Aku menatap pelaminan mewah dengan warna dominan putih di depan sana dengan senyum getir. Senyum bahagia dan aura romantis dari sepasang mempelai yang sibuk menyalami tamu sejak tadi sama sekali tidak bisa membuatku ikut menarik sudut bibir membentuk lengkungan senyum. Aku menepuk pelan d**a yang terasa sesak. Bagaimana tidak, sejak pengumuman rencana pernikahan kedua mempelai di depan sana enam bulan lalu, jantungku terus terasa nyeri. Perih dan sesaknya bahkan membuatku tidak bisa terlelap di malam hari.
“Kamu ngapain di sini, Mik?” Aku menoleh ke samping dan mendapati Mas Gio melangkah pelan ke arahku dengan senyum lebar. Kakakku itu tampak menawan dan gagah dalam balutan jas hitam mewah yang menjadi seragam untuk keluarga pengantin. Rambut ikalnya juga tampak lebih rapi setelah Mbak Indi memaksanya untuk dipangkas.
“Tamunya rame banget, Mas, pusing,” keluhku seraya menyandarkan kepala pada bahunya. Sejak sepuluh menit lalu aku memang memilih menyendiri di sisi kanan ruangan dekat lorong yang mengarah ke toilet.
“Ayo balik ke meja, sebentar lagi mau foto keluarga.”
Aku mengangguk kemudian mengikuti langkah Mas Gio untuk kembali masuk ke dalam ballroom tempat diadakannya resepsi pernikahan Mbak Indi. Kembali memasang senyum lebar di wajah yang bisa meyakinkan siapa pun yang kutemui jika aku ikut bahagia walaupun hatiku berdarah-darah.
****
Enam bulan yang lalu saat Mbak Indi mengatakan jika Bagaskara melamarnya, aku hampir berteriak tak percaya. Tidak mungkin. Karena sejauh yang aku tahu meskipun dekat, Mbak Indi dan Bagas tidak memiliki hubungan apapun selain teman dan tetangga depan rumah. Namun ketika satu minggu kemudian acara lamaran benar-benar digelar aku hanya bisa terdiam.
Sepuluh tahun aku memendam perasaan cinta pada Bagas, yang aku pikir juga memiliki perasaan yang sama denganku. Entah karena aku yang memang tidak peka atau mereka yang mampu menyimpan rapi cerita romansa di antara keduanya, tapi malam itu persis ketika Mbak Indi menerima lamaran Bagas dengan wajah bahagia, episode cinta pertamaku kandas bahkan sebelum aku sempat menyatakannya.
Setelah selesai sesi foto keluarga, acara kemudian berlanjut dengan pasangan pengantin yang melakukan dansa di tengah-tengah ruangan diikuti oleh beberapa pasangan yang lain. Melihat bagaimana Bagas menatap Mbak Indi dan memeluk pinggulnya mesra membuatku terbakar cemburu. Rasanya sakit sekali.
Aku tidak kuat lagi berada di ruangan ini dan menyaksikan banyak adegan romantis lainnya di antara sepasang anak manusia yang sedang dimabuk cinta itu.
“Mas, aku boleh duluan ke kamar nggak sih? Kepalaku pusing.” Aku berbisik pada Mas Gio yang sejak tadi sibuk dengan kamera ponselnya, mengambil gambar dan merekam setiap kejadian romantis di tengah ruangan yang dijadikan lantai dansa.
“Pusing kenapa? Kamu belum makan, ya?” Mas Gio mendekat dan meneliti wajahku saksama.
“Udah … cuma tamunya rame banget. Aku pusing, capek juga,” keluhku.
Mas Gio hanya menghela napas pelan sebelum mengangguk mengizinkan aku untuk pergi dari acara yang membuat hatiku semakin sakit ini. “Ya udah, nanti Mas bilang sama Mama kamu duluan ke kamar. Lagian foto keluarga juga tadi kan udah.” Mas Gio mengusap pelan rambutku seraya tersenyum. “Mau Mas anter?”
Aku menggeleng, meyakinkannya jika aku akan baik-baik saja kembali ke kamar sendirian.
****
Sesampainya di kamar hotel yang memang dipesan untuk tempat beristirahat keluarga Zahir --satu paket dengan penyewaan ballroom-- aku segera mengganti gaun berwarna dusty blue yang kukenakan dengan piyama katun bergambar power puff girls. Setelah membersihkan semua riasan dan melepas sanggul kecil yang mengikat rambutku sejak sore tadi, aku segera naik ke atas tempat tidur dan menatap langit-langit kamar dengan pandangan menerawang.
Andai saja aku punya sedikit keberanian untuk mengungkapkan perasaaanku yang sebenarnya pada Bagas mungkin saat ini yang bersanding dengannya adalah aku, bukan Mbak Indi. Namun semuanya sudah terjadi. Bagas sudah resmi menjadi milik Mbak Indi dan aku hanyalah adik iparnya.
Pemikiran itu membuat hatiku kembali kacau. Aku mengusap cepat air mata yang terus menetes seraya menarik napas panjang. Tapi lagi-lagi mataku seperti keran bocor yang tidak bisa berhenti. Aku kembali terisak. Menelungkupkan wajah pada bantal dan membiarkan air mataku jatuh berderai. Malam ini saja, aku janji malam ini adalah terakhir kalinya aku menangisi Bagas dan kisah cintaku yang harus layu sebelum sempat bersemi.
Pagi harinya aku bangun dengan mata terasa lengket dan bengkak. Aku menangis semalaman entah sampai pukul berapa. Sepertinya aku tertidur karena kelelahan menangis.
Setelah mandi dan berganti pakaian aku segera turun untuk ikut sarapan. Keluargaku yang lain sudah berada di restoran hotel. Kami pulang ke rumah hari ini sementara Mbak Indi dan Bagas akan terus ke Sumba untuk bulan madu. Aku duduk di samping Mama yang sudah menyiapkan sarapan untukku sebelum akhirnya menatap iri pada pasangan pengantin baru yang tampak mesra di meja sebelah.
“Hari ini kamu nggak kemana-mana kan, Dek?” tanya Mama seraya menatapku. Aku hanya menggeleng pelan. “Kata Mas Gio semalem kamu pusing?”
“Iya, nggak enak badan aja sih. Kayaknya kecapekan. Kan aku masih lembur sehari sebelum resepsinya Mbak Indi kemarin.” Aku mengatakannya sambil lalu berharap Mama tidak melihat kebohonganku. Aku memang sengaja lembur, berlama-lama di kantor untuk membuat pikiranku sibuk dan melupakan patah hati.