan semua orang. Aku akan mengundurkan diri. Dan … ya itulah yang aku lakukan keesokan harinya. Mengirim surat pengunduran diri.   ****   Aku sangat suka makanan manis. Cokelat, puding, cake juga cookies adalah penganan yang tidak pernah bisa aku tolak. Karena sangat suka pada makanan-makanan manis itu, aku sering mengikuti kursus singkat untuk belajar membuat kue di salah satu tempat. Pertama kali aku ikut kursus adalah saat duduk di kelas 2 SMA. Kemudian aku mencoba lagi dua minggu setelah wisuda, mengisi waktu di sela-sela menunggu panggilan kerja. Selanjutnya jika aku memiliki waktu luang, aku akan selalu menyempatkan diri untuk mengikuti kursus di baking center langgananku. Hampir semua yang mencoba kue dan roti buatanku mengatakan aku berbakat. Semua yang aku buat enak dan tampilannya juga sangat cantik, tidak kalah dengan toko-toko kue mahal yang ada di Jakarta. Jujur saja aku sempat berpikir untuk mempunyai toko roti sendiri yang menjual semua roti dan kue buatan tanganku. Toko roti yang tidak terlalu besar, tapi masih memiliki sedikit tempat untuk pelanggan yang ingin mencicipi kue buatanku langsung di tempatnya. Namun untuk mewujudkan keinginan itu, tidak cukup hanya dengan aku bisa membuat kue-kue enak yang disukai. Aku juga butuh modal yang tidak sedikit. Dan itulah yang menjadi masalah utamanya.     Seminggu setelah resmi mengundurkan diri, Mas Gio yang sepertinya mulai bosan melihat aktivitasku di rumah hanya berkutat di kamar untuk maraton drama korea akhirnya mengusulkan untuk aku membuka bisnis sendiri. Toko kue milikku sendiri. “Buat toko kue gitu modalnya nggak sedikit, Mas. Tabunganku mana cukup buat modal.” Aku merengut saat Mas Gio mengatakan usulnya. Aku sih mau-mau saja, tapi tabunganku yang hanya bekerja sebagai sekretaris di hotel bintang 5 selama dua tahun mana bisa dibandingkan dengan pengacara ternama seperti Mas Gio yang bayarannya satu kali konsultasi saja mungkin bisa tiga atau empat kali gajiku. “Mas modalin deh,” bujuknya. “Daripada kamu di rumah luntang-lantung nggak jelas kayak gini mending buka bakery, coffeeshop atau apa kek. Kamu kan jago.” Aku hanya mencebik mendengarnya. Mas Gio kemudian memilih duduk di sampingku dan mulai memperlihatkan sesuatu di ponselnya. Gambar desain beberapa toko kue yang terlihat cukup menarik. “Lagian di ajak kerja di kantor Papa nggak mau, tapi tiap hari ngeluh pusing nyari kerja. Ribet banget emang cewek.” Aku mengabaikan ocehan Mas Gio dan mulai fokus melihat-lihat sebuah desain coffeeshop yang banyak menggunakan unsur kayu di dalamnya. Terkesan vintage, tapi juga terasa hangat. “Ini desain kafe punya siapa, Mas?” tanyaku penasaran. Mas Gio mengambil alih ponselnya seraya melihat apa yang aku tunjukkan. “Punya teman, dia baru buka kafe di Bali.” Aku hanya manggut-manggut sok mengerti. “Bagus kan? Dia dulu mulainya dari kafe kecil loh, Dek. Sekarang udah punya beberapa cabang di luar Jakarta.” Mas Gio kembali menjelaskan. “Asalkan ulet dan mau kerja keras, kamu juga bisa bikin toko kue yang punya banyak cabang kayak kafe temen Mas itu.”   Aku berdecak pelan seraya bersandar pada Mas Gio. Dia mengusap-usap kepalaku seraya menatap lurus pada layar tv yang menampilkan drama korea yang kutonton sejak tadi. “Tapi bikin bakery gitu modalnya gede, Mas. Lagian aku juga nggak yakin aku bisa.” “Apa yang modalnya gede?”   Aku mendongak dan mendapati wajah Papa yang tersenyum di ambang pintu kamarku. Papa berjalan masuk kemudian duduk di sisi kananku di pinggir tempat tidur. Mas Gio kemudian menjelaskan usulannya tadi kepada Papa yang disambut Papa dengan mengangguk-anggukkan kepala sependapat. “Nanti Papa yang modalin.” Aku mengernyit menatap Papa tak percaya. Aku sudah akan membantah saat Papa menahan keinginanku itu dengan mengangkat tangannya. “Sebagai orang tua kalian, Papa wajib membantu untuk mewujudkan impian anak-anak Papa. Mas Gio dan Mbak Indi yang dari awal sudah terlihat tertarik dengan bidang yang sama dengan yang Papa geluti, Papa bantu dengan memberikan jalan untuk mereka berkarier di Zahir Law Firm Associates. Papa hanya menunjukkan jalan dan membantu mengajari mereka untuk melangkah di awal, tapi seterusnya mereka bertanggung jawab sendiri untuk apa yang mereka kerjakan. “Dan begitu juga untuk Mika, anak bungsu Papa yang dari dulu memang beda sendiri.” Papa terkekeh seraya menggenggam tanganku dan mengelusnya perlahan. “Kalau memang Mika nggak berminat join di kantor Papa, ya nggak apa-apa. Papa bisa bantu kamu dengan cara lain. Kamu butuh modal untuk buka bisnis? Papa yang akan modalin.” Aku hanya terdiam mendengarkan ucapan Papa. Masih merasa tidak percaya. “Awalnya mungkin kamu akan merasa canggung dan nggak pede karena ngerasa belum familiar, tapi percaya deh, lama-lama nanti kamu akan ketemu ritmenya sendiri. How to run this business. Instingmu akan terlatih seiring waktu.”  “Lagian Mas juga nggak akan ngelepasin kamu sendirian, Dek. Kalau memang bingung dan nggak ngerti kita kan bisa sharing,” imbuh Mas Gio. “Gimana, mau terima penawaran Papa?”   **** “Ma, coba cek ke depan apa aja yang udah habis.” Irma, salah satu baker yang aku rekrut dua bulan lalu mengangguk singkat sambil melangkah menuju area depan tempat semua roti, kue dan penganan lainnya dipajang. Hari ini adalah hari kelima toko roti yang aku beri nama Eat Me Cake & Bakery resmi beroperasi. Aku tidak pernah menyangka jika akhirnya aku benar-benar bisa mewujudkan keinginan terpendamku ini. Thanks to Mas Gio dan Papa yang membantuku untuk mewujudkan semuanya. Aku berkeliling di dalam ruangan besar yang menjadi tempatku berkreasi membuat semua roti dan kue yang ada di Eat Me dengan senyum lebar. Dapur impianku. Tiga bulan yang lalu semua yang aku lihat saat ini mungkin hanya sekadar angan-angan belaka. Tapi sekarang semuanya nyata. Mulai dari oven besar yang ada di sudut, dua mixer yang kugunakan untuk menguleni adonan, tumpukan loyang juga spatula dan wadah lainnya yang ada di lemari sebelah kanan, sampai tumpukan tepung, gula, cokelat dan bahan-bahan lainnya yang ada di gudang kecil di dekat pintu belakang, semuanya nyata. “Yang kosong muffin cokelat sama cake pisang, Mbak.” Suara Irma yang ternyata sudah kembali ke dapur memutus anganku. Aku lantas melihat jam dinding di atas pintu yang menunjukkan pukul satu siang. Masih ada beberapa jam sampai aku harus menutup toko ini. “Ya udah kita buat muffin sama cake-nya. Kayaknya masih sempat dijual,” putusku. Irma hanya mengangguk sambil sibuk menyiapkan semua yang dibutuhkan untuk membuat adonan muffin dan cake pisang. Selama satu jam berikutnya aku dibantu oleh Irma mulai sibuk menimbang tepung, gula serta bahan-bahan lainnya untuk adonan muffin dan cake. Kami mengerjakan semuanya dengan riang gembira. Sesekali bercanda sambil terus menakar dan mencampur bahan-bahan yang diperlukan. Aku memasukkan loyang kedua yang berisi dua belas muffin cokelat ke dalam oven menyusul loyang pertama yang sudah lebih dulu masuk. Sementara itu Irma mulai menuangkan adonan cake pisang ke dalam dua loyang berukuran 9x30 cm. Total kami membuat sebanyak 24 buah muffin dan dua loyang cake pisang tambahan siang ini. Padahal pagi tadi aku sudah membuat dengan jumlah yang sama banyaknya. Itu artinya para pembeli menyukai muffin buatanku, kan? “Beres, Mbak,” ucap Irma begitu selesai memasukkan kedua loyang cake ke dalam oven. Aku tersenyum seraya menganggukkan kepala. Setelah meminta Irma untuk meneruskan sisa pekerjaan aku kembali ke ruanganku di lantai dua untuk mengecek penjualan dan pengeluaran kami empat hari terakhir. Yah, aku harus melakukannya sendiri karena memang belum punya staf khusus untuk bagian administrasi. Lagipula sekadar mengecek pengeluaran dan pemasukan empat hari terakhir aku masih sanggup melakukannya.   ****   Aku menghabiskan waktu lebih dari satu jam di ruangan untuk mengecek semua nota pembelian bahan baku serta membuat catatan mengenai bahan-bahan apa saja yang harus segera aku beli kembali. Untuk saat ini semua bahan yang di gunakan untuk membuat berbagai adonan kue, roti dan penganan lain di Eat Me memang masih aku beli sendiri. Aku berbelanja kebutuhan Eat Me dua hari sekali ke beberapa toko bahan kue yang aku tahu. Tapi mungkin tidak lama lagi aku akan mulai berlangganan saja di salah satu toko bahan kue yang memang cukup lengkap sehingga bisa menghemat waktuku. Setelah menyimpan semua nota belanja ke dalam map, aku bermaksud untuk turun melihat keadaan toko sore ini. Biasanya di jam-jam pulang kerja seperti sekarang, banyak orang yang akan mampir untuk membeli jajanan yang kami sediakan untuk dibawa pulang atau sekadar beristirahat menunggu kemacetan terurai sambil menikmati kudapan dan secangkir kopi. Mas Gio yang mengusulkan agar aku juga melengkapi toko ini dengan pilihan minuman yang bisa dinikmati bersama semua kue dan roti yang disediakan. Dan ya, aku menurutinya dengan merekrut dua orang barista yang juga membantu melayani pembeli. “Rame, Ri?” Aku bertanya pada Ari, barista yang sedang bertugas. “Lumayan, Mbak,” jawab Ari yang tengah meracik minuman. “Tadi sih meja pada penuh semua, terus banyak juga yang mampir beli buat di bawa pulang.” Aku mengangguk-angguk puas. Senang rasanya mendengar perkembangan positif tokoku dari hari ke hari. Setelah menepuk pelan pundak Ari, aku meninggalkannya dan meneruskan langkah memeriksa sisa stok kue dan yang lainnya. Aku tersenyum begitu menyadari yang tersisa tidak terlalu banyak. “Selamat datang di Eat Me …” Aku dan Dewi yang bertugas sebagai kasir hari ini memberikan salam begitu denting lonceng kecil di atas pintu berbunyi. Bunyi yang sangat merdu di telingaku karena itu artinya pelanggan kembali datang. Aku memasang senyum manis di wajah untuk menyambut pelanggan yang ternyata sudah berdiri di depan etalase kaca mengamati deretan muffin cokelat yang aku buat bersama Irma siang tadi. “Saya mau dua muffin dan secangkir teh chamomile.” Dia memesan langsung pada Ari yang sudah siap di posisinya. Keningku sontak berkerut begitu mendengar apa yang dipesan oleh pelanggan itu. Dua buah muffin dan secangkir teh chamomile terasa akrab di pendengaranku. Aku lantas mengalihkan pandangan bertepatan dengan sosok yang mengamati deretan muffin buatanku menegapkan tubuhnya. Pandangan kami bertemu dan …. “Oh, Mika?” Crap! Aku menundukkan kepala seraya memejamkan mata erat dan mengumpat dalam hati. Kenapa harus orang ini yang berdiri di hadapanku? Setelah mengatur napas beberapa kali aku kembali menegakkan kepala dan memasang senyum ramah. “Pak Abian.” Aku tersenyum seraya mengangguk sopan. Ia menatapku lama lalu memindai keseluruhan isi toko kue yang juga menyediakan empat buah meja di sisi kiri pintu lantas kembali ke arahku. Aku berdiri gugup menunggu apa yang akan dilakukannya saat ini mengingat tindakanku tiga bulan lalu yang bisa dikatakan tidak sopan karena mengundurkan diri tanpa menemuinya secara langsung. Ya, Pak Abi sedang di Singapura menemui Mr. Robert kala itu. Aku hanya menyapanya melalui pesan w******p, memberitahukannya jika aku berniat mengundurkan diri dan sudah menyerahkan surat pengunduran diri pada bagian HRD. Setelah selesai mengirimkan pesan itu tahu apa yang kulakukan? Aku memblokir nomornya tepat setelah aku yakin dia menerima dan membaca pesanku. Kurang ajar sekali kan? Tapi saat itu aku benar-benar sedang kacau. Jadi aku sama sekali tidak sempat memikirkan mengenai sopan santun dan lain-lainnya. Kalau sampai kedua orang tuaku tahu apa yang sudah kulakukan, aku pasti tidak akan bisa melewati sesi ceramah tentang etika yang akan disampaikan mama selama seharian penuh! “Kamu kerja di sini sekarang?” Pertanyaan itu mengembalikan fokusku. Ah, kenapa dari sekian banyak toko kue dia harus mampir ke toko ini? “I-iya, Pak.” Aku menjawab gugup. Dia kembali memperhatikanku kali ini lebih lama. Entah apa yang dilihatnya, tapi aku benar-benar tidak sanggup membalas tatapannya. “Kalau begitu kamu bisa temani saya menikmati muffin-nya?” Dia menunjuk pada dua buah muffin dan secangkir teh yang sudah Ari letakkan di atas meja di belakangnya. Aku hanya meringis takut saat melihat sudut bibirnya yang berkedut membentuk seringai. Astaga apa setelah ini dia akan mulai membantaiku? Mengingat aku yang sudah merugikan hotelnya karena insiden tak terduga Mr. Robert? Apa sekarang dia datang untuk menagih tanggung jawab? Meminta ganti rugi dariku?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD