4. Abian

1582 Words
Tiga hari ini aku dipusingkan dengan kabar yang diberikan oleh perwakilan PSSI. Tim sepak bola Inggris yang akan datang ke Jakarta setelah lawatannya ke Thailand dan Malaysia, mempertimbangkan untuk tidak jadi menghadiri friendly match melawan timnas Indonesia karena alasan keamanan setelah seminggu yang lalu terjadi demo besar. Walaupun baru berupa wacana, tapi kabar ini tetap saja membuatku ketar-ketir juga. Aku sudah mempersiapkan banyak hal untuk menyambut kedatangan mereka termasuk memperbarui beberapa fasilitas vip di The Crown yang memang diperuntukkan untuk tamu-tamu spesial. Kedatangan tim Inggris juga akan menjadi media promosi yang sangat penting bagi The Crown untuk bersaing dengan banyak hotel bintang lima lainnya di Indonesia.     Oleh karena itu tiga hari ini aku menjadi sangat uring-uringan dan terus menerus menghubungi perwakilan PSSI untuk menanyakan kepastian kedatangan tim Inggris. “Pak Hafni ada hubungi kamu?” tanyaku pada Raihan yang sejak tadi mondar-mandir sambil menghubungi seseorang yang kutebak adalah perwakilan PSSI. Raihan yang mendengar pertanyaanku menghentikan langkahnya dan mengangkat satu tangan memintaku untuk menunggu sebentar karena dia masih harus melanjutkan pembicaraan dengan seseorang di seberang sana. Setelah akhirnya percakapan itu selesa, Raihan langsung menghampiriku dan tersenyum lebar. Semoga saja ini adalah kabar baik. “Info terbaru dari Pak Hafni, tim Inggris tetap jadi ke Jakarta, Pak. Tapi waktunya hanya satu minggu dari rencana sebelumnya dua minggu.” Aku mengangguk-angguk seraya melipat kedua tangan di atas d**a. Bersandar pada kursi kebesaranku dengan hati yang lumayan lega. Tidak masalah hanya satu minggu, yang penting mereka tetap jadi datang sesuai jadwal daripada tidak sama sekali. “Pak Hafni tadi juga meminta perwakilan The Crown untuk datang besok menghadiri rapat persiapan jamuan kedatangan tim Inggris. Hanya untuk memastikan jika apa yang ada di The Crown sudah sesuai dengan permintaan mereka.” “Oke, saya yang akan datang langsung besok. Kita sudah mempersiapkan semuanya dengan baik sejauh ini, semoga aja nggak ada kendala sampai kedatangan mereka nanti.” ****   “Terima kasih sudah memilih hotel kami, Pak.” Aku menjabat tangan Pak Hafni yang menjabat sebagai ketua panitia pertandingan persahabatan antara timnas Indonesia dan Inggris. Beliau membalas jabatan tanganku seraya tersenyum. “Tolong dibantu mempersiapkan semuanya sebaik mungkin, ya, Pak Abian. Biar bagaimanapun kita membawa nama baik Indonesia di sini. Mereka hampir membatalkan kedatangan karena berita kerusuhan kemarin. Jadi tolong pastikan tim Inggris bisa nyaman menginap di The Crown.” “Pastinya, Pak. Kami sudah mempersiapkan semuanya.” Setelah selesai rapat dengan semua orang yang terlibat dalam penyambutan tim Inggris, aku dan Raihan kembali ke The Crown untuk mempersiapkan semuanya. Aku tidak ingin ada kesalahan sedikit pun. Oleh karena itu aku sendiri yang akan memastikan semuanya berjalan baik. “Aku nggak bisa mampir besok malam, ya, Mi. Di sini lagi ribet banget. Iya persiapan buat tim Inggris yang menginap di hotel kita.” Aku mengepit ponsel di antara telinga dan bahu karena kedua tanganku sibuk membolak-balik berkas yang menumpuk di atas meja. Sementara itu Mami di seberang sana mulai terdengar jengkel dan mengomel walau pada akhirnya mengerti juga pada kesibukanku belakangan ini. Setelah sambungan diputus, aku kembali menekuri berkas perjanjian kerja sama dengan vendor yang akan menyuplai bahan makanan premium untuk kebutuhan restoran hotel. Sebenarnya aku tidak perlu turun tangan langsung mengurusi hal-hal seperti ini, tapi karena ini adalah vendor baru aku merasa tetap harus mengetahui isi perjanjiannya. Bukan hanya mendengar ulasan dari manajer hotel saja. Tak terasa sinar matahari yang menelisik masuk melalui celah vertical blind yang ada di belakang meja kerjaku kini sudah berganti dengan nyala lampu yang menandakan jika hari sudah beranjak malam. Aku melirik Hublot yang melingkar di tangan kiriku dan mendapati jarum pendeknya berada di angka delapan. Aku mengangkat kedua tangan ke atas dan melakukan peregangan kecil. Tubuhku sebenarnya sangat lelah, tapi aku tidak bisa berhenti jika pekerjaanku belum selesai semua. Untung saja aku sudah menyuruh Raihan untuk lebih dulu pulang satu jam yang lalu. Anak itu sudah cukup sering aku repotkan, terlebih lagi seminggu belakangan ini. Jadi aku berkewajiban memberinya waktu istirahat yang cukup agar dia tidak tumbang. Setelah merapikan kembali beberapa berkas dan mematikan laptop aku bangkit dari kursi dan melangkah menuju pintu. Pinggangku rasanya pegal sekali akibat duduk berjam-jam. Tadi setelah pulang dari kantor PSSI aku menyempatkan diri untuk mengadakan rapat singkat dengan seluruh divisi. Memastikan jangan sampai ada kesalahan sekecil apapun selama tim Inggris menginap di hotel kami. Setelah itu aku terus berada di ruangan menyelesaikan pekerjaan lain. Tumpukan berkas perjanjian kerja sama dengan vendor juga pembaruan kontrak dan gaji karyawan seluruh cabang The Crown sudah menungguku. Aku tiba di parkiran dan segera menyalakan mobil untuk kembali pulang ke apartemen. Tak lama setelah Lexus-ku keluar dari The Crown dan bergabung dengan kendaraan lain di jalanan, ponsel yang aku letakkan pada holder di sampingku berbunyi. Aku meliriknya sekilas kemudian membiarkannya begitu saja. Nomor yang ada di layar tidak ada di dalam kontak ponselku. Dan aku terlalu malas berbasa-basi dengan seseorang yang aku tidak kenal di saat tubuhku begitu lelah. Sebenarnya sudah sejak beberapa hari yang lalu ponselku selalu mendapatkan panggilan dari nomor tak dikenal. Namun karena aku terlalu sibuk mengawasi hotel, nomor itu langsung aku blokir saja tanpa pernah menjawab panggilannya. Paling itu hanya telepon dari salah satu mantan teman kencanku yang masih berusaha untuk mendekatiku lagi. Aku mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Malam ini jalanan tidak begitu ramai karena memang sudah bukan jam pulang kantor lagi. Aku menyetir sambil sesekali bersenandung mengikuti musik yang diputar di radio. Entahlah, aku memang lebih suka mendengarkan musik yang diputar random di radio dibandingkan spotify atau yang lainnya. Mendengarkan suara para penyiar yang menyapa para pendengarnya dengan bersemangat membuatku merasa tidak sendiri dan kesepian. Aku bahkan mendengarkan siaran berita di radio. Walaupun suaranya terdengar kaku, tapi lagi-lagi itu lebih baik dibandingkan merasa sendirian di dalam mobil mewah ini. Kesenanganku mendengarkan suara penyiar yang membacakan chart lagu terpopuler minggu ini kembali diganggu oleh dering ponsel. Deretan angka tanpa nama yang terpampang di layar membuatku benar-benar kesal. Siapa sebenarnya orang yang sejak tadi menggangguku ini? “Halo?”   “Hai, Abian! Akhirnya teleponku dijawab juga.” Aku mengernyit mendengar suara wanita di seberang sana yang seolah-olah kenal denganku. Padahal dari suaranya saja aku tidak ingat jika kami pernah berkenalan. “Siapa ini?” “Masa kamu nggak inget aku, sih? Aku Laura. Kita ketemu di Bali lima bulan yang lalu dan menghabiskan akhir pekan bersama. Kamu kasih aku kartu nama waktu itu.” Bali? Lima bulan yang lalu? “Kita ketemu di bar yang ada di Seminyak. Aku pakai dress warna merah waktu itu dan kamu bilang aku seksi. Dan setelah itu kita menghabiskan malam bersama selama dua hari. Kamu kasih aku kartu nama dan minta aku untuk menghubungi kamu kalau sedang ke Jakarta. Tapi sayangnya karena aku teledor kartu nama kamu hilang. Jadi aku baru bisa hubungi sekarang.” Bar di Seminyak dan dress merah? Sekelebat ingatan tentang wanita cantik berwajah oriental melintas di ingatanku. Jadi namanya Laura. Aku bahkan tidak ingat sama sekali padahal kami menghabiskan dua malam yang menyenangkan bersama. Kalau saja saat ini aku sedang tidak disibukkan dengan banyak pekerjaan, mungkin menghabiskan malam bersama Laura bisa menjadi pengalihan rutinitas yang menarik. Namun untuk saat ini, betapa pun menggodanya tawaran itu, aku terpaksa menolak ajakannya untuk bertemu karena tubuhku benar-benar lelah. Setelah sekali lagi memastikan jika aku benar-benar tidak bisa menemaninya selama di Jakarta, Laura akhirnya mengakhiri panggilan dengan desahan kecewa yang terdengar jelas. Aku melewatkan kesempatan bersenang-senang malam ini.   **** Aku menghabiskan satu minggu penuh dengan terus berada di hotel untuk terus memantau kinerja semua staf yang melayani rombongan tim Inggris. Jangan sampai ada kesalahan sekecil apapun. Aku bahkan memilih menginap di salah satu suite, yang memang biasa kutempati jika sedang lembur dan terlalu lelah untuk pulang, untuk memudahkan pengawasan. Untungnya sampai hari terakhir tim Inggris menginap di The Crown, tidak ada masalah yang terjadi. Perwakilan dari rombongan itu bahkan mengucapkan terima kasih karena mendapatkan pelayanan terbaik dari kami dan berjanji akan kembali menginap d The Crown jika suatu hari kembali singgah ke Indonesia. Tanggapan positif yang mereka berikan sungguh membuatku merasa lega. Rasanya beban berat selama seminggu terakhir yang terus mengelayutiku akhirnya hilang. Setelah mengantar rombongan tim Inggris sampai menaiki bus yang membawa mereka ke bandara aku kembali ke ruang kerjaku diikuti Raihan. Besok akan ada rapat evaluasi bersama PSSI, tapi aku tidak diharuskan untuk datang. Tadi pagi aku juga sudah bertemu dengan Pak Hafni dan beliau berterima kasih serta memuji kesigapan pegawai hotelku memenuhi setiap permintaan tim Inggris. Kesimpulannya semua berjalan baik satu minggu ini dan aku sungguh sangat senang. “Tolong infokan ke setiap divisi untuk meeting sama saya dua jam lagi.” Raihan yang berdiri di sebelahku hanya mengangguk kemudian mulai sibuk dengan tablet di tangannya, mengumumkan apa yang baru saja kuperintahkan. Aku ingin mengucapkan terima kasih secara langsung pada setiap orang yang sudah bekerja maksimal selama seminggu ini untuk memenuhi setiap permintaan tim Inggris yang tidak mengenal waktu. Sepertinya aku akan memberikan tambahan bonus atau hari libur untuk mereka semua. Begitu sampai di ruang kerja, aku mendapati sosok menyebalkan kembaranku yang sedang tertidur di atas sofa dengan kaki menyilang dan kedua tangan berada di belakang kepala. Aku berjalan melewatinya setelah mendengkus pelan. Pasti dia ada di sini lagi-lagi karena gadis yang bernama Shinta Namira itu. Jika sedang bertengkar atau mulai kehabisan akal menghadapi sikap ketus Shinta, Albert pasti akan lari padaku dan mendekam di ruangan ini seharian penuh. Sikapnya benar-benar tidak mencerminkan seorang pria dewasa. Aku bergidik pelan sambil kembali menekuri pekerjaan. Begitulah jadinya kalau mantan playboy benar-benar jatuh cinta. Makanya aku lebih senang menjalin pertemanan saja dengan para hawa pemujaku. Teman kencan dan teman tidur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD